NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Penyelidikan Dimulai

Malam mulai turun ketika beberapa mobil gelap bergerak keluar dari area gudang tua di pinggiran kota. Lampu depan dimatikan, hanya cahaya redup dari dashboard yang menerangi wajah-wajah serius di dalam kendaraan. Mereka adalah orang-orang pilihan Kai—bukan sekadar bawahan, melainkan tangan kanan yang bergerak di balik layar.

Di dalam mobil paling depan, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka tipis di pipinya menatap layar ponsel. Namanya Raven, kepala tim lapangan yang paling dipercaya Kai.

“Target berada di kampung barat,” ucap Raven pelan. “Rumahnya sederhana, tapi lingkungannya padat. Kita bergerak hati-hati.”

Pria di kursi samping mengangguk. “Bos ingin semuanya lengkap. Bukan hanya kekerasan, tapi juga jejak moralnya.”

Raven menyeringai tipis. “Kalau begitu, malam ini kita tidak pulang dengan tangan kosong.”

Mobil-mobil itu berhenti beberapa ratus meter dari kampung. Mereka turun satu per satu, berpakaian sederhana seperti warga biasa. Tidak ada yang akan menyangka bahwa orang-orang itu adalah bagian dari organisasi yang ditakuti banyak pihak.

---

Jejak Pertama – Suara Kampung

Dua orang menyusuri warung kecil di ujung gang. Lampu temaram, bau kopi dan rokok bercampur di udara.

“Bang, kopi satu,” ujar salah satu anak buah sambil duduk santai.

Pemilik warung melirik mereka. “Pendatang?”

“Iya, cari saudara,” jawabnya ringan. “Katanya tinggal di sekitar sini. Namanya suami Yuki.”

Begitu nama itu disebut, raut wajah pemilik warung berubah tipis.

“Oh… dia,” gumamnya. “Orangnya kasar.”

Raven yang duduk agak jauh memperhatikan tanpa ikut campur.

“Kasar gimana, Bang?” tanya anak buah itu seolah penasaran.

Pemilik warung menghela napas. “Istrinya sering nangis. Pernah datang ke sini malam-malam bawa bayi, mukanya lebam. Tapi orang kampung malas ikut campur. Takut.”

Anak buah itu saling pandang. “Terus sekarang?”

“Katanya istrinya kabur. Dia ngamuk seharian kemarin.”

Informasi itu langsung direkam dalam pikiran mereka.

---

Rumah Target – Bau Kebusukan

Sementara itu, Raven dan dua orang lain mendekati rumah suami Yuki dari sisi belakang. Jendela sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara tawa perempuan.

“Sayang, kau tenang saja,” suara selingkuhan terdengar manja. “Perempuan lemah seperti itu tidak mungkin bertahan.”

Raven memberi isyarat tangan agar yang lain diam.

Suami Yuki tertawa pendek. “Benar. Seharusnya dari dulu dia lenyap.”

Salah satu anak buah mengepalkan tangan, menahan emosi. Raven melirik tajam, memberi peringatan agar tetap tenang.

“Kita sudah menang,” lanjut perempuan itu. “Sekarang kau bebas.”

Raven berbisik pelan, “Rekam.”

Alat kecil langsung aktif, menangkap setiap kata tanpa suara.

---

Masa Lalu Terkuak

Keesokan harinya, tim lain menyusup ke kantor desa dan klinik kecil. Dokumen lama, laporan tak resmi, serta bisikan tenaga medis mulai dikumpulkan.

“Ini catatan tidak resmi,” ujar seorang anggota sambil menunjukkan foto di ponsel. “Yuki datang beberapa kali dengan luka berbeda. Selalu bilang jatuh.”

Raven mengangguk. “Klasik.”

“Ada juga laporan tetangga soal teriakan tengah malam,” tambah yang lain. “Tidak pernah ditindaklanjuti.”

Raven menarik napas pelan. “Bos harus tahu semuanya. Tidak boleh ada yang tertinggal.”

---

Kai Menerima Laporan

Sore hari, di ruang kerjanya yang sunyi, Kai berdiri menatap jendela ketika Raven masuk.

“Bos,” ucap Raven sambil menunduk hormat. “Kami sudah dapat gambaran utuh.”

Kai tidak menoleh. “Bicaralah.”

Raven mulai menjelaskan dengan suara stabil—tentang kekerasan, ancaman, rekaman percakapan, hingga sikap selingkuhan yang manipulatif. Setiap kata terdengar seperti pisau yang menusuk kesabaran Kai.

“Dia menganggap Yuki dan bayinya sebagai beban,” tutup Raven. “Dan lingkungan sekitar membiarkan semua itu terjadi.”

Ruangan menjadi hening.

Kai perlahan berbalik. Tatapannya dingin, jauh lebih berbahaya daripada amarah yang meledak-ledak.

“Apakah dia masih mencarinya?” tanya Kai.

“Tidak, Bos,” jawab Raven. “Mereka mengira Yuki sudah mati.”

Sudut bibir Kai terangkat tipis, bukan senyum, melainkan tanda keputusan telah dibuat.

“Bagus,” ucapnya pelan. “Biarkan mereka merasa aman.”

Raven mengangkat kepala. “Instruksi selanjutnya?”

Kai melangkah kembali ke mejanya. “Awasi dari jauh. Jangan sentuh dulu.”

“Dan jika dia mencoba bergerak?”

Mata Kai menggelap. “Laporkan. Aku ingin dia jatuh perlahan… dengan caranya sendiri.”

Raven mengangguk. “Dipahami.”

---

Bayangan yang Menunggu Waktu

Di kampung, suami Yuki tertawa bersama selingkuhannya, merasa dunia berpihak padanya.

Di kota, Kai menatap foto kecil Ai Chikara yang dikirim ibunya tadi siang—bayi itu tertidur damai.

“Tidurlah tenang,” gumam Kai. “Selama aku ada, tidak ada yang akan menyentuhmu.”

Di balik ketenangan malam, penyelidikan telah membuka pintu ke arah yang tidak bisa ditutup kembali.

Dan ketika waktunya tiba, senyuman dingin Kai akan menjadi hal terakhir yang disadari oleh mereka yang pernah menyakiti Yuki.

Baik. Berikut masa lalu Kai sebagai pria bertopeng, disusun gelap, emosional, berlapis, dan menjadi fondasi kenapa Kai begitu membenci kekerasan terhadap wanita.

---

Masa Lalu Kai – Pria di Balik Topeng Hitam

Malam itu sunyi di rumah besar milik orang tuanya. Lampu-lampu telah dipadamkan, hanya cahaya bulan yang menembus jendela tinggi, jatuh di lantai marmer yang dingin. Kai berdiri sendirian di ruang kerjanya, membuka laci tersembunyi di balik rak buku.

Di dalamnya tergeletak sebuah topeng hitam.

Permukaannya halus, dingin, tanpa ekspresi. Topeng itu bukan sekadar benda—ia adalah pengingat akan kehidupan yang selama ini Kai kubur dalam-dalam. Kehidupan yang tidak diketahui siapa pun, bahkan ibunya sekalipun tidak sepenuhnya memahami kegelapan yang pernah Kai jalani.

Kai menghela napas panjang. Jemarinya menyentuh topeng itu perlahan.

“Sudah lama…” gumamnya lirih.

---

Awal yang Berdarah

Bertahun-tahun lalu, sebelum Kai dikenal sebagai pewaris perusahaan besar, ia hanyalah seorang pemuda yang kehilangan kendali atas hidupnya.

Saat itu, seorang wanita yang sangat berarti baginya—bukan kekasih, bukan pula keluarga—menjadi korban kekerasan brutal oleh sekelompok pria berkuasa. Wanita itu datang pada Kai dalam keadaan hancur, tubuhnya penuh luka, matanya kosong, dan suaranya gemetar saat meminta pertolongan.

Namun hukum tidak berpihak padanya.

Laporan ditolak. Bukti “menghilang”. Pelaku tertawa bebas.

Dan malam itu, sesuatu di dalam diri Kai patah.

“Apa gunanya hukum,” ucap Kai muda kala itu, “jika orang jahat tetap hidup tenang?”

Tak ada yang menjawabnya.

---

Topeng Dilahirkan

Kai tidak mencari keadilan.

Ia menciptakannya sendiri.

Ia mengenakan topeng hitam agar tidak dikenal, bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk memutus ikatan dengan rasa ragu. Di balik topeng itu, ia bukan anak baik, bukan pewaris, bukan pria terhormat.

Ia adalah penghakim sunyi.

Malam demi malam, pria bertopeng itu muncul di sudut-sudut gelap kota. Ia tidak membunuh tanpa alasan. Targetnya jelas—pria-pria yang menyiksa wanita, yang mempermainkan hukum, yang hidup dari penderitaan orang lain.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

Tanpa belas kasihan.

“Ini bukan balas dendam,” bisik Kai di balik topeng setiap kali tangannya berlumuran darah. “Ini peringatan.”

Nama Pria Bertopeng Hitam mulai beredar di kalangan gelap. Mereka yang kejam mulai takut berjalan malam sendirian. Mereka yang terbiasa memukul istrinya mulai gelisah setiap mendengar langkah di belakang mereka.

Kai tidak pernah menikmati kekerasan itu.

Ia membencinya.

Namun ia lebih membenci ketidakadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!