Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Rombongan kecil itu bergerak menyusuri garis pantai di bawah naungan awan mendung. Pelabuhan Aethelgard terlihat di kejauhan dengan lampu-lampu suar yang menyapu permukaan laut. Kapal-kapal perang besar dengan lambang Harimau Putih bersandar rapi di dermaga beton.
"Itu adalah benteng di atas air. Bagaimana kita bisa masuk tanpa memicu alarm seluruh divisi angkatan laut?" tanya Elara sambil menurunkan teropongnya.
"Kita tidak akan masuk lewat gerbang atau dermaga utama," jawab Aslan sambil memperhatikan proyeksi hologram di matanya.
[Sistem: Analisis Struktur Pelabuhan Aethelgard. Titik Lemah: Pipa pembuangan pendingin mesin uap di sektor selatan. Status: Pengawasan minimal.]
Aslan menunjuk ke arah struktur pipa raksasa yang menjorok ke laut. "Suhu air di sana sangat tinggi karena digunakan untuk mendinginkan mesin uap kapal. Para penjaga biasanya menghindari area itu karena uap panas yang mengganggu jarak pandang."
"Tapi suhu itu bisa membakar kulit manusia biasa," sela Bayangan Merah.
"Gunakan pakaian isolasi dari kulit hiu yang sudah dimodifikasi oleh Si Tangan Besi. Itu akan memberi kita waktu sepuluh menit di dalam pipa sebelum suhu internal menjadi berbahaya," jelas Aslan.
[Sistem: Sinkronisasi Saraf 33%. Mengaktifkan fitur 'Regulasi Suhu Tubuh'.]
"Si Tangan Besi, apakah peralatan menyelam kita sudah siap?" tanya Aslan.
"Sudah, Pangeran. Tabung uap bertekanan rendah ini akan memberikan udara selama lima belas menit di bawah air," jawab Si Tangan Besi sambil menunjukkan perangkat mekanis di punggungnya.
Jax mengambil posisi di puncak tebing karang. "Aku akan memberikan perlindungan jika ada kapal patroli yang mendekat ke arah pipa. Tapi aku butuh isyarat cahaya yang sangat redup."
"Kiko akan memberikan sinyal menggunakan lampion kecil dari sisi hutan," perintah Aslan.
Satu per satu anggota unit Liberator terjun ke dalam air yang gelap. Suhu panas mulai terasa saat mereka mendekati mulut pipa pembuangan. Aslan memimpin di depan, matanya bersinar biru pekat untuk memetakan jalur di tengah uap putih yang tebal.
[Sistem: Sensor Panas Aktif. Jarak ke pintu keluar: 50 meter. Terdeteksi dua penjaga di ujung pipa.]
Aslan memberi isyarat tangan. Bayangan Merah melesat mendahuluinya seperti ikan yang lincah. Dua suara tumpul terdengar saat Bayangan Merah menarik para penjaga itu ke dalam uap panas dan melumpuhkan mereka secara instan.
Mereka pun berhasil keluar dari pipa dan mendarat di gudang penyimpanan bahan bakar kapal. Suasana di sini sangat bising oleh deru mesin uap raksasa yang sedang dipanaskan.
"Peti-peti batu inti itu ada di dek bawah kapal komando 'Predator'. Kita harus bergerak sebelum mereka mulai berlayar saat fajar," bisik Aslan.
[Sistem: Memetakan rute internal kapal 'Predator'. Deteksi rintangan: 12 laser pendeteksi gerakan tipe mekanis.]
"Ikuti setiap langkahku. Jangan ada yang menyentuh lantai tanpa aba-aba dariku," perintah Aslan dengan nada yang sangat serius.
Aslan melangkah dengan sangat hati-hati di koridor sempit kapal Predator. Ia melompati garis-garis transparan yang hanya bisa dilihat oleh sistem sarafnya. Bayangan Merah dan Si Tangan Besi mengikuti dengan gerakan yang sama persis di belakangnya.
"Sistem, berapa banyak penjaga di depan pintu ruang penyimpanan?" tanya Aslan dalam pikiran.
[Sistem: Dua penjaga elit dengan zirah berat. Mereka dilengkapi dengan pendengaran tajam akibat modifikasi alkimia.]
"Bayangan Merah, gunakan bom asap pengalih perhatian di lorong sebelah kanan. Aku akan menyelinap saat mereka menoleh," instruksi Aslan melalui isyarat tangan.
Bayangan Merah melemparkan sebuah bola kecil yang mengeluarkan bunyi desis halus di kejauhan. Dua penjaga itu segera menoleh ke arah sumber suara sambil menyiapkan tombak listrik mereka.
Dalam sekejap, Aslan sudah berada di belakang salah satu penjaga. Ia menekan saraf di tengkuk lawan hingga jatuh tak sadarkan diri. Di saat yang sama, Bayangan Merah melumpuhkan penjaga kedua dengan serangan belati tumpul.
"Si Tangan Besi, buka pintu besi ini. Jangan gunakan ledakan," perintah Aslan.
Si Tangan Besi mengeluarkan perangkat mekanis kecil yang memiliki banyak gerigi halus. Ia memasukkannya ke dalam lubang kunci dan mulai memutar tuasnya dengan perlahan.
[Sistem: Sinkronisasi Mekanis 95%. Kunci akan terbuka dalam sepuluh detik.]
Suara klik pelan terdengar, dan pintu besi itu terbuka sedikit. Di dalamnya, sepuluh peti kayu dengan segel resmi Kael tertata rapi. Cahaya biru dari batu inti terpancar dari celah-celah peti tersebut.
"Kita mendapatkannya," bisik Si Tangan Besi dengan mata berbinar.
"Jangan senang dulu. Kita harus memindahkan semua ini ke dermaga tikus di mana Elara sudah menunggu dengan kapal penyelamat," ujar Aslan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari arah tangga atas. Seorang pria bertubuh raksasa dengan seragam admiral angkatan laut muncul dengan wajah yang penuh murka.
"Jadi kalianlah tikus-tikus yang mengacaukan pasokanku di Kota Timur," ucap Admiral Vane sambil menghunuskan pedang besarnya yang dialiri listrik.
[Sistem: Ancaman Level Tinggi Terdeteksi. Target: Admiral Vane. Level Kekuatan Fisik: 45% di atas rata-rata manusia.]
"Kalian amankan peti-peti itu. Biarkan pria ini menjadi urusanku," perintah Aslan sambil menarik pedang panjangnya.
Admiral Vane menyerang dengan tebasan vertikal yang sangat kuat. Lantai besi kapal itu retak akibat hantaman pedangnya. Aslan menghindar dengan gerakan salto ke belakang, matanya terus menganalisis pola serangan lawan.
"Kau punya gerakan yang menarik, Pangeran Buangan. Tapi di kapal ini, aku adalah penguasa tunggal," teriak Vane sambil melepaskan gelombang listrik dari pedangnya.
[Sistem: Mengaktifkan mode 'Grounding'. Menyalurkan energi listrik ke lantai kapal melalui sepatu isolasi.]
Aslan tidak terpengaruh oleh sengatan listrik tersebut. Ia justru menerjang maju dan melakukan serangkaian tusukan cepat ke arah sendi zirah Admiral Vane.
"Mustahil! Bagaimana kau bisa tahan terhadap aliran listrikku?" tanya Vane dengan wajah terkejut.
"Aku tidak hanya bertahan, Admiral. Aku sudah menghitung setiap voltase yang kau keluarkan," balas Aslan dingin.
Aslan terus menekan Admiral Vane dengan kecepatan yang terus meningkat. Setiap kali pedang Vane hampir mengenainya, Aslan sudah berpindah posisi seolah-olah ia bisa membaca masa depan.
[Sistem: Sinkronisasi Saraf 35%. Membuka fitur 'Kecepatan Saraf Maksimal' selama dua puluh detik.]
Dunia di mata Aslan melambat secara dramatis. Ia bisa melihat butiran keringat yang jatuh dari dahi Admiral Vane. Aslan meluncur di bawah kaki raksasa itu dan menebas tendon di belakang lutut Vane.
Admiral Vane meraung kesakitan dan jatuh berlutut. Pedang besarnya terlepas dari genggamannya. Aslan berdiri di belakangnya dengan ujung pedang yang menempel tepat di tengkuk sang admiral.
"Satu gerakan saja, dan kepalamu akan menggelinding di dek ini," ancam Aslan dengan suara yang tidak mengandung emosi sedikit pun.
"Kau... kau memiliki kekuatan yang tidak wajar. Kael akan menghancurkanmu jika dia tahu kau menyimpan rahasia seperti ini," desis Vane sambil menahan sakit.
"Kael tidak akan pernah tahu, karena kau tidak akan punya kesempatan untuk memberitahunya," sahut Aslan.
Aslan memukul titik saraf di belakang kepala Vane hingga pingsan. Ia tidak membunuhnya karena ia butuh Vane tetap hidup sebagai sandera jika rencana pelarian mereka menemui hambatan.
[Sistem: Ancaman dinetralkan. Sisa waktu evakuasi: lima menit sebelum patroli laut berikutnya tiba.]
"Si Tangan Besi, Bayangan Merah! Bagaimana status peti-peti itu?" tanya Aslan melalui perangkat komunikasi.
"Delapan peti sudah berada di atas sekoci. Dua lagi sedang kami turunkan melalui katrol luar," lapor Bayangan Merah.
Aslan segera berlari menuju sisi kapal dan membantu menurunkan dua peti terakhir. Dari kejauhan, ia melihat kapal penyelamat milik Elara mulai mendekat dengan kecepatan tinggi.
"Pangeran, kapal patroli Harimau Putih mulai menyadari ada yang tidak beres di kapal Predator!" teriak Jax dari posisinya di tebing.
"Tembakkan anak panah api ke arah gudang bubuk mesiu kapal patroli itu, Jax! Sekarang!" perintah Aslan.
Jax melepaskan anak panah dengan akurasi sempurna. Ledakan besar terjadi di kapal patroli tersebut, menciptakan tirai api yang menghalangi pandangan musuh.
Aslan melompat ke sekoci terakhir tepat saat kapal Predator mulai membunyikan lonceng tanda bahaya. Elara menarik mereka semua ke atas kapal penyelamatnya yang bermesin uap ganda.
"Kita berhasil membawa sepuluh peti batu inti tanpa kehilangan satu personil pun," ucap Elara dengan rasa bangga yang luar biasa.
"Ini adalah kemenangan besar bagi kita. Dengan energi dari batu-atu ini, Benteng Inti Valerion akan kembali bangkit dari tidurnya," kata Aslan sambil menatap peti-peti yang kini aman di tangannya.
Kapal Elara membelah ombak malam dengan sangat tenang menuju pelabuhan rahasia di wilayah Utara. Di dalam kabin utama, Aslan duduk mengamati salah satu batu inti yang baru saja dikeluarkan dari petinya.
[Sistem: Pemindaian Batu Inti Selesai. Kadar energi murni: 98%. Cukup untuk mengaktifkan sistem pertahanan benteng selama enam bulan.]
"Apa langkah kita selanjutnya, Pangeran?" tanya Lord Hektor yang baru saja bergabung di kabin. "Kael pasti akan mengerahkan seluruh pasukannya setelah kehilangan sepuluh batu inti dan seorang admiral."
"Kita akan menuju Benteng Inti Valerion yang berada di puncak Pegunungan Salju. Hanya ada satu jalan masuk ke sana, dan itu adalah jalur yang sangat mudah untuk kita pertahankan," jelas Aslan.
"Tapi benteng itu sudah mati selama tiga puluh tahun. Banyak bagian mekanisnya yang sudah berkarat," Si Tangan Besi mengingatkan.
"Itulah tugasmu. Dengan energi dari batu inti ini, kau bisa memperbaiki sistem otomatisasi benteng tersebut. Aku ingin benteng itu menjadi tempat di mana pasukan Kael akan hancur jika mereka mencoba menyerang," perintah Aslan.
[Sistem: Misi Baru: Restorasi Benteng Inti Valerion. Prioritas: Tinggi.]
"Jenderal Elara, mulailah memindahkan seluruh pasukan Serigala Perak ke wilayah pegunungan. Kita akan menjadikan tempat itu sebagai ibu kota sementara kita," lanjut Aslan.
Elara mengangguk mantap. "Semua sudah siap untuk mobilisasi besar-besaran, Tuan."
Aslan menatap ke arah jendela kabin, melihat bayangan istana Kael yang kini terasa semakin dekat dalam jangkauannya. Ia tahu bahwa perang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan ia sudah siap dengan segala taktik yang ia miliki.
"Bayangan Merah, teruslah pantau pergerakan Kael secara langsung dari dalam ibu kota. Aku ingin tahu setiap langkah yang ia ambil untuk merespons kejadian di Aethelgard," pesan Aslan.
"Saya akan berangkat malam ini juga, Pangeran," jawab Bayangan Merah sebelum menghilang di balik pintu kabin.
Aslan memejamkan matanya sejenak, membiarkan sistem sarafnya beristirahat untuk memulihkan energi yang terkuras. Di dalam kegelapan pikirannya, ia melihat visi sebuah kerajaan yang bebas dari tirani, sebuah Valerion yang kembali bersinar di bawah kepemimpinan yang benar.
"Paman Kael, kau telah membangun takhtamu di atas darah ayahku. Sekarang, aku datang untuk merobohkan takhta itu dengan tanganku sendiri," bisik Aslan dengan penuh tekad.
Kiko masuk ke kabin dengan wajah yang tampak bersemangat. "Tuan, kita sudah memasuki wilayah perairan Utara. Jenderal Elara sudah menyiapkan sambutan untuk kemenangan ini di markas."
Aslan berdiri dan merapikan jubahnya. "Tidak perlu ada perayaan yang berlebihan. Kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Benteng Inti."
Mereka semua keluar dari kabin menuju dek kapal, menyambut angin dingin Utara yang terasa sangat menyegarkan. Bagi Aslan, ini bukan hanya sekadar kepulangan, tapi adalah langkah awal dari sebuah penaklukan kembali yang legendaris.
[Sistem: Perkiraan waktu sampai ke Benteng Inti: Delapan jam. Persiapan sinkronisasi dengan Inti Benteng dimulai.]
Cahaya fajar mulai muncul di cakrawala, menerangi jalur menuju puncak pegunungan salju yang megah. Di sanalah, sejarah baru Valerion akan segera ditulis dengan tinta keberanian dan strategi yang tak terduga.