NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: JALAN BARU TERBUKA

Di sisi lain gedung sekolah, Kelas Sains masih dipenuhi suara papan tulis dan dengungan pendingin ruangan. Namun di salah satu sudut kelas, perhatian seorang murid sama sekali tak tertuju pada pelajaran.

Seorang pemuda berkacamata duduk tenang di bangkunya.

Rambutnya tersisir rapi, wajahnya bersih dengan garis tajam yang memberi kesan cerdas sekaligus dingin. Jemarinya memegang ponsel dengan mantap, mata di balik lensa kacamata itu bergerak cepat, mengikuti setiap adegan dalam video yang tengah diputar.

Di layar kecil itu, tampak jelas rekaman pertarungan di Kelas Bahasa dan Sastra.

Dion, Rangga, Alex.

Suara benturan, teriakan, lalu momen ketika Alex ambruk ke lantai, semuanya tertangkap dengan sudut yang cukup jelas.

Pemuda berkacamata itu menyipitkan mata.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Ia memutar ulang beberapa bagian, memperlambat video, memperhatikan detail yang terlewat oleh orang-orang biasa.

“Orang bernama Dion ini…” katanya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri, “jelas masih menahan diri.”

Jarinya berhenti di frame ketika Dion menahan pukulan Rangga dengan satu tangan.

“Bahkan setelah Rangga menggunakan Pil itu,” lanjutnya, “dia tetap tidak mampu memaksanya bertarung serius.”

Video berlanjut, menampilkan Alex, pemimpin Kelas Bahasa dan Sastra, sosok yang dikenal mampu menjatuhkan puluhan murid biasa sendirian… bertekuk lutut tanpa perlawanan berarti.

“Alex,” ucap pemuda itu perlahan, “Aku sudah melihatnya sendiri mengalahkan enam puluh murid biasa.”

Nada suaranya datar, penuh perhitungan. “Namun orang sekuat itu… dibuat tak berdaya.”

Ia menurunkan ponsel, senyum tipis, tajam dan licik, terlukis di sudut bibirnya.

Nama pemuda itu Mordain Mahardika.

Dikenal sebagai jenius Kelas Sains. Otaknya tajam, perhitungannya dingin, dan di balik kacamata itu tersembunyi ambisi yang jarang ia perlihatkan. Ia bukan tipe yang mengandalkan otot, namun jangan salah, Mordain bukan murid lemah.

Ia kuat, dan jauh lebih licik.

“Sepertinya,” ucapnya pelan, “sekolah ini akan mengalami perubahan besar.” senyumnya melebar sedikit.

Di saat yang sama, kegaduhan menjalar ke seluruh SMA Cahaya Senja.

Di Kelas Sosial, Kelas Teknologi, Kelas Seni, Kelas Bisnis, hingga Kelas Bahasa Asing, video yang sama diputar berulang-ulang. Nama yang sama terus disebut.

Dion, murid Kelas Matematika.

Pemimpin Kelas Bahasa dan Sastra tumbang.

Anak buahnya dikalahkan tanpa ampun.

Alex, dipaksa berlutut.

Para murid terkuat dari masing-masing kelas terdiam. Kejutan berubah menjadi kewaspadaan.

Tak lama kemudian, pesan-pesan mulai bermunculan di layar ponsel mereka. Grup rahasia aktif kembali, nama Dion menjadi topik utama.

Satu per satu, para pemimpin kelas mengirim pesan singkat, tanpa basa-basi.

[Kita perlu berkumpul.]

[Anak ini terlalu berbahaya.]

[Kita akan membahas orang yang bernama Dion.]

Di balik hiruk-pikuk sekolah yang tampak normal, sebuah arus baru mulai terbentuk. Dan di pusatnya, ada satu nama yang kini tak bisa diabaikan lagi.

.....

Ruang UKS kembali sunyi, hanya tersisa aroma antiseptik dan dengung kipas angin yang berputar pelan di langit-langit.

Barra terbaring di ranjang, tubuhnya dibalut kain dan perban putih. Wajahnya pucat, matanya membelalak ketika melihat sosok yang tergeletak di lantai, Rangga, tak sadarkan diri, wajahnya babak belur dan napasnya berat.

Tubuh Barra sedikit gemetar.

“Di-Dion…” suaranya bergetar, hampir tak terdengar. “Apa… apa yang kau lakukan padanya?”

Dion duduk tenang di kursi di samping ranjang, punggungnya bersandar santai. Tatapannya datar, tak menunjukkan kebanggaan maupun penyesalan.

“Aku,” katanya ringan, “hanya memberinya sedikit pelajaran.”

Barra menelan ludah.

'Sedikit… pelajaran?'

Ia melirik lagi ke arah Rangga yang terkapar di lantai, lalu kembali menatap Dion. Di matanya, ada campuran keterkejutan, kelegaan, dan rasa hangat yang sulit dijelaskan.

“Sedikit pelajaran…” gumam Barra lirih, “Pelajaran macam apa itu…”

Namun di balik kata-kata itu, ia tahu, Dion telah membalas semua rasa takut dan penghinaan yang ia telan selama ini.

Dion memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Ia menoleh ke arah Barra.

“Bar,” ucapnya tenang, “lebih baik kamu pulang dan langsung ke rumah sakit. Wajahmu perlu dirawat.”

Ia menghela napas pelan.

Barra tersenyum pahit dan menggeleng.

“Tidak perlu,” jawabnya lirih, “aku… tidak punya uang.”

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan suara pelan namun jujur.

“Ayahku hanya tukang bangunan. Ibuku ibu rumah tangga. Adik perempuanku masih kelas satu SMP.”

“Kalau harus ke rumah sakit… itu tidak mungkin.”

Ada rasa malu di matanya, bercampur keputusasaan yang sudah terlalu lama ia pendam.

“Kau tidak perlu memikirkan uang,” jawab Dion tanpa ragu. “Aku akan memberikannya padamu.”

Barra terkejut.

“Ti-tidak…!” katanya cepat. “Kau tidak perlu sejauh itu. Aku sudah sangat bahagia kamu mau jadi temanku… dan membalas dendamku.”

Ia menatap Dion dengan tulus. “Aku yakin… setelah ini, orang itu tidak akan berani menggangguku lagi.”

“Tidak apa-apa,” kata Dion pelan namun tegas. “Aku ingin membantumu. Jangan menolak rezeki.”

Barra terdiam.

Tatapannya melembut, matanya sedikit berkaca-kaca. Dalam hidupnya, jarang, bahkan hampir tidak pernah, ada orang yang berbicara kepadanya seperti itu, tanpa pamrih.

“Baik…” ucapnya akhirnya, “terima kasih, Dion.”

Dion mengangguk kecil.

“Berikan nomor rekeningmu.”

Barra menyebutkannya pelan. Dion menghafalnya seketika.

Di dalam benaknya, ia memberi perintah singkat.

'Sistem, transfer lima puluh ribu rupiah kepadanya.'

Ding.

[Mentransfer 50.000 rupiah ke rekening atas nama Barra Swargantara, berhasil.]

Hologram berlapis emas muncul samar di sisi Dion, lalu menghilang kembali.

Ting.

Ponsel Barra bergetar.

Ia mengambilnya dengan tangan gemetar, membuka layar, dan matanya langsung membelalak.

“Li-lima puluh ribu…?!”

“Itu… itu kebanyakan!!”

Ia menatap Dion dengan wajah tak percaya.

“Gunakan dengan bijak,” jawab Dion santai.

“Kau tidak perlu mengembalikannya.”

Nada suaranya datar, seolah jumlah itu tak berarti apa-apa.

“Di-Dion…” suara Barra tercekat. “Terima kasih…!”

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Dion hanya berdehem pelan dan mengangguk singkat.

“Hm.”

Suasana di dalam UKS perlahan berubah. Ketegangan yang sebelumnya menyelimuti ruangan itu memudar, digantikan kehangatan yang sederhana namun nyata.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Barra membuka suara lagi, kali ini ragu-ragu.

“Dion…”

“Aku… aku sangat berterima kasih padamu.” Ia menelan ludah. “Dan… aku punya satu permintaan yang sangat egois.”

Dion bersandar lebih dalam ke kursi, memejamkan mata dengan santai.

“Permintaan?”

“Apa itu?”

Barra mengepalkan selimut tipis di tangannya.

“Aku tahu kamu sangat kuat,” katanya pelan.

“Bi-bisakah… kau mengajariku?”

Ia menarik napas, suaranya bergetar namun tekadnya jelas.

“Aku tidak ingin terus seperti ini.”

“Aku ingin menjadi kuat… dan membantu orang-orang yang ditindas. Seperti kamu membantuku.” Kata-kata itu jatuh berat.

Dion terdiam.

Pikirannya berputar. Tentang kekuatan. Tentang pilihan. Tentang arah yang mungkin akan ia ambil.

Dan tepat saat itu.

Ding.

Sebuah hologram emas muncul di hadapannya, lebih terang dari sebelumnya.

[Fungsi Ketiga terdeteksi.]

[Apakah Anda ingin mengaktifkannya?]

Mata Dion sedikit membelalak, ia menatap cahaya emas itu dalam diam. Di depannya, Barra menunggu jawaban. Dan di benaknya, sebuah jalan baru mulai terbuka.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!