Di masa lalu, Sheng Long adalah Kaisar Iblis Kuno terkuat yang pernah ada. Kekuatannya begitu mengerikan hingga seluruh ras bersatu hanya untuk satu tujuan—menyegelnya selamanya.
Menolak tunduk pada takdir, Sheng Long membelah jiwanya dan bereinkarnasi demi menghindari segel tersebut. Ia terlahir kembali sebagai putra Keluarga Shen, namun dengan harga yang kejam. Kekuatan masa lalunya tersegel, tubuhnya lemah, dan ia dicap sebagai tuan muda sampah yang sakit-sakitan.
Menganggap keberadaannya sebagai aib, keluarganya menikahkannya dengan seorang gadis sederhana yang tak memiliki latar belakang apa pun. Namun justru dari gadis itulah, Shen Long merasakan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kebahagiaan.
Sayangnya, kebahagiaan itu menjadi dosa di mata keluarganya.
Didorong oleh iri dan kebencian, mereka merebut gadis itu dari hidupnya. Tindakan kejam tersebut menghancurkan segel yang membelenggu jiwa Sheng Long. Kaisar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Akhir Sang Penguasa dan Pembersihan Alam
Penguasa Agung Alam Kedua gemetar hebat. Tongkat bintang di tangannya retak karena tidak sanggup menahan tekanan aura dari raga sejati Shen Long yang baru saja bersatu. Ruang hampa di sekitar mereka seolah-olah membeku; setiap partikel energi tunduk pada kehadiran Sang Kaisar Iblis.
"Kau... kau memaksakan penyatuan di alam rendah ini? Kau akan menghancurkan fondasi dunia ini!" teriak Penguasa Agung dengan suara parau.
Shen Long menatapnya dengan mata merah yang tenang, namun mematikan. "Aku tidak akan menghancurkan alam ini. Aku hanya akan menghapus kotoran yang menodainya... dimulai darimu."
Tanpa gerakan yang terlihat, Shen Long sudah berada di depan Penguasa Agung. Ia tidak menggunakan pedang. Tangan kanannya mencengkeram wajah sang penguasa, dan jari-jarinya yang kuat menembus pelindung cahaya surgawi seolah-olah itu hanya selembar kertas.
"Hukum Kematian: Penghisap Esensi Kehidupan."
Aura hitam pekat mengalir dari tangan Shen Long, masuk ke dalam tubuh Penguasa Agung. Sang dewa menjerit tertahan saat seluruh kekuatan bintangnya, memorinya, dan jiwanya disedot paksa. Tubuh agung itu layu dalam hitungan detik, berubah menjadi debu bintang yang berhamburan di angkasa.
Namun, Shen Long belum selesai. Mata ketiganya di telapak tangan—yang kini telah menyatu sempurna dengan raga sejatinya—berpendar hijau gelap. Ia memindai seluruh Alam Kedua. Ia bisa merasakan setiap detak jantung musuh-musuhnya yang bersembunyi di lubuk bumi maupun di puncak gunung.
"Kalian yang pernah menyumbangkan satu serangan untuk penyegelanku... kalian yang bersorak saat aku jatuh... hari ini adalah hari pembayaran kalian."
Shen Long merentangkan keempat sayap hitamnya. Ia melepaskan jutaan helai bulu energi yang masing-masing membawa segel kematian otomatis.
SYUT! SYUT! SYUT!
Jutaan cahaya hitam melesat dari angkasa, menembus atmosfer Alam Kedua seperti hujan meteor yang sangat presisi. Cahaya-cahaya itu tidak menghantam warga sipil atau penduduk yang tak bersalah. Mereka mengejar setiap individu yang memiliki noda "Aura Dewa" atau mereka yang pernah bersekutu dengan para pengkhianat.
Di berbagai penjuru Alam Kedua, para tetua sekte yang korup, panglima perang yang kejam, dan sisa-sisa pengikut Lei Zu meledak menjadi kabut darah secara bersamaan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Bahkan mereka yang bersembunyi di dalam ruang dimensi rahasia pun ditarik keluar oleh energi Shen Long dan dieksekusi di tempat.
Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh kotoran di Alam Kedua telah dibersihkan.
Shen Long kemudian melayang turun kembali menuju reruntuhan Kota Langit Gantung. Ia mendarat di depan paviliun tempat Mu Rong terbaring pingsan. Dengan lambaian tangan, ia menciptakan pelindung abadi di sekeliling gadis itu. Meskipun ingatan tentangnya telah dihapus, Shen Long memberikan sedikit energi kehidupan agar Mu Rong bisa hidup lama dan mencapai puncak kultivasi di masa depan sebagai balasan atas bantuan tulusnya.
"Hutangku padamu sudah lunas." bisik Shen Long tanpa emosi.
Tiba-tiba, portal raksasa dari Alam Ketiga di atas sana semakin melebar. Suara terompet perang semakin nyaring, dan kilat-kilat emas mulai menyambar, mencoba menekan aura iblis Shen Long.
"Shen Long! Beraninya kau membunuh Penguasa yang ditunjuk oleh Langit Tertinggi!" sebuah suara menggelegar dari dalam portal. "Naiklah dan terimalah hukumanmu, atau kami akan meratakan alam ini hanya untuk menangkapmu!"
Shen Long mendongak. Ia menggenggam pedang Pembantai Surga yang kini benar-benar telah mencapai bentuk aslinya—pedang raksasa dengan ukiran naga hitam yang matanya bersinar merah.
"Kalian ingin aku naik?" Shen Long menyeringai, sebuah ekspresi yang akan menghantui mimpi para dewa. "Tunggu di sana. Aku tidak ingin kalian mati sebelum aku sempat melihat ketakutan di wajah kalian."
Dengan satu kepakan sayap yang menciptakan badai di seluruh Alam Kedua, Shen Long melesat lurus menuju portal Alam Ketiga. Ia tidak lagi mengejar esensi kehidupan; ia mengejar tahta tertinggi yang pernah dirampas darinya.
Saat Shen Long melewati batas portal, ia melihat pemandangan yang luar biasa: ribuan dewa perang berdiri di atas jembatan pelangi yang menghubungkan galaksi-galaksi di Alam Ketiga. Namun, di barisan paling depan, berdiri seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan Lin Er, namun mengenakan zirah perang emas yang sangat kuat.
"Selamat datang di rumah, Shen Long." ucap wanita itu sambil menghunuskan pedang sucinya.