NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 - “Denyut yang Tidak Bisa Dimatikan”

-~-“Denyut yang Tidak Bisa Dimatikan”

Cahaya itu tidak menghilang. Ia justru semakin stabil, seolah dunia mulai menerima keberadaannya dengan enggan.

Di jalanan bawah, orang-orang berhenti berjalan. Beberapa menengadah tanpa sadar, beberapa lain merasakan dadanya sesak tanpa tahu kenapa. Tidak ada alarm, tidak ada peringatan. Hanya perasaan asing yang menyusup, seperti kenangan yang bukan milik mereka.

Ia turun dari atap lewat tangga darurat, langkahnya cepat tapi terkontrol. Setiap lantai yang dilewati terasa berbeda udara lebih berat, dinding seperti menyimpan bisikan.

“Ini menyebar,” gumamnya.

“Bukan menyebar,” suara itu kembali, kini terdengar lebih dekat dari sebelumnya. “Ini mengingat.”

Ia berhenti di lantai dasar. Pintu keluar bergetar pelan, bukan karena angin, tapi karena sesuatu di baliknya sedang menyesuaikan diri.

“Dunia tidak seharusnya mengingat hal itu,” katanya. “Dunia tidak pernah diberi pilihan.”

Pintu terbuka.

Kota di depannya tampak sama bangunan, lampu jalan, papan iklan tapi ada yang salah. Bayangan tidak lagi menempel sempurna pada pemiliknya. Beberapa bergerak terlambat, beberapa terlalu cepat.

Seorang anak kecil berdiri di tengah trotoar, menatap kosong ke arah cahaya di langit. “Om,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh, “kenapa rasanya seperti aku pernah mati di sini?”

Napasnya tertahan.

“Siapa yang bilang begitu?” tanyanya hati-hati. “Tidak ada,” jawab anak itu. “Aku cuma ingat.”

Itu bukan efek samping.

Itu tanda awal.

Di kejauhan, kendaraan berhenti total. Sistem kota gagal satu per satu, bukan karena rusak melainkan karena bingung. Data lama dan baru saling tumpang tindih, seperti dua masa yang dipaksa hidup bersamaan.

Ia melangkah mundur perlahan.

“Kalau ini terus berlanjut,” katanya lirih, “batasnya akan hilang.” “Batas memang diciptakan agar dilanggar,” jawab suara itu. “Kau yang mengajariku.”

Ia menggenggam benda di sakunya lebih erat. Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, tangannya sedikit gemetar.

“Masih ada cara menghentikannya,” katanya, lebih pada dirinya sendiri. “Ya,” jawab suara itu. “Tapi harganya bukan kecil.”

Langit kembali berdenyut. Kali ini lebih kuat.

Dan di antara cahaya itu, ia melihat sesuatu yang seharusnya mustahil sebuah siluet, mirip dirinya… tapi tidak sepenuhnya.

Sosok itu menatap balik, lalu tersenyum.

Hari ini berakhir di sana.

Dengan satu pertanyaan yang tidak ingin ia jawab:

Jika itu adalah dirinya yang lain lalu siapa sebenarnya yang selama ini salah?

-~- “Retakan yang Mulai Bicara”

Siluet itu tidak bergerak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, di dalam cahaya yang berdenyut, seolah jarak bukan lagi soal ruang melainkan keputusan.

“Kau kelihatan lelah,” kata sosok itu. Suaranya sama persis. Terlalu sama.

Ia menahan diri untuk tidak bereaksi. Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berkelindan, tapi satu kesimpulan muncul lebih dulu: ini bukan ilusi, dan ini bukan musuh biasa.

“Aku tidak menciptakanmu,” katanya akhirnya. Sosok itu tersenyum tipis. “Tidak. Kau meninggalkanku.”

Langit meredup sesaat, seperti menarik napas. Denyut cahaya berhenti lalu berganti ritme. Kota di sekeliling mereka merespons. Jendela-jendela bergetar, lampu jalan berkedip, dan bayangan-bayangan kini benar-benar melepaskan diri dari kaki pemiliknya, berdiri setengah langkah di belakang.

“Setiap pilihan yang kau tunda,” lanjut sosok itu, “tidak menghilang. Mereka menunggu. Aku adalah salah satunya.”

Ia melangkah mundur satu langkah. Tanah di bawah kakinya terasa dingin, seperti batu nisan yang belum diberi nama.

“Kau tidak seharusnya punya kesadaran,” katanya. “Kesadaran bukan hadiah,” jawab sosok itu pelan. “Ia adalah efek samping.”

Di kejauhan, sirene akhirnya berbunyi terlambat dan tidak sinkron. Bukan tanda evakuasi, bukan juga keadaan darurat. Sistem kota hanya mencoba memastikan dirinya masih ada.

Seorang pria tua di seberang jalan duduk di bangku taman, menatap tangannya sendiri. “Aku ingat cucuku,” katanya pada siapa pun yang mau mendengar. “Padahal aku tidak pernah punya.”

Itu menyebar lebih cepat dari yang ia perkirakan.

“Kau lihat?” Sosok itu menunjuk sekeliling. “Ini bukan kehancuran. Ini pengembalian.”

“Kau menyebut ini pengembalian?” Ia menggeleng pelan. “Ini kekacauan.” “Kekacauan hanyalah keteraturan yang belum kau pahami.”

Angin berhenti. Suara kota meredam, seolah dunia menunggu kalimat berikutnya.

“Ada inti,” katanya tajam. “Sesuatu yang menahan semua ini tetap terikat.” Sosok itu mengangguk. “Dan kau tahu di mana.”

Jawaban itu membuat dadanya mengencang. Tempat itu yang tidak pernah ia kunjungi lagi, bahkan dalam mimpi.

“Jika aku ke sana,” katanya, “salah satu dari kita tidak akan kembali.” “Tidak,” balas sosok itu sambil menatap lurus ke matanya. “Salah satu dari kita tidak akan pernah ada.”

Cahaya di langit mulai menyempit, memusat, seperti mata yang akhirnya fokus.

Ia berbalik, mengambil keputusan sebelum keraguan sempat bernapas. “Kalau begitu,” katanya lirih, “kita akhiri ini di sumbernya.”

Saat ia melangkah pergi, ia merasakan sesuatu yang dingin di punggungnya bukan sentuhan, melainkan kepastian.

Sosok itu tidak mengikutinya.

Namun bayangannya… ya.

Dan bayangan itu berjalan satu langkah lebih cepat darinya.

1
MARDONI
Merinding waktu ayah Arthur tiba-tiba berkata, “Sialann!? Bagaimana bisa mereka…” sebelum pintunya tertutup 😭🔥 Dari suasana hangat penuh tawa pas Norvist main sama Arthur, tiba-tiba berubah jadi tegang banget dalam hitungan detik. Arthur yang kecil itu cuma bisa berdiri bingung dengan kegelisahan yang belum ia pahami, dan aku ngerasa kayak ada badai besar yang lagi disiapin buat keluarganya 🥺 Hendry yang berusaha nenangin dengan menyebut Raja Arthur juga bikin hati hangat sekaligus was-was, karena rasanya kalimat itu bukan cuma penghiburan… tapi pertanda kalau perjalanan Arthur bakal jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sekarang.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: keren kak udah langsung nangkep gimana alur kedepannya 🗿🔥
total 1 replies
izmie kim
kehadiran anak seperti pelita yang tidak pernah padam
izmie kim
raja ARTUR
♡✿⁠Almi_Wahy
semangat terus thorr, cerita nya bagus....
cimownim
Tuan Muda Artur😍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: /Drool//Drool/
total 1 replies
putrijawa
sedari kecil instingnya udh kuat
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: hehehe😄
total 1 replies
Indira Mr
belum tentu mereka jahat Arthur.
Indira Mr
Ayah dan anak..??
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: iya, bayangin tinggal 20 tahun bersama, walaupun gak ada ikatan darah pasti serasa ayah dan anak/Tongue/
total 1 replies
Indira Mr
king Arthur nama yg bagus 👍🥰
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih, memang terinspirasi dari nama raja Arthur
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ 🟢 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡
sukses selalu untuk semua karyanya kak
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
21 nama yang sangat ...🗿
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!