Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anwar dan Stop Bullying
Pagi hari pun tiba, kami semua berkumpul dan bersiap untuk pergi kesekolah menggunakan almamater. Anak-anak sudah menunggu kami dalam kelas, mereka pun langsung menyapa kami dengan ceria. Mereka sudah tau kalau kami akan datang hari itu sehingga sudah tidak sabar menantikannya. Saat sampai disekolah kami disambut dengan dunia imajinasi anak-anak yang sangat berwarna.
“Halo kak...”
“Kak Zen...kak Nadin”
“Kak Dila...kak Ruka” suara anak-anak
“Mana kak Ikon?” tanya salah satu anak
“Dia ada kerjaan lain” jawab ku
“Kerjaan apa?”
“Eh ada lah pokoknya, sama kak Putra” kata ku dengan sedikit bingung
..
Sementara itu Anwar merasa terkejut dan bingung dengan pemandangan yang di lihatnya. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke sekolah sehingga juga pertama kalinya masuk dunia imajinasi.
“Woah—aapa ini” ucapnya melihat banyak hal yang diluar logika kenyataan. Anwar seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat itu. Namun Ruka membantunya menjelaskanya sampai mengerti.
“Huff” Anwar mengatur nafasnya lalu menyapa anak-anak dengan lantang
“Selamat pagi anak-anak” sapa Anwar tapi anak-anak banyak yang diam. Mungkin karena ini pertama kalinya mereka bertemu Anwar sehingga mereka malah fokus kepada yang lain. Namun kami sudah memberitahu apa yang harus dilakukan oleh Anwar ketika anak-anak mengabaikannya.
Anwar menutup matanya lalu membayangkan sesuatu, dia ikut berimajinasi seperti yang kami beritahukan padanya. Lalu tiba-tiba pakaian anak-anak pun berubah menjadi seragam pasukan militer.
“Semuanya, siap grak” kata Anwar dengan lantang. Awalnya anak-anak bingung, apalagi menyadari bahwa seragam sekolah mereka yang sudah berubah. Namun salah satu anak sepertinya paham, sehingga dia berdiri dengan tegak dengan posisi siap. Anak itu tak lain adalah Andika, lalu teman-temannya yang melihatnya pun mengikutinya.
“Selamat pagi...” sapa lagi Anwar lalu anak-anak membalas
“Pagi” jawab Andika dan beberapa anak yang lain, namun karena belum semua sehingga Anwar pun mengulanginya kembali
“Selamat pagi...pagi...pagi...pagi” dia mengulanginya beberapa kali
“Nanti kalian jawab begitu” katanya
“Ohh paham..paham” balas anak-anak
“Oke siap yah” kata Anwar lalu mengulangi kembali kata sapaannya
“Selamat pagi...”
“Pagi...pagi...pagi” jawab anak-anak dengan semangat
“Sekali lagi, selamat pagi” suara lantang Anwar
“PAGI...PAGI...PAGI” balas anak-anak lebih lantang dan semangat bahkan sampai ada yang melompat dan terbang diudara. Kelas jadi benar-benar chaos waktu itu, aku sengaja hanya menonton saja dan ikut bergabung dengan anak-anak. Aku tau ini bukanlah imajinasi ku melainkan punya Anwar—dia lah bintang utama hari itu.
Setelah menyapa lalu perkenalan dengan anak-anak, Anwar pun mulai membawakan materi tentang Stop Bullyingnya dengan tegas dan ketat. Aku pikir anak-anak akan merasa tertekan tapi ternyata tidak, mereka malah terlihat sangat senang dan merasa diri mereka sebagai pasukan militer yang sedang latihan kedisiplinan. Bagi mereka ini adalah sesuatu yang baru dan tak pernah mereka dapatkan sebelumnya baik dari guru-guru maupun kakak KKN yang lain. Namun sesuatu yang baru tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang baru juga atau masalah yang baru. Anak-anak jadi merasa lebih kuat dan tegas sehingga mereka saling beradu kekuatan. Keributan pun akhirnya terjadi, aku dan Zee mencoba untuk menenangkan sebagian anak tapi gagal. Zee hampir saja putus asa, dia menyuruh ku untuk mengatur kembali anak-anak karena aku sudah dikenal oleh mereka tapi aku gak bisa melakukanya.
“Oke, perhatikan kakak lagi”
“Tenang...tenang” bicara Anwar
“Nanti siapa yang tidak ribut akan dapat hadiah” katanya
“Hadiah?Apa itu kak?” ujar Andika
“Ada nanti, banyak hadiah dari kakak” jawab Anwar
“Horee” anak-anak bersorak
“Jangan ribut yah kalau gitu, nanti kalau ribut maka apa?”
“Nggak dapat hadiah” kata anak-anak
“Yah betul” balas Anwar lalu anak-anak pun jadi sedikit lebih tenang.
“Jadi jangan ribut yah” lanjutnya. Ketika itu adalah giliran Wati yang membawakan materi, mereka bergantian dengan Anwar
“Bagaimana rasanya menghadapi anak-anak” tanya ku pada Anwar yang istirahat dibelakang
“Capeekk, mereka susah banget untuk diatur” jawab Anwar dengan wajah lesunya lalu aku menertawainya
“Sekarang kamu rasain juga kan apa yang ku rasakan setiap kali mengajar” kata ku
“Umm” Anwar mengangguk lalu merenung sejenak memikirkan sesuatu
“Jadi ini yang sering dirasakan oleh teman-teman ku”
“Huuh” pemuda itu menghela nafas lalu saat itu dia teringat pada ucapan senior organisasinya dikampus
“Untuk jadi pemimpin yang hebat, kamu harus tau apa yang dialami anggotanya—kamu juga harus merasakan apa yang anggotamu rasakan. Dengan begitu maka kalian bisa saling memahami” lalu Anwar pun tersenyum sambil melihat anak-anak dan juga teman-temannya.
“Hey kamu, siapa nama mu” tanya nya tak sengaja melihat satu anak yang ribut lalu dia menghampirinya
“A-andika kak” jawab anak itu
“Jangan ribut yah” ucap Anwar
“Iyah kak, tapi boleh minta hadiahnya nggak” balas Andika
“Nanti sebentar” Anwar menolaknya
“Ayo lah kak, aku janji nggak akan ribut” pinta Andika lalu Anwar pun memberinya hadiah yaitu kue coklat
“Eh, kue ternyata hadiahnya” celetuk Andika
“Umm, jangan ribut” kata Anwar lalu menyuruh Andika untuk fokus ke depan.
Beberapa saat kemudian, penyampaian materi pun selesai dan kini saatnya sesi tanya jawab. Saat Nadin pun mengambil alih sebagai mc-nya, Namun anak-anak malah ribut lagi sehingga Anwar pun kembali berusaha untuk mengatasinya dengan sorakan andalanya
“Selamat pagi...” ujar Anwar
“Pagi...Pagi...Pagi” jawab anak-anak dengan semangat
“Jangan ribut yah, nanti kalau ribut nggak dapat hadiah” kata Anwar
“Hadiahnya apa kak?” tanya salah satu anak
“Rahasia” jawab Anwar
“Kue ini kan” bicara Andika sambil menunjukan kue ditanganya
“Hee kok dia dapat? Aku mana kak” bicara anak disampingnya
“Aku juga” anak-anak yang lain jadi tidak terima sehingga mereka pun ribut kembali. Anwar pun kembali untuk menenangkannya tapi gagal. Lalu dia mencoba cara lain yaitu dengan membagikan kue kepada setiap anak, barulah setelah itu mereka semua pun tenang kembali. Zee yang melihat hal tersebut tersenyum, seperti menyadari sesuatu yang lucu.
“Sudah dapat semua” tanya Anwar
“Sudah” jawab anak-anak
“Oke, jangan ribut—dengarkan kakak yang lain” kata Anwar tapi ternyata masih ada keributan dalam barisan anak-anak.
“Issh Andika, jangan begitu”
“Kak, Andika nakal. Dia mau ambil kue ku” salah satu anak melapor. Aku yang mengetahui hal tersebut pun menegurnya karena Andika adalah salah satu murid ku.
“Hayo marah mi pak guru nya kalian” ucap Ruka
“Heheh” Andika cengir
“Iyah nih, Andika dari tadi ribut mulu” kata temannya
“Anu kak, aku belum dapat kue nya” bicara anak itu
“Tadi bukanya sudah yah” ujar Anwar lalu Andika mengangkat kedua tanganya yang kosong.
“Yaudah ini, jangan ribut lagi yah” Anwar memberikan kembali kue kepada Andika. Hal ini lah yang membuat Zee merasa lucu sampai tertawa. Karena Anwar baru saja dipermainkan oleh anak kecil.
Namun sepertinya pemuda itu belum menyadarinya, dia kembali berbicara didepan anak-anak dengan penuh energi. Hingga sampai masuk jam istirahat lalu anak-anak pun keluar untuk makan siang dan kegiatan Stop Bullying kami sampai disitu saja.
“Huhh” Anwar bernafas lega setelah keluar dari dalam kelas. Namun dia tersenyum karena berhasil melakukan yang terbaik menurut ku. Terlepas dari banyak hal yang terjadi seperti tertipu barusan, tetap saja baginya kegiatan hari itu sukses. Semoga anak-anak mendapatkan pelajaran dan mengingatnya lalu mempraktekannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kami mengakhirinya dengan berfoto bersama lalu setelah itu pulang kembali ke posko.
“Huaww...benar-benar hari yang melelahkan” keluh Anwar saat sampai diposko dia langsung berbaring. Begitu juga dengan yang lain, termasuk aku.
“Tapi seru” katanya
“Kalian liat kan tadi aku bagaimana” Anwar memuji dirinya sendiri
“Iyah yah, keren kok” balas Ruka
“Selamat pagi...” bicara Tian lalu Fatin dan Sulis membalasnya “ Pagi...pagi...pagi” lalu kami pun tertawa bersama.
“Ahahah....hedehh” aku menatap kearah langit-langit dan tertidur. Saat itu kami semua tidur kecuali Anwar, pemuda tersebut masih mengingat kejadian disekolah sebelumnya. Mungkin dia sedang mengapresiasi dirinya sendiri.