NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: WARUNG KOPI, SEBUAH KOTAK SEPATU, DAN SEBUAH KEPUTUSAN

Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang ruang hampa pasca-perang, percakapan yang hanya terdiri dari hal-hal esensial, dan satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan seluruh sejarah mereka yang berantakan.

Tiga hari setelah video "How a Dating App Algorithm Tried to Engineer Our Love Story" menjadi trending topic.

Warung Kopi Klotok terasa seperti zona netral setelah pertempuran. Asap rokok masih sama, dengungan kulkas tua masih serupa, tapi udaranya terasa berbeda. Lebih ringan, atau mungkin hanya karena beban di pundak Ardi dan Kinan yang telah bergeser dari tekanan untuk membongkar kebohongan, menjadi keheningan yang menunggu untuk diisi.

Mereka duduk di meja ritual mereka. Di antara dua gelas kopi, sekarang ada sebuah kotak sepatu kardus biasa. Di dalamnya, terkubur seperti artefak arkeologi zaman digital: dua ponsel mereka yang sudah dinonaktifkan, sebuah powerbank, dan kartu SIM cadangan.

Ini adalah bagian terakhir dari ritual pembebasan mereka. Video telah tayang. Dunia telah berkomentar. MatchMade mengeluarkan pernyataan resmi yang dingin dan penuh jargon hukum. Beberapa brand menawarkan collaboration. Beberapa media meminta wawancara. Tapi semua itu adalah suara dari luar. Suara dari feed. Dan malam ini, mereka memutuskan untuk mematikan feed.

"Jadi ini dia," ucap Kinan, menatap kotak itu. "Kuburan era kita yang dikurasi."

"Atau...kapsul waktu?" tambah Ardi, mencoba melihat sisi lain.

"Lebih mirip peti mati untuk persona kita yang dulu,"sahut Kinan, lebih jujur. "Persona 'Kinan si Aesthetic Curator' dan 'Ardi si Santuy yang Gak Bener'."

Mereka diam sejenak. Pekerjaan besar telah usai. Mereka telah mengambil alih narasi. Tapi sekarang, di keheningan pasca viral, muncul pertanyaan yang lebih sederhana dan lebih menakutkan: "Sekarang apa?"

Tanpa aplikasi kencan yang memberi tantangan, tanpa algoritma yang merekomendasikan langkah berikutnya, tanpa skenario dari produser TV, mereka hanyalah Ardi dan Kinan. Dua orang yang bertemu karena kesalahan, berjuang karena kebenaran, dan kini duduk berhadapan dengan semua kemungkinan yang tidak terbatas dan karena itu, sangat membingungkan.

"Gue nggak bisa balik ke hidup yang dulu," kata Kinan tiba-tiba. "Nge post story yang dikurasi sempurna rasanya... palsu. Tapi gue juga nggak tahu gimana caranya jadi 'Kinan yang asli' di online. Apa gue harus post foto gue lagi makan sambal level 10 sampe nangis?"

"Kenapa nggak?"balas Ardi, tersenyum. "Itu lucu."

"Tapi itu nggak aesthetic."

"Lo tuh baru aja bikin video eksposé yang ngorbanin persona aesthetic lo.Sekarang khawatir sama feed Instagram?"

Kinan menghela napas. "Iya. Aneh ya. Perang melawan algoritma gampang. Perang melawan kebiasaan diri sendiri yang lebih susah."

Ardi mengangguk. Dia mengerti. Hidupnya juga terasa seperti kapal yang baru saja melepaskan tambatan, mengapung di laut lepas tanpa peta. Tanpa notifikasi MatchMade yang mengingatkannya untuk "check in on your potential partner", tanpa challenge dadu yang memberi struktur pada harinya, dia harus memutuskan sendiri apa yang ingin dia lakukan. Dan dengan siapa.

"Ada satu hal," kata Ardi, suaranya lebih pelan. "Waktu di Camp Grounded... di air terjun... lo nulis 'Aku takut'. Dan gue nulis 'Ayo coba aja'."

Kinan menatapnya,matanya berbinar dalam cahaya neon yang pucat. "Iya. Dan kita udah 'coba'. Kita udah bongkar semuanya. Sekarang?"

"Sekarang,"Ardi menarik napas dalam. "Mungkin kita tanya hal yang lebih sederhana. Bukan 'apa rencana kita melawan korporasi' atau 'gimana kita membangun personal brand baru'." Dia berhenti, mencari kata-katanya dengan hati-hati. "Tapi... 'apakah lo mau, besok, ketemu lagi di sini, minum kopi yang sama, dan cuma ngobrolin hal-hal yang nggak penting?'"

Pertanyaannya menggantung. Sederhana, tetapi mengandung segala sesuatu. Ini adalah undangan untuk sebuah hubungan yang tidak didefinisikan oleh algoritma, tidak difasilitasi oleh aplikasi, dan tidak didokumentasikan untuk konten. Ini hanya dua manusia dan sebuah pilihan.

Kinan tidak langsung menjawab. Dia memandang kotak sepatu di antara mereka, lalu ke gelas kopinya, lalu akhirnya ke mata Ardi.

"Tanpa merekam?"

"Tanpa merekam."

"Tanpa bikin thread?"

"Tanpa bikin thread."

"Tanpa...ekspektasi dari followers?"

"Bebas dari ekspektasi siapa pun.Kecuali... ekspektasi kita berdua aja. Kalau itu ada."

Sebuah senyum kecil, yang sungguh-sungguh, akhirnya merekah di wajah Kinan. Senyum yang lelah, lega, dan penuh penerimaan.

"Gue mau,"katanya. "Tapi gue minta ganti tempat."

"Warteg Maknyus?"tebak Ardi.

"Bukan.Rumah gue. Adik gue pengin ketemu lo. Dia penasaran sama orang yang bikin kakaknya berani hapus semua aplikasi kencan."

Itu adalah undangan yang lebih dalam dari sekadar nongkrong. Itu adalah pintu masuk ke dunia nyata Kinan, yang selama ini tersembunyi di balik filter dan tema warna.

"Gue... boleh ya?" tanya Ardi, sedikit gugup.

"Harus,"jawab Kinan. "Karena itu bagian dari 'coba aja'. Dan... gue mau lo kenal bagian hidup gue yang nggak pernah masuk ke feed."

Mereka memesan gorengan. Percakapan mengalir ke hal-hal remeh: laporan TA Ardi yang mentok, adik Kinan yang lucu, rencana Pak Suryo untuk buka merch Dadu Champ yang nggak jelas. Ini obrolan yang tidak akan viral, tidak akan di screenshot, tidak akan dianalisis engagement nya. Dan justru itu yang membuatnya terasa sangat berharga.

Saat akan berpisah, mereka berdiri di depan warung. Kotak sepatu masih di meja. Sepertinya mereka akan meninggalkannya di sana, sebuah persembahan simbolis untuk Ibu Lastri.

"Besok, jam lima?" tanya Ardi.

"Jam lima.Jangan bawa dadu."

"Jangan bawa tripod."

Mereka tertawa.Lalu, tanpa direncanakan, tanpa dipicu oleh challenge apa pun, Ardi membuka lengannya. Sebuah pelukan? Sebuah jabat tangan? Kinan tidak ragu. Dia melangkah masuk, menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Ardi. Itu pelukan yang cepat, kikuk, tapi hangat. Pelukan antara dua sekutu yang telah melewati pertempuran, dan kini berdiri di puing-puingnya, memutuskan untuk membangun sesuatu bersama.

"Selamat tinggal, algoritma," bisik Kinan, melepaskan pelukan.

"Selamat datang,ketidakpastian," balas Ardi.

Mereka berjalan ke arah yang berbeda. Ardi menengok sekali, melihat Kinan menghilang di tikungan, lalu melihat ke arah warung. Di balik kaca, kotak sepatu itu masih terlihat di atas meja, diterangi cahaya neon yang berkedip-kedip.

LAST LINE: Di dalam kotak itu, dua layar ponsel yang mati selamanya memantulkan bayangan lampu kota sebuah dunia yang penuh dengan koneksi buatan. Sementara dua pemiliknya, dengan tangan kosong dan hati yang penuh dengan percakapan yang belum selesai, berjalan masuk ke dalam malam yang sebenarnya, siap untuk tersesat, siap untuk menemukan, siap untuk memulai babak baru mereka tanpa petunjuk dari siapapun, kecuali dari detak jantung mereka sendiri yang berdebar kencang, bukan karena notifikasi, tetapi karena antisipasi akan sebuah pertemuan biasa di esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!