Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chekmate
Aulia tahu Ryan mencoba melindunginya dengan cara menutup-nutupi detail masa lalu. Namun, Aulia adalah seorang arsitek; dia tahu bahwa jika fondasi sebuah bangunan bermasalah, seluruh gedung akan runtuh.
Saat Ryan sibuk di pengadilan, Aulia meminta bantuan Mira. "Mira, aku tahu kamu setia pada Ryan. Tapi jika Ryan jatuh, kita semua jatuh. Tunjukkan padaku arsip asli tentang ayah Ryan dan keluarga Sarah.," desak Aulia.
Mira sempat ragu, namun akhirnya ia membawa Aulia ke gudang arsip lama di ruang bawah tanah kantor. Disana, Aulia menemukan sebuah kotak kayu berdebu milik mendiang ayah Ryan.
Di dalamnya, Aulia tidak menemukan bukti perselingkuhan, melainkan sesuatu yang jauh lebih kompleks: Perjanjian Kerja Sama. Ternyata ayah Sarah dulunya adalah rekan bisnis ayah Ryan yang dikhianati oleh pihak ketiga- pesaing bisnis yang sekarang beraliansi dengan keluarga Clarissa. Ayah Ryan sebenarnya mencoba membantu, tapi ia terlambat.
Aulia menemukan sebuah surat kecil yang ditulis ayah Ryan sebelum meninggal: "Surya tidak akan pernah setuju, tapi kita berutang pada keluarga mereka. Jika suatu saat anak mereka datang, berikan apa yang menjadi hak mereka."
Tanpa sepengetahuan Ryan, Aulia meminta bertemu dengan Rendra di sebuah cafe sunyi. Aulia membawa Arka dalam gendongannya, sebuah simbol kejujuran dan masa depan.
"Kenapa kamu menemuiku? untuk memohon" tanya Rendra sinis saat melihat Aulia.
"Tidak. Untuk menunjukkan padamu bahwa kamu sedang menghancurkan orang yang salah," jawab Aulia tenang. Ia menyodorkan dokumen asli yang ia temukan. "Ini adalah surat asli dari ayah Ryan. Ayah Ryan tidak pernah berniat mengkhianati keluargamu. Dia justru mencoba menyelamatkan aset ayahmu, tapi kakek Surya menghalanginya karena alasan harga diri."
Rendra membaca surat itu, tangannya sedikit bergetar.
"Kamu diperalat oleh Clarissa, Rendra. Dia tidak peduli pada kakakmu. Dia hanya ingin melihat Ryan hancur. Jika kamu melanjutkan gugatan ini, kamu hanya akan memperkaya keluarga Clarissa yang sebenarnya adalah dalang dibalik kebangkrutan ayahmu dulu." lanjut Aulia.
Keesokan harinya Ryan terkejut saat Rendra datang ke kantornya bukan dengan pengawal, melainkan sendirian. Di ruang keeja Ryan ternyata Aulia sudah menunggu.
"Mas, kita harus bicara jujur. Kakek Surya telah menyembunyikan kebenaran dari kamu selama bertahun-tahun," kata Aulia.
Rendra menatap Ryan. "Istrimu menunjukkan sesuatu yang tidak pernah aku ketahui. Jika benar kakekmu yang menjadi penghalang, maka musuhku bukan kamu Ryan. Tapi sistem yang dibangun kakek Surya."
Ryan tertegun. Dia menyadari bahwa selama ini ia menjaga rahasia yang salah. Kebenaran itu terasa pahit, namun membebaskan.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Ryan pada Rendra.
"cabut aliansi dengan Clarissa. Tapi aku tetap ingin hak keluargaku kembali," jawab Rendra.
Ryan mengulurkan tangannya. "Kita buat kesepakatan baru. Tanpa Kakek Surya, tanpa Clarissa. Kita selesaikan hutang masa lalu ayahku secara jantan."
Namun, drama belum berakhir. Kakek Surya yang mengetahui pertemuan itu langsung datang ke penthouse dengan amarah besar.
"Ryan! Aulia! Apa yang kalian lakukan? Bernegosiasi dengan musuh?!" teriak Kakek Surya sambil menghentakkan tongkatnya.
Aulia berdiri tegak, mendekati Kakek yang sangat disegani itu. "Kek, Arka tidak boleh tumbuh di atas kebohongan. Kita sudah cukup kaya untuk menjadi jujur. Jika kakek ingin Arka menjadi pewaris yang hebat, kakek harus membiarkan ayahnya membersihkan nama keluarga ini dari noda masa lalu."
Kakek Surya terdiam melihat keberanian cucu menantunya. Di pelukan Aulia, bayi Arka tiba-tiba terbangun dan tertawa kecil, seolah ikut merasakan ketegangan yang mulai mencair.
Kakek Surya tertegun di tengah ruang tamu penthouse. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pria yang dijuluki "Singa Property Jakarta" itu merasa suaranya tidak lagi memiliki gema. Ia menatap Aulia yang berdiri tegak melindungi suaminya, lalu beralih menatap cicitnya, Arka, yang sedang mengoceh riang tanpa dosa.
Kakek Surya menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti melepaskan beban berat yang dipikulnya sendirian.
"Aku selalu berpikir bahwa melindungi nama baik keluarga adalah dengan cara mengubur boroknya sedalam mungkin," suara Kakek Surya kini terdengar parau. "Tapi melihatmu hari ini, Aulia... dan melihatmu berani melawanku demi kebenaran, Ryan... aku sadar bahwa zaman sudah berubah. "
Kakek Surya berjalan perlahan ke arah Ryan. Ia meletakkan tangan tuanya yang gemetar di bahu Ryan. "Ryan, mulai detik ini, aku melepaskan hak veto atas setiap keputusan perusahaan. Aku menyerahkan kursi pimpinan tertinggi kepadamu sepenuhnya. Bersihkan noda itu, Nak. Bangunlah kekaisaran Aditama yang tidak hanya megah di luar, tapi juga bersih di dalam."
Momen itu ditutup dengan haru saat Kakek Surya mencium kening Arka. "Jadilah saksi, Arka. Papamu baru saja menjadi pria yang sesungguhnya.
Setelah Kakek Surya melunak, Ryan tidak membuang waktu. Ia mengundang kembali Rendra ke ruang kerjanya, namun kali ini bukan sebagai lawan, melainkan sebagai mitra strategis.
"Clarissa menggunakanmu untuk menghancurkanku, dan sekarang dia pasti sedang menunggu kabar kemenanganmu dari London," ujar Ryan sambil menyodorkan segelas kopi hitam pada Rendra.
Rendra menyesap kopinya, matanya berkilat dingin. "Dia menjanjikan aset keluarga Aditama padaku sebagai imbalan. Dia pikir aku tidak tahu kalau dia berencana mencaplok aset itu untuk menutupi kebangkrutan perusahaan ayahnya di Inggris."
"Kita beri apa yang dia mau," Sahut Ryan dengan senyum tipis yang mematikan. "Sebuah kemenangan palsu."
Ryan dan Rendra menyusun rencana balas dendam yang sangat rapi. Melalui Mira, mereka membocorkan "dokumen palsu" kepada Clarissa yang menyatakan bahwa Ryan sedang terpojok dan siap menjual sebagian besar saham proyek Lavana dengan harga murah untuk menghindari tuntutan hukum Rendra.
Clarissa yang dibutakan oleh nafsu balas dendam dan keserakahan, langsung terjebak. Ia menginstrusikan perusahaan cangkangnya di London untuk memborong saham tersebut, menggunakan sisa-sisa harta keluarganya yang terakhir.
"Akhirnya, Ryan. Sekarang saatnya kamu jatuh, sejatuh-jatuhnya," kata Clarissa puas. Dia tertawa dengan sangat keras. Merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
"Dia pikir dia sedang membeli masa depanku," kata Ryan saat memantau pergerakan pasar saham bersama Rendra di ruang kendali Aditama tower. "Padahal, dia sedang membeli hutang piutang lama perusahaan Sarah yang sudah aku akuisisi secara hukum."
Puncaknya terjadi pada konferensi pers besar. Clarissa muncul melalui sambungan video dari London, bersiap untuk mengumumkan pengambilalihan sebagian saham Aditama. Ia tampak menang dengan senyum kemenangan yang menyebalkan.
"Selamat sore, Ryan. Aku harap kamu menikmati hari terakhirmu sebagai pemegang saham mayoritas," ujar Clarissa dengan nada menghina.
Namun senyum itu menghilang saat Ryan berdiri di podium berdampingan dengan Rendra.
"Terima kasih atas investasimu, Clarissa," ujar Ryan tenang. "Namun, perlu kamu ketahui saham yang baru saja kamu beli adalah saham dari anak perusahaan yang menanggung seluruh hutang masa lalu keluarga Sarah yang telah dihitung ulang secara legal oleh Rendra sebagai pengacara ahli."
Rendra melangkah maju ke mikrofon. "Clarissa, atas nama hukum internasional, aku menggugat atas pemerasan dan manipulasi dokumen. Dan karena kamu menggunakan aset perusahaan ayahmu sebagai jaminan, selamat perusahaan ayahmu kini secara resmi jatuh ke tangan konsorsium Aditama & Partners."
Wajah Clarissa di layar besar berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba berteriak, namun Ryan sudah memberi tanda pada tim IT untuk memutus sambungan.
Bersambung....