Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Kadaluwarsa
Setelah liburan di pantai itu, rumah besar Elang seolah mendapatkan nyawa baru. Kehidupan bergulir dalam rutinitas yang lebih hangat. Nura tetap menjalankan tugasnya sebagai terapis, sekaligus teman bagi Kanara. Sementara Elang, meski masih bergelut dengan konflik internal Wiratama Group, selalu menyempatkan diri pulang lebih awal untuk sekadar makan malam bersama.
Hingga saatnya evaluasi bulanan bersama Bu Maya.
Di ruang konsultasi yang tenang, Bu Maya menutup laporan perkembangan Kanara dengan senyum tipis yang profesional namun tulus. Nura duduk di samping Elang, menunggu dengan perasaan berdebar.
“Secara fungsional, Kanara menunjukkan kemajuan yang luar biasa,” Bu Maya memulai. “Interaksi sosialnya mulai membaik, dia mulai komunikatif, dan yang paling penting, ketergantungan traumatisnya mulai terkendali. Saya bisa katakan kondisi mentalnya sudah masuk kategori stabil.”
Elang menghembuskan napas lega, bahunya yang tegang perlahan merosot. Ia menatap Nura dengan sorot penuh rasa syukur yang dalam.
“Namun,” lanjut Bu Maya, membuat suasana kembali serius. “Stabil bukan berarti sembuh total. Trauma terhadap cermin, konsep wajah, dan luka mendalam soal kepergian ibunya masih di sana, terkunci rapat di bawah alam sadarnya. Ini seperti luka yang sudah tidak berdarah, tapi belum benar-benar kering. Kanara hanya belajar untuk ‘hidup berdampingan' dengan rasa takut itu karena dia merasa aman dengan kehadiran Nura.”
Bu Maya menatap Nura dengan tatapan penuh arti. “Pekerjaanmu luar biasa, Nura. Tapi, kita harus ingat, tujuan akhir terapi adalah kemandirian pasien. Kanara sudah stabil, dan mungkin dalam beberapa minggu ke depan, frekuensi pendampingan intensif bisa mulai dikurangi.
Sekembalinya dari klinik, keheningan menyelimuti Elang dan Nura. Kalimat ‘frekuensi pendampingan mulai dikurangi’ terasa seperti vonis bagi Nura. Itu adalah kode profesional bahwa tugasnya akan segera berakhir.
Malamnya, Nura menemukan Kanara sedang duduk di atas karpet memandangi tumpukan foto-foto yang Elang berikan, foto Elang sedang tertawa, foto Kanara sejak bayi hingga sekarang, tapi tanpa foto Tari. Kanara sudah berani menyentuh foto-foto itu, tapi masih belum mau menggambar wajah pada sketsa-sketsanya.
“Kak Nura…,” panggil Kanara tanpa menoleh.
“Iya…?”
“Kalau Kanara sudah pintar. Kak Nura tetap di sini, kan?” tanya bocah itu polos. “Kata Bu Yati, kalau anak sakit sudah sembuh, dokternya boleh pulang.”
Nura membeku. Ia berlutut di samping Kanara, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan melukai bocah itu. “Kak Nura kan bukan dokter. Kak Nura ini… temannya Kanara.”
“Tapi Kak Nura jangan pulang,” bisik Kanara, kali ini menatap Nura dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. “Nanti wajah Ayah hilang lagi kalau Kak Nura nggak ada.”
Di bawah pintu, Elang mematung mendengar percakapan itu. Ia tahu diagnosa Bu Maya adalah kabar baik bagi perkembangan putrinya, namun itu adalah kabar buruk bagi hatinya. Jika Kanara dinyatakan sembuh, tidak ada alasan profesional bagi Nura untuk tetap tinggal di atap yang sama.
**********
Hari itu, awan berwarna abu berarak di langit. Sesekali terdengar gemuruh di kejauhan. Mobil Elang baru memasuki pekarangan rumah. Mereka bertiga baru membawa Kanara berjalan-jalan ke Taman Safari.
Suasana rumah terasa mencekam. Beberapa mobil mewah yang Nura kenali sebagai milik keluarga Wiratama sudah terparkir di sana.
Baru saja pintu mobil dibuka, Elang sudah disambut Rian dengan wajah pucat, menyodorkan sebuah tablet. Di sana, foto-foto mereka di pantai, saat Elang merangkul Nura dan momen intim mereka saat di beranda Villa sudah menjadi headline di beberapa portal berita dengan tajuk, “Pewaris Wiratama Group Terjerat Pesona Pengasuh Anaknya Sendiri?”
“Masuk Elang! Sekarang!” suara Pak Darmawan terdengar dari arah ruang tamu, dingin dan menggelegar.
Di dalam rumah, Pak Darmawan dan Bu Sofia sudah duduk menanti. Di atas meja marmer, tumpukan koran dan cetakan artikel digital berserakan. Kanara yang kebingungan segera dibawa masuk ke kamar oleh Bu Yati atas isyarat tegas dari Elang.
“Apa ini yang kamu sebut dengan ‘pemulihan diri', Elang?!” tanya Pak Darmawan, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang nyata. “Menyeret nama baik keluarga ke dalam gosip murahan dengan seorang staf?”
“Dia bukan staf, Yah. Berhenti menyebutnya dengan begitu,” balas Elang, suaranya tak kalah tajam. Ia menarik Nura ke sampingnya, menggenggam tangannya di depan kedua orang tuanya.
Bu Sofia bangkit, matanya menatap Nura penuh kebencian. “Kamu… saya sudah memperingatkanmu. Kamu sengaja, kan? Memanfaatkan kerapuhan anak saya untuk naik kasta?”
“Ibu, cukup!” bentak Elang.
“Tidak, Elang! Biar dia sadar diri!” Bu Sofia maju satu langkah, menunjuk Nura. “Lihat foto-foto ini! Karena ulah kalian, saham perusahaan turun pagi ini. Investor mulai bertanya-tanya apakah CEO Wiratama Group susah kehilangan akal sehatnya sejak kematian istrinya?”
Nura merasa dunianya runtuh. Genggaman Elang yang kuat justru membuatnya merasa semakin bersalah. Semua ketakutannya menjadi nyata. Ia melihat Pak Darmawan yang menatapnya seolah ia adalah hama yang harus dibasmi.
“Nura,” Pak Darmawan bicara langsung padanya. “Jika kamu memang peduli pada Elang dan Kanara, kamu akan pergi sekarang. Kehadiranmu di sini adalah racun bagi karir Elang dan masa depan cucu saya. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka menghancurkanmu, dan Elang akan ikut hancur bersamamu.”
“Dia tidak akan pergi ke mana-mana!” tegas Elang. “Aku akan mengurus media. Aku akan mengurus semuanya.”
“Dengan cara apa? Menikahinya?” Bu Sofia tertawa getir. “Jangan mimpi! Selama Ibu masih bernapas, wanita ini tidak akan pernah menyandang nama Wiratama. Kamu mau melihat dia hancur dikuliti media setiap hari? Kamu mau Kanara diejek karena Ayahnya punya hubungan dengan pengasuhnya.”
Nura melepaskan tangan Elang perlahan. Getaran di tubuhnya tidak bisa lagi disembunyikannya. “Mas… tolong berhenti.”
Elang menoleh, matanya merah karena amarah dan kekhawatiran. “Ra, jangan dengarkan mereka.”
“Mereka benar, Mas,” bisik Nura, suaranya pecah. “Ini yang aku takutkan. Aku tidak mau jadi alasan Mas kehilangan segalanya. Aku tidak sekuat itu untuk melawan mereka semua.”
Pak Darmawan memberikan sebuah amplop coklat ke arah Nura. “Pergilah. Di dalam ada tiket dan modal untukmu memulai hidup baru di luar kota. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena sudah menjaga Kanara. Jika kamu menolak, aku pastikan tidak akan ada lembaga kesehatan atau rumah sakit manapun di negeri ini yang mau menerimamu bekerja.”
“AYAH!” Elang menerjang meja, namun beberapa asisten Pak Darmawan segera berdiri menghalangi.
Nura menatap amplop itu, lalu menatap Elang yang sedang ditahan oleh kekuasaan ayahnya sendiri. Di saat itu, Nura sadar bahwa mencintai Elang berarti harus membiarkannya menjadi Elang yang kuat, bukan Elang yang hancur karena membelanya.
“Aku akan pergi,” ucap Nura lirih, namun mantap.
“Nura, jangan! Aku mohon, jangan!” teriak Elang.
Nura tidak menoleh lagi. Ia berlari menaiki tangga hanya untuk mengambil tas kecilnya, melewati kamar Kanara yang tertutup rapat, dan keluar melalui pintu belakang tanpa membawa amplop pemberian Pak Darmawan. Ia pergi dengan harga dirinya yang tersisa, meninggalkan pria yang sangat ia cintai dalam pusaran kemarahan yang tidak berujung.
Khan... aku juga jadi ikutan.. ba...s...ah... 😌
eh ortu Elang, aku karungin aja deh, brisik bgt dah😩