NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khayalan Seorang Anggi

“Iya. CEO itu. Yang di TV.” Anggi mendekat, suaranya menurun tapi justru makin tegang. “Ma, dia nolongin aku lagi. Kali ini pas aku kehujanan dan nggak dapat bus.”

Anggun menelan ludah. Tangannya refleks meremas kain di pangkuannya.

Anggi belum selesai. “Ma… wajahnya mirip banget sama Zizi.”

Kalimat itu jatuh seperti benda berat.

“Jangan asal bicara,” sahut Anggun cepat, terlalu cepat. “Itu cuma kebetulan.”

“Tapi ini bukan cuma wajah,” bantah Anggi. “Cara bicaranya. Tatapannya. Bahkan waktu dia bilang ‘lupakan’—itu persis.”

Anggun bangkit berdiri. “Cukup.”

Namun suaranya bergetar.

Anggi terdiam, tapi matanya masih penuh keyakinan. “Ma… aku naik mobilnya. Mobil merah. Mahal banget. Kak Arman aja belum tentu bisa beli.”

Anggun memalingkan wajah, dadanya naik turun. “Zizi tidak mungkin jadi seperti itu,” katanya lebih kepada dirinya sendiri. “Tidak mungkin.”

Anggi menggeleng pelan. “Aku juga bilang gitu ke diri aku sendiri. Tapi… kenapa rasanya seperti melihat seseorang yang kita kira sudah hilang, tapi ternyata cuma mengganti nama?”

Ruangan mendadak sunyi.

Anggun menutup matanya sesaat.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, penyangkalan yang ia bangun mulai retak dari dalam.

.

Malam sudah turun ketika Arman akhirnya pulang.

Rumah terasa lebih riuh dari biasanya. Anggi bahkan belum sempat menyapanya dengan keluhan khas remaja, ia sudah berlari mendekat dengan mata berbinar.

“Kak!” serunya. “Aku ketemu dia lagi.”

Arman melepas jasnya setengah hati. “Siapa?”

Anggi menarik lengannya ke ruang tengah, menunjuk televisi yang masih menampilkan potongan berita ekonomi. Wajah Dara muncul sebentar di layar cuplikan singkat dari acara sore tadi.

“Dia,” kata Anggi antusias. “Perempuan yang di TV itu. CEO yang lagi viral. Yang namanya Dara.”

Arman berhenti bergerak.

“Aku kehujanan tadi,” lanjut Anggi tanpa sadar perubahan raut kakaknya. “Bus nggak datang. Terus dia berhentiin mobilnya. Mobil merah. Gila sih, Kak… mahal banget. Kakak aja nggak punya yang kayak gitu.”

Anggun yang duduk di sofa ikut menoleh, wajahnya menegang samar.

Arman berdehem. “Terus?”

“Dia nganter aku pulang,” kata

Anggi cepat. “Baik. Nggak sok. Nggak nyuruh-nyuruh. Beda banget sama…” Ia menggantungkan kalimatnya, lalu menyeringai. “Ya… beda.”

Arman tahu siapa yang dimaksud.

Susan.

Anggi duduk di sandaran sofa, menatap Arman dengan ekspresi polos tapi tajam. “Menurutku, Kak… kalau Kakak bisa dekat sama perempuan kayak dia, itu keren.”

Anggun terkejut. “Anggi !”

“Tunggu, Ma,” potong Anggi. “Ini pendapatku. Dia CEO. Pintar. Mandiri. Semua orang hormat sama dia. Bukan cuma karyawan biasa yang numpang status.” Kata-kata itu jatuh tepat sasaran.

Arman tidak langsung menanggapi. Ia mengambil segelas air, meneguknya pelan, seolah butuh waktu untuk menelan sesuatu yang lebih pahit dari sekadar haus.

“Kamu kebanyakan nonton TV,” katanya akhirnya.

Anggi mengangkat bahu. “Aku cuma bilang fakta. Lagian… Kakak keliatan beda pas bahas dia.”

Arman menoleh tajam. “Beda bagaimana?”

Anggi tersenyum kecil, penuh keyakinan yang menyebalkan. “Kayak orang yang pengin dikejar, bukan cuma didatengin.”

Hening turun di ruang itu.

Anggun menggenggam ujung bajunya sendiri, gelisah dengan arah pembicaraan. Arman berdiri, berniat naik ke kamar, tapi langkahnya tertahan.

Bayangan mobil merah itu dan perempuan di balik setirnya muncul tanpa izin. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah adiknya. Dan itu saja sudah cukup menjadi masalah.

.

Anggi tidak bisa berhenti tersenyum sejak malam itu.

Ia berbaring di tempat tidur, ponsel di tangan, tapi layar sudah gelap sejak lama. Yang menyala justru imajinasinya. Bayangan mobil merah itu. Cara Dara memegang setir dengan tenang.

Semuanya terasa berbeda dari perempuan-perempuan yang biasa muncul di sekitar kakaknya.

Anggi berguling menghadap dinding, menutup wajah dengan bantal, lalu mendesah pelan. “Kalau Kak Arman punya istri kayak dia…”

Kalimat itu terhenti sendiri. Dadanya terasa hangat oleh pikiran yang tiba-tiba terlalu besar untuk anak seusianya.

Ia membayangkan Dara duduk di meja makan rumah mereka—bukan dengan senyum dibuat-buat, bukan dengan nada merendah. Dara yang tenang. Tegak. Tidak perlu izin untuk bicara. Perempuan yang tidak akan menunduk saat Mama Anggun melontarkan pertanyaan tajam.

Dalam bayangannya, Dara tidak akan tersenyum berlebihan. Ia akan menjawab seperlunya. Jelas. Tidak defensif.

Dan anehnya, Anggi merasa… aman. Bukan karena Dara akan membelanya.

Tapi karena Dara terlihat seperti seseorang yang tidak bisa diinjak, sehingga rumah itu otomatis harus menyesuaikan diri.

Anggi menutup mata, membiarkan khayalan itu berlanjut.

Pagi hari dengan aroma kopi, Dara berdiri di dapur—bukan memasak sambil terburu-buru, tapi sekadar menuang minumannya sendiri. Mama Anggun tidak akan berani menyuruh-nyuruh. Paling jauh, bertanya dengan nada hati-hati.

“Dara, sarapannya cocok?”

Dan Dara akan mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Cukup.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Anggi tersenyum kecil. “Keren banget,” gumamnya.

Ia teringat Susan. Perempuan yang sering datang ke rumah dengan suara manis, tertawa terlalu cepat, dan selalu memastikan Mama Anggun senang. Anggi tidak membencinya, tapi juga tidak pernah merasa ingin berada di dekatnya.

Susan terasa… rapuh.

Seperti orang yang selalu khawatir posisinya bisa digeser kapan saja.

Sedangkan Dara...

Anggi membuka mata.

Dara terasa seperti orang yang tidak bisa dipindahkan dari tempatnya sendiri.

Ia duduk, memeluk lutut. Ada sesuatu di dadanya yang sulit ia jelaskan. Kekaguman, mungkin. Atau harapan kecil yang belum sempat ia sadari.

Kalau Kak Arman benar-benar bersama Dara…

Anggi membayangkan kakaknya tidak lagi pulang dengan wajah tegang. Tidak lagi mudah marah. Tidak lagi merasa harus membuktikan apa pun.

Karena di samping perempuan seperti Dara, orang hanya bisa jujur pada dirinya sendiri atau kalah.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Anggi?” suara Mama Anggun.

“Iya, Ma?”

“Kamu belum tidur?”

Anggi melirik jam. Sudah lewat tengah malam. “Sebentar lagi.”

Mama Anggun tidak masuk. Hanya diam di balik pintu sejenak, lalu berkata, “Jangan terlalu banyak melamun.”

Anggi menggigit bibir.

Kalau Mama tahu apa yang ia pikirkan sekarang, mungkin akan marah. Atau panik. Atau menyangkal seperti biasanya.

Tapi Anggi justru semakin yakin.

Ia berbaring kembali, menatap langit-langit.

Di luar, hujan sudah berhenti.

Dan entah kenapa, Anggi merasa, dalam hidup kakaknya dan mungkin dalam hidup mereka semua sesuatu yang besar sedang mendekat.

Bukan badai. Bukan juga ketenangan. Melainkan perubahan yang tidak bisa ditolak. Dan untuk pertama kalinya, Anggi berharap perubahan itu bernama:

Dara Valencia.

Sementara Arman di kamarnya.

Ponsel di meja samping tempat tidur Arman bergetar pelan.

Satu pesan masuk. Nama Susan muncul di layar. "Arman. Aku bawain bekal besok ya.”

Arman melirik sekilas. Dulu, notifikasi semacam itu selalu membuatnya tersenyum kecil. Kadang tanpa sadar. Kadang dengan perasaan puas—merasa diperhatikan, dibutuhkan, diinginkan.

Tapi malam ini, tidak ada senyum. Ia hanya menatap layar beberapa detik, lalu membalikkan ponsel menghadap meja.

Getaran berhenti. Sunyi kembali memenuhi kamar.

Arman merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit, tapi pikirannya melayang jauh—bukan pada Susan, melainkan pada sorot mata seorang perempuan yang bahkan tidak berusaha menarik perhatiannya.

Dan entah sejak kapan, ia sadar dengan getir: bukan Susan yang berubah. Dirinyalah yang tidak lagi sama.

1
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
di tunggu kelanjutannya nih🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): Defenisi WOMAN
total 2 replies
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!