"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 (S2)
Waktu berlalu cepat dan akhirnya memasuki minggu persiapan ujian tengah semester kelas 3. Jadwal belajar jadi lebih padat.
Hari Senin pagi pukul 06.00, mereka sudah berkumpul di perpustakaan sekolah. Yuki membawa kopi hangat buat semua orang, sementara Hana lagi-lagi membawa beban makanan yang menumpuk mulai dari roti bakar, kue basah, sampe nasi goreng porsi kecil.
"Jangan tanya aku lagi ya! Ini biar kita nggak kelaparan belajarnya!" ucap Hana dengan senyum lebar sambil menyebarkan makanan di atas meja. Rio yang baru saja buka laptopnya langsung tersenyum. "Makasi ya Hana, kalau bukan kamu kita pasti sudah pingsan karena lapar!"
Mereka membagi tugas mengajar sesuai dengan keahlian masing-masing. Kinta dan Yuki fokus pada matematika dan fisika, Mei mengajar bahasa asing, Rio mengajar IPA, Rina mengajar seni dan sejarah, sedangkan Hana dan Dina mengajar bahasa Indonesia dengan cara yang unik!
Saat Hana menjelaskan tentang puisi, dia langsung membuat puisi sendiri tentang makanan favoritnya. "Puisi untuk Nasi Goreng Nasi putih yang digoreng dengan cinta, ditambah bawang merah yang harum nan segar..." ucapnya dengan nada dramatis yang bikin semua orang ketawa terbahak-bahak.
Dina kemudian melanjutkan dengan menjelaskan struktur kalimat. "Kalimat harus jelas dan padat ya! Contohnya: 'Aku makan nasi goreng' itu jelas. Tapi kalau 'Aku, dengan senang hati yang mendalam, menikmati hidangan nasi goreng yang lezat nan menggugah selera' itu terlalu panjang tapi tetap benar!" ucapnya dengan aksen kocak, membuat perpustakaan sedikit berisik.
Petugas perpustakaan datang dengan wajah sedikit serius. "Mohon suara nya dikurangi ya anak-anak, ini perpustakaan." Tapi dia langsung tertawa juga melihat wajah mereka yang masih penuh tawa. "Tapi boleh aja belajar dengan senang ya, asal tidak mengganggu yang lain!"
Saat belajar matematika, Kinta lagi-lagi salah menjelaskan rumus karena terlalu fokus sama Yuki. "Jadi rumusnya adalah... kamu yang paling penting di hidupku... AH BUKAN!" ucap Kinta dengan langsung jadi merah padam. Yuki langsung menepuk bahunya lembut. "Fokus dulu sama rumusnya dong Kinta! Ujiannya sebentar lagi nih!"
Pada hari Rabu sore, saat mereka sedang asik belajar di rumah Yuki, pintu rumah tiba-tiba dibuka dan orang tua masing-masing mereka masuk bersama-sama!
"Surprise anak-anak! Kami liat kalian belajar terus, jadi kami bawa makanan buat kalian semua!" ucap ibu Hana dengan senyum hangat. Semua orang langsung terkejut dan sangat senang, terutama Yuki yang jarang kumpul dengan orang tua nya karena mereka kerja jauh.
"Ibu! datang juga ya!" ucap Yuki dengan berlari ke arah orang tuanya dan memeluk erat. Ibu Yuki mengelus kepalanya. "Kita mau cek kabarmu dong sayang, apalagi sekarang masa ujian. Kamu tidak kesusahan kan?"
Semua orang berkumpul di ruang makan dengan meja panjang yang sudah disiapkan. Orang tua mereka membawa berbagai makanan khas daerah masing-masing sate dari orang tua Kinta, pempek dari orang tua Rio, sampe rendang dari orang tua Mei.
"Sini kita makan dulu aja baru lanjut belajar ya! Kalau perut kosong otak juga tidak bisa kerja dengan baik!" ucap ibu Rina dengan penuh perhatian. Mereka langsung duduk dan menikmati makanan dengan penuh kebahagiaan.
Saat makan, ayah Kinta mendekati dan ibu Yuki. "Kita sudah bicara kan tentang anak-anak kita? Kami sangat mendukung hubungan mereka berdua. Mereka saling membantu dan membuat satu sama lain jadi lebih baik," ucap ayah Kinta. Ibu Yuki mengangguk. "Kita juga sangat mendukung. Mereka memang sangat cocok satu sama lain."
Yuki dan Kinta yang tidak sengaja mendengar langsung jadi merah padam dan berpura-pura sibuk makan. Tapi hati mereka sangat senang karena mendapatkan dukungan dari orang tua masing-masing.
Malam sebelum ujian, mereka belajar bersama di rumah Yuki sampai larut malam. Suasana jadi lebih tenang dan fokus, tapi tetap ada sentuhan romantis yang membuat hati mereka hangat.
Setelah selesai belajar, mereka duduk di taman belakang rumah Yuki yang diberi lampu lilin kecil. Udara malam Jakarta yang sejuk membuat suasana lebih romantis. Rina mengambil gitar kecil dan mulai memainkan lagu-lagu kesukaan mereka. Semua orang menyanyi bersama dengan suara merdu dan penuh emosi.
Kinta menarik tangan Yuki dan membawanya ke sisi taman yang lebih sunyi. Mereka duduk di kursi ayunan kecil, melihat bintang-bintang yang bersinar di langit Jakarta yang sedikit berawan.
"Kamu sudah siap untuk ujian besok kan?" tanya Kinta dengan suara lembut sambil memegang tangan Yuki. "Sudah siap kok. Apalagi ada kamu yang selalu membantu aku belajar. Kamu adalah guru terbaik yang pernah aku punya," jawab Yuki dengan senyum.
Kinta mengeluarkan amplop kecil dari saku jaket nya. "Ini catatan kumpulan rumus dan materi penting yang aku tulis sendiri buat kamu," ucapnya dengan penuh cinta. Yuki menerima amplopnya dan mengeluarkan boneka kecil bentuk kucing yang dia buat sendiri. "Ini buat kamu Kinta. Kalau kamu merasa gugup, lihat boneka ini dan ingat aku selalu ada untukmu."
Mereka saling memberikan hadiah dengan mata penuh cinta. Kinta perlahan menghampiri wajah Yuki dan memberikan ciuman lembut di bibirnya. "Semoga kamu berhasil besok ya sayangku. Aku tahu kamu pasti bisa karena kamu sangat pintar dan kerja keras."
Yuki tersenyum kecil. "Sama juga untuk kamu Kinta. Semoga kita semua berhasil dan mendapatkan nilai yang baik," jawab Yuki. Mereka berdua saling memeluk erat, menikmati momen romantis di malam sebelum ujian yang penuh dengan harapan dan cinta.
Hari ujian akhirnya tiba. Mereka berkumpul di halaman sekolah sejak pagi untuk memberikan semangat satu sama lain sebelum masuk ruangan ujian.
"Semangat ya semua! Kita sudah belajar dengan baik jadi pasti bisa!" teriak Hana dengan penuh semangat, membuat beberapa siswa lain yang sedang gugup jadi lebih tenang.
Mereka saling berpelukan dan memberikan doa serta semangat. "Semoga kamu lancar ya Mei!" ucap Rio. "Kamu juga ya Rio! Jangan lupa baca soalnya dengan teliti!" jawab Mei.
Yuki dan Kinta berdiri sedikit jauh. Kinta mengambil tangan Yuki. "Semoga kamu berhasil ya Yuki. Ingat catatan atau boneka yang kubuat ya." "Aku akan ingat itu. Kamu juga ya Kinta, jangan terlalu tergesa-gesa. Aku akan menunggu kamu setelah ujian selesai!" Mereka saling melihat dengan mata penuh cinta sebelum masuk ruangan masing-masing.
Proses ujian berjalan lancar dan cukup mudah bagi mereka karena sudah belajar dengan baik. Saat ujian selesai dan mereka berkumpul kembali di halaman sekolah, wajah mereka penuh dengan senyum dan kebahagiaan.
"Bagaimana kamu semua? Soalnya mudah kan?" tanya Rina. Semua orang mengangguk dan mulai bercerita tentang soal-soal yang keluar. "Soal matematikanya tidak terlalu sulit kok, cuma ada beberapa soal yang sedikit tricky aja," ucap Kinta.
Hana kemudian menarik tangan semua orang. "Yuk kita pergi makan malam bersama aja untuk merayakan kelulusan ujian kita yang pasti bakal berhasil!" Semua orang langsung menyetujui dan berjalan keluar sekolah bersama-sama.
Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan santai di kawasan Kemang. Tiba-tiba Kinta berhenti di depan toko bunga yang menampilkan berbagai bunga cantik. "Semua teman-teman, kalian bisa pergi duluan aja ya? Aku ada sesuatu yang ingin lakukan dulu," ucap Kinta dengan sedikit malu. Teman-teman langsung mengerti dan menyembunyikan diri di kejauhan.
Kinta masuk toko dan keluar dengan buket besar bunga mawar merah dan putih. Dia mendekati Yuki yang sedang bingung kenapa teman-teman nya tiba-tiba pergi.
"Yuki, aku punya sesuatu yang ingin bilang padamu," ucap Kinta dengan suara sedikit gemetar. Dia menjatuhkan lututnya dan memberikan buket bunga nya. "Kamu adalah orang yang paling penting di hidupku Yuki. Kamu membuatku jadi lebih baik setiap hari dan selalu ada untukku. Meskipun kita masih muda, tapi aku sangat yakin bahwa kamu adalah satu-satunya untukku. dan bersamaku menghadapi segala sesuatu di masa depan?"
Yuki menangis bahagia dan langsung mengangguk. "Aku mau Kinta! Aku sangat mau! Aku juga sangat yakin bahwa kamu adalah satu-satunya untukku!"
Kinta berdiri dan memeluk Yuki erat, memberikan ciuman lembut di bibirnya yang penuh dengan air mata bahagia. Teman-teman mereka keluar dengan membawa lilin dan kembang api kecil yang sudah disiapkan.
"Selamat ya kalian berdua!" teriak mereka semua dengan penuh kebahagiaan. Kembang api kecil menyala di udara malam Jakarta, memberikan warna-warni cantik yang membuat momen tersebut semakin spesial dan tak terlupakan.
Mereka semua berkumpul dan merayakan hubungan resmi Yuki dan Kinta dengan penuh suka cita. Suara tawa dan candaan mereka bergema di malam hari Jakarta yang indah, menandai awal dari babak baru dalam hidup mereka yang penuh dengan cinta dan persahabatan yang kuat.