Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Bagaimana dengan hati kakak.
"Bagaimana tidurmu Brayen, apakah nyenyak?" Brayen melepaskan pelukannya pada Alyssa ia langsung bangkit dan menaiki kursi rodanya.
"Ehem..." Brayen terbatuk kecil untuk menghilangkan rasa malu dalam dirinya.
"Kenapa mama kesini?" Tanya Brayen berusaha terlihat dingin seperti biasanya.
Lita tersenyum ekspresi yang putranya berikan justru semakin menggemaskan baru kali ini ia melihat sang anak salah tingkah sampai seperti itu.
"Tentu saja mama mau menjenguk besan mama. Kenapa kamu tidak mengabari mama kalau ibunya Alyssa sudah siuman?"
"Maaf, aku lupa."
"Alah bilang saja kakak terlalu asik dengan kak Alyssa iya kan?" Ejek bela yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Brayen.
"Kenapa kakak menatapku seperti itu, memang kenyataannya begitu kok jika tidak mana mungkin aku sama mama melihat kakak tidur sambil memeluk kak Alyssa seperti tadi." Darah Brayen mendidih, ia semakin tidak menyukai omongan adiknya itu.
"Sudahlah Bela, jangan menganggu kakakmu." Peringat Lita tidak ingin Brayen marah dan melampiaskan emosinya kepada Alyssa.
"Oh iya Brayen, sebelum berangkat kesini Oma Irama menelpon mama katanya kamu mau datang ke butiknya. Apa itu benar?" Tanya Lita penasaran, wajar saja biasanya sang anak tidak suka mendatangi tempat tempat seperti itu.
Baru kali ini ia mendengar jika anaknya akan pergi kesana untuk membeli sesuatu.
"Ya. Aku akan membawa Alyssa kesana." Mata Alyssa melebar menatap Brayen seperti ia terkejut mendengar apa yang suaminya katakan.
Pasalnya Brayen tidak memberitahunya jika ingin mengajaknya ke butik.
"Oh...." Lita mengangguk paham. Dalam hati ia merasa senang karena hubungan Brayen dan Alyssa ada kemajuan, ia semakin yakin jika keputusannya untuk menikahkan Alyssa dengan Brayen tidak salah.
"Kapan kalian berangkat, apa aku boleh ikut?" Tanya Bela penuh harap.
"Tidak boleh, kamu harus menemani mama. Lagi pula disana bukan tempat untukmu bermain." Bibir Bela maju kedepan, ia kesal karena sang ibu tidak mengizinkannya ikut dengan sang kakak. Ia tidak mengerti jika tujuan lita melakukan itu karena ibunya tidak ingin ia menggangu waktu Brayen bersama Alyssa.
"Biarkan saja kalau Bela mau ikut Tante, aku sama sekali tidak masalah."
Seperti mendapatkan angin segar Bela langsung tersenyum kala mendengar Alyssa mengizinkannya.
"Aku tidak setuju... Dia hanya akan merepotkan ku." Ucap Brayen memudarkan senyum Bela, ia rasa kakaknya memiliki dendam kepada dirinya karena ia sudah mengejek laki laki itu tadi.
Bela mengalihkan pandangannya menatap Alyssa dengan wajah memelas berharap kakak iparnya mau membujuk Brayen namun Alyssa hanya tersenyum seolah olah mengatakan jika ia juga tidak bisa membantu dirinya.
"Baiklah, aku tidak akan ikut. Tapi kakak harus janji membelikan sesuatu untukku!" Perintah Bela berkacak pinggang.
"Merepotkan..." Desis Brayen kesal namun bela hanya tersenyum, ia yakin kakaknya tidak akan menolak syarat yang ia ajukan.
"Alyssa kamu pergi siap siap dulu, aku akan menunggumu didepan!" Perintah Brayen mendorong kursi rodanya keluar dari kamar inap tersebut.
"Dia sudah berubah, dan itu karena mu Alyssa." Lirih Lita menatap punggung sang anak yang semakin menjauh dari hadapannya kemudian ia beralih menatap Alyssa yang kini masih berdiri dihadapannya.
"Benarkah dia berubah karena ku... " Batin Alyssa dalam hatinya, ada sedikit desiran aneh yang membuat ia merasa bahagia.
Senyum mulai terukir dibibirnya sementara semburat merah keluar begitu saja dari pipinya.
"Terimakasih sudah mencairkan hati Brayen meskipun hatinya belum sepenuhnya mencair namun setidaknya ada perubahan. Tante harap kamu selalu sabar dan terus menemaninya, Tante yakin lama kelamaan dia akan luluh dengan ketulusan yang kamu berikan."
"Tante tidak perlu berterimakasih, aku tidak melakukan apapun dan aku rasa kak Brayen berubah bukan cuma karena aku, tapi juga karena Tante. Soal menemaninya, Tante tidak perlu khawatir, dia suamiku jadi tentu saja aku akan menemaninya apapun keadaannya nanti."
Lita tersenyum, matanya berkaca kaca seolah terharu mendengar perkataan Alyssa. Ia senang akhirnya ia menemukan pasangan yang tepat untuk anaknya, pasangan yang benar benar tulus tanpa melihat seperti apa keadaan sang anak.
"Sudahlah... Cepat bersiap siap. Brayen tidak suka menunggu." Alyssa mengangguk, kemudian ia berlalu menuju kamar mandi yang ada disana untuk berganti baju dan bersiap siap.
...
..
..
"Kenapa lama sekali?" Tanya Brayen ketika Alyssa datang menghampiri dirinya.
"Maaf kak, tadi Tante Lita mengajakku ngobrol sebentar."
"Kenapa masih memanggil Tante. ...?"
Kening Alyssa berkerut matanya menatap Brayen penuh tanya tidak mengerti apa yang pria itu ucapkan.
"Bukankah kamu telah menjadi istriku, seharusnya kamu memanggilnya mama sama seperti aku memanggilnya dengan sebutan itu." Jelas Brayen melipat kedua tangannya diatas dada wajahnya dibuat kesal seolah olah ia sedang marah.
"Maaf... Kak." Cicit Alyssa menundukkan kepalanya merasa bersalah karena sudah membuat Brayen kesal kepada dirinya.
"Sebenarnya aku bukan tidak mau memanggil Tante Lita dengan sebutan mama. Hanya saja, aku tidak ingin membuat kakak marah karena awalnya kita tidak menginginkan pernikahan ini jadi lebih baik aku memanggil Tante Lita Tante agar aku sadar jika pernikahan yang kita jalani hanyalah sebuah kesepakatan. Aku tidak ingin terlalu berharap apalagi tidak ada aku dihati kakak."
Brayen menyesal, ia tidak menyangka akan seperti itu jawaban dari Alyssa padahal ia hanya bercanda.
Ia tidak bermaksud mengusik hati wanita itu sampai membuatnya merasa sedih, ia baru sadar jika selama ini Alyssa berpikir seperti itu tentang pernikahan yang mereka jalani.
"Meskipun kita menikah karena kesepakatan tapi kamu tetap istriku dan pernikahan ini nyata adanya, jadi kamu tidak perlu menahan dirimu Alyssa kamu berhak memanggil ibuku mama. Seperti menantu pada umumnya. Aku tidak marah karena memang itu hak mu dan aku tidak boleh mengambilnya."
"Lalu bagaimana dengan hati kakak. Bukankah itu juga merupakan hak ku?" Potong Alyssa tanpa sadar mengatakan sesuatu yang ada dihatinya.
Glek...
Brayen menelan ludahnya kasar, ia merasa gugup. Ditatapnya mata Alyssa yang saat ini masih enggan menatap dirinya, hatinya sedikit terusik dengan pertanyaan Alyssa.