Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Raihan
Raihan menatap Kanaya, yang kini menghindari tatapannya, Raihan tersenyum kemudian mengecup kembali pipi Kanaya, namun kali ini lebih lama.
"Nay..."panggil Raihan, sambil mengelus lembut pipi Kanaya yang tadi di ciumnya.
"Kamu marah...?"tanyanya, Kanaya yang mendengar ucapan Raihan seketika langsung menatap Raihan.
"Kamu....?"tanya Kanaya yang merasa asing dengan kata-kata Raihan.
"Sekarang aku bukan teman kamu lagi Nay, aku... Pa-car kamu."Jawab Raihan.
"Aku gak mau, cara bicara kita sama kayak kita ngomong sama temen-temen kita."lanjut Raihan.
"Tapi Rai, kita kan..."Kanaya tak melanjutkan ucapannya, Jujur Kanaya masih sangat bingung dengan situasi yang yang di alaminya saat ini, namun ia juga tak ingin menyakiti Raihan.
"Nay, aku tau, kamu belum cinta, sayang, atau suka sama aku, tapi aku mohon, biarkan status kita berbeda Nay."
"Nay denger ya, aku gak mau kehilangan kamu lagi, aku takut aku akan kalah kalau sampai harus bersaing dengan lelaki lain, Nay. Makanya aku kayak gini." Lanjut Raihan dengan memohon.
"Rai... Gimana ya, kamu itu temen aku, sahabat aku, di antara semua pria yang aku kenal disini, kamu satu-satunya yang terdekat sekarang, gak harus jadi pacar juga kan, sebenarnya?"ucap Kanaya, yang pada akhirnya ia menutup mulutnya ketika sadar bahasanya ikut berubah. Sementara Raihan tersenyum mendengarnya.
"Tapi kamu juga mulai dekat sama Gavin Nay, dan gak ada yang bisa nolak pesona dia selama ini Nay, aku gak mau sampai kamu malah suka sama dia nantinya, di banding sama aku."Ucap Raihan frustasi.
Mendengar ucapan Raihan, Kanaya menelan saliva, andai Raihan tau apa yang sudah di lakukannya bersama Gavin, entah bagaimana perasaannya nanti.Kanaya akui ucapan Raihan sangatlah benar, Kanaya pun tak berdaya bila harus bersama Gavin.
"Tapi gue, maksudnya aku masih takut bakal nyakitin kamu, Rai."jawab Kanaya.Dia tak yakin akan bisa jatuh cinta pada Raihan saat ini.
"Please Nay, kasih aku kesempatan, ya! Aku mohon."Mata Raihan terlihat berkacakaca.Membuat Kanaya makin tak tega melihatnya.
"Y-ya.udah, iya Rai. Aku... Pacar kamu sekarang."ucap Kanaya pasrah.
Raihan langsung tersenyum senang dan kembali memeluk Kanaya ,"thanks, Nay! i love you..."ucapnya lagi, sambil mengecup lembut kepala Kanaya.
"Iya Rai..."jawab Kanaya akhirnya, dia pun membalas pelukan Raihan, Kanaya tak tau dengan keputusannya saat ini, benar atau salah, Kanaya hanya tak ingin menyakiti Raihan dengan menolak pria itu.
---
Kanaya kini berada di kamarnya, setelah tadi Raihan mengantarkannya pulang, Kanaya memilih untuk mengurung dirinya di kamar.
Kanaya masih cukup bingung dengan keadaannya saat ini, apalagi dengan pembicaraannya tadi di mobil dengan Raihan, sebenarnya bukan itu yang di inginkan Kanaya. Memiliki kekasih saat ini, adalah hal yang tak pernah Kanaya pikirkan sebenarnya. Di satu sisi Kanaya takut akan menyakiti Raihan, dan di sisi lain Kanaya takut dirinyalah yang akan terluka jika suatu saat benar-benar jatuh cinta pada Raihan.
Di tengah lamunam Kanaya, tiba tiba dering ponsel mengintrupsi, membuat Kanaya tersentak dan mengambil ponselnya.
Sebuah panggilan telpon dari Gavin membuat Kanaya mengernyitkan keningnya.
"Halo, Gav..."jawab Kanaya .
"Lo udah tidur?"tanya Gavin di sebrang sana.
"Belum, kenapa?"tanya Kanaya.
"Gak apa-apa, tiba-tiba aja gue kangen sama cewe yang dua malam ini tidur di kamar gue!"jawab Gavin santai.
"Oya, apa emang yang lo kangenin?"tanya Kanaya spontan.
"Wajahnya, matanya, dan bibirnya... Mungkin!"ucap Gavin. Membuat Kanaya tertawa mendengarnya.
"Apa yang bakal kamu lakuin kalo kita ketemu sekarang?"tanya Kanaya sambil tertawa.
"I will kiss your sweet lips, maybe!"jawab Gavin, tawa Kanaya semakin pecah mendengar ucapan Gavin.
"Bisa aja lo."ucap Kanaya setelah mengakhiri tawanya.
"Mmm, Gav?"panggil Kanaya.
"Hmmm."jawab Gavin,
"Tadi... Raihan nembak gue!"ucap Kanaya yang tampaknya membuat Gavin terkejut.
"Serius?"tanya Gavin.
"Iya... Gue juga gak nyangka sih, sebenarnya." Jawab Kanaya.
"Terus, lo jawab apa..?"tanya Gavin penasaran.
"Gue udah berkali-kali bilang ke dia ,kalo gue belum bisa nerima dia, tapi... Dia tetep minta kesempatan, buat lebih dekat sama gue."
"Dia tau gue belum suka sama dia, dia juga tau gue belum selesai sama masa lalu gue, tapi dia tetep pengen gue jadi pacarnya ,walaupun dia tau gue belum punya perasaan apapun ke dia."jelas Kanaya.
"Dia bilang sih, dia gak mau keduluan orang lain."
"Dan akhirnya... Gue gak punya pilihan lain selain nerima dia, Gav."lanjut Kanaya.
"Jadi sekarang, lo sama Raihan pacaran?"tanya Gavin.
"Iya, begitulah akhirnya. Jadi Gav, jangan godaan gue lagi ya?"ucap Kanaya, seolah memberi peringatan pada Gavin.
"Kalo gue gak bisa?"tanya Gavin.
"Harus bisa, karna gue pacar temen lo sekarang."Jawab Kanaya.
"Selama janur kuning belum melengkung kan, bisa-bisa aja, Nay ."jawab Gavin santai.
"Ish... Masa mau jadi pebinor kamu."ucap Kanaya sambil tertawa. Dan malah keceplosan dengan kata kamu pada Gavin.
"Kalo bini orangnya kaya kamu kan, aku gak bisa nolak."Jawab Gavin sambil tertawa. Dan mengikuti gaya bahasa Kanaya.
"Nay...?"panggil Gavin ketika tak terdengar suara dari Kanaya.
"Yah...!"jawab Kanaya, entah kenapa mendengar suara Gavin membuat Kanaya merindukannya.
"Apa lo bahagia?"tanya Gavin. Pertanyaan itu sukses membuat Kanaya membeku, lidahnya seolah kelu untuk menjawab, namum tiba-tiba airmata nya luruh begitu saja.
Kanaya terisak ada rasa sesak di dadanya ketika Gavin bertanya tentang kebahagiaan padanya, Kanaya bahkan tidak tau apa yang di sebut kebahagiaan saat ini.
"Nay... Lo nangis?"tanya Gavin, yang hanya di jawab oleh suara tangisan Kanaya.
"G-Gue gak tau Gav, gue gak tau apa itu kebahagiaan sekarang, yang gue tau, gue cuma gak mau,ada orang lain,yang terluka karna gue, karena gue tau gimana sakitnya, saat orang lain menyakiti gue."Jawab Kanaya, yang membuat Gavin terdiam, selama ini Gavin sering kali tak memikirkan tentang perasaan orang lain, bahkan di saat Gavin mungkin menyakiti orang lain pun Gavin tak akan menyadarinya.
"Gue mungkin gak suka, apalagi cinta sama Raihan untuk saat ini, tapi gue akan berusaha untuk gak menyakiti dia, semampu yang gue bisa, Gav."lanjut Kanaya.
Gavin masih terdiam mendengar ucapan terakhir Kanaya, tak pernah Gavin menyangka akan ada gadis setulus Kanaya.
"Nay, kalau suatu hari ada orang yang berani nyakitin lo, gue pastiin gue orang pertama yang bakal membalas perbuatan dia sama lo."ucap Gavin, yang membuat Kanaya tersenyum.
Pembicaraan mereka terus berlanjut, sampai akhirnya kanaya tertidur, dengan posisi hp yang menyala.
Gavin yang tak lagi mendengar suara Kanaya, dan hanya mendengar dengkuran halus dari Kanaya, akhirnya memutuskan sambungan telpon nya.
"Good night, Nay...!"ucap Gavin sebelum mematikan sambungan telponnya.
---
Pagi ini Kanaya telah siap dengan pakaian khasnya untuk ke kampus setelah kemarin libur, Kanaya sedang sarapan sebelum memulai segala aktivitasnya.
Kanaya pun di antar sopir menuju Galaxy Universit ,ada beberapa tugas yang belum selesai dan belum di kerjakan nya, sehingga membuatnya berangkat lebih pagi.
Dan beberapa saat kemudian, Kanaya telah sampai di kampus, dan kini ia berada di parkiran sebelum beranjak ke dalam, namun baru selangkah Kanaya berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggilnya,
"Kanaya...!"
-Bersambung