Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma vanilla dan janji sang penguasa
Sesampainya di mansion, Galen tetap tidak melepaskan tangan Rea. Ia menuntun istri kecilnya itu bukan ke dapur atau ke kamar, melainkan ke arah taman belakang yang sudah ditata dengan meja makan kecil penuh lilin aromaterapi.
"Mas... ini buat apa? Kok banyak lilin?" tanya Rea canggung, matanya berkedip-kedip menatap suasana romantis di depannya.
"Merayakan hari pertamamu kuliah, Bunny," jawab Galen singkat. Ia menarik kursi untuk Rea, lalu duduk di hadapannya.
Rea menunduk, memainkan jemarinya. "Mas, tadi di kampus... Kaela panggil Mas 'Paman Tukang Kebun' lagi di depan teman-temannya. Rea sedih Mas dihina begitu, padahal Mas kan sudah sukses."
Galen terdiam sejenak. Matanya berkilat tajam mendengar nama Kaela, namun suaranya tetap lembut saat menjawab Rea. "Biarkan saja mereka bicara apa, Rea. Selama kamu tahu siapa saya yang sebenarnya di rumah ini, itu sudah cukup."
"Tapi Pak Vian tadi juga bilang kalau Mas itu orang hebat..." Rea menggantung kalimatnya, menatap Galen penuh tanya. "Mas sebenarnya bukan cuma tukang kebun, kan?"
Galen bangkit dari duduknya, berjalan pelan ke arah Rea dan berlutut di samping kursi istrinya. Ia menggenggam tangan Rea yang masih tercium aroma mentega dari lab praktik tadi.
"Saya adalah siapa pun yang kamu inginkan, Rea. Jika kamu ingin saya menjadi tukang kebun, saya akan menanam ribuan mawar untukmu. Tapi jika kamu butuh pelindung..." Galen mengecup punggung tangan Rea dengan sangat lama. "...saya akan menjadi monster bagi siapa pun yang berani menyakitimu."
Rea merinding, bukan karena takut, tapi karena merasa begitu dicintai. "Mas Galen bicara seperti di film mafia saja," ucap Rea sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.
Galen ikut tersenyum tipis, meski dalam hatinya ia tahu bahwa kenyataannya jauh lebih berbahaya dari film mana pun. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang, makanlah. Mas sudah menyuruh koki membuatkan pasta kesukaanmu."
Malam itu, di bawah langit Januari 2026 yang bertabur bintang, Galen memanjakan Rea habis-habisan. Ia menyuapi Rea, menggendongnya masuk ke kamar saat Rea mulai mengantuk, dan membisikkan janji-janji manis yang membuat Rea terlelap dengan senyuman.
Galen menatap wajah tidur Rea, lalu beralih menatap ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan dari Leon masuk: "Target sudah dikunci, Tuan. Menunggu perintah untuk 'membersihkan' Kaela dan keluarganya."
Galen mengetik jawaban singkat: "Jangan sekarang. Biarkan Rea menikmati kuliahnya sebentar lagi. Tapi pastikan mereka tidak bisa tidur tenang malam ini."
Ide buat kamu kalau nanti buntu lagi:
Kegiatan Kuliah: Rea membawa pulang hasil kue buatannya ke rumah, tapi Galen cemburu karena Rea bilang diajari oleh Pak Vian cara menghiasnya.
Galen melepaskan kemeja hitamnya yang terasa sesak, lalu menyusup ke balik selimut. Ia menarik tubuh Rea ke dalam dekapannya, membiarkan Rea merasa aman dan nyaman. Galen memejamkan mata, akhirnya menemukan ketenangan.
Keesokan paginya, sinar matahari pagi
menyeruak masuk melalui celah gorden sutra yang mahal. Rea melenguh pelan, matanya berkedip-kedip mencoba mengumpulkan nyawa. Saat ia ingin membalikkan badan, ia merasa ada sesuatu yang berat dan hangat melingkar di pinggangnya.
Begitu matanya terbuka sempurna, Rea terbelalak kaget. Ia melihat Galen di sampingnya.
"A-astaga..." bisik Rea tertahan.
Galen sedang tertidur pulas dengan posisi menyamping menghadap ke arahnya. Rea mematung, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Wajahnya seketika berubah merah padam sampai ke telinga. Ia bisa merasakan detak jantung Galen yang stabil karena tubuh mereka sangat dekat.
Tiba-tiba, mata Galen terbuka perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
"Sejak kapan bangun!" Rea langsung menarik selimut sampai menutupi hidungnya, menutup mata rapat-rapat karena sangat malu.
Galen tertawa rendah, suara tawanya yang dalam bergetar. Ia justru semakin mendekat, menarik Rea hingga tak ada jarak di antara mereka. "Kenapa ditutup? Kamu sudah sah jadi istri saya, Rea. Semua ini milikmu," bisik Galen.
Rea hanya bisa bergumam tidak jelas di balik selimut, merutuki nasibnya yang selalu dibuat jantungan.
Galen menahan tawa saat melihat Rea menyembunyikan wajah di balik selimut. "Bunny, kenapa sembunyi? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," bisiknya lembut.
Rea tetap kukuh di balik persembunyiannya. "Tidak mau! Mas Galen tidak pakai baju!" teriaknya, suaranya teredam.
Galen menarik selimut itu perlahan, menyingkap wajah Rea yang memerah. "Ini aku, suamimu," godanya sambil tersenyum.
Rea mengintip melalui jari-jarinya. "Mas Galen... itu... banyak gambar!" serunya melihat tato di lengan Galen.
Galen tersenyum tipis. "Ini seni, Rea. Dan ini milikmu," katanya sambil menahan tangan Rea di atas kepala gadis itu. "Kenapa harus malu?"
Rea menggigit bibir. "Tapi... masih pagi! Aku harus kuliah!"
Mendengar itu, Galen semakin mendekat. "Kuliah bisa menunggu," bisiknya, suaranya berubah posesif.
Rea merasa jantungnya berdebar kencang. Galen benar-benar berbeda hari ini.
Galen semakin gemas melihat Rea yang terus bersembunyi. Dengan gerakan cepat namun lembut, Galen menyibak selimut yang menutupi wajah Rea.
"Bunny, jangan takut," bisik Galen. Suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Rea meremang.
Rea yang wajahnya sudah merah padam langsung mencoba menutupi matanya. "Mas Galen! Pakai bajunya dulu! Rea... Rea belum siap lihat yang begini pagi-pagi!"
Galen tertawa pelan. Ia justru menumpu tubuhnya dengan satu tangan, mengunci posisi Rea di bawahnya agar tidak bisa kabur.
"Malu kenapa, hm? Kamu sendiri yang bilang semalam mau temani Mas tidur," goda Galen sambil menarik pelan tangan Rea dari wajahnya.
"I-itu kan karena Rea takut hantu, Mas! Bukan berarti Mas boleh... boleh begini!" Rea bicara terbata-bata, matanya melirik ke arah dada bidang Galen yang terpampang jelas di depannya, lalu cepat-cepat membuang muka.
Galen menyeringai tipis, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rea. "Di rumah ini tidak ada hantu yang lebih berbahaya daripada suamimu sendiri kalau kamu terus-menerus menggemaskan seperti ini, Rea."
Galen kemudian mengecup pipi Rea yang panas, membuat Rea refleks memekik pelan.
"Mas Galen! Rea ada kelas pagi Pak Vian! Nanti Rea telat!" Rea mencoba mencari alasan paling masuk akal agar Galen melepaskannya.
Mendengar nama Vian, sorot mata Galen langsung berubah sedikit lebih tajam dan posesif. "Vian lagi? Masih pagi dan kamu sudah memikirkan kelasnya?" Galen menahan pinggang Rea, tidak membiarkannya turun dari kasur. "Kalau begitu, Mas tidak akan lepaskan kamu sampai kamu janji tidak akan tersenyum terlalu manis pada dosen itu hari ini."
Rea hanya bisa mengerucutkan bibirnya, pasrah dalam dekapan suaminya yang sangat pencemburu di pagi yang cerah ini.
Waduh, sepertinya suasananya lagi panas-panasnya ya! Mari kita lanjut ke momen Leon yang kurang tepat waktunya:
Tepat saat Galen sedang menunggu kecupan manis dari Rea, tiba-tiba...
BRAKK!
Pintu kamar terbuka lebar tanpa ketukan. Leon masuk dengan wajah panik sambil membawa tablet di tangannya. "Tuan! Laporan dari sektor pelabuhan—"
Leon membeku di ambang pintu. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya: Galen yang tidak memakai kemeja sedang mengunci posisi Rea di tempat tidur.
"A-astaga..." Leon langsung berbalik badan secepat kilat, wajahnya yang biasanya kaku kini mendadak pucat. "Maaf Tuan! Saya pikir Anda sudah di ruang kerja! Pintu tidak dikunci!"
Rea yang kagetnya luar biasa langsung mendorong dada Galen kuat-kuat. "Tuh kan Mas! Pak Leon sampai lihat!" Rea segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, rasanya ingin menghilang ke dalam kasur karena malu yang tidak tertahankan.
Galen menggeram rendah, auranya mendadak berubah menjadi sangat mematikan. Ia menyambar kemeja hitamnya di lantai dan memakainya dengan kasar. "Leon... kalau urusan ini tidak sepenting nyawamu, kau akan saya kirim ke kebun di perbatasan hari ini juga!" bentak Galen ketus.
"Ma-maaf Tuan! Tapi ini soal Kaela, dia sedang berada di depan gerbang kampus bersama orang tuanya, mereka mencari Rea!" lapor Leon dengan nada gemetar di balik pintu.
Mendengar nama Kaela, Galen langsung mengancingkan kemejanya dengan cepat. Matanya berkilat tajam. "Hama itu benar-benar tidak tahu cara mati yang tenang," desis Galen.
Ia menoleh ke arah Rea yang masih sembunyi di balik selimut. Galen mendekat, lalu mengecup kening Rea dari luar selimut. "Bunny, bersiaplah. Mas akan mengantarmu, tapi sepertinya hari ini akan ada sedikit 'drama' di kampusmu. Jangan takut, Mas ada di belakangmu."