Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mahendra akhirnya duduk di meja makan lebih dulu. Melati keluar dari dapur membawa piring tambahan. Rambutnya masih sedikit lembap, wangi sabunnya samar bercampur aroma masakan.
Sementara Cokro yang baru menuruni anak tangga, berhenti sepersekian detik, melihat wajah Melati yang nampak segar dengan rambut tergerai sedikit basah.
Deg.
Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati, sudah berulang kali ia menepis perasaan dan bayangan itu, tapi tetap saja, tatapan matanya tidak bisa untuk dibohongi, Cokro masih terpaku menatap wanita muda itu.
“Kenapa berdiri di situ, Mas?” tanya Melati polos.
“Eh… iya,” sahut Cokro cepat lalu menarik kursi.
Mahendra memperhatikan keduanya bergantian. Senyum tipis muncul lagi.
Mereka makan dalam suasana yang… berbeda. Tidak canggung seperti dulu, tapi juga belum sepenuhnya santai. Sendok beradu pelan. Sesekali Mahesa berceloteh tentang sekolah TK-nya.
Tiba-tiba Mahendra bersandar.
“Pa.”
“Iya?”
“Besok boleh nggak Papa antar lagi?”
Cokro mengangguk tanpa berpikir panjang. “Boleh.”
Melati tersenyum kecil melihatnya. Senyum yang membuat Cokro kembali salah fokus.
“Kalau Mama?” tanya Mahesa polos. “Mama ikut juga?”
Cokro hampir tersedak air minumnya, entah kenapa dengan cepat tangan Melati terangkat lalu menepuk punggung Cokro dengan pelan. Dan sentuhan singkat itu membuat keduanya saling menatap, cukup lama, hingga membuat kedua kakak beradik itu kompak menahan tawa.
Suasana sore itu terasa… seperti keluarga sungguhan, utuh penuh kehangatan, meskipun masih ada jarak diantara keduanya, justru itu tanpa mereka sadari proses cinta mereka sedang berjalan.
☘️☘️☘️
Malam mulai turun rumah terasa sunyi saat Bi Sumi berdiri di dapur, gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah ruang keluarga tempat Cokro sedang membaca dokumen dan Melati menemani Mahesa menyusun puzzle.
Ingin bicara tapi ia takut, kena marah, namun jika tidak, masalah ini akan berlarut dan dia tahu pasti pekerjaan yang selama ini ia pertahankan akan menjadi taruhannya.
"Gusti Allah, kenapa harus seceroboh ini ya," gumamnya sendiri.
Entah kenapa hati Bi Sumi semakin tidak tenang, hingga akhirnya ia memberanikan diri mendekat, ke arah majikannya itu.
“Pak…”
Cokro menoleh. “Ada apa, Bi?”
Bi Sumi menelan ludah. “Tadi siang… ada tamu.”
“Tamu?” ulang Cokro.
“Iya Pak. Perempuan.”
Melati yang sedang duduk di lantai ikut menoleh pelan, tidak menyela hanya mencoba menjadi pendengar saja.
“Perempuan siapa?” tanya Cokro tenang.
Bi Sumi ragu. Tangannya meremas ujung celemek, takut jika akan menimbulkan reaksi yang tidak dinginkan dari majikannya itu.
“Namanya… Rani.”
Suasana langsung berubah, Cokro yang awalnya santai, namun saat nama itu disebut rahangnya berubah mengeras, tubuhnya membeku sepersekian detik.
Sementara Melati tidak tahu siapa itu. Tapi ia tahu dari cara Cokro berhenti bernapas sejenak… nama itu bukan nama biasa, tentunya ada sesuatu di dalam nama tersebut.
“Dia bilang… teman lama,” lanjut Bi Sumi pelan. “Dia tanya… jam pulang anak-anak.”
Wajah Cokro semakin mengeras.
“Bi jawab apa?”
“Saya cuma bilang… sekitar jam tiga,” ucap Bi Sumi hampir berbisik.
Mahendra yang baru keluar dari kamar berhenti di ujung lorong. Ia mendengar nama itu.
Rani. Nama yang pernah ia dengar dalam mimpi dan potongan cerita yang tidak pernah utuh.
"Siapa nama itu Pa?" tanya Mahendra.
Cokro masih diam, ia seperti ragu untuk menyebut nama yang sudah ia kubur rapat-rapat itu.
"Tidak ada Nak," sahut Cokro.
"Oh gitu, tapi kenapa Papa terlihat tegang," kata anaknya kembali.
Melati berdiri perlahan. Ia tidak bertanya. Tapi tatapannya berpindah pada Cokro, dan Cokro pun langsung mengangkat tangan seolah menyuruh Melati stop.
Dan pada saat itu juga Melati kembali duduk mencoba tenang menemani Mahesa yang sedang menggabungkan kepingan puzzle.
"Kak, sini main dengan ku," ajak Mahesa.
Mahen pun mulai meninggalkan jawaban yang menggantung dari ayahnya, anak itu segera mengumpul bersama adik dan ibu sambungnya, meskipun di dalam hati kecilnya menyimpan banyak pertanyaan.
Sementara Cokro, bisa bernafas dengan lega untuk malam ini saja, dan sejenak ia baru sadar: sejak hubungan mereka mulai mencair, bayangan masa lalu benar-benar berdiri di depan pintu.
Dan hal itu membuat hati Cokro kembali diuji, saat dirinya baru berada di titik ketenangan rumah tangga yang baru saja terasa utuh.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam semakin larut, setelah menidurkan Mahesa kali ini Melati mulai mengecek kamar Mahendra, dan ternyata anak kecil itu belum juga tidur, ia merenung entah apa yang sedang mengusik pikirannya.
Melati yang berada di depan kamar mengintip sejenak dari celah pintu yang belum tertutup sempurna, ia mencoba untuk mendekat dan bertanya dengan pelan.
"Nak kenapa?" tanya Melati lembut.
Mahen langsung menatap wajah melati sekejap, entah kenapa mendengar suara itu, ia seperti menemukan tempat cerita yang paling aman.
"Mama," sahutnya cepat.
"Iya Nak Mama ada," ucap Melati.
Mahen langsung memeluk tubuh Melati seolah ingin mencurahkan semua keluh kesahnya.
"Jika Mahen ingin bercerita, cerita saja Nak," kata Melati. "Jika tidak mau, Mama tidak memaksa juga," ujarnya kembali.
Mahen semakin mengeratkan pelukannya, lalu mulai melepaskan perlahan. "Ma, tahu gak dengan nama Rani tadi," kata Mahendra.
Melati terkejut, namun dalam hati ia tahu jika nama itu merupakan nama yang disembunyikan.
Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Mama, kurang tahu, jika Mahen sedikit paham dengan nama itu, coba katakan," sahut Melati.
Mahen terdiam sejenak, sulit rasanya untuk menyebut nama itu. "Kalau gak salah dia Mama kita, berdua," katanya dengan nada yang cukup berat. "Mama yang sudah meninggalkan kita," lanjutnya kembali.
Melati tidak kuasa membendung air matanya, dari cara Mahendra menjelaskan terlihat jelas jika anak itu menahan luka yang cukup berat.
"Sayang, peluk Mama sekali lagi l," pinta Melati.
Mahen pun menurut ia memeluk tubuh ibu sambungnya untuk yang kedua kali, lalu melepaskan, dan Melati langsung memegang dua bahu anaknya seolah ingin menguatkan.
"Nak... untuk sekarang Mahen tidak sendiri," hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut melati.
Mahen terdiam sejenak. "Aku hanya kecewa, kenapa dia ninggalin kami," ujar Mahendra.
Melati menatap wajah anak itu lama. Ada luka yang belum selesai di sana. Luka yang bukan miliknya, tapi terasa sampai ke dadanya.
Ia pun mengusap pipi Mahen sejenak.
“Mahen…” suaranya sangat lembut, nyaris seperti bisikan. “Kadang orang dewasa juga bisa salah. Bahkan salah yang besar.”
Mahendra hanya menunduk tapi tangannya mengepal dibalik selimut.
“Tapi salahnya besar banget, Ma,” gumamnya. “Kalau dia sayang, kenapa pergi?”
Pertanyaan itu seperti ujung pisau yang mengenai kulit, meskipun sedikit tapi sakitnya terasa.
Melati menarik napas pelan. Ia tahu ini momen yang harus hati-hati. Ia tidak boleh menjatuhkan siapa pun. Tidak boleh merusak bayangan seorang ibu, tapi juga tidak boleh membohongi hati anak ini.
“Mahen,” katanya sambil mengangkat dagu anak itu agar menatapnya, “ditinggalkan itu sakit. Mama tahu. Tapi pergi bukan selalu berarti tidak sayang.”
Mahendra mengerutkan dahi, ia mencoba mencerna ucapan dari ibu sambungnya itu.
“Kadang… orang pergi karena mereka merasa tidak mampu. Tidak kuat. Tidak siap. Dan bukannya itu benar, tapi itu pilihan yang mereka ambil.”
Mahen terdiam sejak. “Kalau begitu… dia lemah?” tanyanya polos.
Melati tersenyum tipis. “Mungkin. Atau mungkin dia belum belajar bagaimana caranya bertahan.”
"Tapi Mama Melati bertahan, aku tahu saat pertama kali Papa meninggalkan kamar kalian berdua, dan aku tahu sampai sekarang kalian tidak satu kamar, tapi Mama bertahan."
Deg!!
Ucapan Mahen kali ini benar-benar menyentuh dada Melati, tidak pernah ia bayangkan, jika Mahen seorang anak yang terlihat tidak menerima kehadirannya diam-diam menjadi detektif utama antara ia dan Cokro ....
Bersambung ....