Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Elena terpaku, wajahnya memerah hingga ke telinga. Suara Alexander barusan terlalu lembut, berbeda jauh dari nada dingin dan tegas yang biasa ia dengar.
“Jangan dilepas.”
Kata-kata itu berputar di kepalanya, membuat jantungnya berdetak tak terkendali.
Alexander masih menatapnya, dalam, seolah tak akan membiarkan Elena bersembunyi dari sorot matanya. Jemari hangat pria itu masih melingkar di pergelangan tangannya, kuat namun penuh kehati-hatian, seakan ia memegang sesuatu yang rapuh.
“Alex…” Elena berusaha mengatur napas, mencoba bersuara meski lirih. “Aku… aku tidak terbiasa dengan semua ini. Gaun ini terlalu mahal, terlalu mewah untukku.”
Alexander mendekat sedikit, menundukkan wajah hingga mata mereka hampir sejajar. “Kau berharga, Elena. Jadi pantas mengenakannya.”
Elena membeku. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi bagi dirinya yang selama ini hidup penuh tekanan, ucapan itu bagaikan pelukan hangat yang menembus dinding pertahanannya.
Alexander tersenyum samar, lalu berbalik memberi instruksi pada manajer butik.
“Kirim gaun ini bersama koleksi lain yang sudah kupesan ke mansion malam ini. Pastikan semuanya sampai sebelum tengah malam.”
“Baik, Tuan Thorne.” Sang manajer menunduk dalam-dalam.
Elena masih menunduk, tak berani menatap Alexander lagi. Rona merah di pipinya belum juga surut.
---
Malam Hari – Hotel Bintang Lima
Jamuan bisnis berlangsung megah di ballroom hotel terkenal, penuh cahaya kristal, denting gelas kristal, dan tawa para pebisnis elit. Elena berdiri di sisi Alexander, mengenakan gaun biru tua berkilau yang membuatnya tampak bagai bintang di antara lautan cahaya.
Banyak mata tertuju padanya. Para wanita berbisik iri, para pria melirik kagum. Namun tak satu pun berani mendekat, karena ada Alexander Thorne, pria yang berdiri kokoh di sampingnya dengan tatapan penuh kepemilikan.
“Alex…” bisik Elena gugup, merasa canggung dengan semua tatapan itu. “Orang-orang terus melihatku.”
Alexander menunduk sedikit, mendekati telinganya. “Biar saja. Mereka hanya mengagumi sesuatu yang tak akan pernah bisa mereka miliki.”
Elena terdiam, wajahnya kembali panas. Pria ini… mengapa setiap kata-katanya bisa begitu menusuk hati?
Seorang investor senior mendekati mereka. “Tuan Thorne, perkenalkan siapa wanita cantik di sisi Anda?”
Alexander menoleh singkat, matanya dingin tapi suaranya penuh kepastian. “Elena. Wanitaku.”
Elena hampir kehilangan kata-kata. Wanitaku.
Dua kata sederhana itu seakan menegaskan sesuatu yang selama ini hanya samar di antara mereka.
Jamuan berlanjut, dan Elena beberapa kali diajak berbincang oleh para tamu undangan. Namun setiap kali ada pria yang mencoba terlalu dekat, Alexander hanya perlu menatap dingin, dan mereka langsung mundur teratur.
Di sela-sela itu, Alexander sempat membisikkan sesuatu, membuat Elena terdiam kembali.
“Kau terlihat jauh lebih memukau dari yang kubayangkan. Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, Elena. Karena malam ini, kau… membuatku bangga.”
Elena menunduk, menahan senyum kecil yang tak bisa ia cegah.
---
Namun, di sudut ballroom, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam. Seorang wanita anggun dengan gaun merah menyala, bibirnya melengkung tipis melihat Alexander begitu protektif terhadap Elena.
Ia meneguk sampanye dengan elegan, lalu bergumam lirih.
“Jadi… dia wanita itu? Menarik sekali.”
Wanita itu melangkah pelan, mendekati arah mereka.
Langkah anggun wanita bergaun merah itu terhenti beberapa meter dari Alexander dan Elena. Senyumnya lembut.
Alexander yang sedang berbicara dengan seorang tamu tiba-tiba merasakan sesuatu. Aura familiar yang menusuk inderanya. Ia menoleh… dan tubuhnya menegang seketika.
“Elie…” suara itu meluncur dari bibirnya tanpa sadar.
Elena yang berdiri di sisinya langsung menoleh cepat. Nama itu. Nama yang beberapa kali ia dengar Alexander ucapkan dalam tidurnya. Ada rasa asing sekaligus nyeri menjalari dadanya ketika melihat cara pria itu menatap wanita bergaun merah tersebut.
Elie tersenyum manis, melangkah mendekat sambil mengangkat gelas sampanye.
“Sudah lama sekali, Alex.”
Alexander menatapnya lekat-lekat, seakan tidak percaya dengan kenyataan di depan mata. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Apa yang kau kira? Dunia bisnis terlalu kecil untuk menghindar darimu.” Elie melirik sekilas ke arah Elena, menilai dari ujung kepala hingga kaki, lalu kembali menatap Alexander. “Tapi sejujurnya… aku tidak menyangka akan bertemu denganmu."
Elena menggenggam jemarinya sendiri, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdetak kencang. Ia tahu… wanita ini bukan orang biasa di masa lalu Alexander.
Elie mendekat setapak lagi, suaranya dipenuhi kerinduan.
“Aku merindukanmu, Alexander," bisiknya yang masih dapat Elena dengar.
Elena tercekat. Dadanya sesak mendengarnya. Sepertinya mereka memiliki sebuah hubungan. Tapi dari rumor yang ia dengar, Alexander tidak pernah ingin memiliki hubungan dengan wanita. Namun, dari tatapan Alex pada gadis ini...
Alexander mendadak mengeraskan rahangnya, sorot matanya tajam, penuh peringatan. “Elie, cukup.”
Namun wanita itu hanya tertawa kecil. "Kau masih sama seperti dulu, Alex. Tapi aku bisa merasakan bahwa kau begitu merindukanku."
Elena menunduk, perasaannya campur aduk.
'Kenapa dadaku sesak? Bodohnya aku. Aku bukan siapa-siapa Alex.'