Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Senja berjalan tanpa tahu ke mana.
Langkahnya gontai, seolah setiap pijakan membawa beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Tas di punggungnya terasa kosong. Bukan hanya karena memang tak berisi apa-apa yang berarti, tak ada uang, tak ada bekal, tak ada arah, tapi karena hidupnya sendiri seperti dilucuti paksa pagi ini.
Kepalanya pening disertai mual yang terus mengaduk perut. Rasa perih di dada tak kunjung surut.
Setiap beberapa langkah, Senja harus berhenti. Menunduk sembari menahan napas. Dunia berputar pelan tapi terasa kejam, seolah sengaja menguji seberapa kuat ia bisa bertahan sebelum akhirnya roboh.
"Aku kuat…," bisiknya lirih pada diri sendiri. "Sedikit lagi…"
Tapi kata sedikit lagi itu terasa terlalu jauh untuk dilalui. Dia tak membawa uang sepeser pun. Tak ada ponsel yang bisa diandalkan, baterainya nyaris habis.
Tak ada nama yang bisa ia hubungi.
Sagara…
Nama itu kembali muncul di benaknya, lalu tenggelam bersama rasa sesak.
Kenapa dia nggak datang…?
Kenapa dia nggak bisa dihubungi…?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus meremas hati, menuntut jawaban yang datangnya tak pasti. Akan tetapi Senja tak mau menangis lagi. Air matanya serasa sudah habis terkuras sejak tadi. Yang tersisa hanya kelelahan yang menempel di setiap persendian.
Langkah demi langkah membawanya ke arah yang tak ia sadari, sebuah jalan kecil yang akrab, dipenuhi pepohonan tua dan pagar berkarat. Saat itu, barulah Senja berhenti.
Di depannya terbentang pemakaman umum. Tubuh Senja bergetar kecil. Seolah hatinya lebih dulu mengenali tempat itu sebelum pikirannya menyusul.
Perlahan, kakinya melangkah masuk. Tidak ada siapa-siapa. Sunyi. Hanya desir angin dan suara dedaunan yang saling bergesek.
Dia berjongkok di depan sebuah nisan sederhana. "Nek…" Suaranya keluar nyaris tanpa bunyi.
Tulisan di batu nisan sudah mulai pudar, tapi nama itu masih jelas. Orang satu-satunya yang dulu memeluk Senja tanpa syarat. Yang tak pernah membandingkan. Yang tak pernah berkata kamu kurang.
Air mata Senja akhirnya jatuh lagi. "Nek… Senja diusir," katanya pelan, seperti anak kecil yang mengadu karena baru saja dirundung teman-temannya. "Senja nggak punya rumah sekarang."
Tangannya meremas ujung bajunya. "Aku hamil, Nek…" Kalimat itu membuat dadanya runtuh. "Aku takut. Aku nggak tahu harus ke mana. Aku… kangen."
Senja menunduk lebih dalam, keningnya hampir menyentuh tanah. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia membiarkan tubuhnya benar-benar lemah.
"Andai Nenek masih ada… pasti Nenek peluk Senja, 'kan?"
Tak ada jawaban, tapi keheningan yang menyelimuti saat ini terasa lebih hangat dibanding rumah yang baru saja mengusirnya.
Setelah beberapa saat Senja berdiri lagi. Kakinya gemetar, tapi ia memaksa melangkah pergi. Ia tak bisa tinggal di sini terlalu lama. Hujan bisa turun kapan saja, dan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bertambah sakit.
Dia berjalan lagi. Terus berjalan. Tanpa sadar, langkah membawanya melewati sebuah bangunan yang sangat ia kenal.
Tempat kerjanya.
Senja berhenti tepat di seberang jalan. Matanya menatap pintu itu lama sekali. Kenangan tentang seragam, kesibukan yang melelahkan, dan senyum palsu untuk pelanggan berkelebat singkat.
Aku nggak punya tempat di sini lagi, batinnya.
Dia tak masuk. Sama sekali tak berniat.
Namun, keberadaannya ternyata tak luput dari sepasang mata seseorang.
"Hei… Senja?" Suara itu membuat bahunya menegang.
Itu suara Jelita.
Sahabat Senja, tepatnya mantan sahabat itu melangkah mendekat dengan wajah penuh simpati yang terlalu dibuat-buat. Alisnya berkerut, matanya terlihat berkaca-kaca, akting yang sudah sangat ia kuasai.
"Ya ampun… kamu kenapa kelihatan pucat banget?" tanyanya lembut. "Aku denger-denger… kamu sudah nggak kerja di sini lagi. Aku khawatir."
Jelita menunjukkan sikap seolah hubungannya dengan Senja masih sama setelah penghianatan itu. Bahkan gurat rasa bersalah tak tampak di wajahnya barang sekilas pun.
Senja menatap Jelita, tak berkata apa-apa.
Tatapannya datar, kosong, terkesan tak bernyawa. Tapi di baliknya, ada kekecewaan yang terlalu dalam untuk diungkap dengan serangkaian frasa. Seolah Senja sedang melihat seseorang yang tak dikenalinya.
Jelita tersenyum kecil, meraih lengan Senja, tapi Senja menarik tangannya perlahan. Gerakannya halus, tanpa emosi, namun jelas.
"Kamu jangan dengerin omongan orang-orang, ya," lanjut Jelita cepat, seolah takut kehilangan peran. "Aku tahu kamu bukan orang kayak gitu. Aku percaya kamu."
Senja tetap bergeming. Tak ada marah. Tak ada isak tangis. Hanya tatapan yang membuat Jelita merasa tak nyaman.
Beberapa detik berlalu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Senja berbalik. Ia melangkah pergi, meninggalkan Jelita berdiri sendiri di trotoar.
"Heh, Senja?"
Tak ada respons. Jelita memandangi punggung itu yang makin menjauh. Bibirnya mengatup, lalu melengkung tipis, bukan lagi senyum prihatin, melainkan senyum kesal.
"Dia itu memang menyebalkan," gumam Jelita pada dirinya sendiri. "Masih baik aku mau berteman dengannya. Dia sekarang susah ya salahnya sendiri. Siapa suruh nggak pakai pengaman."
Tak ada yang mendengar kalimat itu... kecuali Senja yang sebenarnya mendengar samar perkataan Jelita, tapi memilih untuk tidak menoleh. Ia terlalu lelah untuk peduli.
Senja terus berjalan. Matahari mulai condong ke barat. Langkahnya makin lambat. Kepalanya berat. Serangan mual kian menjadi, memaksanya berhenti di pinggir jalan, menutup mulut, menahan rasa pahit di tenggorokan.
Di sela-sela rasa sakit itu, sebuah bayangan melintas di benaknya.
Kampus...
Bangku kuliah...
Seragam putih abu-abu yang dulu ia kenakan dengan harapan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah dengan beasiswa prestasi…
Cita-cita itu dulu begitu menggebu. Kini terasa mustahil untuk diraih dengan tangan rapuhnya.
"Aku… cuma mau hidup tenang," bisiknya lirih. "Kenapa susah sekali…"
Senja menatap jalanan panjang di depannya. Tak tahu harus ke mana. Tak tahu harus berharap pada siapa.
Yang ia tahu hanya satu, ia harus bertahan. Bukan demi siapa-siapa, tapi demi kehidupan kecil yang kini bergantung sepenuhnya padanya.
Malam turun tanpa permisi. Langit menggelap pelan-pelan, seperti seseorang yang sengaja memadamkan lampu agar dunia tak lagi bisa dilihat dengan jelas.
Senja masih berjalan ketika lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Cahaya kuningnya jatuh di aspal, memantul pada bayangan tubuhnya yang terlihat semakin kecil.
Dia melewati jembatan kecil, lalu taman kota. Banyak bangku kosong. Ada rumah-rumah dengan lampu yang hangat. Ada kehidupan yang teratur, aman, dan normal di balik jendela-jendela itu.
Sementara dirinya… hanya punya langit sebagai atap. Bumi sebagai lantai.
Perutnya melilit. Bukan hanya mual, tapi juga lapar. Sejak pagi, tak ada apa pun yang masuk ke perutnya.
Tenggorokannya kering, lidah terasa pahit. Setiap kali ia menelan ludah, rasa ingin muntah datang lagi, memaksanya berhenti dan membungkuk menekan dada.
"Aku kuat...." Lagi-lagi ia memberi semangat pada dirinya yang nyaris roboh dan putus asa.
Dia berhenti di bangku bawah pohon besar. Mengusap pipinya yang dingin. Tidak tahu harus ke mana.
Punggungnya menempel pada sandaran bangku, tas dipeluk di dada seperti benda paling berharga yang ia punya. Padahal isinya hampir tak ada apa-apa. Hanya pakaian ganti dan beberapa barang kecil, seakan hidupnya pun bisa dimuat dalam tas itu.
Angin malam menyusup, membuat Senja memeluk dirinya sendiri. "Dingin…," bisiknya pelan.
Emergency blanket, jaket, kehangatan, apa pun yang dulu menyelamatkannya di gunung, kini semuanya terasa seperti mimpi. Malam ini, tak ada yang memeluknya selain lengannya sendiri.
Perutnya kembali bergejolak. Senja menutup mulut, menahan muntah yang naik. Dadanya sesak. Matanya berair, bukan karena tangis, tapi karena tubuhnya benar-benar kelelahan.
"Aku kuat," katanya lagi, suaranya bergetar. "Aku harus kuat…"
Suaranya terkesan mantap dan yakin, tapi kata-kata itu terdengar rapuh bahkan di telinganya sendiri.
Ia mengeluarkan ponsel. Layarnya menyala redup, baterai tinggal segaris. Senja menatap layar itu lama, jempolnya berhenti di satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.
Sagara.
Pesan terakhir itu masih ada.
Aku akan datang. Tunggu aku.
Senja menatap kalimat itu sampai pandangannya kabur.
"Kenapa belum datang… Aku butuh kamu…," bisiknya.
Namun tak ada panggilan masuk. Tak ada pesan baru. Senja mematikan layar sebelum air matanya jatuh ke kaca ponsel.
Ia mengusap lemah bingkai matanya yang berembun. Air matanya seolah hanya membuatnya semakin lemah.
Lapar mulai terasa seperti luka. Perutnya perih, keroncongan kecil terdengar, lalu disusul mual yang lebih kejam.
Senja menelan ludah berkali-kali, memaksa dirinya bertahan. Di seberang jalan, ada warung kecil yang hampir tutup. Aroma nasi hangat dan gorengan sempat tercium samar. Senja menoleh, lalu menunduk lagi.
Ia tidak punya uang. Tak sepeser pun.
Rasa malu menekan dadanya lebih keras daripada lapar. Bahkan jika ia ingin meminta, ia tak tahu bagaimana caranya.
Bibirnya kelu. Lidahnya terasa berat.
Aku masih punya harga diri, pikirnya samar.
Malam semakin larut. Suara kendaraan berkurang. Orang-orang lewat dengan langkah cepat, jaket tebal, tujuan jelas.
Tak satu pun berhenti. Sosok Senja bagaikan bayangan tak kasat mata. Ia merapatkan jaketnya, meski itu tak banyak membantu. Dingin merayap ke tulang. Tubuhnya mulai menggigil halus.
"Maaf ya…" bisiknya tiba-tiba, tangan refleks menyentuh perutnya yang masih rata. "Ibu belum bisa kasih kamu apa-apa."
Kalimat itu membuat dadanya runtuh.
"Maaf… kalau kamu lapar. Kalau kamu dingin."
Air mata yang sebenarnya ingin ditahan nyatanya tetap jatuh, satu per satu. Senja menangis tanpa suara, bahunya naik turun pelan. Tangis yang ditekan terlalu lama akhirnya bocor juga.
Ia ingin tidur. Udara malam sangat ingin, tapi rasa takut menahan matanya tetap terbuka. Takut jika ia tertidur, tubuhnya tak cukup kuat untuk bangun lagi. Takut jika dunia akan mengambilnya diam-diam.
Beberapa jam berlalu seperti itu. Duduk, menggigil, menahan mual, menahan dunia. Hingga akhirnya, kelelahan menang.
Kepala Senja terkulai ke samping. Matanya terpejam setengah, lalu tertutup sepenuhnya. Tubuhnya meringkuk di bangku, tas masih dipeluk erat seperti satu-satunya hal yang tersisa untuk dijaga.
Maaf aku datang terlambat.
Di alam mimpi, ia mendengar suara itu. Suara yang tak pernah ia sangka akan ia rindukan secepat ini.
Tubuhnya terasa terangkat, lalu tenggelam dalam pelukan. Hangat… tenang… seperti pulang.
“Om Sagara…” gumamnya lirih dalam lelap.
“Iya. Aku di sini.”
Bersambung~~