SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. HASILNYA
Papan tulis itu masih putih.
Terlalu putih.
Kosongnya menyakitkan mata Cedric, seperti luka yang menganga, bekas dari sesuatu yang seharusnya ada, sesuatu yang lahir dari minggu-minggu tanpa tidur, dari kopi dingin dan malam panjang yang penuh coretan putus asa.
Celina berdiri di depan papan tulis itu.
Sang gadis meletakkan kacamatanya perlahan di atas meja kerja terdekat, tepat di samping tumpukan buku teknis yang tebal. Bunyi kecil saat gagang kacamata menyentuh permukaan meja terdengar jelas di tengah keheningan yang tegang.
Gerakan itu sederhana.
Namun entah kenapa, ruangan terasa berubah.
Beberapa staf IT saling berpandangan, sebagian mendengus pelan, sebagian lagi menyilangkan tangan dengan ekspresi skeptis.
Cedric menyeringai tipis, pahit.
Johan berdiri tidak jauh di belakang, wajahnya santai ... terlalu santai. Seolah ini semua hanya sandiwara yang akan segera berakhir dengan satu kesimpulan yang sama: office girl itu hanya membual.
Celina mengambil spidol.
Tangannya tidak gemetar.
Tidak ragu.
Gadis itu berdiri sedikit menyamping, memandang papan tulis kosong itu sejenak, seolah sedang membuka lemari di dalam kepalanya, lemari yang penuh dengan gambar, simbol, dan rangkaian logika yang tak kasatmata yang pernah ia lihat pagi ini sebelum menghapus papan tulis.
Lalu ....
Celina mulai menulis.
Awalnya hanya satu baris.
Sebaris kode.
Tulisan tangannya rapi, tegas, dengan tekanan yang konsisten. Bukan tulisan seseorang yang menyalin secara acak, melainkan tulisan seseorang yang tahu apa yang ia tulis.
Beberapa orang terkekeh pelan.
"Dia bahkan tidak bertanya apa pun," bisik seseorang.
"Pura-pura percaya diri," ucap lainnya.
Cedric menyandarkan tubuh ke meja, lengannya terlipat. Ia menatap dengan sorot dingin, menunggu kesalahan pertama.
Namun baris kedua menyusul.
Lalu baris ketiga.
Struktur kode mulai terbentuk.
Mata Cedric sedikit menyipit.
"Itu ...," gumam Cedric pelan, nyaris tak terdengar. "Urutan awalnya benar."
Cedric meluruskan tubuhnya tanpa sadar.
Celina terus menulis.
Komentar kecil di samping kode, bahkan simbol-simbol kecil yang hanya Cedric sendiri yang biasa gunakan, kini muncul satu per satu di papan tulis.
Lalu sebuah tanda kurung yang khas.
Sebuah panah kecil.
Coretan yang dulu Cedric buat sambil mengumpat karena buntu.
Cedric melangkah satu langkah lebih dekat.
Detik demi detik berlalu.
Senyum meremehkan Johan mulai menghilang, digantikan kerutan di dahi.
"Tidak mungkin," bisik Johan.
Celina tidak berhenti.
Ia menulis cepat kini, seolah aliran itu sudah menemukan jalannya sendiri. Spidol bergerak lincah, berhenti sejenak hanya untuk berpindah baris, lalu melanjutkan lagi.
Cedric menelan ludah. "Dia ... menulis bagian itu. Bagian yang bahkan tidak sempat kusimpan."
Salah satu staf IT mendekat, matanya membesar.
"Bukankah itu coretan yang Anda coret sendiri kemarin karena tidak cocok dengan fungsi lain?" konfirmasi salah satu staff ketika mengenali coretan yang sempat dilihat dan ditanyanya kemarin kepada Cedric.
Cedric mengangguk perlahan. "Ya. Benar."
Celina beralih ke sisi kanan papan tulis.
Menulis rumus lanjutan.
Logika percabangan.
Optimasi yang hanya muncul di kepala Cedric setelah tiga malam tanpa tidur.
Dan di sana, tepat di sudut bawah ... Celina menambahkan sebuah catatan kecil.
Catatan yang sama persis dengan yang pernah Cedric tulis sambil menggerutu:
'Jika ini gagal, ganti pendekatan.'
Spidol berhenti.
Celina melangkah mundur satu langkah.
Papan tulis kini penuh.
Lengkap.
Utuh.
Seolah tidak pernah dihapus.
Keheningan jatuh.
Berat.
Mencekik.
Theo yang sejak tadi berdiri bersandar di dinding, memerhatikan tanpa menyela, akhirnya melangkah maju. Ia menatap papan tulis itu sekilas, lalu menoleh ke Cedric.
"Bagaimana?" tanya Theo singkat.
Cedric tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada papan tulis, seolah takut semua itu akan menghilang jika ia berkedip.
"Aku ...," ia menghela napas panjang. "Aku tidak mengerti."
"Maksudmu?" tanya Theo.
Cedric menoleh ke arah Celina. "Bagaimana kau bisa menulis semua ini?"
Celina hanya berkedip menatap Cedric, bingung harus jawab apa.
Cedric kembali menatap papan tulis. "Ini ... seratus persen benar."
Seketika ruangan bergemuruh.
"Apa?!"
"Seratus persen?"
"Tidak mungkin!"
Johan melangkah maju dengan wajah keras.
"Bisa saja itu kebetulan," kata Johan cepat. "Atau hanya terlihat benar. Siapa yang bisa menjamin-"
"Tidak," potong Cedric tajam. Ia berbalik menatap Johan dengan mata menyala. "Bukan hanya benar. Bahkan rumus yang aku coret sendiri karena salah asumsi ... dia menuliskannya kembali. Di tempat yang sama. Dengan alasan yang sama."
Aiden menutup mulutnya dengan tangan, benar-benar terpukul karena kagum. "Itu… itu mustahil. Bagaimana mungkin seseorang mengingat semua itu?"
Semua mata kini tertuju pada Celina.
Gadis itu menghela napas pelan, lalu mengangkat bahu ringan.
"Aku punya ingatan Photographic Memory," kata Celina akhirnya.
Beberapa orang saling pandang, seolah bertanya secara tidak langsung apa itu Photographic Memory.
"Ingatanku dapat mengingat informasi secara sangat rinci dan jangka panjang, termasuk teks, angka, atau gambar, seolah 'memotret'nya dan bisa diingat kapan saja aku butuh," jelas Celina. Ia tersenyum tipis, getir.
"Benarkah? Kau bisa mengingat dengan sangat jelas?" tanya Aiden.
"Aku bisa mengingat isi buku seribu halaman hanya dengan sekali baca. Bahkan tata letaknya," jawab Celina.
Johan tertawa keras, tidak percaya. "Itu omong kosong! Tidak ada manusia seperti itu!" hardiknya
Theo melangkah maju satu langkah.
"Ada," kata Theo tenang. "Dan buktinya berdiri tepat di depanmu. Kau sudah melihat sendiri bagaimana dia menulis ulang rumus yang dia hapus berjam-jam tadi dengan sangat rinci san sempurna."
Johan terdiam. Tidak bisa mendebat.
Celina menoleh ke arah Theo, sedikit terkejut. Theo tidak menatap Johan lagi, melainkan menatap Celina, seolah Theo mengatakan; Good job.
"Jadi," ucap Celina pelan namun jelas, "sesuai kesepakatan ... nama baikku dibersihkan, kan?"
Theo mengangguk. "Ya. Aku selalu menepati janjiku."
"Terima kasih," ucap Celina lega.
Theo lalu menoleh ke Aiden. "Sesuai kesepakatan juga, Johan akan diusut."
Wajah Johan berubah pucat.
"Aiden," lanjut Theo dingin, "bawa dia ke ruang interogasi. Kita punya dua masalah hari ini."
Aiden mengangguk cepat. "Baik."
Johan hendak protes, namun dua petugas keamanan sudah mendekat.
"Ini tidak adil!" teriak Johan. "Aku tidak melakukan apa-apa!"
Namun suaranya tenggelam saat ia digiring pergi.
Theo menoleh ke seluruh ruangan. "Kalian semua kembali bekerja," katanya tegas
Satu per satu orang-orang bubar, masih berbisik tak percaya.
Tinggal Cedric, Celina, Theo, dan beberapa staf inti.
Cedric menatap Celina lama. Lalu ... ia menunduk.
"Aku minta maaf. Aku kasar. Aku menuduhmu tanpa berpikir," kata Cedric tulus.
Celina mengangkat bahu ringan.
"Aku mengerti. Kau panik karena ini menyangkut pekerjaan darurat," balas Celina.
Cedric menghela napas. "Benar. Rumus itu baru kutemukan selama berbulan-bulan. Belum sempat kusimpan. Kalau hilang ... proyek ini akan mati."
Celina menatap papan tulis lagi. Lalu ia menunjuk satu bagian.
"Di sini. Kau salah masukkan parameter," beritahu Celina.
Cedric mengernyit. "Apa?"
"Harusnya bukan ini," lanjut Celina, menyebutkan potongan logika dan struktur fungsi dengan lancar. "Kalau kau ganti seperti ini ... hasilnya akan stabil."
Cedric mengikuti dengan mata.
Ia diam.
Lama.
Lalu ...
"Astaga," desah Cedric. Ia menatap Celina dengan mata membesar. "Itu ... itu kunci yang kucari selama berbulan-bulan. Bagaimana kau bisa paham?" lanjutnya.
Celina tersentak. "A-aku hanya ... punya kenalan. Dia jenius IT. Sering menjelaskan padaku walau aku tidak terlalu tertarik menjadi seorang IT."
Cedric tidak peduli. Ia tertawa, penuh semangat, lalu ... tanpa sadar memegang tangan Celina.
"Bekerjalah denganku. Jadi asistenku!" pinta Cedric cepat.
Celina terkejut.
Namun keterkejutannya berubah total saat ....
Theo menarik tangan Celina dari genggaman Cedric.
Gerakannya tegas.
Protektif.
"Sorry, Cedric. Dia milikku," kata Theo datar.
Satu kalimat.
Namun efeknya seperti ledakan.
Cedric membeku.
Celina menatap Theo, matanya melebar.
Milik ... dia?
Theo menoleh ke arah Celina dan tersenyum ... senyum penuh arti, tajam, seperti predator yang akhirnya menemukan sesuatu yang berharga; mangsanya.
Celina hanya menelan ludah ketika rasanya ia telah membuat predator menjadi tertarik padanya. Hal yang seharusnya Celina hindari karena itu akan mengganggu tujuannya datang ke perusahaan ini.
Apa bisa Celina keluar dari radar seorang Theodore Morelli?
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi