Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Altair baru saja selesai mandi. Handuk putih masih melingkar rendah di pinggangnya, tetesan air masih mengalir di dada dan bahunya. Ia menyugar rambut basahnya ke belakang dengan satu tangan, berjalan santai keluar dari kamar mandi.
Namun siluet seseorang di tengah kamar membuat langkahnya terhenti seketika.
“Siapa?” tanya Altair tegas, instingnya langsung aktif. Tangannya refleks membuka laci kecil di samping pintu kamar mandi dan meraih pistol yang selalu ia simpan di sana.
“Surpriseee!”
Suara itu membuatnya membeku.
Ciara berdiri di tengah kamar dengan kedua tangan direntangkan lebar, senyum cerah menghiasi wajahnya.
Karena terkejut, hampir saja Altair menarik pelatuknya. Jarinya sudah menegang di pelatuk—namun ia langsung mengurungkan niat saat menyadari dua hal sekaligus:
Itu Ciara.
Dan handuknya… melorot.
“Aaaaghhhhh!” Ciara menjerit histeris sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Itu apaaaa! Cacing Alaskanya gede bangettt! Aaaaghhh!”
“ASTAGA, CIARA!” bentak Altair panik.
Dengan gerakan cepat, ia menjatuhkan pistol ke atas kasur dan meraih handuknya yang hampir sepenuhnya terlepas. Ia melilitkannya kembali dengan tergesa.
“Kamu ini bisa nggak sih masuk kamar orang tanpa bikin jantung copot?” gerutu Altair, wajahnya biasanya tenang kini benar-benar terlihat kacau.
Ciara masih memalingkan wajahnya, tapi jari-jarinya sedikit merenggang, mengintip nakal.
“Aku cuma mau kasih kejutan…” gumamnya, masih setengah histeris. “Tapi yang kaget malah aku!”
Altair menghela napas berat, menutup wajahnya sebentar dengan tangan. “Kenapa kamu nggak bilang dulu kalau mau datang?”
“Kalau bilang dulu namanya bukan surprise dong,” balas Ciara cepat.
Altair menatapnya tajam. “Itu hampir bukan surprise. Itu hampir jadi tragedi.”
Ciara akhirnya menurunkan tangannya sepenuhnya. Wajahnya merah padam—entah karena malu atau karena menahan tawa.
“Kamu mau nembak aku tadi?” tanyanya, nadanya setengah kesal.
“Aku pikir penyusup,” jawab Altair tegas. “Kamu tahu kan pekerjaanku seperti apa.”
Ciara terdiam sejenak. Ekspresinya melunak.
Altair melangkah mendekat, kali ini lebih tenang. Ia masih bertelanjang dada, tapi handuknya sudah aman terikat.
“Kamu nggak boleh sembarangan masuk kamar orang,” ucapnya lebih lembut. “Kalau aku telat sepersekian detik menyadari itu kamu…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Ciara menelan ludah pelan.
“Maaf,” bisiknya.
Altair menghela napas, lalu mengusap rambut Ciara dengan tangan yang masih sedikit basah. “Aku bukan marah. Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
“Takut menyakitimu.”
Kalimat itu membuat Ciara terdiam. Jantungnya berdebar pelan.
Suasana canggung tadi perlahan berubah menjadi hangat.
Namun tiba-tiba Ciara menyeringai.
“Tapi serius deh,” katanya pelan, menahan tawa. “Cacing Alaska…”
“CIARA!” Altair langsung menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya kini benar-benar memerah—untuk pertama kalinya mungkin dalam hidupnya.
Ciara tertawa lepas di balik telapak tangan Altair.
“Diam,” geramnya pelan, tapi sudut bibirnya ikut terangkat. “Kalau kamu masih mau hidup panjang, jangan ulangi kalimat itu.”
Ciara mengangguk cepat, meski matanya masih berbinar nakal.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, kamar Altair yang biasanya sunyi dan dingin dipenuhi tawa.
“Ciaraaa, kamu bisa diam nggak?” sela Altair, rahangnya mengeras. Ia membuka lemari dengan gerakan cepat dan mengenakan kaus hitam, berusaha mengabaikan ocehan Ciara yang makin menjadi.
“Uncleee, aku udah dewasa, tau! Pantesan kata temen-temenku, pengalaman pertama itu katanya—”
“CIARA.”
Nada suara Altair berubah. Rendah. Penuh peringatan.
Tapi Ciara justru tertawa kecil, masih menatapnya dengan mata berbinar nakal.
Altair menutup pintu lemari dengan keras.
Hening.
Beberapa langkah panjang membawanya mendekati Ciara. Kali ini bukan sebagai pria yang canggung, bukan sebagai uncle yang menjaga jarak.
Tapi sebagai pria dewasa yang sedang berusaha keras menahan diri.
“Kamu sengaja, ya?” tanyanya pelan.
Ciara mengangkat dagu sedikit. “Sengaja apa?”
“Kamu tahu betul aku berusaha menjaga batas. Tapi kamu terus memancing.”
Degup jantung Ciara tiba-tiba berubah. Nada suara Altair tak lagi terdengar kesal—melainkan berat.
“Aku cuma jujur,” jawab Ciara lebih pelan, tapi tetap berani. “Aku nggak takut sama kamu.”
Altair tersenyum tipis. Bukan senyum lembut. Senyum yang membuat Ciara mendadak kehilangan sebagian keberaniannya.
“Kamu nggak takut?” ulangnya pelan.
Dalam satu langkah cepat, Altair mendekat hingga jarak mereka nyaris tak ada. Tangannya terangkat, bukan untuk kasar—melainkan menahan dagu Ciara dengan dua jari, mengangkat wajahnya agar menatap lurus ke matanya.
“Aku ini pria dewasa, Ciara,” bisiknya rendah. “Dan kamu berdiri di kamar pribadiku, menggoda tanpa rem.”
Napas Ciara tercekat.
“Aku nggak ngegoda…”
“Kamu sangat menggoda.”
Kalimat itu keluar tanpa ragu.
Hening kembali jatuh di antara mereka. Udara terasa lebih panas meski pendingin ruangan menyala.
Altair menatap bibir Ciara sesaat, lalu kembali ke matanya. Seolah meminta izin tanpa benar-benar bertanya.
Ciara tidak mundur.
Tidak juga berbicara.
Hanya menatapnya dengan dada naik turun tak teratur.
Dan kali ini, Altair yang lebih dulu menutup jarak.
Bibirnya menyentuh bibir Ciara—tegas, dalam, tapi tetap terkontrol. Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Namun jelas penuh hasrat yang selama ini ia tekan.
Ciara terkejut sepersekian detik, lalu membalas. Tangannya mencengkeram kaus Altair, menariknya lebih dekat.
Ciuman itu bukan lagi canggung.
Bukan lagi main-main.
Itu pengakuan.
Altair yang memimpin, memperdalam dengan perlahan, tangannya melingkar di pinggang Ciara, menahannya agar tidak goyah.
Beberapa detik terasa lama.
Saat akhirnya ia menjauh, napas mereka sama-sama berat.
“Kamu memang sudah dewasa,” gumam Altair pelan di dekat bibirnya. “Tapi jangan pernah anggap aku tidak bisa kehilangan kendali.”
Ciara tersenyum kecil, masih terengah.
“Berarti… aku berhasil bikin kamu kehilangan kendali?”
Altair menatapnya lama.
“Kehilangan kendali?” ulangnya pelan.
Lalu ia mendekatkan wajahnya lagi, hanya menyisakan jarak setipis napas.
“Tidak,” bisiknya. “Aku masih mengendalikan diri. Untukmu.”
Dan kali ini, Ciara yang terdiam.
Karena ia sadar.
Altair bukan pria yang mudah goyah.
Tapi jika ia benar-benar melepas kendali—
Itu akan jadi cerita yang jauh lebih berbahaya.
“Aku nggak mau panggil Uncle lagi,” ungkap Ciara dengan senyum berbinar, matanya menatap Altair tanpa ragu.
Altair yang sedang berusaha menenangkan diri menoleh pelan. “Maksud kamu?”
“Altair,” ucap Ciara sengaja menekankan namanya. “Aku mau panggil pakai nama aja. Biar lebih oke. Biar kita bisa pacaran normal. Kalau aku panggil ‘Uncle’, kesannya aneh.”
“Ciaraaa…” desah Altair panjang, separuh peringatan, separuh kewalahan.
“Iya, Altair! Aku di sini, sayaaangg!” jawabnya manja, bahkan sedikit menggoda.
Jawaban itu seperti menyiram bensin ke bara yang sudah lama Altair tahan.
Tatapan pria itu berubah. Bukan marah. Bukan kesal.
Tapi intens.
Dalam dua langkah cepat, ia sudah berdiri tepat di depan Ciara. Tangannya terangkat, memegang pinggang gadis itu agar tidak bergerak mundur.
“Kamu tahu nggak, setiap kalo kamu ngomong seperti itu…” suaranya rendah, bergetar tipis menahan sesuatu.
Ciara menelan ludah, tapi tetap tersenyum kecil. “Apa?”
Altair tidak menjawab dengan kata.
Ia langsung membungkam bibir Ciara dengan bibirnya.
Ciuman itu dalam. Tegas. Tidak terburu, tapi jelas penuh hasrat yang sudah lama ia tekan. Tangannya mengerat di pinggang Ciara, menariknya semakin dekat hingga tak ada jarak tersisa.
Ciara terkejut sepersekian detik, lalu membalas dengan sama beraninya. Tangannya melingkar di leher Altair, berdiri sedikit berjinjit agar bisa menyesuaikan tinggi mereka.
Altair memimpin sepenuhnya. Ia memperdalam ciumannya, perlahan namun pasti, seolah menegaskan satu hal—ia bukan lagi sekadar “uncle” yang menjaga jarak.
Saat akhirnya ia menjauh, napas mereka sama-sama berat.
“Jangan panggil aku Uncle lagi,” ucap Altair pelan, dahinya menempel pada dahi Ciara. “Kalau kamu memilih memanggilku Altair… berarti kamu tahu konsekuensinya.”
“Konsekuensi apa?” Ciara berbisik.
Altair mengusap pipinya lembut, tapi tatapannya masih panas.
“Aku akan memperlakukanmu sebagai wanitaku. Bukan anak kecil yang harus kujaga jaraknya.”
Jantung Ciara berdetak cepat.
“Dan aku mau itu,” jawabnya tanpa ragu.
Altair terdiam sesaat, menatapnya dalam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Baik,” gumamnya. “Mulai sekarang… panggil namaku.”
Ciara tersenyum lebar. “Altair.”
Nama itu terdengar berbeda saat keluar dari bibirnya.
Altair kembali mencium Ciara—kali ini lebih lembut, lebih terkontrol. Bukan sekadar hasrat, tapi pengakuan.
Dan sejak detik itu, batas yang dulu ada di antara mereka perlahan menghilang.
***