Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGAPA RIZKY MELAKUKAN TINDAKAN SELINGKUH?
Pada sesi konseling keluarga berikutnya, Pak Herman mengajak Rizky untuk membahas lebih dalam tentang apa yang sebenarnya mendorongnya untuk melakukan tindakan selingkuh.
Ia menjelaskan bahwa memahami akar penyebab dari perilaku tersebut sangat penting untuk mencegah hal yang sama terjadi di masa depan dan membangun hubungan yang lebih sehat.
Rizky terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan tersebut. Ia tahu bahwa ini adalah bagian yang sulit dari proses konseling, namun ia juga menyadari bahwa untuk benar-benar berubah, ia harus jujur dengan diri sendiri dan dengan Arini tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya.
"Saya pikir semuanya dimulai dari rasa tekanan yang terus-menerus saya rasakan," ujar Rizky dengan suara yang tenang dan jelas. Ia melihat ke arah Arini dengan mata yang penuh rasa bersalah sebelum melanjutkan. "Sebagai anak pertama dalam keluarga, saya selalu merasa ada harapan besar untuk sukses. Ayah saya selalu mengatakan bahwa saya harus menjadi contoh bagi saudara-saudara saya dan membawa nama baik keluarga."
Ia menceritakan bagaimana sejak muda, ia telah diajarkan untuk selalu menjadi yang terbaik – baik di sekolah, di pekerjaan, maupun dalam kehidupan sosialnya.
Ia merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil selalu diawasi dan dinilai oleh orang lain, terutama oleh keluarga besarnya.
Ketika ia mulai bekerja dan akhirnya mendirikan bisnisnya sendiri, tekanannya semakin besar untuk menunjukkan bahwa ia bisa sukses.
"Ketika bisnis mulai berkembang dan proyek-proyek besar mulai datang, saya merasa seperti sedang berada di atas kapal yang tengah dilanda badai," lanjut Rizky. "Saya bekerja hampir setiap hari tanpa istirahat yang cukup, seringkali pulang larut malam dan terlalu lelah untuk berkomunikasi denganmu dan Tara, sayang."
Ia mengakui bahwa pada saat itu, ia merasa semakin terisolasi dan tidak dipahami. Ia merasa bahwa Arini terlalu sibuk dengan bisnis kue nya sendiri dan tidak punya waktu untuk memahami beban yang ia tanggung.
Padahal sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar membuka diri dan memberitahu Arini tentang apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Saat itu, saya bertemu dengan seseorang yang membuat saya merasa seperti saya masih penting dan diperhatikan," ujar Rizky dengan suara yang semakin rendah. "Dia memberikan saya perhatian yang saya rasa tidak dapatkan lagi dari rumah. Dia mendengarkan keluhan saya tanpa menghakimi dan membuat saya merasa seperti saya masih bisa menjadi diri saya sendiri. Saya tahu bahwa apa yang saya lakukan adalah salah, namun saya merasa seperti itu adalah satu-satunya cara untuk saya bisa bernapas dan merasa baik tentang diri saya sendiri."
Pak Herman mengangguk dengan pengertian dan kemudian menjelaskan bahwa rasa tidak cukup baik, tekanan yang tidak terkelola, dan kurangnya komunikasi dalam hubungan adalah faktor-faktor umum yang dapat menyebabkan seseorang terlibat dalam hubungan yang tidak pantas.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang yang merasa terjebak dalam situasi yang menyakitkan seperti ini tidak melakukan tindakan tersebut karena mereka tidak mencintai pasangannya, melainkan karena mereka tidak tahu cara lain untuk mengatasi perasaan mereka.
"Penting untuk memahami bahwa tindakanmu tidak dapat dibenarkan, namun kita bisa memahami mengapa hal itu terjadi," ujar Pak Herman kepada Rizky. "Dan dengan memahami alasannya, kamu bisa belajar cara yang lebih baik untuk mengatasi perasaanmu dan menghadapi tantangan hidup tanpa harus mencari pelarian yang salah."
Arini mendengarkan semua itu dengan hati yang penuh pengertian.
Meskipun rasa sakitnya masih ada, ia mulai memahami bahwa Rizky tidak melakukan tindakan tersebut karena dia tidak mencintainya lagi, melainkan karena dia sedang mengalami kesulitan dalam mengelola perasaan dan tekanan yang ada padanya.
"Saya juga merasa bersalah dalam hal ini, sayang," ujar Arini dengan suara lembut, mengambil tangan Rizky. "Saya seharusnya lebih memperhatikanmu dan menyadari bahwa kamu sedang mengalami kesulitan. Saya terlalu fokus pada bisnis saya sendiri dan tidak menyadari bahwa kamu membutuhkan dukungan dan perhatian dari saya."
Rizky melihat istri nya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa sangat bersyukur karena Arini bisa memahami dan tidak hanya menyalahkannya atas semua yang telah terjadi.
"Saya juga menyadari bahwa saya memiliki masalah dengan harga diri saya sendiri," tambah Rizky. "Saya selalu merasa bahwa saya harus membuktikan diri saya sebagai pria yang sukses dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika saya merasa bahwa saya gagal dalam hal itu, saya mencari validasi dari orang lain untuk membuat saya merasa lebih baik tentang diri saya sendiri."
Pak Herman kemudian memberikan beberapa saran tentang bagaimana Rizky bisa mengatasi masalah-masalah tersebut.
Ia menyarankan Rizky untuk belajar cara mengelola stres dan tekanan dengan lebih baik, seperti dengan melakukan olahraga secara teratur, meditasi, atau menghabiskan waktu untuk hobi yang ia nikmati.
Ia juga menyarankan Rizky untuk belajar cara berkomunikasi dengan lebih terbuka dengan Arini tentang apa yang sebenarnya ia rasakan, daripada menyembunyikannya dan mencari solusi yang salah.
"Sangat penting untuk membangun sistem dukungan yang sehat dalam hubunganmu," ujar Pak Herman. "Kamu dan Arini perlu belajar untuk menjadi tim yang solid, saling mendukung dan memahami satu sama lain dalam suka maupun duka. Jangan biarkan tekanan hidup membuat kalian terpisah satu sama lain."
Setelah sesi konseling selesai, Rizky dan Arini pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya menyebabkan masalah dalam hubungan mereka.
Pada malam itu, mereka duduk bersama di ruang tamu dan berbicara lebih lanjut tentang semua yang telah mereka bahas dengan Pak Herman.
"Saya berjanji bahwa saya akan belajar untuk berkomunikasi dengan lebih terbuka denganmu dari sekarang ini, sayang," ujar Rizky dengan suara yang penuh tekad. "Saya tidak akan lagi menyembunyikan perasaan saya atau mencari cara yang salah untuk mengatasinya. Saya akan selalu memberitahumu ketika saya merasa tertekan atau kesulitan, dan kita akan menghadapinya bersama-sama."
Arini tersenyum dengan penuh harapan dan memeluk suaminya dengan erat. "Saya juga akan berusaha untuk lebih memperhatikanmu dan menjadi pendengar yang lebih baik," jawabnya. "Kita adalah pasangan, dan kita harus saling mendukung satu sama lain. Kita tidak akan lagi membiarkan sesuatu atau orang lain memisahkan kita."
Keesokan paginya, Rizky memulai hari nya dengan cara yang berbeda. Ia bangun lebih awal dan melakukan latihan pagi selama sekitar tiga puluh menit – sesuatu yang ia tinggalkan sejak bisnisnya mulai berkembang pesat.
Setelah itu, ia memasak sarapan untuk keluarga dan menghabiskan waktu berkualitas dengan Arini dan Tara sebelum pergi ke kantor.
Di kantor, ia membuat beberapa perubahan dalam cara kerjanya. Ia menetapkan batasan waktu kerja yang jelas, memastikan bahwa ia pulang tepat waktu untuk bisa menghabiskan waktu dengan keluarga.
Ia juga mengundurkan diri dari beberapa proyek yang terlalu membebani dan fokus pada proyek-proyek yang benar-benar ia nikmati dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Rekan kerja nya segera memperhatikan perubahan pada Rizky. Mereka melihat bahwa ia tampak lebih tenang, bahagia, dan fokus dalam bekerja.
Banyak dari mereka yang mengaku bahwa perubahan tersebut juga berdampak positif pada suasana kerja di kantor.
Pada sore hari, Rizky menerima telepon dari ayahnya. Setelah saling bertukar kabar tentang keadaan masing-masing, ayahnya mengatakan bahwa ia telah mendengar tentang perubahan yang terjadi pada dirinya dan merasa sangat bangga.
"Saya tahu bahwa saya mungkin terlalu keras padamu ketika kamu masih muda, anakku," ujar ayahnya dengan suara yang penuh rasa sayang. "Saya hanya ingin memastikan bahwa kamu akan sukses dalam hidup. Namun saya menyadari bahwa saya mungkin telah memberikan tekanan yang terlalu besar padamu. Saya minta maaf untuk itu."
Rizky merasa mata nya berkaca-kaca mendengar kata-kata ayahnya. Ia tahu bahwa ini adalah langkah besar bagi ayahnya untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Bapak," ujar Rizky dengan suara yang penuh rasa syukur. "Saya juga menyadari bahwa semua yang kamu lakukan adalah karena kamu mencintai saya dan ingin yang terbaik bagi saya. Dan sekarang saya sudah menemukan cara yang benar untuk mengatasi tekanan dan menjadi orang yang lebih baik."
Setelah berbicara dengan ayahnya, Rizky merasa seperti ada beban lain yang terangkat dari pundaknya.