Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patung tampan
"Ayo kita makan di sini, sepertinya menu di sini enak." Pie bergegas ikut turun, ia melihat tempat makan yang berada di pinggir jalan, di belakangnya terdapat hamparan persawahan.
"Pie? Kenapa diam di situ? Ayo kita sarapan dulu."
"Huh? Saya sudah sarapan Mas."
"Oh? Saya pikir belum. Ya sudah ayo masuk, kita ngobrol di dalam sambil temani saya makan."
Pie mengikuti Tria masuk dan memesan makanan. Pria itu memesankan minuman dan camilan untuk Pie.
"Itu buat kamu, supaya kalau capek ngomong bisa minum sama nyemil." Tria tersenyum sembari bersiap untuk melahap sarapannya.
"Terima kasih, Mas."
"Kegiatan kamu sehari-hari apa?"
"Maaf, saya ingin mengenal kamu. Oh ya, belum ada pacar kan?"
Pie menggeleng pelan.
"Bagus, takutnya saya deketin pacar orang." Senyum Tria menjadi candu bagi Pie. Suara jantan yang terdengar merdu kala pagi ini membuat Pie melayang.
"Jadi, apa kegiatan kamu?"
"Saya kerja di toko kue, Mas."
"Kamu tidak kuliah?"
"Tidak. Cukup sampai SMA saja. Kalaupun nanti ada rezeki kemungkinan bisa lanjut kuliah, tapi untuk saat ini saya sudah nyaman bekerja."
"Ya, lebih enak jika mendapatkan uang, kan?"
"Iya, Mas."
"Saya dulu juga berpikir begitu, tapi berubah ketika yang biasanya saya sibuk bekerja lalu pulang mengurus mendiang ibu saya yang sedang sakit. Kemudian beliau meninggal, setiap pulang saya selalu sedih dengan kenangan yang tertinggal, saya berpikir harus menyibukkan diri. Dan akhirnya, saya memutuskan berkuliah sembari bekerja."
Pie mendengarkan dengan seksama. Pria di depannya ini terlihat berkelas dan anggun dalam satu waktu.
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam sembari sarapan. Tak terasa Tria maupun Pie saling melempar candaan.
"Pie, Setelah ini kau akan pulang?" Tria sedang menyetir kembali menuju perpustakaan.
"Iya, Mas."
"Apa kau hari ini bekerja?"
"Tidak."
"Saya masih ada waktu sampai sore, jika berkenan bisa kita bersama sampai sore nanti?"
Pie tak menyangka dirinya akan menghabiskan waktu bersama orang asing yang baru beberapa jam dikenalnya. Sungguh, Pie sangat gila mengambil langkah ini, jika kedua orang tuanya mengetahui hal ini sudah pasti dirinya akan dimarahi habis-habisan.
"Apa kau sibuk?"
Pie menggeleng pelan.
"Tidak, Mas. Kita ke mana?"
Mendengar jawaban Pie, Tria langsung tersenyum senang. Ia masih ingin bersama dengan gadis yang memikatnya sejak kemarin pertama bertemu, tak disangka dirinya akan bertemu kembali dengan gadis berkacamata ini.
"Kau ada tempat yang ingin dituju? Aku tak tahu banyak tentang daerah ini."
"Bagaimana jika kita bersantai di taman yang ada di seberang gedung perpustakaan?"
"Oke, kita ke sana."
Tria memarkirkan mobilnya di parkiran perpustakaan dan berjalan bersama Pie.
Saat hendak menyebrang Tria meminta izin untuk memegang tangan Pie.
Pie gugup menerima berbagai perlakuan manis dari Tria, bagi Pie, dirinya seakan dijaga seperti penjagaan Ayah dan Kakaknya.
Mereka menyusuri jalan yang lebarnya dua meter mengelilingi danau buatan di tengah taman. Lintasan itu selebar danau yang memiliki kurang lebih satu hektar lahan. Di sepanjang tepi jalan ditanami pepohonan rindang, rumput dan bunga-bunga menambah kesan asri dan sejuk.
Mereka bertukar berbagai cerita layaknya teman yang lama tak jumpa. Pie masih merasa grogi, tapi pembawaan Tria yang santai membuat Pie sedikit relaks.
Sesekali Tria mencuri pandang ketika Pie mengamati lingkungan sekitar, mereka berada di gazebo yang ada di bawah pohon. Letaknya dekat dengan jalan raya yang hanya dipisah oleh aliran sungai besar.
Pie adalah gadis manis yang berkacamata, dengan gingsul dan lesung pipi yang kecil di sudut bibirnya. Tria jatuh hati saat pandangan pertama. Rasanya ia ingin terus berlama-lama dengan Pie.
Penampilan yang sederhana dengan dress linen berwarna krem, gaya rambut yang dikepang satu dan diberi pita diujung simpulnya.
Tria mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut namun mampu membuatnya terlihat berkelas.
Pie mendongak menatap Tria yang sedang membalas pesan. Pria itu begitu tinggi, dirinya hanya sebatas dada Tria.
"Pie, sebentar lagi jam makan siang. Kau ingin makan di mana?"
"Ada di simpang jalan besar sebelum rumah sakit, saya pernah makan di sana, Mas."
"Menu apa di sana?"
"Lalapan? Saya tidak terlalu ingat menu yang lain."
"Oke, kita ke sana."
"Tidak apa-apa?"
"Apanya?" Tria mengerutkan keningnya.
"Makan di pinggir jalan."
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Saya takut Mas Tria tidak terbiasa."
Tria tergelak mendengar ucapan Pie.
"Saya biasanya makan menu seperti itu, Pie."
"Ah, Oke."
Kembali mengendarai mobil mewah milik Tria, Pie menatap motornya dari spion mobil yang semakin terlihat mengecil.
"Lihat apa, Pie?"
"Tidak, tidak ada, Mas."
"Apa tidak nyaman bersama saya? Saya terlalu memaksa ya?"
"Tidak, kok. Tapi saya merasa aneh dengan diri sendiri."
"Aneh bagaimana?"
"Kenapa saya begitu mudah menerima ajakan pria asing yang baru beberapa menit berkenalan. Pasti pandangan Mas juga seperti itu, kan?"
"Pie, Apa kau berpikir begitu juga tentang saya? Mudah mengajak berkenalan gadis yang baru ditemui, pasti Pie menganggap saya playboy." Tria terkekeh kecil.
"Iya." Pie meringis melirik Tria yang tertawa.
"Nah, kan. Tapi saya baru kali ini kepada seorang gadis. Terdengar klise tapi itu kenyataannya."
"Ada kalanya kita mengalami hal yang di luar jalur, Mas."
"Benar. Saya sih tidak peduli kamu berpikir saya begitu atau tidak. Yang paling penting, saya bisa berkenalan dan memiliki hubungan denganmu."
Pie terkejut mendengar hal itu. Ia tak tahu harus merespon bagaimana.
"Hubungan seperti apa yang Mas maksud?"
"Hubungan romansa, komitmen."
Pie diam.
"Kau punya kekasih?"
"Tidak."
"Benar?"
"Iya."
"Saya tidak mau nanti ada yang ribut karena gadisnya saya ganggu."
"Tidak ada. Saya single."
"Jadi kalau kita bersama akan menjadi album?"
Tria dan Pie tertawa kecil.
Makan siang sudah selesai, kini mereka berdiri berhadapan di parkiran Perpustakaan.
"Terima kasih atas traktirannya hari ini, Mas."
"Itu tanggung jawab saya sebagai pria bersamamu."
"Ya, intinya saya berterima kasih karena saat menemani Mas Tria tidak kelaparan."
"Bagus kalau Pie merasa begitu, artinya saya berhasil bertanggung jawab." Binar mata Tria sejak pertama bertemu yang tidak pernah redup memandang Pie.
Pie dan Tria sama-sama diam dan sesekali saling melirik dan tersipu.
"Boleh saya minta nomormu, Pie?" Tria menjulurkan ponselnya kepada Pie.
Pie mengangguk dan mengetikkan nomor di ponsel Tria lalu mengembalikannya.
"Terima kasih atas waktunya hari ini Pie. Mungkin kamu punya kesibukan lain tapi rela menemani orang tersesat seperti saya selama setengah hari."
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya pulang sekarang."
"Ya, hati-hati di jalan, Pie. Nanti saya hubungi satu jam kemudian."
Pie mengenakan helm dan jaket, ia mengendarai motornya meninggalkan area parkiran setelah mengklakson dua kali pada Tria.