NovelToon NovelToon
Dari Pria Miskin Menjadi Penguasa Dunia

Dari Pria Miskin Menjadi Penguasa Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wedanta

Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 – Wanita Bernama Livia

Hujan masih turun ketika Arka berjalan menyusuri trotoar menuju jalan utama. Udara malam terasa dingin, tetapi pikirannya justru dipenuhi berbagai pertanyaan. Layar transparan yang melayang di depan matanya masih menunjukkan satu hal yang sama: misi pertama. Nama Livia dan lokasi Hotel Grand Aurora tertulis jelas di sana. Setiap kali Arka mencoba mengedipkan mata atau memalingkan wajahnya, layar itu tetap ada. Seolah benda itu benar-benar bagian dari dunia nyata sekarang. Arka mengusap wajahnya yang basah oleh hujan dan menarik napas panjang. “Jadi ini benar-benar nyata,” gumamnya pelan.

Ia berjalan beberapa menit sebelum akhirnya sampai di jalan utama. Dari kejauhan, bangunan tinggi dengan lampu-lampu terang terlihat berdiri megah di tengah kota. Hotel Grand Aurora. Arka pernah mendengar nama hotel itu sebelumnya. Tempat itu dikenal sebagai salah satu hotel paling mewah di kota. Biasanya hanya orang-orang kaya atau tamu penting yang menginap di sana. Arka bahkan belum pernah mendekatinya, apalagi masuk ke dalamnya. Namun malam ini, sistem memaksanya pergi ke sana.

Arka berdiri di depan gedung itu beberapa saat. Pintu kaca besar memantulkan bayangannya sendiri. Jaketnya masih basah, rambutnya berantakan, dan penampilannya jelas tidak terlihat seperti seseorang yang pantas masuk ke tempat semewah ini. Ia menghela napas panjang. “Bagus. Target pertama sistem adalah wanita kaya di hotel mewah, sementara aku terlihat seperti pengemis yang baru kehujanan.” Arka hampir saja tertawa sendiri ketika tiba-tiba layar sistem berkedip.

[Misi pertama masih aktif.]

[Temui target: Livia.]

Arka mengangkat bahu. “Baiklah, baiklah. Aku masuk.” Ia melangkah menuju pintu masuk hotel. Begitu pintu otomatis terbuka, udara hangat langsung menyambutnya. Lantai marmer yang mengkilap, lampu gantung kristal besar di langit-langit, dan dekorasi mewah di setiap sudut ruangan membuat tempat itu terasa seperti dunia yang berbeda. Beberapa orang berpakaian rapi berjalan di dalam lobi, sementara staf hotel berdiri dengan sikap profesional di belakang meja resepsionis.

Namun tidak semua orang menyambut kedatangan Arka dengan ramah. Beberapa tamu langsung menatapnya dengan ekspresi aneh karena penampilannya yang basah kuyup. Salah satu petugas keamanan bahkan meliriknya dengan curiga. Arka menyadari hal itu, tetapi ia pura-pura tidak peduli. Fokusnya hanya satu: menemukan wanita bernama Livia.

Saat ia sedang memikirkan harus mulai dari mana, layar sistem tiba-tiba berubah lagi.

[Target terdeteksi.]

Sebuah panah kecil muncul di layar, menunjuk ke arah lounge hotel yang berada di sisi kiri lobi. Arka mengangkat alisnya. “Sistem ini bahkan punya radar manusia?” gumamnya. Tanpa ragu, ia mengikuti arah panah itu. Lounge hotel terlihat jauh lebih tenang dibandingkan lobi utama. Lampu-lampunya lebih redup dan suasananya terasa lebih privat. Beberapa orang duduk di sofa sambil berbicara pelan atau menikmati minuman.

Dan di salah satu meja di dekat jendela, Arka melihatnya.

Seorang wanita duduk sendirian dengan sikap elegan. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di bahunya, dan gaun hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat sangat anggun. Wajahnya cantik dengan garis yang tegas, tetapi ekspresinya terlihat dingin dan sulit didekati. Beberapa pria di ruangan itu diam-diam meliriknya, tetapi tidak ada yang berani mendekat.

Layar sistem langsung menampilkan informasi baru.

Nama: Livia

Status: Pewaris keluarga konglomerat

Charm Level: ???

Arka menelan ludah. “Jadi itu targetku.” Ia berdiri beberapa meter dari meja wanita itu, mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan. Tidak ada petunjuk lain dari sistem. Hanya satu misi sederhana: temui Livia. Arka menggaruk kepalanya. Ia bukan tipe orang yang mudah berbicara dengan wanita cantik, apalagi wanita kaya seperti itu. Namun sebelum ia sempat memutuskan apa pun, sesuatu terjadi.

Seorang pria tiba-tiba datang dan duduk di kursi di depan Livia tanpa permisi. Pria itu mengenakan jas mahal dan memiliki senyum percaya diri yang terlihat agak menyebalkan. “Akhirnya aku menemukanmu,” katanya dengan nada santai. Livia mengangkat matanya perlahan dan menatap pria itu dengan dingin. “Aku tidak ingat mengundangmu,” jawabnya singkat.

Pria itu tertawa kecil. “Kau masih sama seperti dulu. Selalu dingin.” Ia bersandar di kursinya dan melanjutkan, “Aku hanya ingin berbicara tentang kerja sama antara keluarga kita.” Livia tidak terlihat tertarik sedikit pun. “Jika itu urusan bisnis, bicara dengan sekretarisku.” Pria itu menggeleng pelan. “Sayangnya aku tidak tertarik bicara dengan sekretaris. Aku ingin bicara langsung denganmu.”

Arka yang berdiri tidak jauh dari sana bisa merasakan bahwa suasana di meja itu mulai menjadi tidak nyaman. Livia jelas tidak ingin berbicara dengan pria itu, tetapi pria tersebut terlihat tidak berniat pergi. Beberapa detik kemudian pria itu berdiri dan mencoba memegang tangan Livia. “Ayolah, jangan bersikap terlalu dingin.”

Gerakan itu membuat Livia langsung menarik tangannya dengan ekspresi marah. “Jangan sentuh aku.” Suasana di lounge menjadi sedikit tegang. Beberapa orang mulai memperhatikan kejadian itu. Arka melihat layar sistem tiba-tiba berkedip lagi.

[Misi tambahan terdeteksi.]

[Bantu target keluar dari situasi tidak nyaman.]

[Hadiah tambahan: +5 Charm.]

Arka menatap layar itu dengan wajah datar. “Serius?” gumamnya. Namun setelah berpikir sebentar, ia menyadari bahwa ini mungkin kesempatan terbaiknya untuk menyelesaikan misi pertama. Ia menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju meja Livia.

“Maaf,” kata Arka sambil berdiri di samping meja mereka. Kedua orang itu langsung menoleh ke arahnya. Pria yang mengganggu Livia mengerutkan kening ketika melihat penampilan Arka yang masih sedikit basah oleh hujan. “Siapa kau?” tanyanya dengan nada tidak ramah.

Arka tersenyum santai. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa wanita itu jelas tidak ingin berbicara denganmu.” Pria itu tertawa sinis. “Dan sejak kapan urusan ini menjadi masalahmu?” Arka mengangkat bahu. “Sejak kau mulai terlihat seperti orang yang tidak bisa menerima penolakan.”

Beberapa orang di lounge mulai memperhatikan percakapan mereka. Wajah pria itu langsung berubah merah karena malu. “Dengar, bocah. Jangan ikut campur dalam urusan orang lain.” Arka menatapnya tanpa mundur sedikit pun. “Aku tidak suka melihat orang memaksa wanita yang jelas tidak tertarik padanya.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan tegang. Akhirnya pria itu mendengus kesal dan berdiri dari kursinya. “Baik. Nikmati waktumu dengan pahlawan baru ini.” Ia melirik Arka dengan tajam sebelum akhirnya berjalan pergi.

Setelah pria itu menghilang, suasana di lounge kembali tenang. Arka menghela napas pelan. Ia baru saja menyadari bahwa dirinya mungkin melakukan sesuatu yang cukup berani. Livia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Terima kasih.”

Arka menggaruk kepalanya dengan canggung. “Tidak masalah.” Layar sistem tiba-tiba muncul lagi di depan matanya.

[Misi tambahan selesai.]

[Charm +5]

Arka hampir tersenyum ketika melihat tulisan itu. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Livia kembali berbicara. “Duduklah,” katanya sambil menunjuk kursi di depannya.

Arka terkejut. “Apa?”

“Aku tidak suka berhutang budi,” kata Livia dengan tenang. “Setidaknya biarkan aku mentraktirmu minum.”

Arka ragu sejenak sebelum akhirnya duduk. Ia masih tidak percaya bahwa ia benar-benar duduk di depan wanita yang menjadi target sistem. Di saat yang sama, layar sistem kembali berkedip.

[Misi pertama hampir selesai.]

Arka menatap Livia yang sekarang sedang memanggil pelayan untuk memesan minuman. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bahwa hidupnya mungkin benar-benar sedang berubah.

1
Bonn Bonnies
langsung skip je, baca sampai L4 je, terus masuk chanel lain, bosan
Apin Zen
Gk pakai paragraf, sulit dibaca percakapannya
Wedanta 05: makasi Saranya yaaa☺️
total 1 replies
3RSEL
apa ini..... bingung
3RSEL
gasss
3RSEL
masih nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!