Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek Masa Depan
Di sebuah gudang yang disulap menjadi kantor sementara. Christian tersenyum saat Alana menyerahkan flashdisk berisi data yang ia minta.
"Terima kasih, Alana. Kamu benar-benar berguna," ujar Christian namun suaranya berubah menjadi sangat dingin.
"Sayangnya, kamu tidak akan kembali ke kampus besok."
"Maksud kamu apa, Ian?" Alana mulai merasa ada yang tidak beres saat melihat dua pia berbadan besar mengunci pintu gudang.
"Ian sudah mati, Alana. Namaku Christian Wijaya," Christian tertawa lepas. "Dab kamu adalah tiketnya untuk menghancurkan Ryan Aditama. Arka pasti akan datang ke sini untuk menyelamatkanmu, dan saat itulah aku akan menghabiskan kalian berdua."
Tiba-tiba lampu gudang menyala dengan terang benderang. Suara sirene polisi terdengar mengepung tempat itu. Pintu depan terbuka, dan Arka masuk dengan langkah tenang, diikuti oleh Ryan Aditama dan puluhan tim keamanan berseragam hitam.
Arka tidak datang dengan tangan kosong. Ia memegang sebuah tablet yang memutar rekaman video saat Christian menjebaknya di basemen, percakapannya dengan Clarissa di London, hingga rencana penculikan Alana malam ini.
"Selamat malam, Christian." Ujar Arka dingin. 'Selamat datang di skandal terbesarmu. Bukan hanya soal pelecehan palsu, tapi spionase industri, penipuan, dan percobaan penculikan."
Alana jatuh terduduk, menatap Christian dengan ngeri. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini. Ia menatap Arka yang berdiri di depannya, pria yang ia maki-maki, ternyata adalah orang yang benar-benar melindunginya dari awal.
Christian terbelalak melihat kepungan yang begitu rapat. Dalam kepanikan, ia mencoba meraih Alana untuk dijadikan sandera, namun Arka lebih cepat. Dengan gerakan atletis yang diasah di lapangan basket, Arka menarik Alana ke belakang punggungnya dan memberikan satu pukulan telak ke rahang Christian hingga pemuda itu tersungkur.
"Sudah berakhir, Christian." desis Arka.
Christian bangkit dan mencoba berlari menuju pintu belakang, namun di sana Mira sudah menunggu bersama tim keamanan. Polisi segera meringkusnya dan memborgol tangannya. Dia saat yang sama, layar besar di gudang itu, menampilkan sambungan video real-time dari London.
Di layar, terlihat Clarissa sedang duduk di sebuah kursi kantor dengan wajah pucat, sementara Polisi Inggris sedang menggelegar ruangannya.
"Ryan, Arka,..." suara Clarissa bergetar di speaker. "Kalian benar-benar monster."
Ryan Aditama melangkah maju, menatap layar itu dengan dingin. "Tidak, Clarissa. Kami hanya arsitek yang memastikan bahwa bangunan penuh kebencian yang kamu bangun di atas pasir akhirnya runtuh. Selamat menikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi."
Sambungan terputus. Christian diseret keluar, sementara Clarissa menyerah tanpa syarat setelah seluruh aset perusahaannya di sita sebagai barang bukti spionase industri.
Suasana gudang menjadi sunyi setelah polisi membawa pergi semua tersangka. Alana masih terduduk di lantai, bahunya berguncang hebat karena tangis yang pecah. Ia merasa sangat bodoh, malu, dan hancur
Arka mendekat, melepaskan jaketnya, dan menyampirkannya di bahu Alana.
"Arka," suara Alana serak. "Aku... aku minta maaf. Aku sudah menghinamu, mempercayai monster itu, dan hampir menghancurkan perusahaan keluargamu. Sku benar-benar nggak punya muka buat bicara sama kamu."
Arka berlutut di hadapan Alana yang gemetar dan menggenggamnya dengan lembut.
"Alana, lihat aku," ujar Arka tenang. "Dia ahli dalam manipulasi. Papaku juga pernah terjebak oleh Ibunya. Jadi, jangan hukum dirimu sendiri. Yang penting sekarang kamu aman."
Alana mendongak, matanya yang sembab menatap wajah Arka yang selama ini ia anggap sombong. Ternyata di balik nama besar Aditama, Arka hanyalah pemuda yang memiliki hati seluas samudra.
"Kenapa kamu tetap menyelamatkanku, padahal aku sudah jahat banget sama kamu?" tanya Alana lirih.
Arka tersenyum tipis, senyum tulus yang tidak pernah ia tunjukkan pada mahasiswi lain. "Mungkin karena partner proyekku ini terlalu berharga kalo cuma jadi pion orang jahat. Dan mungkin... karena sejak pertama kali membentakku di koridor, aku sadar kamu adalah satu-satunya orang yang melihat Arka bukan sebagai Aditama."
Alana memandangi Arka, "Maksud kamu apa, Arka?" tanya Alana.
"Ya, selama ini semua orang di kampus ini mempopulerkan aku karena aku seorang Aditama, bukan karena prestasiku. Jujur aku nggak suka mereka terlalu mengidolakan aku hanya karena aku anaknya Ryan Aditama yang punya perusahaan bonafide di kota ini. Dan ketika kamu menganggap aku sama dengan mahasiswa yang lain. Tidak mengistimewakan aku. Aku merasa bahwa kamu gadis yang beda."
"Maaf, ya Arka, atas sikapku selama ini padamu. Aku nganggap kamu musuh aku, padahal kamu punya maksud baik sama aku. Dan malah aku lebih percaya sama monster itu. Dia seperti serigala berbulu domba." Alana kembali meminta maaf pada Arka.
"Udahlah, ayo kita pergi dari sini." Arka menuntun Alana keluar dari gudang itu. Membawanya ke mobilnya, membukakan pintu dan mempersilahkan Alana masuk ke dalam mobil.
Dalam mobil mereka tidak banyak berbicara. "Rumah kamu di mana? Biar aku antarkan kamu pulang," Arka bertanya tanpa melihat Alana.
Alana memberitahukan alamat rumahnya kepada Arka, kemudian Arka melajukan mobilnya ke arah yang disebutkan Alana.
***********
Beberapa minggu berlalu. Skandal di kampus telah dibersihkan. Nama Arka dipulihkan, dan kini ia menjadi pahlawan di mata mahasiswa. Namun, Arka tidak peduli pada popularitas itu.
Sore itu di balkon studio desain yang sepi, Arka menemukan. Alana sedang asyik menggambar sketsa. Ada noda pensil di pipinya, persis seperti pertemuan pertama mereka.
Arka meletakkan segelas cokelat panas di meja Alana, "Revisi lagi?"
Alana tersenyum malu-malu, sebuah pemandangan yang kini menjadi favorit Arka. "Iya, aku ingin proyek kolaborasi kita ini jadi yang terbaik. Sebagai tanda terima kasihku."
Arka duduk di sampingnya, lalu dengan perlahan, ia mengusap noda pensil di pipinya Alana dengan ibu jarinya. Sentuhan itu membuat jantung keduanya berdegup kencang.
"Alana," panggil Arka lembut. "Gimana kalau setelah proyek ini selesai, kita mulai proyek baru? tanpa embel-embel tugas kuliah?"
Alana tersipu, wajahnya memerah. "Proyek apa?"
"Proyek masa depan. Dimana aku nggak perlu menyadap ponsel orang hanya untuk tahu kamu aman," canda Arka.
Alana tertawa, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya. "Kita coba?" tanya Alana.
"kok coba sih, harus jadi proyeknya, Alana." kata Arka.
Alana tertawa. "Oke deh, tuan Arka Aditama."
******
Keesokan harinya, kantin utama kampus tidak pernah sesuai ini saat Arka Aditama melangkah masuk. Namun, kesunyian itu bukan karena intimidasi, melainkan karena pemandangan yang membuat hampir seluruh mahasiswi di sana menahan napas serentak.
Arka tidak berjalan sendirian. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Alana, sementara tangan kirinya membawakan ras arsitektur Alana yang tampak berat.
"Lihat itu, benar-benar resmi ya?" bisik seorang mahasiswi di pojok kantin dengan nada tidak rela. "Alana itukah anak baru, prestasinya juga belum sebanding dengan senior-senior di sini. Kok bisa dia yang dapat Arka?"
"Dengar-dengar dia yang diselamatkan Arka waktu kasus Christian kemarin. Cih, sok jadi damsel in distress banget," timbal yang lain sambil memutar bola mata.
Alana bisa merasakan tatapan-tatapan tajam itu menusuk punggungnya. Ia sempat menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Namun, Arka menyadari kegelisahan itu. Ia justru mempererat genggamannya dan menarik Alana lebih dekat ke sisinya.
"Abaikan mereka, Na," bisik Arka tepat di telinga Alana, membuat beberapa mahasiswi yang melihatnya hampir memekik iri. "Merek cuma belum terbiasa melihat pangerannya punya pawang."
Alana tertawa kecil, rasa percaya dirinya kembali. "Pawang? kamu pikir kamu macan?"
"Lebih galak dari macan kalau ada yang berani menyentuh proyek masa depanku," jawab Arka dengan kerlingan nakal.
Mereka duduk di meja tengah, meja yang biasanya dikosongkan orang karena segan pada Arka. Kini, Arka duduk dengan santai sambil membuka laptop, namun fokusnya tetap pada Alana yang sedang menyesap coklat panasnya.
Tiba-tiba seorang mahasiswi senior yang cukup populer, Cindy, menghampiri meja mereka dengan alasan ingin menanyakan soal organisasi kampus.
"Arka, sibuk nggak? Ada berkas yang perlu kamu tanda tangani sebagai perwakilan senat," ujar Cindy dengan nada hang dibuat semanis mungkin, mengabaikan keberadaan Alana.
Bersambung.....