NovelToon NovelToon
Jebakan Sang CEO Wanita

Jebakan Sang CEO Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cinta Terlarang / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.

Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"

​Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.

​Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?

Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3

Suasana di lantai eksekutif Airborne Group terasa jauh lebih dingin daripada hari-hari biasanya. Bagi Arga, setiap embusan udara dari lubang AC di langit-langit kantornya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit. Ia duduk di balik meja kerjanya, menatap tumpukan berkas yang seharusnya ia selesaikan, namun fokusnya hancur berkeping-keping.

Pikirannya terus terseret kembali ke lorong waktu, ke masa di mana dunia terasa jauh lebih sederhana namun penuh dengan gairah yang membakar.

~

~ Flashback ke Masa Perkuliahan Sepuluh Tahun Lalu ~

Kampus pagi itu sedang diguyur hujan rintik. Arga muda, dengan jaket almamater yang sudah agak pudar warnanya, duduk di kantin bersama seorang gadis yang kecantikannya selalu berhasil menghentikan napasnya.

Siska. Saat itu, Siska belum mengenal gaun sutra atau perhiasan berlian. Ia hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jins, namun binar di matanya adalah kekayaan paling berharga bagi Arga.

"Arga, lihat ini," Siska menunjukkan brosur sebuah apartemen mewah di pusat kota yang ia potong dari koran. "Suatu hari nanti, aku akan tinggal di sana. Aku tidak mau selamanya naik angkutan umum dan menghitung receh hanya untuk makan siang."

Arga tersenyum, menggenggam tangan Siska yang terasa hangat. "Aku sedang berjuang, Siska. Aku sudah diterima magang di perusahaan konstruksi. IPK-ku bagus. Aku janji, setelah lulus nanti, aku akan bekerja dua kali lebih keras untuk memberimu rumah yang layak. Kita akan bangun semuanya dari nol."

Siska menarik tangannya perlahan. Sorot matanya yang tadinya bersemangat berubah menjadi datar. "Dari nol itu terlalu lama, Arga. Aku lelah menjadi miskin. Aku lelah melihat ibuku harus meminjam uang ke tetangga hanya untuk membayar biaya kuliahku. Aku butuh kepastian, bukan sekadar janji di atas kertas magang."

Beberapa minggu kemudian, Arga mendapati Siska tidak lagi menunggunya di depan perpustakaan. Ia justru melihat Siska turun dari sebuah mobil sedan mewah milik seorang pengusaha yang sering mensponsori kegiatan kampus. Pria itu jauh lebih tua, berpakaian necis, dan memiliki kunci rumah yang selama ini diimpikan Siska.

Saat Arga mengonfrontasinya di bawah pohon beringin dekat fakultas, Siska tidak menangis. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan yang sangat asing.

"Cinta tidak bisa memberiku jaminan masa depan, Arga. Aku memilih jalanku. Tolong, jangan cari aku lagi. Kita berada di kasta yang berbeda sekarang."

Kalimat itu adalah belati yang tertancap di jantung Arga selama bertahun-tahun, meninggalkan luka yang ia pikir sudah tertutup rapat saat ia menikahi Nabila. Namun ternyata, ia salah. Luka itu hanya tersembunyi di balik perban tipis yang bernama 'kesibukan'.

~ Kembali ke Masa Kini ~

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Arga. Sekretaris Siska, seorang wanita muda dengan sikap yang sangat formal, berdiri di sana. "Pak Arga, Ibu Siska meminta Anda datang ke ruangannya sekarang untuk menyerahkan laporan operasional kuartal terakhir."

Arga menelan ludah. Ia merapikan jasnya, mengambil map biru di atas meja, dan mencoba mengatur napasnya. Profesional, Arga. Ingat Nabila. Ingat integritasmu, bisiknya pada diri sendiri.

Langkah Arga di koridor menuju ruang Direktur terasa sangat berat. Setiap pasang mata karyawan yang berpapasan dengannya seolah-olah tahu apa yang sedang ia rasakan. Begitu ia sampai di depan pintu jati besar itu, ia ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk.

"Masuk," suara Siska terdengar, jernih dan penuh otoritas.

Arga masuk. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang memberikan pemandangan panorama Jakarta dari ketinggian. Siska sedang duduk di kursi kebesarannya, tidak sedang bekerja, melainkan sedang berdiri menatap luar jendela. Ia berbalik perlahan saat mendengar pintu tertutup.

Siska mengenakan blazer putih yang sangat elegan. Ia melangkah mendekati mejanya, namun matanya tidak lepas dari wajah Arga.

"Ini laporan yang Anda minta, Bu," ucap Arga dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meskipun ujung jarinya yang memegang map sedikit gemetar. Ia meletakkan map itu di atas meja marmer Siska.

Siska tidak menyentuh map itu. Ia justru berjalan mengitari meja dan berdiri sangat dekat dengan Arga. Aroma parfum yang sangat ia kenali kembali menyerang indra penciumannya, aroma kemewahan yang dulu ia benci karena telah mencuri kekasihnya.

"Bu? Panggilan itu terdengar sangat menyakitkan di telingaku, Arga," Siska berkata dengan nada rendah, nyaris berbisik. "Setelah sepuluh tahun, apa hanya itu yang bisa kau katakan?"

"Saya di sini untuk urusan pekerjaan, Bu Siska. Saya harap kita bisa tetap profesional," jawab Arga, matanya menatap lurus ke arah dinding di belakang Siska, menghindari kontak mata langsung.

Siska tertawa kecil, suara tawa yang mengandung ejekan sekaligus kerinduan yang berbahaya. "Profesional? Kau selalu begitu kaku, Arga. Sama seperti dulu. Tapi lihatlah dirimu sekarang... kau sudah menjadi pria yang sangat matang. Airborne Group beruntung memilikimu. Atau mungkin, aku yang beruntung memilikimu kembali di bawah pengawasanku."

"Saya bekerja untuk Pak Roy, dan sekarang untuk perusahaan ini," Arga menekankan setiap katanya.

Siska melangkah satu langkah lebih dekat. Arga bisa merasakan hawa panas dari tubuh wanita itu. Siska mengulurkan tangannya, mencoba merapikan dasi Arga yang sebenarnya sudah sangat rapi.

"Apakah istrimu tahu, Arga?" tanya Siska tiba-tiba.

Jantung Arga mencelos. "Tahu apa?"

"Tahu tentang kita. Tahu bahwa suaminya yang sangat jujur ini pernah menangis di bawah hujan karena aku meninggalkannya. Tahu bahwa setiap keberhasilan yang kau raih saat ini, sebenarnya dipicu oleh ambisimu untuk membuktikan padaku bahwa kau bisa menjadi kaya?"

"Nabila tahu segalanya tentang siapa aku sekarang, dan itu sudah cukup," Arga menangkis tangan Siska dari dasinya. "Masa lalu itu sudah mati, Siska. Jangan coba-coba menggalinya kembali."

Siska tidak marah ditangkis. Ia justru tersenyum licik. Ia berjalan kembali ke kursi kebesarannya dan duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya yang jenjang.

"Masa lalu tidak pernah mati, Arga. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk bangun. Kau tahu kenapa aku memilih kembali ke Indonesia? Kenapa aku meminta Pak Roy membeli saham mayoritas di sini?" Siska menatap Arga dengan tatapan predator. "Karena aku bosan dengan emas dan permata. Aku merindukan sesuatu yang memiliki jiwa. Dan kau... kau adalah bagian dari jiwaku yang tertinggal."

"Saya permisi, Bu," Arga berbalik, ingin segera keluar dari ruangan yang terasa semakin sempit itu.

"Arga!" panggil Siska, menghentikan langkah Arga di ambang pintu. "Baca baik-baik memo yang akan kukirimkan sore nanti. Ada proyek baru di Bali, dan aku ingin kau menemaniku melakukan survei lokasi minggu depan. Hanya kita berdua."

Arga tidak menoleh. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras.

Di dalam ruangan, Siska mengambil map laporan Arga. Ia tidak membacanya, melainkan hanya mengelus permukaan map itu seolah-olah itu adalah kulit Arga. "Survei lokasi, Arga... di sana tidak akan ada istrimu, tidak ada Pak Roy. Hanya ada kau, aku, dan luka lama yang akan kupastikan berdarah kembali."

Arga kembali ke mejanya dengan napas memburu. Ia segera mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Gemetar di tangannya belum hilang. Ia merasa terancam, bukan secara fisik, melainkan secara moral.

Ponselnya berdering. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Nabila.

"Mas, jangan lupa makan siang ya. Aku buatkan bekal kesukaanmu, ada sambal goreng ati di tas kecilmu. Semangat kerjanya, calon Direkturku !"

Membaca pesan itu, Arga merasa sangat berdosa. Ia merasa sedang menyembunyikan bangkai besar di tengah rumah tangganya yang suci. Haruskah ia jujur pada Nabila sekarang? Tapi bagaimana jika kejujurannya justru menghancurkan kebahagiaan Nabila? Bagaimana jika Nabila memintanya berhenti bekerja, padahal posisi ini adalah puncak kariernya?

Arga menyandarkan kepalanya di kursi. Di satu sisi ada Nabila, pelabuhan hatinya yang tenang dan jujur. Di sisi lain ada Siska, badai masa lalu yang kini memegang kendali atas masa depannya. Luka lama itu memang belum kering, dan Siska baru saja menaburkan garam di atasnya.

...----------------...

Next Episode....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Isee: e e eh... siska ternyata????! WOW DAEBAK Thor😁
total 1 replies
Eva Karmita
Alhamdulillah akhirnya..
Eva Karmita
kenapa Dante bisa lepas harusnya kan ikut dipenjara sama Siska
🌷🌻🌈Arista putr🤍💕💞i
kapan nich merdekanya Arga dan Nabila dah mulai bosen yang baca kalu yang jahat GG jatuh juga ✌️✌️
Eva Karmita
Alhamdulillah akhirnya semoga Hendri juga mendapatkan keadilan kasihan keluarga nya hancur menanggung beban malu atas fitnah yang di lakukan Siska
Isee
akhirnya pak roy tahu kebenarannya. semoga pak roy selalu ada bersama nabila & arga. siska dihukum seberat2nya & seadil adilnya.
Eva Karmita
semoga pak Roy percaya dan mau membantu Nabila
Isee
semoga pak roy sadar akan keburukan siska dan dante, akhirnya membantu nabila untuk mengungkap kebenaran & membebaskan arga.
Eva Karmita
nyesek banget kasihan Nabila sama Arga 🥺 ... tunggu aja kamu Siska dan kamu Dante kalian berdua akan membayar mahal perbuatan dan fitnah yang kalian berdua ciptakan ini 😤😏
Eva Karmita: semoga saja ... kasihan banget melihat kehidupan Nabila sama Arga hancur lebur dibuat dua manusia itu 🥺
total 2 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
🌷🌻🌈Arista putr🤍💕💞i
iya nih kapan Nabila dan Arga bahagia udh mulai bosen nich yang baca 🤦🤦🤦🤦
Eva Karmita
kapan bahagia nya Arga dan Nabila ... kenapa yg jahat selalu cepat mengetahui semua informasi dan yg baik selalu terbelakang dan gagal ....

Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
Isee: nabila... kenapa kamu gak menyamar aja sih buat kumpulin bukti2??
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
Eva Karmita
Alhamdulillah Mak lampir bisa di hempaskan ....Arga jangan ragu dengan cintamu Nabila akan selalu ada untukmu 🥰🥰🥰
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: siaaap
total 1 replies
Eva Karmita
otor disini kau buat aku emosi naik darah 😤... tadi dicerita sebelah kau buat ku menangis dgn cerita cinta sejati ❤️
Miss Ra: /Grin//Smile/

Maafkan aku...
total 1 replies
Eva Karmita
Siska si ratu iblis
Eva Karmita
alur ceritanya bagus bikin nano" ...
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰
Eva Karmita: sama" semangat 🔥💪🥰
total 2 replies
Eva Karmita
Arga ingat kalau sikap mu masih lembek kayak jelly harusnya kamu pikir dia kali menghadapi Siska tidak semudah dan segampang yang kamu bayangkan satu kali saja kamu buat kesalahan maka hancurlah rumah tangga yang kamu bangun dgn susah payah.... Nabila akan benar" pergi dari hidupmu dan kamu akan hidup dlm penyesalan seumur hidup
Eva Karmita
semoga Arga bisa melawan Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!