Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
"Mawar, bangun sebentar lagi hari akan siang. Tidur saja kerja mu!" Teriak bu Munah di suatu pagi buta.
Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar merdu dari masjid yang berada tidak jauh dari rumah mereka.
"Bu, tidak usah teriak- teriak, biar kan Mawar tidur dulu. Ibu kan bisa masak sendiri!" Tegur pak Harto pada istri nya.
"Alah pak, Mawar itu sudah besar. Harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah, mau jadi apa dia nanti nya jika tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah!" Omel Bu Munah segera turun dari tempat tidur nya.
Pak Harto hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap istri nya, pak Harto kasihan melihat putri kedua nya yang harus mengerjakan pekerjaan orang dewasa sejak usia nya 5 tahun.
Mawar yang tidak ingin mendapat kan amarah dari sang ibu, bergegas bangun dari tempat tidur nya. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya, setelah itu dia langsung berkutat dengan pekerjaan rumah nya.
Gadis berusia 14 tahun itu langsung memasak Air untuk membuat kopi sang ayah, setelah itu dia bergegas memasak nasi dan juga sayur nya. Sejak kecil Mawar memang di paksa keras oleh ibu nya untuk bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa boleh membantah.
Jika dia membantah, maka kaki hingga pahanya akan menjadi sasaran pukulan sang ibu. Bu Munah begitu keras pada nya, tapi begitu lembut sikap nya pada Indah, sang adik.
Sambil memasak tidak lupa Mawar mencuci semua pakaian kotor mereka, dia harus mencuci semua nya secara manual dengan tangan nya.
"Alhamdulillah, semua nya sudah siap. Aku bisa mandi sekarang!" Guman Mawar setelah dia menata hasil masakan nya di atas meja, begitu pula dengan cucian nya yang sudah dia jamur di belakang rumah.
"Sudah selesai nak?" Tanya pak Harto dengan lembut.
"Sudah pak, silah kan bapak sarapan lebih dulu sebelum berangkat ke ladang. Ini kopi nya!" Mawar menyodorkan segelas kopi pada nya.
"Terima kasih nak, segera mandi dan setelah itu sarapan dulu sebelum berangkat sekolah!" Pak Harto mengingat kan putri nya.
"Iya pak, sekarang Mawar mandi dulu!" Mawar segera meninggal kan bapak nya di meja makan.
Ketika melewati kamar adik nya dengan pintu yang terbuka, Mawar melihat ibu nya sedang membangun kan adik nya dengan lembut.
"Indah, bangun nak ini sudah siang. Kau harus sekolah nak!" Bu Munah berkata dengan lembut.
"Nanti bu, aku masih ngantuk!" Jawab Indah tanpa membuka mata nya.
Mawar segera berlalu ke kamar nya, dia masuk ke dalam kamar nya dan duduk di tepi ranjang reyot yang ada di dalam kamar nya. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan.
"Ya Allah, kapan ibu bisa bersikap baik pada ku seperti dia bersikap pada Indah!" Lirih Mawar pada diri nya sendiri.
Gadis yang saat ini duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama itu sangat merindukan sosok kasih sayang seorang ibu, sejak kecil bu Munah memperlakukan diri nya berbeda di rumah ini.
Tidak ingin berlarut di dalam kesedihan yang terlalu lama, Mawar pun meraih handuk nya yang tampak sudah usang. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersih kan tubuh nya.
Ketika keluar dari kamar mandi, Mawar tidak melihat lagi bapak nya. Pak Harto sudah pergi ke ladang terlebih dahulu, sementara ibu nya akan menyusul setelah mereka berangkat sekolah nanti.
Mawar sudah rapi dengan pakaian sekolah milik nya, bertepatan dengan saat itu Farhan sang kakak yang sudah sudah kelas 2 Sekolah Menengah Atas pun keluar dari dalam kamar nya. Farhan biasanya lebih memilih di sungai setiap pagi nya, karena kamar mandi hanya satu dan tentu saja dia harus gantian sama adik - adik nya.
"Sarapan yuk!" Ajak Farhan pada adik nya.
"Ayo kak!" Mawar pun mengikuti kakak nya ke ruang makan.
Ketika Mawar dan Farhan akan mulai sarapan, Indah dan ibu nya keluar dari dalam kamar nya. Indah sudah rapi dengan seragam sekolah nya.
"Kamu makan sama kecap dan sayur saja, biar Indah sama Farhan makan dengan telur!" Bu Indah menepis tangan Mawar yang ingin meraih telur yang tadi di masak nya.
Mawar pun menuruti perintah ibu nya, padahal dia yang memasak tadi tapi dia tidak boleh memakan nya.
"Kamu bagi sama kak saja!" Farhan memberikan separuh telur dari piring nya ke piring Mawar.
"Farhan, kamu harus makan yang banyak, nanti kau akan ngantuk di sekolah!" Bu Munah tampak tidak suka melihat Farhan membagi makanan nya pada Indah.
"Gak papa kak, kakak makan saja!" Mawar berkata sambil menunduk kan kepala nya dan menahan agar air mata nya tidak jatuh.
"Kamu juga perlu makan Mawar, kau yang masak semua ini. Jadi kau punya hak yang sama!" Farhan berkata pada adik nya.
Mata bu Munah melotot melihat Mawar, jika saja tidak ada Farhan di sini sudah pasti Mawar akan dipukul dengan sapu atau pun kayu oleh Bu Munah.
"Bu, uang jajan ku mana?" Indah menadah kan tangan nya.
Indah masih kelas 6 sekolah dasar, dia berbeda usia 3 tahun dengan Mawar.
"Ini sayang uang nya!" Bu Munah mengeluarkan beberapa lembar uang jajan untuk Indah.
Bu Munah hanya memberikan uang jajan pada Indah, tidak pada Mawar. Lalu dia pun menganggur kan uang jajan untuk Farhan.
"Ini uang saku mu nak!" Dia berkata pada Farhan.
"Berikan pada Mawar bu, aku tidak perlu uang saku!" Farhan menolak uang saku dari ibu nya.
"Mawar udah besar, dia juga pulang lebih cepat dari mu, jadi dia tidak perlu uang jajan!" Bu Munah memasuk kan kembali uang itu ke dalam saku nya.
"Ayo kota berangkat Mawar!" Ujar sang kakak.
"Iya kak!" Mawar bangun dari kursi nya dan mengikuti langkah sang kakak.
"Mawar, bereskan dulu meja makan sebelum berangkat!" Perintah bu Munah.
"Ibu bisa bereskan sendiri, Mawar harus berangkat sekarang sama aku bu!" Farhan yang menjawab ucapan ibu nya.
Bu Munah dengan wajah kesal nya akhir nya membereskan sendiri meja makan pagi ini. Farhan dan Mawar sekolah di kecamatan, Farhan kelas 2 SMA sedang kan Mawar kelas 3 SMP. Mereka berdua berboncengan naik motor ke sekolah.
"Mawar, ini uang jajan untuk mu!" Farhan memberikan uang jajan pada adik nya setelah dia berhenti di depan sekolah nya Mawar.
"Makasih kak!" Jawab Mawar sambil menerima uang pemberian dari sang kakak.
"Jangan lupa jajan nanti, tunggu kakak pulang nya!" Farhan berkata sambil melajukan motor nya meninggal kan sekolahan nya Mawar dan menuju ke sekolahan nya sendiri.
Farhan sangat menyayangi Mawar, dia tahu seperti apa menderita nya Mawar karena perlakuan sang ibu yang membedakan antara diri nya dan Indah. Secara diam - diam Farhan sering membantu Mawar tanpa sepengetahuan sang ibu.