NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

The Edge Private Bar, Medan. Pukul 23.30 WIB.

Hujan deras mengguyur Kota Medan malam ini, menyamarkan kebisingan jalanan di bawah temaram lampu kota. Di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, suasana di dalam The Edge Bar terasa sangat kontras. Ruangan privat itu hanya diterangi oleh lampu dinding bernuansa amber yang redup, memantul di atas meja kayu jati yang mengilap dan deretan botol kristal berisi cairan bernilai puluhan juta rupiah.

Biasanya, ruangan ini akan dipenuhi oleh gelak tawa wanita-wanita cantik dengan gaun minim yang berebut perhatian sang CEO Skyline Group. Namun malam ini, kesunyian adalah satu-satunya tamu yang hadir. Tidak ada aroma parfum wanita yang menyengat, tidak ada suara manja yang membisikkan rayuan. Hanya ada aroma cerutu mahal dan denting es batu yang beradu dengan gelas.

Garvi Darwin duduk di sofa kulit berwarna gelap, menyandarkan tubuh atletisnya yang dibalut kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Paras rupawannya yang bak dewa Yunani tampak sedikit suram di bawah bayang-bayang lampu.

Di depannya, Roy—tangan kanan sekaligus sahabat sejak kecilnya—menuangkan cairan amber ke dalam gelas milik Garvi dengan gerakan tenang.

Garvi meraih gelas itu, menyesap isinya hingga rasa panas membakar tenggorokannya, seolah ingin menghanguskan rasa hampa yang tiba-tiba menggerogoti dadanya.

"Roy," suara bariton Garvi memecah keheningan. Rendah dan parau. "Sudah berapa lama kita saling mengenal? Bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai manusia."

Roy meletakkan botol itu, menatap sahabatnya dengan saksama. "Sejak kita belum mengerti apa itu kekuasaan, Tuan. Sejak saya sering mengekor di belakangmu karena kakekku melayani keluarga Darwin sebagai pengacara. Kita tumbuh besar di lingkungan yang sama."

Garvi mengangguk perlahan, matanya menatap kosong pada riak minuman di gelasnya. "Kita melihat semuanya, bukan? Kita melihat bagaimana Ave dan Winata tumbuh bersama kita. Kita bermain di taman yang sama, belajar di sekolah yang sama, hingga akhirnya berdiri di gedung yang sama."

"Benar, Tuan," jawab Roy singkat.

Garvi terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada sosok Alsava—istrinya. Wanita dengan rambut brunette curly yang selalu tampak sempurna, tegas, dan tak tersentuh. Namun, ada satu hal yang kini menghantui pikirannya.

"Kenapa sikapnya bisa sedingin itu, Roy?" tanya Garvi tiba-tiba. Matanya kini menatap tajam ke arah Roy, mencari jawaban yang selama ini ia abaikan. "Kenapa setiap kali aku menyentuhnya, aku merasa sedang menyentuh bongkahan es? Apakah karena aku? Apakah dinginnya Ave adalah hasil dari perbuatanku?"

Roy tertegun. Selama bertahun-tahun ia melayani Garvi, ini adalah pertama kalinya pria arogan ini mempertanyakan dampak sikapnya terhadap perasaan istrinya. Selama ini, Garvi hanya peduli pada kepuasan diri dan kendali yang ia miliki.

"Tuan... tidak biasanya kau memikirkan hal itu," ujar Roy hati-hati.

Garvi terkekeh sinis, namun tawa itu terdengar pahit. "Kakek Alfonso benar, Roy. Aku mungkin memiliki raga Ave. Aku bisa memilikinya kapan pun aku mau karena status pernikahan ini. Tapi hatinya... aku sama sekali tidak memilikinya. Kosong. Hampa."

Ia menyesap minumannya lagi, kali ini hingga tandas.

"Kakek bilang aku tidak memiliki hati. Aku sempat marah mendengarnya. Tapi sejak kecelakaan itu, sejak ada beberapa kepingan ingatanku yang terasa kosong... aku selalu merasa ada lubang besar di dadaku. Setiap kali aku melihat mata Ave, aku merasa seperti melihat korban yang sedang menatap algojonya sendiri. Aku merasa telah menyakitinya jauh lebih dalam dari yang bisa kubayangkan."

Garvi mencondongkan tubuhnya, menatap Roy dengan sorot mata yang penuh desakan. "Katakan padaku, Roy. Jelaskan apa yang terjadi sebelum aku kehilangan sebagian ingatanku. Apa yang sebenarnya kulakukan padanya hingga dia membenciku sampai ke tulang?"

Roy menghela napas panjang, ia memutar gelas di tangannya. Ketegangan di ruangan itu meningkat berkali lipat.

"Apa Tuan yakin ingin tahu? Ingatan yang hilang terkadang adalah cara otak melindungi diri dari rasa bersalah yang tak tertahankan."

"Aku tidak butuh perlindungan!" bentak Garvi, emosinya meledak seketika, namun ia segera meredamnya. "Aku harus tahu, Roy. Sekalipun itu menyakitkan, sekalipun itu akan membuatku membenci diriku sendiri. Aku tidak bisa terus hidup dalam kepura-puraan ini. Aku ingin menebus segala dosaku padanya. Aku ingin... aku ingin Ave-ku yang dulu kembali."

Roy menatap Garvi cukup lama, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang keras.

"Baiklah kalau itu maumu, Tuan," suara Roy berubah menjadi sangat serius.

"Kita semua tahu, Miss Sava—adalah matahari di lingkungan kita dulu," Roy memulai narasinya. Matanya menerawang, seolah memutar kembali pita film lama.

"Dia gadis yang ceria, energik, dan selalu punya tawa yang sanggup mencairkan suasana paling kaku sekalipun. Dia lincah, dengan rambut brunette curly yang selalu bergerak setiap kali dia berlari. Jauh berbeda dengan sosok COO yang dingin dan kaku yang Anda lihat di kantor sekarang."

Garvi mendengarkan dengan saksama, jemarinya mencengkeram gelas lebih erat.

"Saat itu, Anda berusia 23 tahun, baru lulus kuliah dari luar negeri dan sedang gencar-gencarnya membuktikan diri di depan Kakek Alfonso. Sementara itu, Miss Sava baru berusia 15 tahun. Masih sangat remaja, sangat polos. Perjodohan itu diumumkan di tengah pesta besar keluarga Darwin dan Claretta."

Roy menjeda sejenak, menatap reaksi Garvi.

"Anda menentangnya dengan keras. Anda berteriak di depan Kakek bahwa Anda tidak sudi dijodohkan dengan 'anak kecil' yang masih bau krayon. Anda menyebutnya beban. Di depan teman-teman kita, Anda sering menertawakan fakta bahwa calon istri Anda adalah bocah ingusan yang bahkan belum tahu cara memakai riasan."

"Apa aku benar-benar sejahat itu?" bisik Garvi, dadanya terasa sesak.

"Dalam ucapan, Anda memang membencinya. Tapi dalam tindakan... Anda adalah monster yang posesif, Tuan," lanjut Roy tanpa ampun.

"Saat Miss Sava masuk SMA, dia bertemu dengan Arkan. Kakak kelasnya, kapten tim basket, pria yang sopan dan cerdas. Untuk pertama kalinya, Miss Sava jatuh cinta. Dia kembali menjadi gadis ceria yang penuh warna karena Arkan. Mereka menjalin hubungan yang sangat manis, jenis cinta monyet yang murni."

Wajah Garvi menegang saat mendengar nama Arkan. Ada rasa terbakar di ulu hatinya yang tidak berasal dari alkohol.

"Anda tahu apa yang Anda lakukan saat itu? Anda tidak suka. Padahal Anda bilang tidak mencintainya, tapi Anda tidak rela 'properti' Anda disentuh orang lain. Anda memanipulasi Kakek Alfonso. Anda memohon agar pesta pertunangan dimajukan tepat di hari ulang tahun Miss Sava yang ke-17. Anda menjebaknya."

Roy melangkah mendekat ke arah meja.

"Dan Arkan? Diam-diam Anda menggunakan koneksi Skyline Group untuk menyabotase bisnis keluarga Arkan. Anda mengancam akan menghancurkan masa depan ayahnya jika Arkan tidak segera pergi ke luar negeri dan memutuskan hubungan dengan Miss Sava tanpa penjelasan apa pun. Anda membuang pria itu seolah dia sampah, hanya untuk memastikan Miss Sava tidak punya pilihan selain menoleh kepada Anda."

Garvi terperangah. Ia meletakkan gelasnya dengan tangan yang bergetar. "Jadi... aku yang menghancurkan kebahagiaannya? Aku yang membunuh tawanya?"

"Ya," jawab Roy mantap. "Anda membangun penjara emas untuknya sejak dia masih remaja. Anda mematahkan sayapnya sebelum dia sempat terbang, hanya agar dia tetap berada di dalam jangkauan radar Anda. Dan sekarang Anda bertanya kenapa dia begitu dingin? Itu karena Anda yang membekukan hatinya, Tuan."

Garvi terdiam seribu bahasa. Kepingan informasi ini terasa seperti ribuan jarum yang menusuk otaknya. Ia selalu menganggap dirinya sebagai pelindung, pria yang mapan, dan suami yang memberikan segalanya. Namun ternyata, ia adalah penjahat utama dalam cerita hidup istrinya sendiri.

"Ada satu hal lagi yang mungkin Anda lupakan, Tuan," tambah Roy, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang mengerikan.

"Apa lagi, Roy? Katakan semuanya!"

"Malam setelah Arkan pergi... Miss Sava mendatangi Anda. Dia menangis, berlutut, memohon agar Anda membatalkan pertunangan itu. Dia bilang dia tidak butuh kekayaan Darwin, dia hanya ingin bebas. Tapi Anda... Anda justru mencengkeram dagunya dan berkata bahwa dia adalah pion yang sudah dibayar mahal oleh kakeknya sendiri. Anda bilang, cintanya tidak ada harganya dibandingkan saham Skyline."

Garvi memejamkan mata. Bayangan seorang gadis remaja yang menangis tersedu-sedu tiba-tiba muncul di benaknya. Ia bisa merasakan air mata itu di kulitnya, ia bisa mendengar suara parau yang memanggil namanya dengan penuh kebencian.

Ternyata, selama ini aku bukan suaminya. Aku adalah penculiknya.

***

1
Penta Ning Thiyas
semangat author. 👍😍
stela aza
jeleh
Sri Murtini
ungkapan kesadaran yg tulus semoga samawa Aamiin 😭😭😭
Nda
di tunggu double up-nya thor
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Nda
ditunggu double up-nya thor 😃
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!