NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

Ledakan membuat langit-langit runtuh, menghalangi jalan keluar Paul. udara semakin menipis melalui ventilasi

Dari balik kobaran api dan asap, Paul melihat siluet Pharma yang masih berdiri

...****************...

Ledakan tersebut terdengar sampai ke lantai atas. gemuruh langit langit yang bergetar di tambah sirene air yang menandakan adanya kebakaran membuat pesta menjadi kacau

seluruh tamu ricuh akibat guncangan hebat dan suara ledakan dari lantai yang mereka pijak. salah satu senator dengan sigap menelepon polisi,pemadam, serta ambulans

......................

Iring-iringan mobil polisi berhenti dengan derit ban yang memekakkan telinga tepat di depan lobi utama Delphi Hospital.

Magnus keluar paling pertama, diikuti oleh Rodi, Jazz, Driki, dan Cade yang langsung membentuk formasi taktis.

"Jazz! Ambil kendali titik kumpul! Rodi, Cade, bantu evakuasi warga sipil keluar dari aula utama sekarang juga! Jangan biarkan ada yang tertahan di pintu masuk!" perintah Magnus dengan suara menggelegar di tengah suara sirene.

Kondisi di aula sangat kacau. Asap hitam mulai keluar dari celah-celah lift, membuat pengunjung terbatuk-batuk dan saling dorong

.

Rodi langsung menerjang ke tengah kerumunan, menggunakan tubuh tegapnya untuk membuka jalan bagi para orang tua dan anak-anak.

 "Semuanya tenang! Ikuti instruksi! Keluar lewat pintu barat sekarang!" teriaknya sambil menggendong seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya.

Cade dan Driki bergerak cepat menyisir pinggiran aula. Cade memastikan tidak ada pengunjung yang pingsan tertimpa puing lampu kristal yang jatuh, sementara Driki dengan sigap mengarahkan tamu undangan menuju zona aman di luar gedung.

Jazz langsung mencari panel kendali darurat di dekat meja resepsionis. Jarinya menari di atas keyboard yang tertutup debu.

 "Magnus! Sistem pemadam api (sprinkler) di lantai ini tidak jalan! Seseorang menyabotase jalur air utamanya!"

Di tengah lautan manusia yang berlarian keluar, Magnus melihat Lyra berdiri mematung di dekat pilar besar. Wajah gadis itu pucat pasi, matanya menatap kosong ke arah kepulan asap yang muncul dari lantai bawah tanah.

Magnus berlari menghampiri Lyra dan memegang bahunya. "Lyra! Kau terluka? Di mana Paul?"

Lyra tersentak, menatap Magnus dengan mata yang penuh ketakutan. Ia ingin berteriak bahwa Paul ada di bawah tanah, bahwa Pharma adalah pelakunya, tapi lidahnya terasa kelu karena trauma jatuh dari lantai 20 di masa depan yang terus membayangi pikirannya.

"Paul... Paul di bawah, Magnus..." bisik Lyra dengan suara gemetar. "Di laboratorium..."

Magnus menoleh ke arah Jazz. "Jazz! Beri aku akses ke lantai bawah tanah!"

"Tidak bisa, Magnus!" balas Jazz dengan nada frustrasi. "Lift mati total dan tangga darurat ke bawah terkunci secara elektronik. Ledakan tadi sepertinya memicu protokol Total Lockdown."

Situasi Semakin Genting

Saat evakuasi hampir selesai, sisa-sisa pengunjung sudah berada di luar gedung. Namun, gedung Delphi Hospital kini menjadi benteng yang terkunci rapat dari dalam.

...****************...

Goncangan hebat itu terasa sampai ke permukaan, mengubah kemeriahan Anniversary Delphi Hospital menjadi horor seketika. Di aula utama yang megah, lampu-lampu kristal bergoyang ekstrem sebelum akhirnya beberapa di antaranya jatuh berdentum ke lantai, hancur berkeping-keping.

Para tamu undangan yang tadinya sedang menikmati jamuan mewah mulai berteriak histeris. Dentuman dari bawah tanah itu bukan hanya sekadar getaran, itu adalah peringatan bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi di jantung rumah sakit ini.

Di tengah kepulan debu yang jatuh dari langit-langit aula, Lyra berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ingatan tentang masa depannya jatuh dari lantai 20 seolah berkelebat lewat rasa trauma yang sama saat lantai yang ia pijaki bergetar.

"Paul..." bisik Lyra lirih. Ia tahu kakaknya sedang berada di bawah sana.

Tiba-tiba, dari arah panggung utama, suara mikrofon yang berdengit nyaring menarik perhatian semua orang. Di sana berdiri Ratchet, yang wajahnya tampak pucat pasi namun berusaha tetap tenang mengendalikan situasi.

"Harap tenang semuanya! Tetap di tempat dan ikuti instruksi petugas keamanan!" seru Ratchet, meski matanya terus melirik ke arah lift darurat yang kini lampunya mati total.

Namun, di sudut ruangan yang gelap, di dekat pintu balkon, Lyra melihat sesosok bayangan yang sangat ia kenali.

Pharma atau setidaknya seseorang yang sangat mirip dengannya di masa ini—sedang berdiri tenang sambil memegang segelas champagne, seolah ledakan di bawah sana hanyalah musik latar bagi rencananya.

 Ia menatap Lyra dari kejauhan dengan senyum tipis yang mematikan.

...****************...

Magnus tidak memedulikan teriakan Rodi yang melarangnya turun. Sebagai pemimpin, ia tidak bisa membiarkan Paul terjebak di bawah sana tanpa kepastian.

"Rodi! Ambil alih komando di sini! Pastikan semua orang menjauh dari perimeter gedung!" perintah Magnus sambil menyambar senter taktis dan masker oksigen dari tas perlengkapan Cade.

Tanpa menunggu jawaban, Magnus menendang paksa pintu akses tangga darurat yang sudah agak bengkok akibat ledakan. Asap hitam langsung menyembur keluar, namun Magnus menerjang masuk ke dalam kegelapan tangga yang hanya diterangi lampu darurat kemerahan.

Di atas, Rodi menggeram frustrasi. "Magnus! Sialan, dia selalu saja begitu!"

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk evakuasi di lobi, Jazz dan Cade sedang sibuk membantu beberapa pengunjung yang sesak napas.

Mereka tidak menyadari bahwa Lyra, yang tadi terlihat syok, memanfaatkan celah di antara kerumunan.

Dengan gerakan cepat dan diam-diam, Lyra menyelinap masuk ke pintu tangga darurat sebelum pintu itu tertutup rapat kembali.

 Ia tahu ini berbahaya, tapi ingatan dari masa depannya di mana ia kehilangan segalanya membuatnya tidak takut lagi pada maut di masa sekarang. Ia harus memastikan Paul selamat, dan ia harus melihat sendiri apa yang dilakukan Pharma di bawah sana.

DI TANGGA DARURAT MENUJU BAWAH TANAH

Magnus menuruni tangga dengan cepat, setiap langkahnya bergaung di lorong beton yang sempit. Suhu udara semakin panas, dan bau bahan kimia yang terbakar mulai menusuk hidung meski ia sudah memakai masker.

Tiba-tiba, Magnus mendengar langkah kaki ringan di belakangnya. Ia langsung berbalik dan mengarahkan senter taktisnya dengan cepat.

"Berhenti di situ atau aku tembak!" gertak Magnus.

Cahaya senter itu mengenai wajah Lyra yang kotor terkena debu dan asap. Magnus terbelalak.

"Lyra?! Apa yang kau lakukan di sini?! Aku sudah menyuruhmu keluar!" bentak Magnus, suaranya parau karena amarah dan kekhawatiran.

"Aku tidak akan pergi tanpa Paul, Magnus!" balas Lyra dengan nada yang tak kalah keras. Matanya berkilat penuh tekad yang tidak pernah Magnus lihat sebelumnya.

 "Aku tahu jalan di bawah sini lebih baik darimu. Kalau kau ingin menyelamatkannya tepat waktu, kau butuh aku!"

Magnus ingin memprotes, namun sebuah ledakan kecil kembali mengguncang gedung dari arah bawah, membuat dinding tangga retak.

Magnus menggeram di balik maskernya. Ia ingin sekali menyeret Lyra keluar, tapi getaran di lantai bawah mengingatkannya bahwa setiap detik yang terbuang bisa berarti nyawa Paul melayang.

"Tetap di belakangku! Satu langkah saja kau menjauh, aku akan memborgolmu ke pipa besi!" gertak Magnus. Ia memberikan satu masker cadangan yang ia bawa ke Lyra. "Pakai ini. Jangan dilepas."

Mereka terus menuruni tangga hingga mencapai lantai dasar laboratorium. Begitu pintu besi terakhir terbuka, pemandangan yang menyambut mereka sangat mengerikan. Lorong itu penuh asap kelabu, dan sistem alarm kebakaran terus meraung tanpa henti.

Baru beberapa meter melangkah, senter Magnus menyorot sesuatu yang tergeletak di lantai.

"Tunggu, Lyra. Jangan lihat," kata Magnus sambil menghalangi jalan Lyra dengan lengannya.

Di depan mereka, petugas cleaning service yang tadi dibunuh Pharma terkapar bersimbah darah. Luka robek di lehernya sangat rapi terlalu rapi untuk sebuah kecelakaan akibat ledakan.

Magnus berjongkok, memeriksa denyut nadi petugas itu meskipun ia tahu hasilnya nihil. Matanya menyipit melihat pola luka tersebut. "Ini bukan luka karena serpihan ledakan... ini luka sayatan benda tajam. Sangat presisi."

Lyra menutup mulutnya di balik masker. Meskipun ia tidak tahu pelakunya adalah Pharma, instingnya mulai berteriak bahwa ada monster yang berkeliaran di dalam asap ini.

"Magnus... lihat itu," bisik Lyra sambil menunjuk ke arah lantai yang licin.

Selain genangan darah petugas itu, ada jejak kaki yang menyeret di lantai menuju ke arah laboratorium utama tempat kepulan asap hitam paling pekat berasal.

 Mereka berdua melanjutkan langkah, menuruni tangga darurat yang diselimuti kabut asap.

Bau hangus dan bahan kimia bercampur aduk, menciptakan aroma mengerikan yang menusuk hidung. Langkah kaki mereka hati-hati, menghindari puing-puing yang berjatuhan dan genangan air dari selang pemadam.

​Saat mereka tiba di koridor menuju laboratorium, kobaran api di beberapa ruangan sudah mulai mereda, menyisakan bara dan asap tebal. Magnus mengeluarkan senter, cahayanya menembus kegelapan.

​"Seharusnya di sini aman" Belum sempat Magnus menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara retakan keras dari atas.

​KRAK!

​Magnus instinctively menarik tangan Lyra untuk mundur, tapi terlambat. Dari langit-langit koridor, sebuah panel plafon yang sudah terbakar dan basah tiba-tiba runtuh.

​BRUKK!

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!