Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Magnus melangkah dengan napas yang memburu di balik masker taktisnya, mencoba mengabaikan rasa perih yang menjalar di bahunya akibat hantaman beton tadi.
Lorong bawah tanah ini terasa seperti labirin kematian yang sengaja dirancang untuk menyesatkan siapa pun yang mencoba masuk. Cahaya senter yang terpasang di atas senjatanya membelah asap hitam yang begitu pekat, menyingkap dinding-dinding yang kini tampak seperti luka terbuka.
Ia terpaksa menjauh dari titik runtuhan yang memisahkannya dengan Lyra, bergerak memutar melalui koridor pemeliharaan pipa yang sempit dan berbau logam berkarat.
Setiap langkah yang diambilnya memicu suara gema yang menyeramkan, seolah-olah gedung ini sedang mengerang kesakitan di ambang kehancurannya.
Magnus mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan Lyra masuk ke dalam neraka ini, namun ia tahu bahwa berbalik arah sekarang adalah tindakan bunuh diri yang sia-sia.
Ia harus menemukan jalan masuk ke ruang pusat agar bisa menarik Paul keluar dan segera kembali untuk menjemput Lyra. Pikirannya berkecamuk antara kewajiban profesional sebagai pemimpin tim dan rasa tanggung jawab pribadinya terhadap keselamatan adik sahabatnya itu.
Ia melewati sebuah pintu baja yang sudah terlepas dari engselnya, memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi dengan deretan server komputer yang masih berdengung rendah meski sebagian besar layarnya telah pecah.
Di sana, di balik meja kendali yang terbalik, ia melihat sesosok tubuh yang bergerak lemah di tengah puing-puing kaca yang berserakan.
"Paul?" panggil Magnus dengan suara yang parau, mencoba memastikan penglihatannya di tengah pandangan yang mulai kabur karena oksigen yang menipis.
Sosok itu tersentak, mencoba mengangkat kepalanya yang bersimbah darah. Itu benar-benar Paul, wajahnya tampak sangat pucat dan napasnya tersengal-sengal akibat efek hipoksia yang sempat menyerangnya tadi. Paul mencoba meraih pistolnya yang tergeletak tidak jauh dari tangannya, namun jemarinya tampak kaku dan tidak bertenaga.
"Magnus? Kau... kau benar-benar datang," bisik Paul dengan suara yang nyaris hilang, seolah ia baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang.
Magnus segera berlari menghampiri, berlutut di samping Paul dan memeriksa kondisi luka-lukanya dengan cepat. Ia melihat luka tembak dan beberapa sayatan dalam di tubuh sahabatnya itu, sebuah pemandangan yang membuat amarahnya kembali memuncak.
"Jangan banyak bicara dulu, kawan. Aku akan membawamu keluar dari sini sekarang juga," kata Magnus sambil mencoba memapah tubuh Paul agar bisa berdiri.
Paul mengerang kesakitan saat punggungnya menyentuh lantai, namun ia memegang lengan Magnus dengan kuat, menatap mata Magnus dengan tatapan yang penuh keputusasaan. "Loen... di mana Loen? Dia tadi bersamaku, dia mengorbankan dirinya agar aku bisa mengambil senjata ini."
Magnus terdiam sejenak, ia tahu Loen berada di ruang sebelah bersama Lyra, namun ia memilih untuk tidak menyebutkan kehadiran Lyra di sana. Ia tahu betul karakter Paul jika detektif itu tahu adiknya berada hanya beberapa meter dari posisi mereka di tengah bahaya, Paul tidak akan pernah mau melangkah keluar dari gedung ini sebelum memastikan Lyra aman.
Dan dalam kondisi Paul yang sekarat seperti ini, kembali ke ruang pusat adalah tindakan yang mustahil untuk dilakukan.
"Kami akan mencari Loen setelah aku membawamu ke unit medis di luar, Paul. Fokuslah pada napasmu sekarang," jawab Magnus dengan nada bicara yang sengaja dibuat setegas mungkin untuk menutupi keraguan di hatinya.
"Tidak, Magnus! Kita tidak bisa meninggalkan siapa pun di sini! Ruangan ini akan meledak lagi, aku tahu sistemnya telah disabotase!" teriak Paul, meski suaranya kemudian pecah menjadi batuk yang mengeluarkan darah segar.
Magnus menekan bahu Paul agar tetap tenang. "Dengarkan aku, Detektif! Tim kita, Rodi, Jazz, dan Cade, mereka sudah berada di atas. Mereka sedang melakukan evakuasi total. Tugasku sekarang adalah memastikan kau tidak mati di tanganku malam ini. Apakah kau mengerti?"
Paul menatap langit-langit ruangan yang mulai retak kembali, napasnya semakin pendek. "Gedung ini... ini bukan sekadar laboratorium, Magnus. Ini adalah bukti kegilaan seseorang. Kau tidak tahu siapa yang kita hadapi di bawah sini."
"Aku tahu seseorang telah melakukan pembunuhan terhadap petugas kebersihan dan melukai asistenmu secara brutal, Paul. Dan aku bersumpah akan menyeret orang itu ke hadapanmu, tapi itu hanya bisa terjadi jika kau tetap hidup," balas Magnus sambil mulai menarik lengan Paul ke bahunya, memaksa detektif itu untuk mulai melangkah.
Setiap langkah yang mereka ambil terasa sangat berat bagi keduanya. Paul berkali-kali hampir terjatuh, kakinya terseret di atas lantai yang licin oleh tumpahan minyak mesin dan darah. Magnus harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menopang berat tubuh Paul sambil tetap waspada terhadap kemungkinan langit-langit yang akan runtuh kembali.
"Magnus, tunggu sejenak," Paul berhenti, ia menatap ke arah pintu yang tadi dimasuki Magnus. "Kau tadi lewat jalur mana? Mengapa kau bisa sampai ke sini secepat itu?"
Magnus sedikit gugup, namun ia tetap mempertahankan raut wajah datarnya. "Aku menemukan jalur pemeliharaan pipa. Jalurnya sempit tapi masih aman dari reruntuhan besar. Kita akan keluar lewat sana."
"Kau tidak melihat orang lain di lorong tadi? Seseorang yang... yang mungkin terjebak?" tanya Paul lagi, insting detektifnya seolah masih bekerja meski kesadarannya berada di ambang batas.
Magnus menggelengkan kepala dengan cepat. "Hanya asap dan puing-puing, Paul. Tidak ada siapa-siapa lagi di jalur itu. Sekarang berhenti bertanya dan fokuslah untuk tetap sadar. Aku butuh bantuanmu untuk membuka pintu tekanan di ujung koridor nanti."
Paul mengangguk lemah, meski matanya terus melirik ke arah dinding beton yang memisahkan mereka dengan laboratorium utama. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah perasaan tidak enak yang menyuruhnya untuk berteriak memanggil nama Lyra, namun ia mencoba menepis pikiran itu.
Ia berpikir bahwa Lyra pasti aman di rumah, tidak mungkin adiknya berada di tempat mengerikan seperti ini.
"Siapa yang melakukan ini padamu, Paul? Apakah itu Dokter Pharma?" tanya Magnus saat mereka mulai memasuki lorong pipa yang sempit.
Paul terdiam sebentar, wajahnya mengeras karena amarah yang kembali membara.
"Dia bukan manusia, Magnus. Dia tahu setiap titik saraf manusia. Dia melakukannya dengan sangat tenang, seolah-olah ia sedang membedah katak di laboratorium sekolah. Dia membunuh tanpa keraguan."
"Kita akan menangkapnya. Rodi sudah menjaga semua pintu keluar," kata Magnus mencoba memberikan harapan, walau ia sendiri tidak yakin apakah Pharma masih berada di dalam gedung atau sudah menghilang melalui jalur rahasia lainnya.
Mereka terus bergerak di dalam kegelapan yang pengap. Suara tetesan air yang jatuh ke pipa besi terdengar seperti detik jam yang menghitung sisa waktu mereka. Paul mulai kehilangan kekuatannya kembali, kepalanya terkulai di bahu Magnus.
"Jangan tidur, Paul! Tetaplah bersamaku!" Magnus mengguncang tubuh Paul agar ia tidak jatuh pingsan.
"Aku... aku hanya lelah, Magnus. Katakan padaku, jika aku tidak berhasil keluar... sampaikan pada Lyra bahwa aku sangat menyayanginya," bisik Paul dengan nada suara yang sangat emosional.
Magnus merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tahu Lyra berada tidak jauh dari mereka, sedang berjuang menyelamatkan Loen di tengah ancaman Pharma, namun ia harus tetap bungkam.
"Kau akan mengatakannya sendiri padanya secara langsung di rumah sakit nanti. Aku tidak akan menyampaikan pesan perpisahan apa pun untukmu."
Mereka akhirnya sampai di sebuah persimpangan lorong. Di sebelah kiri adalah jalan keluar menuju area parkir belakang yang lebih aman, dan di sebelah kanan adalah jalur yang akan membawa mereka kembali ke arah laboratorium utama tempat di mana Lyra berada. Magnus tanpa ragu sedikit pun membelokkan langkah mereka ke arah kiri.
"Ke mana kita pergi? Bukankah jalan utama ada di sebelah kanan?" tanya Paul dengan sisa kesadarannya.
"Jalan itu sudah tertutup total, Paul. Percayalah padaku, ini adalah satu-satunya cara bagi kita untuk selamat," bohong Magnus, hatinya terasa sangat berat karena ia tahu ia sedang menjauhkan Paul dari adiknya sendiri demi keselamatan mereka berdua.
Di dalam benak Magnus, ia hanya bisa berdoa agar Lyra memiliki kekuatan untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Ia berjanji setelah menitipkan Paul pada tim medis Cade di luar, ia akan langsung kembali masuk ke dalam neraka ini untuk menjemput Lyra, apa pun taruhannya.
"Aku akan kembali untukmu, Lyra," batin Magnus sambil terus menyeret Paul keluar menuju cahaya rembulan yang mulai terlihat dari lubang ventilasi di ujung koridor.
Paul tidak lagi bertanya, ia hanya bisa mendengar suara napas Magnus yang memburu dan detak jantungnya sendiri yang semakin melemah. Di tengah keputusasaan itu, ia tidak pernah menyadari bahwa di balik dinding beton yang baru saja mereka lewati, adiknya sedang berdiri berhadapan dengan monster yang paling ia takuti di seluruh dunia.
"Tetaplah hidup, Paul. Demi Lyra," gumam Magnus saat ia mulai melihat lampu biru merah dari mobil polisi yang berkedip di kejauhan, memberikan secercah harapan di tengah malam yang paling kelam dalam sejarah hidup mereka.
Magnus mengencangkan pegangannya pada Paul, memastikan sahabatnya itu tidak tergelincir di jalur pipa yang menurun.
Ia tahu perjalanan keluar ini masih jauh dari kata selesai, namun setidaknya satu nyawa sudah berada dalam jangkauannya. Kini tinggal satu lagi yang harus ia selamatkan, sebelum segalanya terlambat dan gedung itu benar-benar menjadi kuburan bagi mereka semua.