Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN SENDIRI YANG MULAI
Hujan terus turun deras saat Qinara berjalan di jalanan Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Jalan raya yang biasanya ramai dengan kendaraan dan orang-orang kini hanya dipenuhi oleh genangan air yang memantulkan cahaya dari lampu jalan yang sedikit kabur akibat hujan deras. Tas barang-barangnya yang terbuat dari kain tebal terasa sangat berat di pundaknya—di dalamnya ada beberapa baju ganti, selimut tipis, sedikit makanan yang dia sempat ambil sebelum keluar dari rumah, dan berkas-berkas penting yang dia berhasil kumpulkan setelah Bu Laras melemparkannya ke lantai. Tapi kotak kayu kecil yang dia pegang erat di tangannya terasa lebih berat dari semua itu—karena di dalamnya tidak hanya ada surat-surat dan foto lama tentang ayahnya, tapi juga semua harapan dan impian yang telah dia bangun selama bertahun-tahun, impian yang kini tampak seperti runtuh berkeping-keping.
Kaki nya terkadang tergelincir di jalanan yang licin akibat lumpur dan air hujan. Sepatu yang dia kenakan—sepatu kulit hitam yang pernah diberikan Bu Laras sebagai hadiah ulang tahun beberapa tahun yang lalu—sudah penuh dengan kotoran dan mulai bocor di bagian tumit. Dia melewati beberapa tempat yang dulu pernah dia kunjungi bersama yayasan—tempat di mana mereka pernah membangun sekolah kecil, tempat di mana mereka pernah memberikan makanan dan buku kepada anak-anak miskin, tempat di mana ayahnya dulu sering membawanya bermain ketika dia masih kecil. Setiap tempat yang dia lewati hanya menambah rasa sakit dan kehilangan yang dia rasakan di dalam hati.
Dia tidak punya uang banyak—hanya beberapa ribu rupiah yang tersisa di dalam dompetnya, tidak cukup untuk menyewa kamar kos atau bahkan membeli makanan untuk beberapa hari ke depan. Semua orang yang pernah dia percayai telah mengingkari dia—Bu Laras yang mengusirnya dengan kasar dari rumah dan menyatakan bahwa dia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga mereka, Pak Rio yang memalingkan wajah ketika dia meminta bantuan untuk menyelidiki bukti-bukti yang dia temukan, Siti yang mengatakan bahwa dia tidak bisa terlibat karena takut akan merusak karirnya, dan Kabelo yang harus kembali ke Afrika Selatan karena ada masalah mendesak di sana dan tidak bisa memberikan dukungan apapun. Bahkan yayasan yang telah menjadi hidupnya selama lebih dari dua puluh tahun telah mengeluarkannya dengan resmi dan menyatakan melalui surat yang dia terima beberapa hari yang lalu bahwa dia tidak lagi menjadi bagian dari mereka, bahkan melarangnya untuk datang ke wilayah mana pun yang dikelola oleh yayasan.
Qinara berhenti di sudut jalan di mana sebuah toko kelontong kecil berdiri dengan kanopi plastik tipis yang sedikit melindunginya dari hujan. Toko itu sudah tutup—papan tutup sudah ditarik dan hanya ada sedikit cahaya yang keluar dari balik jendela. Dia duduk perlahan di atas trotoar yang basah dan licin, menyandarkan punggungnya ke tembok toko yang dingin. Udara malam yang lembap membuat tubuhnya merasa kedinginan meskipun dia masih mengenakan jaket tebal. Dia menempatkan tasnya di sebelahnya dan dengan hati-hati membuka kotak pemberian ayahnya—kotak kayu kecil dengan ukiran bunga mawar di bagian atasnya yang pernah dibuat ayahnya sendiri sebelum dia meninggal.
Dia mengambil surat-surat yang telah dia baca berkali-kali selama bertahun-tahun. Surat pertama adalah surat terakhir yang diberikan ayahnya sebelum kematiannya, dengan kata-kata yang sudah dia hafal oleh hati: "Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain." Kata-kata ayahnya yang penuh semangat dan harapan terasa seperti lelucon bagi dia sekarang—bagaimana bisa dia tetap kuat dan tidak menyerah ketika semua yang dia cintai telah menghilang, ketika orang-orang yang seharusnya mendukungnya justru yang paling menyakitinya?
Dia juga menemukan foto lama di dalam kotak—foto ayahnya ketika sedang membangun Sekolah Hadian yang pertama, foto mereka berdua ketika dia masih kecil sedang bermain di halaman sekolah, foto bersama Bu Laras, Pak Rio, dan Pak Santoso di hari pembukaan Universitas Hadian. Air mata mulai mengalir lagi di wajahnya, menyatu dengan tetesan air hujan yang masih menetes dari rambutnya. Dia menyentuh wajah ayahnya di foto dengan jari yang gemetar, merasa seperti dia telah mengecewakan ayahnya dengan tidak bisa menjaga yayasan yang mereka bangun bersama.
Saat malam semakin larut dan hujan semakin deras, suara hujan yang memukul kanopi plastik membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Qinara merasa sangat lelah dan kelelahan—tubuhnya capek setelah berjalan selama berjam-jam di bawah hujan, dan hatinya lelah karena rasa sakit dan kecewa yang luar biasa. Dia menyimpan surat-surat dan foto-foto ayahnya kembali ke dalam kotak dengan hati-hati, kemudian membungkus dirinya dengan selimut tipis yang ada di dalam tasnya. Selimut itu sudah basah sebagian dan tidak memberikan banyak kehangatan, tapi dia merasa sedikit lebih aman ketika tubuhnya tertutup.
Dia melihat ke langit yang masih gelap dan penuh dengan awan hujan, tidak bisa melihat satu pun bintang di langit malam yang biasanya dia gunakan untuk merindukan ayahnya. Dia tidak punya tempat untuk pergi dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya besok—apakah dia akan bisa menemukan makanan, apakah dia akan punya tempat untuk berlindung dari hujan, apakah dia akan bisa menemukan orang yang bersedia membantu dia. Tapi satu hal yang dia ketahui dengan pasti—meskipun semua orang telah meninggalkannya, meskipun jalan yang harus ditempuh tampak sangat gelap dan penuh dengan rintangan, dia tidak akan menyerah untuk menemukan kebenaran tentang ayahnya dan menyelamatkan yayasan dari orang-orang yang telah mencuri uang dan membunuh ayahnya. Tekad itu seperti nyala kecil yang tidak bisa padam meskipun hujan deras menghantamnya.
Di pagi hari, hujan akhirnya berhenti setelah turun selama hampir seluruh malam. Mentari mulai muncul perlahan dari balik awan gelap, menyinari jalanan yang masih basah dan memantulkan cahaya seperti permata. Udara pagi terasa segar dan sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang tumbuh di tepi jalan. Qinara bangun dengan tubuh yang kedinginan dan sakit kepala—kakinya terasa pegal dan badan nya merasa sangat lelah. Dia merasa sedikit pusing ketika mencoba untuk berdiri, sehingga dia harus menyandarkan diri ke tembok toko untuk beberapa saat sampai rasa pusingnya reda.
Dia melihat ke sekitar dan menemukan bahwa dia berada di daerah yang tidak terlalu dikenal—jalan-jalan yang lebih kecil dan lebih rimbun dari daerah di mana dia biasanya tinggal. Di kejauhan terlihat gunung yang masih tertutup kabut pagi, dan suara suara burung berkicau dari pepohonan di sepanjang jalan. Dia tidak tahu di mana dia berada persis, tapi dia merasa bahwa dia telah cukup jauh dari rumah dan dari kompleks yayasan.
Dia berdiri dengan perlahan dan menggosok-gosok tangan nya untuk menghangatkan tubuh. Tas barang-barangnya terasa lebih berat dari sebelumnya, tapi dia tidak punya pilihan selain membawanya. Dia menyusuri jalan kecil yang sunyi, berharap bisa menemukan tempat untuk tinggal dan makanan untuk dimakan. Dia melewati beberapa rumah kecil dengan kebun yang indah, beberapa warung kecil yang mulai membuka, dan beberapa orang yang sedang berjalan dengan membawa tas kerja atau belanjaan pagi. Tidak seorang pun memperhatikannya—dia hanya seperti orang lain yang sedang berjalan di jalanan pagi hari.
Saat dia berjalan lebih jauh, dia melihat sebuah papan nama kecil yang tertancap di tepi jalan dengan tulisan: "Panti Asuhan Kasih Sayang—Menerima Donasi dan Sukarelawan." Hatinya sedikit tergerak ketika melihat tulisan itu. Panti asuhan itu terletak di belakang sebuah kebun bunga yang indah, dengan rumah kecil yang tampak hangat dan penuh dengan kehidupan. Dia ragu sejenak apakah harus mendekatinya atau tidak—dia takut akan ditolak lagi, takut akan dianggap sebagai beban. Tapi perutnya yang kosong dan tubuhnya yang lelah membuatnya tidak punya pilihan lain. Dengan napas dalam-dalam dan tekad yang sedikit kembali, dia menginjakkan kaki ke halaman panti asuhan dan berjalan menuju pintu utama, membawa tas barang-barangnya dan kotak pemberian ayahnya yang selalu dia sayangi.