NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Malam datang tanpa aba-aba.

Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, tidak ada petir yang menggelegar seolah hendak mengingatkan bahwa waktu telah bergeser. Malam hanya… tiba. Pelan. Diam-diam. Seperti seseorang yang masuk ke ruangan tanpa mengetuk, lalu duduk di sudut dan memperhatikan.

Lampu-lampu mansion menyala satu per satu. Bukan cahaya terang yang menyilaukan, melainkan cahaya lembut kekuningan yang jatuh ke lantai marmer dan dinding tinggi dengan jarak yang terukur. Setiap ruangan terasa luas—terlalu luas untuk dihuni oleh hanya dua orang dan seekor kucing kecil abu-abu yang kini tidur dengan posisi aneh di sofa ruang tengah.

Cherrin masih duduk di tempat yang sama.

Ia tidak menyadari sudah berapa lama ia tidak bergerak. Punggungnya bersandar ke sandaran sofa, kaki terlipat seadanya, tangan kanan bertumpu di pangkuan, tangan kiri sesekali mengelus bulu kucing itu dengan gerakan hampir refleks. Setiap kali jarinya berhenti, dengkuran kecil itu melemah. Setiap kali jarinya bergerak lagi, suara itu kembali—seolah kucing itu tahu persis kapan ia harus “meminta”.

Zivaniel tidak ada di ruang itu.

Ia berada di dapur Mension, atau mungkin di salah satu ruangan lain. Cherrin tidak benar-benar tahu. Mansion ini terlalu besar untuk ditebak hanya dari suara langkah kaki. Tapi ia bisa mendengar sesuatu—suara pelan yang samar, seperti gelas diletakkan, keran dibuka, lalu ditutup kembali.

Dan di antara semua itu… ada keheningan.

Bukan keheningan yang kosong.

Keheningan yang penuh.

Mension malam itu sangat sepi, tidak ada Varla dan Maxtin. Tidak ada Sera maupun De Luca.

Beberapa pelayan juga sudah kembali ke mes mereka.

Hanya jika Zivaniel menghubungi kepala pelayan, maka siap tidak siap mereka akan tiba.

Cherrin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Udara malam terasa lebih dingin, meski pendingin ruangan tidak terlalu kuat. Ia meraih jaketnya yang tadi diletakkan di sandaran sofa, menyampirkannya kembali ke bahu.

Kucing itu bergerak sedikit, membuka satu mata, lalu menutupnya kembali.

“Kamu enak,” gumam Cherrin pelan. “Tidur tanpa mikir apa-apa.”

Kucing itu tidak menjawab. Hanya mendengkur, seolah setuju.

Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan. Setiap detiknya terdengar jelas. Tik. Tik. Tik.

Waktu di mansion ini berjalan berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak mengejar siapa pun. Seolah malam di sini punya aturan sendiri—aturan yang tidak biasa Cherrin temui di luar.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Zivaniel muncul dari arah lorong, membawa dua cangkir. Satu di tangan kanan, satu di tangan kiri. Ia tidak berkata apa-apa saat mendekat. Hanya meletakkan satu cangkir di meja rendah di depan sofa, lalu duduk di kursi seberangnya.

“Teh,” katanya singkat. “Hangat.”

Cherrin menoleh dengan senyuman lebar. “Makasih.”

Ia meraih cangkir itu, merasakan hangatnya meresap ke telapak tangan. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma ringan—tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit.

Zivaniel menyesap tehnya sendiri. Satu tegukan kecil. Lalu ia bersandar, menyilangkan kaki, menatap ke arah jendela besar yang kini hanya memantulkan bayangan dalam ruangan.

Lampu taman di luar menyala redup, menerangi pepohonan dan semak-semak dengan cahaya kekuningan. Bayangan daun bergerak perlahan tertiup angin malam.

Cherrin mengikuti arah pandangnya.

“Niel sepi banget,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Kamu suka?”

Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar lebih lama, seolah mempertimbangkan jawaban yang paling jujur—atau paling aman.

“Aku sudah terbiasa,” katanya akhirnya.

“Itu bukan jawaban,” balas Cherrin lembut.

Zivaniel melirik sekilas. “Kadang, terbiasa itu cukup.”

Cherrin mengangguk pelan. Ia tidak memaksa.

Malam kembali mengisi celah di antara mereka.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara jam dinding, dengkuran kucing, dan desau angin di luar. Aneh—tidak canggung. Justru terasa… wajar.

Cherrin menyesap tehnya sedikit demi sedikit.

“Niel,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.

“Hm?”

“Kalau malam kayak gini…” Ia berhenti sebentar, mencari kata. “Kamu biasanya ngapain?”

Zivaniel menatap cangkirnya. “Kerja.”

“Terus?”

“Terus belajar.”

Cherrin tersenyum tipis. “Kamu nggak pernah bosan?”

“Bosan itu nggak ada dalam hidupku”

“Capek itu perlu Niel.”

Zivaniel mendengus kecil. “Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena kamu selalu harus di kasih faham!"

Zivaniel tidak membantah.

Ia meletakkan cangkirnya di meja. Suaranya pelan, hampir tak terdengar. Lalu ia menyandarkan punggung, menghela napas panjang—napas yang tidak ia sadari ia tahan sejak tadi.

“Kadang,” katanya tiba-tiba, “malam itu paling berisik.”

Cherrin menoleh.

“Berisik?” ulangnya.

Zivaniel mengangguk pelan. “Kalau siang, semuanya ketutup. Orang, kerjaan, suara kota. Tapi malam…” Ia terdiam. “Malam bikin semuanya kedengeran.”

“Termasuk yang nggak mau kamu denger?”

Zivaniel menatapnya. Lama. Tidak defensif. Tidak menghindar.

“Iya.”

Cherrin tidak tersenyum kali ini. Ia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti.

“Di sini,” lanjut Zivaniel, suaranya rendah, “kadang aku bangun tengah malam. Bukan karena mimpi. Tapi karena… suara.”

“Suara apa?”

Zivaniel ragu sepersekian detik. “Macam-macam.”

Cherrin menunggu dengan ekspresi horor.

“Langkah kaki,” katanya akhirnya. “Padahal nggak ada siapa-siapa. Jam dinding. Angin. Kadang… cuma napas sendiri.”

Cherrin merinding halus.

“Itu serem?” tanyanya.

“Enggak,” jawab Zivaniel. “Lebih ke… Suatu hal mengingatkan.”

“Mengingatkan apa?”

Bahunya sedikit mengeras.

“Bahwa aku sendirian.”

Kata itu jatuh pelan. Tidak dramatis. Tidak diucapkan dengan nada sedih. Justru karena itu, kata itu terasa lebih berat.

Cherrin menunduk, menatap kucing di sampingnya.

“Kamu nggak sendirian sekarang,” katanya lirih.

Zivaniel tidak langsung menjawab.

Kucing itu bergerak, lalu bangkit setengah, menguap lebar. Ia turun dari sofa, berjalan pelan ke arah Zivaniel, lalu duduk di dekat kakinya. Menatap ke atas, mengeong kecil.

Zivaniel menatapnya.

“Apa?” gumamnya.

Kucing itu mengeong lagi.

Cherrin tersenyum kecil. “Dia bilang gitu.”

Zivaniel mendengus pelan. “Kamu terlalu sering nerjemahin kucing.”

“Tapi biasanya bener.”

Zivaniel menurunkan tangannya, mengelus kepala kucing itu lebih lama dari sebelumnya. Bukan hanya sekali. Dua kali. Tiga kali.

Gerakannya masih kaku. Tapi ada sesuatu yang berubah.

Cherrin memperhatikan itu dalam diam.

“Niel,” katanya lagi, suaranya hampir berbisik. “Kalau kamu nggak keberatan…”

Zivaniel menoleh.

“Aku boleh bawa kucing ini ke dalam kamarku malam ini?”

Pertanyaan itu menggantung.

Tidak mendesak. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk menggeser udara di ruangan.

Zivaniel terdiam.

Ia menatap Cherrin. Wajahnya tenang, tapi matanya penuh kehati-hatian. Seperti seseorang yang berdiri di tepi sesuatu yang belum ia putuskan apakah akan ia lewati atau tidak.

“Kenapa?” tanyanya.

Cherrin mengangkat bahu kecil. “Aku pengen dia temenin”

Zivaniel menatap jendela lagi. Lalu ke lantai. Lalu kembali ke Cherrin.

“Kamu bisa taruh dia di sofa kamar kamu,” katanya akhirnya. "Besok aku belikan kandangnya."

Cherrin menghembuskan napas lega yang tidak ia sadari ia tahan. “Makasih.”

Zivaniel berdiri. “Ayo. Aku antar."

Cherrin mengangguk.

Ia mengikuti Zivaniel menyusuri lorong panjang. Lampu-lampu di sepanjang lorong menyala redup, memantulkan bayangan mereka di dinding. Setiap langkah terdengar jelas di keheningan malam.

Zivaniel menyalakan lampu meja.

“Kalau butuh apa-apa,” katanya, “panggil aja.”

“Pakai apa?” Cherrin menggoda ringan. “HT?”

Zivaniel melirik. “Teriak juga kedengeran.”

Cherrin tersenyum. “Oke.”

Zivaniel berbalik hendak pergi, lalu berhenti di ambang pintu.

“Cher.”

“Hm?”

Cherrin menatap punggungnya. "Ya?"

Zivaniel mengusap hidungnya. "Selamat malam"

Pintu menutup pelan.

Cherrin tersenyum lebar mendengarnya.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!