Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan Aktif
Darren duduk di seberang Tafana dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada—tatapan orang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan tahu akhirnya hari itu datang juga.
“Kamu tahu apa?” suara Tafana rendah, nyaris datar. “Tentang Ravindra.”
Darren mengembuskan napas perlahan. “Kakak yakin mau dengar semuanya sekarang?”
“Aku nggak nanya kalau nggak siap,” jawab Tafana. Tatapannya tidak berkedip. “Jangan disaring.”
Ada jeda sebelum Darren mengangguk kecil. “Kakak ingat waktu aku tiba-tiba telepon tanya Bang Ravindra? Kakak jawab dia lagi dinas di luar kota, kan?” Darren menggeser posisi duduknya. “Waktu itu aku lihat sendiri mereka, Ravindra dan Yunika. Di luar kota, berdua. Waktu itu kebetulan aku lagi touring sama teman.”
Tafana tidak langsung bereaksi. Wajahnya tetap tenang, seolah sedang mendengar laporan cuaca. “Mereka kerja bareng?”
“Terlalu mesra buat disebut kerja bareng. Aku lihat Ravindra pegang pinggangnya, itu bukan gestur teman lama atau rekan kerja, Kak!” Darren membetulkan. “Satu hotel, satu kartu. Aku ikuti terus, mereka bahkan ke tempat wisata bareng, kayak turis lagi honeymoon.”
Tafana menunduk, menatap tangannya sendiri. “Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena aku nggak mau bikin Kakak kaget,” jawab Darren jujur. “Aku nunggu Kakak siap lepasin dia.”
Hening turun. Tafana mengangguk pelan. “Kamu benar.”
Ia mengangkat wajahnya kembali. Kali ini sorot matanya berubah—lebih tajam, lebih dingin. “Aku mau cerai.”
Darren tidak tampak terkejut. “Aku bantu urusin.”
“Serius?” Tafana menatapnya. “Aku nggak mau banyak drama. Usahakan rapi, legal, cepat.”
Darren langsung mengangguk. “Gugatan cerai ke kukirim ke Pengadilan Agama. Kita pakai alasan perselingkuhan. Bukti akan nyusul. Kakak siapkan dokumen, sisanya biar aku.”
Tafana mengeluarkan map tipis dari tasnya dan mendorongnya ke tengah meja. “Sudah aku siapkan.”
Darren terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis—bukan senyum senang, tapi bangga. “Oke,” katanya mantap. “Sekarang tinggal satu hal.”
“Apa?” Tafana menoleh.
“Jangan merasa bersalah. Dia yang menghancurkan, bukan Kakak.”
-oOo-
Ravindra meninggalkan ponselnya di meja kerja hanya karena satu hal sepele: ia ke kamar mandi. Sebuah kebiasaan kecil, ceroboh, yang selama ini tak pernah ia anggap berbahaya. Karena di kepalanya, ponsel itu selalu aman. Tidak pernah berpindah tangan.
Tafana berdiri di ambang pintu, menatap benda hitam itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Jantungnya tidak berdegup kencang. Tidak ada tangan gemetar. Yang ada justru ketenangan dingin, ketenangan orang yang sudah terlalu lelah untuk terkejut.
Lucu, batinnya. Begitu hati mati rasa, moral ikut menepi.
Ia melangkah mendekat, mengambil ponsel itu dengan gerakan cepat. Kata sandinya, tanggal ulang tahun Yunika.
Tafana sempat tersenyum tipis saat layar terbuka. Konsisten sekali selingkuhnya, sampai urusan keamanan pun masih setia, pikirnya.
Aplikasi itu terpasang dalam hitungan menit. Sinkronisasi berjalan mulus. Di layar laptopnya, tampilan ponsel Ravindra muncul utuh, seolah dunia kecil yang selama ini tertutup kini terbuka tanpa perlawanan.
Saat Ravindra kembali, Tafana sudah meletakkan ponsel itu di tempat semula.
Ia menyambut suaminya dengan senyum kecil. Ia menyodorkan handuk, menuang air minum. Semua berjalan seperti biasa.
Ia mendengarkan cerita Ravindra dengan ekspresi perhatian palsu yang nyaris sempurna. Bahkan di dalam hati ia sempat mencibir: Aku pantas dapat penghargaan akting.
Tafana memasuki kamarnya begitu Ravindra sibuk, menguncinya dari dalam. Ia menyalakan laptopnya di meja. Membuka aplikasi yang dapat mengintip ponsel Ravindra.
Tafana tidak langsung membuka pesan. Ia menatap layar itu lama, seperti seseorang yang menunda membuka hasil lab yang sudah ia tahu diagnosanya. Ini bukan lagi soal curiga. Ini soal konfirmasi.
Saat akhirnya ia mengetuk ikon chat Yunika, tidak ada ledakan emosi. Tidak ada air mata. Yang muncul justru rasa geli yang pahit.
Ravindra tidak menghapus apa pun.
Pesan-pesan itu berjejer rapi, kronologis, penuh detail. Keluhan, candaan, foto makanan, foto cermin, foto ranjang hotel dengan caption bercanda yang terasa menjijikkan karena santainya. Ada panggilan sayang yang tak pernah Ravindra ucapkan padanya. Ada rencana-rencana kecil yang dibicarakan seolah dunia mereka hanya berdua.
Tafana membaca sambil mengangguk pelan, seperti sedang mengoreksi laporan kerja.
Oh, jadi begini caramu mencintai, Vin. Rajin, konsisten, dan penuh usaha. Sayang sekali bukan ke istrimu.
Ia menemukan banyak foto-foto. Terlalu intim untuk disebut salah paham. Tangan Ravindra di pinggang Yunika, pantulan cermin lift hotel, foto sarapan berdua dengan keterangan waktu yang jelas, di hari-hari ketika Ravindra bilang dinas ke luar kota.
Tafana menarik napas panjang. Bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk memastikan ia tidak muntah karena jijik pada kebodohan masa lalunya sendiri.
Ia mulai mengambil tangkapan layar. Tidak serampangan. Ia pastikan tanggal terlihat. Nama kontak jelas. Waktu terbaca. Setiap bukti disimpan dalam folder berbeda, diberi judul netral, seperti arsip desain.
Ironis, pikirnya.
Pernikahannya kini lebih rapi sebagai dokumen hukum daripada sebagai hubungan manusia.
Ia mencatat satu hal penting: jadwal pertemuan berikutnya. Lokasi, jam, bahkan siapa yang mengusulkan lebih dulu. Semua terang-benderang karena Ravindra terlalu yakin tak ada yang mengintip.
Kesombongan memang selalu datang sebelum runtuh.
-oOo-
Pagi harinya, Tafana menyiapkan sarapan. Mengingatkan Ravindra membawa payung. Mendoakan pekerjaannya lancar. Ia melambai dari pintu sampai mobil itu menghilang.
Baru setelah rumah benar-benar kosong, ia mengunci pintu dan bersandar di dinding.
Ia mengambil buku hariannya, membuka lembarannya. Mengamati catatan setiap kejanggalan yang ditemukannya pada Ravindra belakangan ini. Kini keganjilan itu terjawab semua. Tak pelak air mata meluncur ke pipinya.
Tangisnya tidak dramatis. Tidak tersedu. Air mata jatuh pelan, satu-satu, seperti kebocoran kecil yang akhirnya dibiarkan. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, napasnya bergetar.
Bodoh, batinnya getir. Bukan karena diselingkuhi. Tapi karena pernah berharap, dan karena gagal menebak, selama ini Yunika lah wanita lain itu.
Ia menyesali kontrak pernikahan yang semula ia anggap aman. Menyesali keputusannya melibatkan hati. Menyesali dirinya yang sempat percaya Ravindra berbeda. Bahwa lelaki itu bisa belajar menjadi suami, bukan hanya pemeran.
Tafana menghapus air matanya kasar. Kesedihan itu nyata, tapi tidak mengacaukan langkahnya.
Ia sudah cukup menangis. Sekarang, saatnya menyelesaikan segalanya dengan kepala dingin.
Karena jika cinta bisa dipermainkan sebegitu rapi, maka perpisahan pun pantas diperlakukan sama.
Tanpa ampun, tanpa drama, dan tanpa belas kasihan.
Tafana meraih tasnya, mengeluarkan lipstik sebagai penemuan pertamanya. Warnanya merah terang, terlalu mencolok untuk menjadi miliknya. Ia baru ingat, Yunika senang warna bibir membutakan mata seperti ini.
Ia kemudian memandang nomor Yunika di layar ponselnya, seringai tersungging. Ia ingin sedikit memberinya pelajaran.
-oOo-
Kantor Luminara Creative Industries
Lobi kantor Luminara di jam pulang kantor sibuk dan dingin. Yunika terkejut menemukan Tafana di sana, melambai padanya.
"Eh, Tafana ada apa?" ia berusaha keras tampak natural.
"Aku mau ajak kamu makan bareng sambil ngobrol aja. Boleh kan?" Tafana tersenyum tenang.
"Berdua aja? Kok... mendadak?" Yunika hampir tak bisa menyembunyikan rasa curiganya. Suaranya tak selancar biasanya.
"Iya, girls time gitu. Kita ngobrol-ngobrol. Mau ya?" Tafana meyakinkan. "Cuma makan di dekat sini kok. Kamu deh yang pilih tempatnya."
Yunika akhirnya mengangguk, menyanggupi. Sementara Tafana dalam hati puas melihat gelagat panik perempuan itu saat kehilangan kendalinya.
Kamu nggak suka kan saat suatu hal berjalan di luar kontrolmu? Aku akan tunjukkan gimana rasanya, pikir Tafana.
"Wah, lihat. Siapa di sini? Kamu dari keluarga Myltom kan? Tafana, benar?" suara seorang pria mengambil perhatian keduanya. Pria paruh baya itu mendekati Tafana. "Om udah lama nggak ke rumah kamu, gimana kabarnya Papa-Mama?"
Yunika terperangah melihat pria yang tampak gagah dalam setelan jas rapi itu. Dandi Fauzan Ginanjar, direktur perusahaan Luminara tempat ia bekerja. Pria itu tampak berbincang santai dengan Tafana. Perempuan itu pun menanggapinya akrab, seperti kenalan lama.
Tanpa sadar Yunika menelan ludah terlalu keras.
"Eh kalian habis ini mau makan? Aku traktir ya. Om belum pernah kunjungi kamu sejak pernikahan kamu, sekalian untuk menebus itu," Bapak Dandi menawarkan.
Tafana melirik Yunika, raut wajah dibuat sungkan. "Aduh, gimana ini Yunika? Boleh Om Dandi ikut kita?"
Yunika mengangguk cepat. "Tentu, Pak Direktur."
Tafana menyeringai, hampir melepas tawa melihat wajah Yunika yang pias. Kehilangan pilihan, dikuasai kekhawatiran.
Tapi ini baru awal, Tafana membatin.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅