NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4:Latihan Kekuatan Dan Rahasia Yang Terungkap

Setelah sarapan dan berkeliling istana, Kaelen membawa Lira ke sebuah ruangan besar di bagian bawah tanah istana. Ruangan itu terbuat dari batu hitam yang kokoh, dan dinding-dindingnya dipenuhi dengan ukiran-ukiran es yang rumit dan berkilau. Di tengah ruangan, ada sebuah lingkaran besar yang terbuat dari es, yang bersinar dengan cahaya biru yang lembut.

"Ini adalah ruang latihan," kata Kaelen, menunjuk ke lingkaran es itu. "Di sini, kita akan belajar mengendalikan kekuatanmu. Kamu memiliki kekuatan es yang sama dengan saya, tapi kamu belum tahu cara menggunakannya. Kita akan mulai dari dasar-dasarnya."

Lira menatap lingkaran es itu dengan perasaan campur aduk. Dia merasa takut, tapi dia juga merasa penasaran dan berharap. Dia tahu ini adalah langkah penting dalam perjalanannya, dan dia siap untuk belajar.

"Baiklah, Yang Mulia," kata Lira. "Saya siap."

Kaelen tersenyum sedikit. "Bagus. Mari kita mulai."

Kaelen menjelaskan kepada Lira tentang dasar-dasar kekuatan es. Dia memberitahunya bahwa kekuatan es berasal dari dalam diri, dari perasaan dan pikiran. Dia memberitahunya bahwa untuk mengendalikan kekuatan itu, dia harus tenang dan fokus, dan dia harus bisa menghubungkan dirinya dengan alam di sekitarnya.

"Pertama, cobalah untuk merasakan dingin di sekitarmu," kata Kaelen. "Rasakan bagaimana dingin itu mengalir melalui udara, bagaimana dingin itu menyentuh kulitmu. Jangan menolaknya. Terimalah dingin itu sebagai bagian dari dirimu."

Lira menutup matanya, mencoba untuk merasakan dingin di sekitarnya. Dia bisa merasakan dingin itu menyentuh kulitnya, bisa merasakan dingin itu mengalir melalui udara. Awalnya, dia merasa tidak nyaman, tapi dia mencoba untuk tidak menolaknya. Dia mencoba untuk menerima dingin itu sebagai bagian dari dirinya.

Perlahan-lahan, dia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Dia bisa merasakan dingin itu mulai mengalir melalui tubuhnya, bisa merasakan dingin itu mulai berkumpul di telapak tangannya. Dia membuka matanya, dan dia terkejut melihat bahwa telapak tangannya mulai bersinar dengan cahaya biru yang lembut.

"Lihat," kata Kaelen, tersenyum. "Kamu sudah mulai mengendalikan kekuatanmu. Sekarang, cobalah untuk membentuk dingin itu menjadi sesuatu. Cobalah untuk membentuknya menjadi sebuah bola es kecil."

Lira menatap telapak tangannya, mencoba untuk membentuk dingin itu menjadi sebuah bola es. Dia fokus pada pikirannya, mencoba untuk membayangkan bola es itu di telapak tangannya. Perlahan-lahan, dia bisa merasakan dingin itu mulai berkumpul dan membentuk menjadi sebuah bola es kecil yang bersinar dengan cahaya biru.

"Bagus," kata Kaelen. "Kamu melakukannya dengan sangat baik. Sekarang, cobalah untuk melemparkan bola es itu ke dinding di depanmu."

Lira mengangkat tangannya, dan melemparkan bola es itu ke dinding. Bola es itu menabrak dinding dengan suara yang lembut, dan kemudian hancur menjadi butiran-butiran es kecil.

"Bagus sekali," kata Kaelen, tersenyum lebih lebar. "Kamu memiliki bakat yang besar, Lira. Kamu akan menjadi sangat kuat jika kamu terus berlatih."

Lira tersenyum bahagia. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia bisa melakukan hal seperti itu.

Mereka terus berlatih selama berjam-jam. Kaelen mengajari Lira cara membentuk es menjadi berbagai bentuk, cara mengendalikan suhu, dan cara menggunakan kekuatan es untuk melindungi dirinya sendiri. Lira belajar dengan cepat, dan dia semakin mahir dalam mengendalikan kekuatannya.

Saat mereka beristirahat sejenak, Lira bertanya kepada Kaelen tentang kekuatan es itu. "Yang Mulia," katanya. "Apakah semua orang di Kerajaan Celestial memiliki kekuatan es seperti kita?"

Kaelen mengangguk. "Ya, semua orang di Kerajaan Celestial memiliki kekuatan es. Tapi kekuatan itu tidak sama untuk semua orang. Beberapa orang memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada yang lain, dan beberapa orang bisa mengendalikan kekuatan itu dengan lebih baik daripada yang lain. Saya adalah salah satu orang yang memiliki kekuatan yang paling kuat di Kerajaan Celestial, dan itulah sebabnya saya menjadi raja."

Lira terdiam sejenak. "Tapi saya berasal dari dunia luar," katanya. "Bagaimana mungkin saya memiliki kekuatan es seperti Anda?"

Kaelen menatap matanya dengan serius. "Itu adalah pertanyaan yang baik, Lira. Saya juga bertanya-tanya tentang hal itu. Mungkin kamu memiliki nenek moyang yang berasal dari Kerajaan Celestial, atau mungkin ada sesuatu yang lain yang terjadi pada kamu saat kamu masih kecil. Kita akan mencari tahu jawabannya bersama-sama."

Mereka kembali berlatih. Kali ini, Kaelen mengajari Lira cara menggunakan kekuatan es untuk menyerang. Dia memberitahunya bahwa kekuatan es bisa digunakan untuk membekukan musuh, untuk menciptakan tembok es, dan untuk melemparkan serangan es yang kuat.

Lira belajar dengan sungguh-sungguh. Dia mencoba untuk mengikuti semua instruksi Kaelen, dan dia semakin mahir dalam menggunakan kekuatannya. Namun, saat dia mencoba untuk melemparkan serangan es yang lebih kuat, dia merasa lelah dan pusing.

"Sudah cukup untuk hari ini," kata Kaelen, melihat bahwa Lira sudah lelah. "Kamu sudah berlatih dengan sangat baik, tapi kamu tidak boleh memaksakan dirimu terlalu banyak. Kita akan melanjutkan latihan kita besok."

Lira mengangguk. "Baiklah, Yang Mulia. Terima kasih karena telah mengajari saya."

Mereka keluar dari ruang latihan dan kembali ke atas tanah. Saat mereka berjalan melalui koridor-koridor istana, Lira merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri. Dia telah belajar banyak hal hari ini, dan dia telah menemukan kekuatan yang dia tidak pernah tahu bahwa dia miliki.

Namun, di dalam hatinya, dia juga merasa cemas. Dia tahu bahwa perjalanannya masih panjang dan penuh dengan rintangan, dan dia tahu bahwa dia masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian lagi. Dia memiliki Kaelen di sisinya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa kuat dan berani.

Saat mereka mencapai ruang makan, mereka melihat bahwa makanan sudah siap. Mereka duduk di meja makan dan mulai memakan makanan mereka. Sementara mereka memakan makanan mereka, mereka berbicara tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan. Namun, di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.

Setelah makan malam selesai, Kaelen mengajak Lira ke taman istana. Taman itu terbuat dari es dan bunga-bunga yang tidak pernah layu, dan itu sangat indah di bawah sinar bulan. Mereka berjalan berkeliling taman, menikmati keindahan malam dan keheningan yang menyelimuti segalanya.

"Lira," kata Kaelen akhirnya, berhenti dan menatap matanya. "Ada sesuatu yang ingin saya katakan padamu."

Lira menoleh, matanya bertemu dengan mata Kaelen. "Apa itu, Yang Mulia?"

"Saya tahu bahwa perjalanan kita akan panjang dan penuh dengan rintangan," kata Kaelen. "Saya tahu bahwa kita akan menghadapi banyak bahaya dan kesulitan. Tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya akan selalu ada di sisimu. Saya akan melindungimu, dan saya akan membantu kamu sampai kita mencapai tujuan kita."

Lira merasa air mata mengalir di pipinya. Dia merasa bersyukur karena memiliki dia di sisinya. Dia merasa bersyukur karena dia tidak sendirian lagi.

"Terima kasih, Yang Mulia," katanya, suaranya gemetar. "Terima kasih karena telah menjadi teman saya. Terima kasih karena telah melindungi saya."

Kaelen tersenyum sedikit, dan dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata di pipinya. "Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, Lira. Kita adalah teman, dan teman harus saling membantu dan melindungi."

Mereka terus berjalan berkeliling taman, menikmati keindahan malam dan keheningan yang menyelimuti segalanya.

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!