Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba untuk tetap tegar
"Van mau makan apa biar gue yang pesenin, lo juga Na biar gue aja yang pesen kalian cari bangku" Irgi menepuk bahu Nana pelan memberikan isyarat untuk menenangkan Vanya.
"samain aja sama lo Gi"
"Gue juga Gi sama in aja tapi jangan kupa es kopi ya" mendengar permintaan Vanya membuat Irgi dan Nana langsung menoleh kearah nya tapi Nana dan Irgi langsung menghembuskan Nafas mereka tak bisa mengatur Vanya saat ini, mereka tak mau membuat Vanya kembali sedih.
"oke, lo Na mau minum apa? "
"aer putih dingin yang paling dingin Gi"
"lo makan in Es batu aja Na kan dingin tuh" Irgi berjalan sambil menggerutu kesal dengan permintaan 2 teman nya. Hal itu mampu membuat Vanya tertawa.
Mereka makan dengan lahap, sesekali Irgi dan Nana juga mencoba mengajak Vanya bercanda agar ia merasa sedikit tenang. setelah selesai makan, Irgi langsung mengantarkan Vanya balik ke ruang IGD sedangkan Nana masih menunggu makanan yang ia belikan untuk Ratih dan Danu.
"Gi abang pernah ngeluh sakit ke lo ga sih? " tanya Vanya dengan Nada yang kembali terdengar sendu.
"nggak Van bang Raka sehat sehat aja selama ini, gue aja sampe kaget pas ngeliat dia sakit tadi"
"Iya ya Gi, abang kan idup nya sehat banget ya kok bisa ya sampe drop kayak gini"
"Nama nya juga manusia Van pasti ada saat nya kita bakal ngerasain sakit walaupun mungkin kita udah jaga kesehatan"
"tapi Gi... "
"kenapa Van? "
"Kata dokter, ini tuh bukan sakit yang cuma karna kecapean aja Gi, abang pasti udah lama ngerasain sakit tapi dia ga pernah ngomong aja sama kita"
"emang sakit apa?"
"gue juga ga ngerti gue ga dengerin banget tadi dokternya bilang apa, tapi inti nya ada kaya kista gitu di kepala nya abang, dan itu ga mungkin sakit nya cuma sehari dua hari pasti abang udah sakit dari lama dan kata dokter itu rasa nya sakit banget"
Irgi terdiam sejenak, jujur saja ia terkejut mendengar nya, Raka adalah orang paling sehat yang pernah temui rasa nya sangat mustahil melihat kondisi nya yang sekarang.
"Kita berdoa aja ya Van, semoga aja bang Raka baik baik aja"
"iya Gi gue selalu doain kok"
"lo jaga makan ya Van Istirahat yang bener, lo harus bisa jagain bang Raka sekarang"
"Iya Gi"
terkadang Vanya merasa Irgi adalah abang nya bukan Teman nya, ia selalu memberikan nasihat nasihat kepada Vanya, selalu melindungi Vanya dan selalu siap membantu Vanya kapan pun itu, walaupun Vanya tau Irgi melakukan hal itu atas permintaan abang nya.
Sesampainya di depan ruang IGD, Ratih dan Danu sudah tertidur di kursi ruang tunggu pasien.
"Gi lo mau ketemu abang ga? "
"emang boleh masuk Van"
"masuk aja boleh kok, tapi cuma boleh sendiri, lo masuk duluan nanti gantian sama Nana"
Kini Vanya terlihat lebih tegar dari sebelum nya.
"gue masuk dulu ya Van"
"iya Gi"
Irgi masuk kedalam ruangan IGD dan mendapati Tubuh Raka yang masih enggan membuka mata nya. pada detik itu Irgi baru menyadari betapa lelah nya Raka selama ini, ia menahan segala nya sendirian mencoba untuk tetap kuat sendirian dan hebat nya ia tak pernah mengeluh sedikit pun.
"Bang...lo belom mau bangun apa, lo kan kemarin bilang mau ketemu gue, gue udah nungguin lo dari tadi"
Diem tak ada sahutan apapun seolah olah yang diajak bicara masih nyaman dengan mimpi indah nya.
...☘️☘️☘️...
Nana datang menghampiri Vanya yang sedang berdiri memperhatikan Irgi dari jauh.
"Bang Raka gimana Van"
"Masih belom sadar kayanya Na"
Nana hanya bisa diam dan menggenggam tangan Vanya, mencoba menenangkan Vanya.
"Na kenapa sih cowok ga pernah ngeluh sakit?"
"gengsi cowok tuh lebih tinggi Vanya, cowok tuh punya ambisi untuk jadi yang paling kuat dan paling hebat, cowok juga punya pemikiran kalo kita di takdirkan buat melindungi cewek jadi kalo kita ngeluh sakit sama aja ngerendahin harga diri kita"
Vanya diam, ia mencoba mencerna kata demi kata yang Nana ucap kan. jika apa Nana katakan adalah Fakta berarti semua cowok di sekeliling nya akan melakukan hal yang sama, mereka akan berpura pura baik baik saja habis itu akan terbaring lemah tak berdaya seperti yang di lakukan Raka. Vanya rasa tak sanggup menghadapi nya lagi, cukup Raka saja yang berhasil membuat nya sepanik ini jangan ada Raka yang lain nya.
"Lo jangan rahasia in apa pun ya dari gue Na"
"Iya Van gue usahain"
"Makasih Na"
"Makasih kenapa? "
"kalo ga ada lo sama Irgi gue udah ga tau lagi harus kaya gimana"
"Van... udah tugas gue buat nemenin lo setiap saat kan sekarang lo pacar gue" Nana tersenyum jahil.
"Ih masih aja bercanda" Vanya menjawab nya dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
Tanpa mereka sadari Irgi sudah berdiri di depan mereka dengan memasang wajah jijik.
"Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu" Nana yang sebenarnya malu itu mencoba menutupi nya dengan sedikit membentak Irgi.
"Eneg gue liat lo berdua" kata Irgi sambil berlalu pergi.
"hehehe maap Gi"
Vanya dan Nana mengikuti Irgi untuk duduk. sambil menunggu orang tua Vanya bangun, Irgi memilih untuk memejamkan mata nya sebentar, ia bukan tidur hanya mengistirahatkan mata nya dan telinga nya masih terjaga, di sela sela istirahat nya Irgi mendengar percakapan Nana dan Vanya.
"Na besok di sekolah jangan Sampe ada yang tau ya kalo kita pacaran"
"kenapa? "
"kan kamu tau Farida sama Gita gimana kelakuannya, gimana kalo mereka marah trus nekat macem macem ke aku"
"iya juga ya, oke deh yang penting jangan deket deket sama cowok"
"termasuk kamu gitu? hahaha"
"ga gitu sayang"
"oke, kalo Irgi ada dikecualikan?"
"iya kalo Irgi boleh guru juga boleh"
"okay"
sejujurnya Irgi sangat mual mendengar percakapan 2 sejoli itu, tapi Irgi sedikit lega karna Nana tidak cemburu dengan nya lagi.