NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA YANG MENJADI SUMBER INSPIRASI DAN WARISAN YANG MENGUBUNGI DUNIA

Qinara, yang sekarang berusia dua puluh tujuh tahun, berdiri di atas dek observasi gedung utama, memandang panorama kota yang terus berkembang dan kejauhan yang menjadi saksi bisu dari perjalanan panjangnya membangun gerakan pendidikan global. Dia mengenakan gaun yang dibuat dari gabungan kain tradisional dari 75 negara yang telah dilayani yayasan, dihiasi dengan bordir pola buku dan tangan yang saling menjunjung—melambangkan bagaimana pendidikan bisa mengubungkan hati dan pikiran di seluruh dunia. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso yang telah menjadi simbol ketekunan dan harapan, serta kotak pemberian ayahnya yang kini telah diabadikan sebagai artefak penting dalam sejarah pendidikan global.

Pak Rio mendekatinya dengan senyum yang penuh kebanggaan, membawa berita yang akan menulis bab baru dalam sejarah yayasan. "Qinara, kita telah mencapai target yang tampak mustahil—membantu lebih dari 1 JUTA anak di seluruh dunia mendapatkan pendidikan layak! Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengumumkan bahwa model Sekolah Hadian akan menjadi standar internasional untuk pendidikan inklusif dan berbasis kasih sayang. Selain itu, mereka ingin kamu menjadi tokoh kehormatan untuk kampanye global 'Pendidikan untuk Semua Anak' yang akan diluncurkan tahun depan."

Qinara merasakan getaran emosi yang mendalam mengalir di dalam dirinya. Dia melihat ke arah pusat riset di bawahnya, di mana ilmuwan dan peneliti dari berbagai negara sedang bekerja sama untuk mengembangkan solusi pendidikan masa depan. "Ini adalah impian yang menjadi kenyataan, Pak. Ayahmu selalu berkata bahwa setiap anak adalah potensi pemimpin masa depan. Sekarang, kita telah memberikan kesempatan bagi jutaan anak untuk mewujudkan potensi mereka."

Kabelo dari Afrika Selatan, yang kini telah menjadi ketua dewan pengawas Yayasan Hadian Global, datang dengan delegasi dari negara-negara yang baru saja bergabung dengan jaringan yayasan—Yaman, Afghanistan, dan Ukraina. Mereka datang untuk berbagi bagaimana sekolah yang dibangun di tengah tantangan besar telah memberikan harapan bagi anak-anak di daerah konflik. "Kak Qinara, meskipun kondisi di negaranya sulit, anak-anak sekarang punya tempat untuk belajar dan merasa aman. Mereka selalu bertanya tentangmu dan ayahmu—kamu adalah sumber inspirasi bagi mereka di tengah badai."

Seorang guru dari Ukraina bernama Olena mendekatinya dengan foto anak-anak yang sedang belajar di sekolah yang dibangun di bawah tanah untuk menghindari serangan. "Qinara, foto ini menunjukkan anak-anak yang sedang belajar matematika dan bahasa Inggris. Meskipun dunia di sekitar mereka berguncang, mereka tahu bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kegelapan. Kamu telah memberikan mereka itu."

Qinara menerima foto itu dengan hati-hati, mata sedikit berkaca-kaca. "Kamu yang luar biasa, Olena. Kamu adalah pahlawan yang bekerja di garis depan, memberikan harapan di tengah kesulitan. Kita akan terus mendukungmu dan anak-anak itu dengan segala cara yang bisa kita lakukan."

Sore hari, mereka berjalan ke taman kehormatan yang terletak di dalam kompleks pusat riset—tempat di mana nama setiap anak yang telah mendapatkan bantuan dari yayasan dicatatkan pada dinding besar berbentuk buku terbuka. Di tengah taman berdiri monumen besar yang menggambarkan ayahnya, Hadian, sedang membaca cerita kepada anak-anak dari berbagai ras dan budaya. Monumen ini dibuat oleh Aisha dan kelompok seniman internasional muda, dengan dukungan dari mahasiswa jurusan seni dari semua cabang Universitas Hadian di dunia.

Aisha—yang sekarang berusia lima belas tahun dan telah menjadi seniman muda yang dikenal secara global dengan fokus pada tema pendidikan dan persatuan dunia—datang bersama dengan kelompok anak-anak dari berbagai negara yang telah memenangkan kompetisi internasional "Cerita Kita untuk Dunia". Mereka membawa koleksi buku yang telah diterbitkan dalam 30 bahasa dan akan didistribusikan ke semua sekolah di dunia yang membutuhkan.

"Kak Qinara, buku-buku ini berisi cerita tentang harapan, perjuangan, dan keberhasilan anak-anak dari seluruh dunia. Kami ingin setiap anak tahu bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa impian mereka bisa menjadi kenyataan," kata Aisha dengan suara yang penuh semangat.

Qinara melihat sampul buku yang menggambarkan anak-anak dari berbagai negara sedang bergandengan tangan di atas dunia yang penuh warna. "Ini adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan kepada dunia, Aisha. Cerita-cerita ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan hati manusia di seluruh dunia."

Keesokan harinya, Qinara terbang ke New York untuk menghadiri pertemuan khusus dengan Dewan Keamanan PBB tentang peran pendidikan dalam menciptakan perdamaian dunia. Di sana, dia bertemu dengan pemimpin dunia, diplomat, dan aktivis perdamaian dari seluruh dunia untuk membahas bagaimana pendidikan bisa menjadi alat efektif untuk mengatasi konflik dan membangun kedamaian abadi.

Saat Qinara berdiri di panggung gedung PBB, seluruh ruangan menjadi sunyi dengan hormat. "Selamat pagi kepada semua teman sekalian. Delapan belas tahun yang lalu, aku kehilangan ayahku karena kekerasan dan konflik. Saat itu, dunia terasa seperti tempat yang penuh dengan kegelapan dan ketidakadilan. Tapi ayahmu telah meninggalkan sesuatu yang berharga—keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah dunia dari tempat yang penuh konflik menjadi tempat yang penuh kedamaian," ucap Qinara dengan suara yang jelas dan penuh makna.

Dia melanjutkan dengan berbagi data bahwa negara-negara yang mengadopsi model Sekolah Hadian telah mengalami penurunan tingkat kekerasan dan konflik hingga 40% dalam lima tahun terakhir. "Pendidikan yang berbasis kasih sayang dan empati tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk membaca dan menulis—ini mengajarkan mereka untuk memahami, menghargai, dan mencintai orang lain meskipun berbeda dengan mereka. Inilah yang kita butuhkan untuk membangun dunia yang damai dan sejahtera."

Setelah pidato, banyak pemimpin dunia mendekatinya untuk menandatangani perjanjian kerja sama dalam mengimplementasikan model pendidikan berbasis kasih sayang di negaranya. Perdana Menteri Yaman berkata, "Qinara, kita telah melihat bagaimana pendidikan bisa mengubah kehidupan anak-anak di daerah konflik. Kami ingin menerapkan model ini di seluruh negara kami untuk memberikan harapan bagi generasi mendatang."

Malam itu, Qinara berdiri di teras atas gedung PBB, memandang kota New York yang bersinar dengan cahaya tak berujung dan langit malam yang penuh bintang. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi, kata-katanya seperti panduan hidup yang tak terpisahkan darinya:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah melampaui batasan negara dan budaya. Tidak hanya jutaan anak yang mendapatkan pendidikan, tapi juga perubahan dalam cara dunia melihat pendidikan—dari alat untuk mendapatkan pekerjaan menjadi alat untuk membangun dunia yang lebih baik. Yayasan Hadian telah menjadi gerakan global yang mengubah wajah pendidikan dan perdamaian dunia.

Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk menghadiri perayaan tahun ke-20 Yayasan Hadian. Lebih dari 200.000 orang hadir di acara itu—alumni dari seluruh dunia, guru, sukarelawan, delegasi dari lebih dari 150 negara, dan beberapa kepala negara yang datang khusus untuk merayakan momen bersejarah ini. Lapangan utama kompleks Universitas Hadian Jakarta diubah menjadi taman budaya dunia, dengan tenda-tenda dari setiap negara yang telah dilayani yayasan, masing-masing menampilkan budaya, makanan, dan prestasi pendidikan mereka.

Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 98 tahun dan masih memiliki semangat yang tak terkalahkan, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi. Siti kini telah menjadi sekretaris jenderal Yayasan Hadian Global, sedangkan Rudi telah menjadi direktur pusat kesehatan dan pendidikan anak yang kini melayani lebih dari 5 juta anak di seluruh dunia.

Pak Santoso mengambil mikrofon dan berkata dengan suara yang penuh emosi: "Dua puluh tahun yang lalu, aku bertemu seorang anak kecil yang menangis di depan makam ayahnya. Saat itu, dia hanya punya impian dan tekad yang kuat. Hari ini, aku melihat seorang pemimpin dunia yang telah mengubah hidup lebih dari satu juta anak dan menginspirasi jutaan orang lain. Qinara, kamu telah membuat impian ayahmu menjadi kenyataan yang akan hidup selamanya. Dunia berterima kasih padamu."

Setelah pidato, komite internasional memberikan penghargaan khusus "Hadiah Perdamaian Dunia" kepada Qinara—penghargaan yang diberikan hanya kepada mereka yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi perdamaian dunia. "Qinara, kamu telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah kekuatan terbesar untuk menciptakan perdamaian. Kamu telah mengubah dunia dengan kasih sayang dan tekad yang tak tergoyahkan. Dunia lebih baik karena ada kamu," ucap ketua komite.

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, disertai dengan nyanyian lagu kebangsaan dari berbagai negara yang menyatu dalam harmoni yang indah. Anak-anak dari seluruh dunia menyanyikan lagu "Cahaya Kita untuk Dunia" yang telah menjadi lagu resmi gerakan pendidikan global, dan semua orang bergandeng tangan, merasakan hubungan yang tak terpisahkan antar mereka sebagai bagian dari satu keluarga dunia yang besar.

Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga besar yang telah tumbuh selama dua dekade—Laras, Pak Rio, Pak Santoso, Siti, Rudi, Kabelo, Aisha, dan ribuan teman dari seluruh dunia yang telah menjadi bagian dari perjalanan luar biasa ini. Dia membawa penghargaan Perdamaian Dunia dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia duduk di dekat makam, berbicara dengan penuh rasa syukur dan cinta yang mendalam:

"Ayah, hari ini kita merayakan dua puluh tahun Yayasan Hadian. Kita telah membantu lebih dari satu juta anak di seluruh dunia mendapatkan pendidikan, membangun lebih dari 3.000 sekolah di 85 negara, dan mengubah wajah pendidikan global. Dunia telah mengakui bahwa pendidikan berbasis kasih sayang adalah kunci untuk perdamaian dan kemakmuran dunia. Semua ini karena kamu pernah memberi aku impian yang besar dan kekuatan untuk mengejarnya."

Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, dan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya tampak seperti sedang bersinar dengan kebanggaan. "Sudah dua puluh tujuh tahun sejak kamu pergi, tapi kamu hidup dalam setiap anak yang belajar dengan senang hati, di setiap guru yang mengajar dengan kasih sayang, di setiap generasi yang tumbuh dengan harapan untuk dunia yang lebih baik. Kamu hidup dalam setiap buku yang dibaca, setiap pelajaran yang diajarkan, setiap senyum yang kita bawa ke wajah anak-anak yang membutuhkan."

Laras memeluknya dengan erat, air mata kebahagiaan mengalir deras di wajahnya. "Qinara, aku tidak pernah membayangkan bahwa kita bisa sampai sejauh ini. Ayahmu pasti sangat bangga padamu—kamu telah membangun sesuatu yang abadi, sesuatu yang akan terus memberikan cahaya bagi dunia selama-lamanya. Aku bangga menjadi ibumu dan bagian dari perjalanan yang luar biasa ini."

Qinara membalik memeluk Laras, merasa bahwa semua perjuangan, tantangan, dan waktu yang dihabiskan telah bernilai lebih dari apa pun yang bisa dia bayangkan. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang yang telah mempercayai kita, tidak ada yang mungkin terjadi. Kita adalah keluarga yang menyatukan dunia, dibangun dari hati dan kasih sayang yang tak terbatas dan tak akan pernah padam."

Mentari esok akan muncul, membawa harapan baru dan impian yang lebih besar. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, dengan banyak hal yang harus dilakukan—membangun lebih banyak sekolah, mengembangkan metode pendidikan yang lebih baik, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam perjuangan ini. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan pernah sendirian—warisan ayahnya telah tumbuh menjadi gerakan global yang akan terus berkembang, membawa cahaya dan harapan ke setiap sudut dunia yang membutuhkan.

Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang cerah dan penuh harapan. Cahaya ayahnya akan selalu menyinari jalanannya, dan warisan ayahnya akan tetap hidup selamanya—sebagai bukti bahwa satu orang bisa mengubah takdir jutaan orang, dan bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang bisa membawa perubahan dunia yang sesungguhnya dan abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!