NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: Eka Nawa

Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.

Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu

Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara

happy reading 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 32

Saat malam datang Kenan dan Jimmy bersiap untuk menuju lokasi yang sudah ia dapat kan dari orang suruhannya. Persiapan sudah sangat matang beberapa senjata Kenan dan Jimmy bawa agar berjaga-jaga jika nantinya musuh akan melakukan serangan.

Sepanjang perjalanan Kenan hanya memandangi senjata berwarna hitam pekat dalam benaknya hanya ada Arumi ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan sang istri dengan cara seperti ini.

Pandangannya berganti menatap jendela ia mengusap wajahnya kasar isi hatinya bergejolak ia takut Narendra akan melibatkan putrinya.

"Kenan, jangan khawatir semua pasti akan baik-baik saja," ucap Jimmy menenangkan Kenan tapi pria itu hanya mengangguk lalu ia memasukkan senjata itu tepat di balik jas hitamnya.

Lupakan sejenak tentang Kenan hal yang sama dilakukan oleh Arumi yang saat ini menatap intens senjata di hadapannya. Diperhatikannya senjata itu lalu ia meraihnya mengarahkan ke arah papan panah seolah ia melihat wajah pria yang masih berstatus suaminya itu.

Arumi tidak sadar jika Helen menatapnya dari balik pintu sungguh tidak disangka wanita yang ada dihadapannya benar-benar jauh dari kata polos. Apakah ini semua karena dendamnya semata atau memang sifat asli Arumi seorang wanita yang kejam.

"CK, aku tau kau di sana masuklah jika ingin mengobrol dengan ku!" celetuk Arumi ia sebenarnya menyadari kehadiran Helan lalu wanita itu langsung saja masuk mendekat Arumi.

Arumi berbalik sebelum ia meletakkan kembali senjatanya,"Apa kau sudah tidak waras, Arumi. Kenan adalah ayah dari Ayumi ... Putrimu! mengapa kau haus sekali ingin melenyapkannya!" pekik Helen sungguh tidak terima, tetapi perkataan Helen malah membuat Arumi tertawa lepas.

"Sepertinya ada yang sangat khawatir tentang suami ku? Hei ... Sadar kau sudah punya Narendra yang kini sudah menjadi suami mu!" balas Arumi tapi Helen hanya diam.

"Terserah kau mau menuduh ku seperti apa. Yang jelas hentikan semuanya ini ikhlaskan kepergian mendiang suami mu bukankah Kenan sudah sangat bertanggung jawab menikahi mu, bahkan dia juga sangat mencintai mu, Arumi. Sadarlah ...!" Ekok Helen mengguncangkan tubuh Arumi seolah ia ingin Arumi sadar dan menghentikan permainannya yang akan dia sesali seumur hidup.

"Lepaskan!"

Plak

Tamparan mendarat di pipi Helen tidak sampai di situ Arumi mencengkram rambutnya sedikit menarik dan berkata,"Kau tidak akan tau rasanya ditinggalkan seseorang yang sangat kau cintai pada saat kau baru saja menikah. Kau tidak tau bagaimana hidup ku, bagaimana aku bertahan hidup. Hanya Natan, hanya Natan yang membuat hidup ku bahagia dia adalah pria yang sangat mencintai ku, sabar untuk ku, dan juga dia sudah banyak berkorban untuk ku!"

Helen memegangi pipinya Arumi menyuruhnya pergi, tetapi saat keluar tidak disangka Narendra sudah berada di depan pintu pastinya sudah mendengarkan semuanya. Tatapan matanya begitu tajam membuat tubuh Helen bergetar memundurkan langkahnya untuk menghindari Narendra.

"Akhhh ..." Narendra menarik tubuhnya dengan sangat erat ia langsung mendaratkan bibirnya menciumi Helen dengan paksa dan Helen hampir kehabisan napas.

"Lepas!" pekik Helen mendorong tubuh Narendra.

Tentu saja penolakan itu membuat Narendra marah ia langsung menggendong Helen membawanya ke dalam kamar. Helen berteriak dan seperti biasa ia memberontak.

Brugh

Sesampainya di kamar tubuh Helen di hempaskan begitu saja ia merasa kesakitan dan memegangi perutnya. Narendra menindihnya ia mencengkram tangan Helen dengan sangat erat.

"Apa kau masih mencintainya ... katakan!" sentak Narendra. Helen pun menggelengkan kepalanya seraya berusaha melepaskan cengkraman tangannya.

"Tidak, aku sudah melupakannya, Naren," jawab Helen menahan rasa sakit di bagian perutnya.

"Bohong!" bentak Narendra.

"Percayalah padaku," lirih Helen, tetapi sekali lagi Narendra mencium Helen dengan kasar ia berusaha melepaskan baju sang istri dan bajunya sendiri melihat itu Helen dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Narendra hingga beranjak dari tempat tidur nya.

"Kau menolak ku!" pekik Narendra.

Helen tidak menjawab ia sibuk menutupi tubuhnya karena kesal Narendra menarik tubuhnya sia-sia Helen menutupinya karena Narendra langsung melepaskannya kembali ia membuang baju sang istri ke sembarang tempat.

"Tolong jangan lakukan itu, Naren. Aku sedang hamil," lirih Helen.

Narendra terdiam ia seperti tidak percaya jika istrinya sedang mengandung buah hatinya. Ia pun beranjak dari tempat tidur mengambil pakaiannya lalu keluar. Entah pria itu senang atau tidak dengan berita kehamilannya yang jelas saat ini Helen merasa hancur.

Ia menangis terisak menarik selimutnya ingin rasanya ia menggugurkannya karena ia tidak mau anaknya tau jika ayahnya adalah seorang penjahat.

"Mah, aku harus gimana,hiks,"

***

Narendra duduk di ruangan pribadinya menghadap jendela dengan memainkan tombol lampu yang berada di meja tepat di sampingnya. Suara langkah menghentikan kegiatannya ia pun terdiam membiarkan orang yang kini mendekatinya dan berdiri tepat di belakang nya.

"Apa kau mulai ragu Naren karena berita kehamilan istrimu," sambil memainkan jari lentiknya Arumi yang sudah mendengar semuanya itu pun ingin memastikan pada Narendra apakah balas dendam ini berlanjut atau ia ingin mundur karena takut terjadi apa-apa dengan Helen dan juga bayinya.

Narendra tetap diam ia seolah mengacuhkan Arumi,"Baiklah, aku saja yang menyelesaikan semuanya," Arumi menghentakkan kakinya lalu ia pergi meninggalkan Narendra yang berbalik sampai Arumi ingin meraih handle pintu Narendra pun memanggilnya.

Senyum semrik terukir,"Ada apa?" tanya Arumi tanpa menoleh ke arahnya seraya membuka pintu perlahan.

"Aku akan ikut dengan mu," ujar Narendra membuat hati Arumi merasa lega dan sangat senang.

Dengan mengemudikan mobil mewah miliknya yang berwarna hitam Narendra berangkat bersama Arumi yang mana di dalam mobil sudah berada Riana yang masih terikat bukan hanya tangannya mata dan mulutnya juga ditutup kalau tidak sudah banyak sumpah serapahnya yang keluar dari mulutnya untuk mereka berdua.

Di sisi lain Kenan dan Jimmy beserta anak buahnya kini sedang bertarung dengan para penjaga di bangunan tua itu. Kenan beberapa kali menyelinap untuk mencari keberadaan adiknya, tetapi gagal dan tidak menemukannya.

Sampai akhirnya tubuhnya ambruk seketika karena merasakan sebuah jarum yang menusuk hingga beberapa saat pandangannya kabur lalu ia pun pingsan.

"Bawa dia dan ikat jangan sampai dia kabur," ucap tangan kanan Narendra.

Arumi dan Narendra telah sampai mereka pun turun tidak lupa membawa Riana sebagai tumbal agar Kenan muncul dan menyelamatkan Riana.

Seorang pria menyambut Narendra dan membisikkan sesuatu yang di pahami Naren ia pun mengajak Arumi ke dalam, ke sebuah ruangan yang mana Kenan sudah berada di sana.

Jimmy kelimpungan mencari Kenan ia tidak bisa menemukan nya. Sedangkan ia melihat anak buah yang dibawanya itu hanya tinggal beberapa saja karena telah gugur melawan para penjaga.

Ia meraih ponselnya berniat menelepon Kenan tapi Jimmy tidak tau jika saat ini Kenan sudah berada di tangan Narendra.

Beberapa kali Jimmy menghubunginya tapi tidak di jawab. Bagaimana Kenan menjawab jika Kini ponselnya sudah berada di tangan Narendra.

Kenan tersadar karena mendengar suara dering ponselnya. Samar-samar kedua matanya terbuka ia melihat seseorang di hadapannya yang sedang memegangi ponselnya, tetapi tatapannya terfokus pada wanita yang ada di belakangnya Kenan reflek ingin menghampiri nya dia berdiri, tetapi terasa berat dan baru tersadar jika dirinya terikat.

"Apa yang kau lakukan! Kenapa kau mengikat ku!" pekik Kenan berusaha melepaskan ikatannya.

Arumi melangkah menghampiri Kenan, lalu Narendra pun menyingkir dari hadapan Kenan digantikan oleh Arumi yang meletakkan sebuah berkas di atas meja. Arumi menarik tangan Kenan lalu menyelipkan sebuah pulpen Kenan hanya menatap pulpen itu sejenak lalu ia menatap kembali Arumi.

"Apa ini, Arumi," lirih Kenan dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Arumi diam ia membuka berkas itu dan menunjuknya.

"Cepat tanda tangani surat perpisahan kita karena aku ... Mau kita bercerai," ucap Arumi dengan suaranya yang penuh penekanan.

"Apa, cerai?"

*

*

Bersambung.

1
Shōyō
uwwwww calon
Shōyō
hayolohh
Shōyō
njayyy sapa nichh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!