Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu, Magenta sudah berdiri di depan apartemen Cyan bahkan sebelum jam tujuh tepat. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, jalanan pun belum sepenuhnya ramai. Ia menyandarkan punggung ke mobil, satu tangannya memegang ponsel yang layarnya sudah lama mati, sementara tangan lainnya memainkan kunci mobil, berputar-putar di jari telunjuknya. Wajahnya santai, terlalu santai untuk seseorang yang sedang menunggu atasannya.
Cyan melangkah keluar apartemen dengan langkah cepat, blazer rapi terpasang di badannya, dan rambut tersisir sempurna seperti biasa. Begitu melihat Magenta, langkahnya sempat melambat setengah detik.
“Kamu cepet banget nyampenya,” kata Cyan sambil menghentikan langkahnya tepat di depan Magenta.
Magenta melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mengangkat bahu santai. “Kamu kan biasanya berangkat pagi,” katanya. “Jadi aku berusaha bangun, walaupun agak gedebak-gedebuk, sih.”
Cyan mengangguk dan tersenyum tipis. “Makasih. Udah lama nunggunya?” tanyanya.
“Enggak kok,” jawab Magenta ringan. “Ini baru keluar mobil, terus nunggu kamu sebentar. Aku baru mau kirim WA.”
Cyan mengangguk singkat, pandangannya sekilas menyapu sekitar, lalu kembali ke Magenta. “Yaudah ayo.”
Seolah refleks, Magenta langsung melangkah dan membukakan pintu penumpang untuk Cyan. Gerakannya cepat, tanpa banyak pikir, sudah menjadi kebiasaan yang muncul begitu saja.
“Eh? Nggak usah… emm… makasih Gen,” kata Cyan sempet kebingungan dikit tapi akhirnya memilih senyum canggung sebelum duduk.
Magenta hanya mengangguk kecil, membalas dengan senyum singkat, lalu menutup pintu dengan hati-hati, dan memutari mobil menuju sisi pengemudi.
Begitu mesin menyala dan mobil melaju, Cyan beberapa kali melirik ke arah magenta. Seperti sedang memastikan bahwa Magenta baik-baik saja.
“Kamu masih ngantuk, gak?” tanya Cyan akhirnya.
“Enggak sayang.”
“Yakin?"
Magenta menoleh sebentar ke arahnya, alisnya terangkat tipis. “Emang kenapa? Khawatir? Kasih aku ciyum dong\~”
“NGACO! PUASA!”
“Hahaha… bercanda sayang. Trus kenapa, hm?”
“Hari ini kan kamu bangunnya jam tiga pagi,” jawab Cyan dengan santai, suaranya tenang. “Biasanya kamu jam enam pagi aja baru bangun. Tiap hari dateng ke kantor telat," ucapnya, sambil tersenyum tipis.
Magenta kembali mengarahkan pandangan ke depan, dengan satu tangannya mantap di setir, kemudian dia tertawa ringan.
“Tadi pagi sih ngantuk,” akunya. “Ngantuk parah kek mau pingsan.”
Cyan melirik Magenta lagi. “Kalau sekarang?”
“Kalau sekarang…” ucapan Magenta terhenti sejenak, lalu menoleh, menatap Cyan dengan senyum menggoda. “Setelah lihat yang sebening kamu, matanya mendadak seger.”
“Cih.”
Cyan mengerutkan keningnya, lalu mengalihkan pandangan ke depan, pura-pura memperhatikan jalan, tapi sudut bibirnya sudah terangkat sedikit.
***
Begitu mereka tiba di parkiran kantor, pemandangan itu langsung menarik perhatian satu orang.
Raka.
Ia berdiri di dekat pintu masuk dengan setumpuk berkas di tangan, tubuhnya sedikit bersandar ke pintu.
Dari posisi itu, ia sudah melihat segalanya. Mobil Magenta yang berhenti, Magenta turun lebih dulu, lalu Cyan menyusul, dan yang paling penting, mereka datang bersama lagi.
Raka membuka mata lebar-lebar.
“Selamat pagi, Bu Cyan," sapanya.
Cyan melirik sekilas ke arahnya. “Pagi.”
Raka tersenyum, lalu memiringkan kepala ke arah Magenta. “Selamat pagi juga, sopir pribadinya Bu Cyan.”
Magenta mengangkat alis tipis, lalu tersenyum santai. “Bangke lo! Jangan asal sebut! Ini tuh layanan antar-jemput khusus pelanggan prioritas.”
“Hmm,” Raka tersenyum menggoda sambil mengangguk-angguk. “Pelanggan prioritas banget nih, mas?”
Melihat Magenta dan Raka mengobrol, membuat Cyan mempercepat langkahnya masuk ke dalam, memilih menghindar sebelum percakapan melebar ke mana-mana. Namun beberapa langkah di belakang, Magenta dan Raka menyusul.
di perjalanan, Raka sengaja menempatkan dirinya tepat di antara Cyan dan Magenta. Bahunya sedikit melebar, jelas disengaja.
“Jadi,” katanya santai, “kalian sering berangkat-pulang bareng gini, udah ada hubungan?”
“Enggak sering,” jawab Cyan cepat, tanpa menoleh.
“Cuma kebetulan,” sambung Magenta hampir bersamaan.
Raka mempercepat langkahnya, kemudian berhenti tepat di depan cyan dan magenta. Raka Menoleh ke mereka satu per satu.
“Enggak sering, tapi tiap hari,” katanya akhirnya. “Lucu deh, kalian jawab pertanyaan sesimpel ini aja kompak banget.”
Cyan mendengus pelan, dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah menjauh, jelas tak berminat melayani Raka.
Magenta menepuk bahu Raka singkat. “Kerja, Raka. Jangan kebanyakan kepo.”
Raka tertawa kecil. “Justru ini detail paling menarik dari hari gue Mas Maag.”
Magenta tak menanggapi. Ia melanjutkan berjalan, lalu berbelok ke arah mejanya, membuka tas, dan fokus pada rutinitasnya, seolah tak terjadi apa-apa.
Raka masih berdiri di tempatnya beberapa detik lebih lama, sambil memperhatikan arah kepergian mereka berdua.
“Bilangnya sih kebetulan,” gumamnya pelan. “Tapi insting gue gak pernah salah.”
***
Sekitar satu jam kemudian, saat kantor sudah mulai dipenuhi suara ketikan, Raka mendekat ke meja Magenta sambil membawa setumpuk berkas di tangannya.
“Gue taruh di sini ya,” katanya santai, lalu meletakkan setumpuk berkas itu di sisi kanan meja.
“Oke,” jawab Magenta singkat, masih menatap layar laptopnya.
Namun Raka tidak langsung pergi. Ia justru bersandar ke tepi meja Magenta, dengan satu tangannya menopang tubuh. Suaranya diturunkan, nada bicaranya berubah lebih personal.
“Lo sadar nggak sih,” katanya pelan, “lo makin kelihatan.”
“Kelihatan apa?” tanyanya datar, matanya tetap terpaku pada layar, seolah tidak benar-benar tertarik.
“Kelihatan bucin.”
Magenta akhirnya menoleh. Tatapannya sedikit tajam, alisnya terangkat tipis. “Sttt… hati-hati congor lo kalo ngomong, Rak.”
Raka menyeringai kecil. “Kenapa? Takut Bu Cyan denger?”
Magenta membalas dengan senyum miring. Tipis memang, tapi mengandung peringatan. “Lo terlalu gampang nyimpulin sesuatu. Awas, kalo salah jadinya fitnah.”
Raka terkekeh pelan. “Kalo insting gue bener, jatohnya bukan fitnah.” Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Tapi jujur deh, mas.”
Ia menurunkan suara lagi, hampir seperti bisikan. “Lo perhatian banget sama dia.”
“Dia atasan gue,” jawab Magenta cepat, nada suaranya terdengar santai.
“Lho, dia juga atasan gue,” potong Raka tanpa ragu. “Atasan mana yang lo jemput tiap pagi? Yang lo bukain pintu mobilnya? Yang lo perhatiin jam makannya? Gue aja nggak pernah segitunya sama Bu Cyan, walaupun dia atasan gue.”
“AWAS KALO LO BERANI!” Matanya melotot seram, nggak seperti si humoris biasanya.
Magenta menutup mulutnya buru-buru sadar kalau keceplosan, lalu terus terdiam sepersekian detik.
Kemudian Raka menyipitkan matanya. “Lhoo… santay aja kali. Sekarang lo emosi. Tenang aja sih, gue ngga bakal anter-jemput dia.”
“Udah lah. Lo kebanyakan ngarang,” bantah Magenta akhirnya.
“Gue gak ngarang,” kata Raka ringan. “Gue liat pake mata kepala gue sendiri.”
Magenta hanya diam, tak membalas.
Raka berdiri tegak, lalu melipat kedua lengannya di dada, dengan ekspresi penuh keyakinan. “Lo mau gue sebut satu-satu di depan dia?”
Magenta mendengus pelan. “Apaan sih, drama banget.”
“Lo yang drama,” balas Raka santai. “Perasaan lo ke dia tuh dari luar angkasa juga udah kelihatan jelas, mas.”
Magenta bersandar ke sandaran kursi, ikut menyilangkan tangan di dada. “Terus?”
“Lo harus jujur sama perasaan sendiri, takut nanti diambil orang,” jawabnya santai.
Magenta terdiam, jarinya mengetuk sandaran kursi tanpa sadar.
Raka tersenyum puas. “Tuh kan, baru mikir dia.”
***
Menjelang Maghrib, suasana kantor berubah pelan. Aktivitas mengetik mulai melambat, beberapa layar dimatikan, dan aroma makanan dari pantry menyusup ke antara meja-meja kerja.
Cyan bangkit dari kursinya, melirik jam di pergelangan tangan. “Sebentar lagi,” gumamnya pelan, lalu melangkah menuju pantry.
Magenta refleks berdiri hampir bersamaan. Kursinya bergeser sedikit, tubuhnya sudah bergerak ke arah pantry bahkan sebelum Cyan benar-benar menjauh dari mejanya.
Di pantry, beberapa takjil sudah tertata rapi. Cyan berhenti di dekat meja panjang, membuka satu kotak berisi kurma.
Tak lama, Magenta menyusul. Ia berdiri agak menyamping, sedikit menjaga jarak.
“Kamu mau yang mana?” tanya Magenta, dengan nada suara santai.
“Kurma aja,” jawab Cyan singkat. “Sama air.”
Magenta mengangguk, lalu tangannya sudah bergerak lebih dulu mengambil dua gelas, menuang air, lalu menyodorkan salah satu gelas berisi air itu ke arah Cyan. Ia bahkan memastikan kurmanya sudah diletakkan rapi di samping gelas.
Cyan menoleh kemudian menerimanya dengan sedikit heran. “Eh nggak usah padahal. Tapi makasih Gen.”
“Sama-sama Syan.”
Di sudut pantry, Raka pura-pura sibuk menuang air ke gelasnya sendiri. Tapi matanya, tak lepas dari segala perhatian yang diberi Magenta kepada Cyan.
"Fiks, dia kecintaan," ucap Raka pada dirinya sendiri.
Azan magrib berkumandang dari aplikasi ponsel salah satu karyawan.
“Selamat berbuka semuanya!” ucap Magenta cukup kencang, suaranya memantul ringan di ruangan.
“Selamat berbuka!”
“Selamat makan, semua!”
Balasan datang dari berbagai arah, disertai senyum-senyum lelah yang akhirnya boleh bernapas lega setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Magenta lalu melirik ke arah Cyan. “Selamat berbuka puasa, Syan,” katanya, lebih pelan kali ini.
Cyan menoleh sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. “Selamat berbuka puasa, Genta.”
Cyan memakan kurmanya, kemudian meneguk air perlahan, lalu melirik sekilas ke arah Alya. “Aku nyamperin Alya dulu, ya.”
“Oke… hati-hati cantik,” jawab Magenta sambil tersenyum.
Cyan berbalik dan berjalan ke arah Alya dengan langkah yang tenang.
Magenta masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Cyan yang semakin menjauh.
Raka mendekat perlahan, tidak terburu-buru.
“Mas Maag,” katanya tenang, berdiri di samping Magenta. “Kita ngobrol-ngobrol sebentar, yuk.”
Magenta menatapnya sebentar, lalu menuang air ke botolnya sendiri. “Ngobrolin apaan?”
“Perasaan lo.” Raka menegaskan kata itu. “Gue udah perhatiin gerak-gerik lo dari tadi. Lo berusaha bilang ‘cuma perhatian biasa’, tapi gue masih gak percaya.”
Magenta mendengus ringan. “Halah, buang jauh pikiran lo itu. Dia gak mungkin suka sama gue.”
“Gue nggak nanya dia suka sama lo atau nggak. Gue nanya perasaan lo," Raka mengangkat alis, menahan senyum kecil. "Nah, dari sini udah keliatan, mas. Lo suka sama Bu Cyan.”
Magenta menggeleng cepat, sedikit panik. “Udah gue bilang, gue gak suka sama dia. Perhatian yang gue kasih cuma perhatian biasa.”
“Kalau lo gak suka,” potong Raka, suaranya lebih tegas sekarang, “Lo gak bakal ngasih perhatian segede itu.”
Magenta terdiam. Tangannya masih menggenggam gelas, jari-jarinya mengetuk perlahan.
Raka berdiri tegak, menatapnya. “Lo bisa bohong sama gue, bisa bohong sama orang lain, tapi insting gue gak pernah salah. Semua yang gue liat, semuanya nunjukin kalo lo punya perasaan lebih sama Bu Cyan.”
Magenta menatap ke arah Cyan beberapa detik, kemudian menghela napas panjang.
“Ah udah lah gausah di bahas,” ucap Magenta, lalu melangkah meninggalkan Raka, bergabung bersama karyawan yang lain.
Raka tersenyum puas. Ia tahu, instingnya kali ini tepat. Magenta pasti menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar perhatian biasa. Dan meskipun belum diakui, semua tanda itu jelas terlihat.
Raka menatap Magenta yang kini duduk bersama karyawan lain. “Lo bisa menghindar sih,” gumam Raka sendiri. “Tapi insting gue nggak pernah salah, mas.”
Perjalanan pulang Raka ke parkiran setelah tadi buka puasa bersama emang capek banget, apalagi beberapa kerjaan yang terpaksa di tunda besok bikin Raka ini nggak tenang. Baru aja Raka membuka pintu mobil merahnya, tapi matanya fokus ke mobil di sebrang, matanya memincing fokus. Tanpa diduga hal yang lebih mengerikan terjadi depan matanya, Cyan dan Magenta duduk di dalam mobil lalu saling mendekat dan…
“Anjir… mereka ciuman?!”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣