Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mentok
Kara dan Dirga yang menyusul Sasa menghampiri Tama begitu bingung melihat gadis yang sudah langsung nyerocos dan menyodorkan tangan pada wanita yang datang bersama Tama.
“Abang, Sasa nungguin dari tadi.” Tama hanya menatap jengah gadis yang berdiri di hadapannya. “ini siapa bang? Mamanya yah? Tebak Sasa.
“Iya, cantik. Tante mamanya Tama.” Ucap Raya.
“Halo, Tante. Kenalin, Sasa.” Gadis imut itu mengulurkan tangannya pada Raya “calon mantu tante.” Lanjutnya.
“Wah calon mantu tante nambah nih.” Jawab Raya dengan tersenyum seraya menjabat tangan Sasa. Ibu satu anak itu sudah biasa tentunya menghadapi gadis-gadis yang selalu mengaku sebagai calon mantunya. Bahkan terakhir kali ada yang mengaku istrinya Tama. Dia hanya bisa tergelak dengan kelakuan anak-anak zaman sekarang. Ngakunya suka nggak tanggung-tanggung.
“Kok nambah sih? Emang abang udah punya calon ,Tan?” tanya Sasa. “Abang jangan macem-macem deh, ini anak kita gimana nasibnya kalo kita nggak jadi nikah?” lanjutnya pada Tama.
“Buset dah anak? Anak dari mana eh? Jangan suka ngarang lo!” Balas Tama.
“Sasa!” Gertak Dirga dengan lirikan matanya meminta adiknya untuk diam, tapi gadis itu tak menurut dia justru berdiri di dekat Tama dengan senyum-senyum tak jelas.
“Tau nih adek lo, Ga. Urus gih! Dari kemaren ngebuntutin gue mulu. Pusing!” ketusnya pada Dirga.
“Sasa nggak ngebuntut ih, orang jodoh. Kan jodoh pasti bertemu bang.” Timpal Sasa.
“Terserah lo deh, pusing gue.” Meladeni ocehan Sasa tentu tak akan ada ujungnya, Tama memilih pasrah saja. “Ra, sorry yah datangnya telat. Nunggu mama dulu tadi.” Lanjutnya pada Kara.
“Nggak apa-apa, Tam. Lagian kita juga masih disini, cuma anak-anak yang lain udah bubar baru aja. Tapi kelurga gue masih ada di dalem kok.” Jawab Kara.
“Malem, tante.” Sapanya pada Raya.
“Kenalin Lengkara, temen sekelasnya Tama.” Kara mengulurkan tangannya dan menyalami Raya.
“Wah kamu mirip banget sama Jesi, cantik. Wajah Jesi di borong semua nih.” Ucap Raya.
“Tante bisa aja. Tante cantik, pantesan anaknya ganteng.” Balas Kara yang langsung dihadiahi sikutan lengan oleh Dirga. “Tapi tetep lo yang paling ganteng buat gue. Paling segalanya.” Bisiknya di telinga Dirga setelah bersusah payah berjinjit menyamakan tinggi mereka.
“Gue ganteng turunan papa kali, Ra. Btw ini kadonya, semoga lo suka.” Tama memberikan paper bag berwarna pink pada Kara.
“Makasih.” Bukan Kara yang menerima, justru Dirga yang mengambilnya dari tangan Tama.
“Kaleng pasti suka deh. Itu Sasa yang milihin, jadi secara tidak langsung juga kado dari Sasa. Isinya tas itu, samaan kayak punya Sasa.” Ucap Sasa.
Karena gemas Tama mencubit pipi Sasa, “ya nggak usah dikasih tau isinya juga bocil!”
“Tangannya dikondisikan itu! Jangan sentuh-sentuh adek gue woy!” sergah Dirga.
“Adek lo ngeselin, sama kayak kakaknya.” Ketus Tama yang langsung melepaskan cubitannya dan mengibaskan tangannya pada baju yang ia kenakan, seolah menghapus jejak Sasa dari tangannya.
“Ngeselin-ngeselin ntar kangen.” Cibir Sasa.
“Sasa!”
“Apaan sih, Kak? Gertak-gertak mulu deh. Sasa nggak takut.” Jawab Sasa, “kan ada abang Tama.” Lanjutnya.
“Udah-udah jangan ribut, malu lah sama tante Raya.” Lerai Kara. “Tante, yuk Kara anter ke mami.” Kara mengandeng tangan Raya diikuti oleh Tama dari belakang. Sementara Dirga tak ikut serta, ia menarik Sasa keluar dari sana.
"Lepas ih apan sih kak Dirga!" protes Sasa. Kini mereka ada kursi paling ujung, pandangannya tak lepas dari Tama yang masih bersama dengan mamanya.
"Jangan bilang kalo temen Kara yang lo suka itu dia." tebak Dirga.
"Emang. Cakep banget kan, kak? sumpah kali ini Sasa udah mentok deh." Sasa menangkup kedua pipinya senyum tak jelas.
Dirga bergeser duduk di depan adiknya, berusaha menghalangi pandangan gadis itu. Tak disangka adiknya malah ikut bergeser.
"Gaje banget kak Dirga ih!" kesal karena Dirga terus-terusan menghalanginya, Sasa berpindah tempat duduk namun sebelum sempat mendudukkan diri Dirga lebih dulu mendudukki tempatnya.
"Gue mau ngomong serius. Dengerin!"
Sasa cemberut, "ya udah apa? cepetan. Sasa mau ke Bang Tama."
Ck! Dirga berdecak lirih.
"Lihat sini! Kakak lo disini! lo nggak ngehargain gue."
"Iya, iya, gimana? kakak mau ngomong apa?"
"Lo boleh deket sama siapa pun tapi nggak kalo dia." ucap Dirga langsung pada intinya.
"Tapi Sasa maunya sama bang Tama. Kalo pun kak Dirga nggak suka yah nggak apa-apa kan yang ngejalaninnya juga Sasa bukan kak Dirga." jawab Sasa dengan enteng seperti biasa.
"Gue kayak gini demi lo. Kita nggak tau dia tipe orang yang kayak gimana, Sa!"
"Ya maka dari itu kak, karena nggak tau jadi kita harus deketin, supaya tau gitu."
"Ya nggak gitu juga, Sa!"
"Ya gimana dong? kalo nggak dideketin yah nggak bakal tau. Lagian Sasa nggak mau kayak kakak yah, cinta-cintaannya penuh drama. Udah suka aja menolak sadar, dicuekin baru nyandar. Sasa nggak gitu yah, suka yah kejar. Masalah dia baik atau nggak, suka atau nggak, kita nggak pernah tau kalo nggak usaha." jelas Sasa.
"Pokoknya gitu lah kak. Jangan terlalu diiniin lah, apa itu yah namanya, pokoknya Sasa mau usaha dulu." lanjutnya seraya beranjak pergi menghampiri Tama yang sedang berjalan dengan Kara.
Dirga ikut menyusul, "susah banget dibilangin!" batinnya.
Dirga berhenti melangkah. Langkah Sasa sudah terlalu jauh untuk sekadar ditarik kembali. Gadis itu berjalan ringan, seolah dunia cuma soal keberanian dan rasa suka yang harus dikejar sekarang juga. Tanpa ragu. Tanpa mikir panjang.
Dirga menghela napas kasar. Dadanya sesak oleh perasaan yang bahkan tak bisa ia jelaskan, bukan marah sepenuhnya, bukan juga cemburu. Lebih ke takut. Takut adiknya jatuh terlalu cepat, terlalu dalam, pada orang yang bahkan belum benar-benar ia kenal.
“Dasar bocah keras kepala,” gumamnya.
Ia sadar, menasihati Sasa sama saja seperti berbicara pada angin. Gadis itu hanya akan mendengar yang ingin ia dengar. Sisanya? Dibuang tanpa sisa. Dirga mengepalkan tangan, rahangnya mengeras saat melihat Sasa sudah kembali berdiri di dekat Tama.
Dan saat itulah Dirga tahu, ini bukan lagi soal melarang.
Kalau Sasa memilih jalan ini, maka satu-satunya pilihan Dirga hanyalah berjaga.
Karena adiknya terlalu berani untuk dunia yang belum tentu sebaik yang ia bayangkan.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa