NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pikiran Cyan sejak tadi tidak bisa diam. Terbayang ciuman beberapa menit lalu yang baginya terlalu tiba-tiba tanpa peringatan. Bagaimana detak jantungnya begitu kuat ketika Magenta mendudukkannya di meja, lalu dicium brutal, dan tidak sengaja tertangkap basah oleh OB di sana.

Ah, Cyan, andaikata dunia ini bisa direset pabrik, mungkin malu yang ia rasakan tak begitu menyiksa batinnya sekarang.

Dan kini, keduanya iseng jalan-jalan ke mall. Entah apa yang akan dibeli, niatnya hanya mencari-cari dan cuci mata. Ada yang disukai, beli. Tidak ada, ya pulang. That’s simple.

Magenta dan Cyan berjalan berdampingan sejak keluar dari lift dari lantai bawah. Anehnya tidak ada yang memulai percakapan sejak awal. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, seakan tidak ingin mencampuri urusan satu sama lain. Ya, meski Cyan dan Magenta tahu, mereka sama-sama memikirkan adegan ciuman tadi.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah etalase jam tangan mewah. Cyan merunduk, pura-pura memperhatikan salah satu model yang klasik, tetapi timeless. Magenta memasukkan tangannya ke saku celana, menunggu gebrakan selanjutnya.

Cyan mengembuskan napas panjang, lalu berganti posisi berdiri tegak dan berhadapan dengan Genta.

“Gen,” panggilnya pelan. Magenta menoleh sambil cengengesan, sepertinya tahu arah obrolan ini akan ke mana.

“Iya, Syan.”

“Bisa nggak kamu jangan terlalu sering cium aku? Itu tuh bahaya banget,” sambung Cyan mulai serius. Magenta menahan tawa, benar dugaannya.

“Bahaya dari mana, sih? Jangan bikin seolah-olah ciuman itu dosa besar, Cyan. Kamu 28 tahun, aku 25. Kita bukan bocah SMP. Ciuman itu biasa aja,” jawab Magenta meremehkan. Seketika Cyan maju selangkah lebih dekat, matanya membesar hampir tak berkedip.

“Nggak boleh. Aku ini konservatif. Ciuman itu harusnya sama orang yang beneran kamu suka. Cinta sejati kamu banget. Masih untung aku nggak minta ganti rugi, ‘kan?”

“Ganti rugi apa?” tanya Magenta penuh selidik. Cyan terdiam, ia terjebak pertanyaannya sendiri.

“Jangan-jangan kamu penganut sex after marriage, ya?”

“Iya dan kalau itu terjadi, bukan cuma ganti rugi. Kamu juga harus nikahin aku,” jawab Cyan cepat. Magenta memicing, tahu ke mana maksud ‘ganti rugi’ yang dipinta Cyan.

“Haha, serius amat, Syan. Kamu ngebet banget pengen minta ganti rugi ke aku,” balasnya tertawa ngakak. Beberapa orang di sana melirik heran, tetapi setelahnya membuang tatapan.

Seketika tawa itu reda, berganti rasa penasaran. Magenta menatap Cyan dari atas hingga ke bawah, lalu manggut-manggut paham.

“Kalau itu, sih bisa dibicarakan. Aku mau,” lanjutnya tidak bercanda. Sangat serius tanpa gurat senyum terlukis di wajahnya. Sontak saja Cyan membeku, tubuhnya kaku dan nyaris tak bisa bergerak, napasnya ikut tersengal seolah ada yang menyumbat.

“Ih, Genta! Jangan asal ngomong begitu. Kamu pikir nikah itu gampang? Main nikah-nikah aja? Lagipula ingat, kita pura-pura,” ucap Cyan menahan malu.

“Lah, kenapa? Kamu ‘kan yang bilang harus nikah?”

“Itu kalau kejadian! Makanya jangan sampai kejadian. Nggak usah cium-cium aku lagi nanti bablas kamunya. Terus hamil duluan, terus kepaksa nikah. Ih, apaan banget. Minimal ….”

“Minimal apa? Minimal mandi? HAHAHA!” potong Magenta lalu tertawa ngakak, membuat Cyan mengerucutkan bibirnya kesal.

“Kamu tuh selalu gitu. Nggak pernah serius.” Ia menggerutu, melipat tangan depan dada.

“Udahlah, kita bahas lagi strategi pura-pura pacaran ini aja. Nanti kalau orang tuaku nelpon, kamu harus belajar ngangkat. Jangan grogi kayak kemarin.” Ia melanjutkan, enggan menatap mata Magenta.

“Ck, kamu tuh selalu pinter ngeles, ya?”

“Maksudnya?”

“Tiap kali obrolannya makin serius, pasti kamu mengalihkan topik. Apa, ya? Kayak sengaja ngehindar aja gitu,” balas Magenta sedikit mendongak. Cyan tidak membalas, ia berbalik badan dan melanjutkan langkahnya.

Sementara Magenta mengikuti dari belakang, Cyan tak sesekali menengok memeriksa keadaan pria itu. Keras sekali otaknya berpikir kali ini.

“Ya, udah aku mau makan dulu. Abis itu pulang. Aku belum sempet buka puasa di pantry tadi,” ucap Cyan tiba-tiba. Dengan cepat Magenta berjalan menyusul di sebelahnya.

“Kenapa begitu? Biasanya kamu kan buka puasa langsung ngehabisin takjil sekantor,” tanya Magenta sedikit mengejek jahil. Sontak saja Cyan menghentikan langkah, menoleh ke arah Magenta dengan tatapan sinisnya.

“Karena ada orang gila nyeret aku ke ruangan OB dan cuma ngasih air sebotol doang!” ucap Cyan menunjuk dada Magenta.

“Oh iya… berarti salahku hehe,” balas pria itu terkekeh pelan.

“Traktir! Anggap aja kompensasi buat bibirku yang udah kotor dan penuh noda.”

“Setuju dong. Modal traktir doang bisa dapet ciuman Syan, hehe.”

“GENTA!” tegur Cyan menjewer telinga pria di depannya ini. Seketika Magenta meng-aduh kesakitan, lalu meminta ampun berkali-kali.

Setelah pertengkaran singkat itu, keduanya lanjut menyusuri lorong panjang menuju area resto. Cyan mulai lelah berjalan karena belum terbiasa memakai flatshoes pemberian ibunya terakhir kali. Ia lebih suka memakai sepatu kets karena nyaman dan lebih simple.

Cyan tak berani protes. Ia baru menyadari adanya jarak yang cukup terlihat di antara mereka. Biasanya Magenta berjalan sangat dekat hingga bahunya hampir bersentuhan dengan Cyan. Namun, kali ini Magenta sedikit menciptakan jarak sekitar setengah meter jauhnya. Tidak jauh, tidak dekat juga.

[Aku mau.]

Hanya dua kata, tetapi terus berputar di benaknya. Terlalu mudah terucap dari hubungan yang katanya hanya pura-pura. Benar kata Cyan, ia harus selalu diingatkan tentang sandiwara ini. Meski pada kenyataannya sikap Magenta tidak menunjukkan bahwa ia menyembunyikan perasaan sendiri.

Sebenarnya cukup jelas, tetapi keduanya sama-sama denial. Tidak mau terjebak karena mengikuti perjanjian awal. Namun, jika memang takdir ada di depan mata, siapa bisa mengelak?

“Bisa deket dikit nggak? Kayak musuhan aja,” ucap Magenta tanpa menatap Cyan. Gadis itu menggeser posisinya, lalu menghela napas panjang.

“Kita emang bisa musuhan beneran kalau kamu berani cium aku lagi,” balas Cyan setengah berbisik.

“Segitunya, ya? BTW, aku suruh deket-deket tuh biar orang lain percaya kita ada hubungan.”

“Buat apa nyari validasi ke orang lain? Kan cuma di depan keluargaku,” tanya Cyan malas.

“Lho, dunia ini sempit banget, Syan. Siapa tau ‘kan tiba-tiba ketemu keluarga kamu di jalanan? Terus mereka lihat kita jauhan kayak gini, kamu mau jelasin?”

“Ck, nggak semudah itu juga kita ketemu keluargaku. Mereka ada di kampung, Gen. Udah, gini aja aman. Aku takut makin deket makin memperbesar kesempatan kamu buat cium aku!” protes Cyan lalu berjalan semakin cepat. Magenta berlari kecil menyusulnya.

“Hehe, tunggu! Buset, badan tinggi jalan pun laju kali!” teriak Magenta tak dihiraukan Cyan. Sampailah mereka di meja paling ujung dan duduk di sana membaca menu. Namun, baru beberapa menit fokus, tiba-tiba suara cempreng terdengar menyiksa telinga menyapa seorang Cyan di sana.

“Walah, Nduk! Lagi makan berdua sama pacarnya, toh di sini!”

Diantara jin, setan, binatang, dan alien di muka bumi ini, kenapa mereka harus bertemu Bude Sri?!

1
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
Miley
genta heh wkwkw🤣
Miley
sehat² wanita karir
Miley
ku tnggu cyan kasih paham si vira
Miley
matreee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!