Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Kamu Seorang
Radit memarkirkan mobilnya di depan rumah kontrakan mungil Tasya. Dengan memakai payung, ia berdiri di pagar rumah lalu menekan bell.
Tak lama menunggu, Tasya keluar dengan memakai payung untuk membukakan pintu Radit. Ia menyambut Radit dengan senyum lebar dan mata yang bengkak sehabis menangis. "Masuklah!"
Tasya mengajak Radit masuk ke dalam rumah kontrakan mungilnya. "Maaf ya kalau rumahku kecil dan agak kotor. Duduk dulu, Dit. Aku buatkan minum dulu ya."
Baru saja Tasya hendak pergi ke dapur untuk membuatkan minum Radit, ia dikejutkan dengan apa yang Radit lakukan. Lelaki tampan itu secara tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kangen."
Tasya tertawa kecil. Sikap manja Radit seakan menjadi penghibur segala gundah gulananya. "Baru semalam kita bertemu loh!"
"Iya tahu, tapi kalau kangen gimana dong?" Radit menaruh kepalanya di bahu Tasya. "Memang kamu tidak kangen sama aku?"
"Kangen juga dong," jawab Tasya sambil tersenyum.
Radit diam sejenak, ia memikirkan apa yang akan ia katakan selanjutnya, takut melukai perasaan Tasya yang saat ini pasti sedang bersedih. "Aku cuma mau bilang, kamu itu wanita kuat dan hebat. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini."
Hal manis seperti inilah yang membuat Tasya jatuh hati pada Radit. Bukan hanya baik dan suka menolong, Radit memiliki sisi perhatian yang benar-benar tulus, hal yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Ia tahu kalau Tasya sedang bersedih, maka tanpa disuruh dia akan datang untuk menghiburnya.
"Terima kasih banyak ya, Dit. Kamu sangat perhatian sama aku. Kamu tahu, perhatianmu ini begitu berarti buatku, membuatku merasa kalau aku tidak sendirian di dunia ini." Tasya mengusap dengan lembut tangan Radit yang sedang melingkar di pinggangnya. "Aku senang sekali saat ada orang lain yang mengkhawatirkan keadaanku dan orang itu... hanya kamu seorang."
"Masa sih hanya aku?" Radit menatap Tasya dari sisi samping. Hidung mancung Tasya begitu mempesona, ditambah pipinya yang merona merah. Radit memutar tubuh Tasya, mereka kini berhadapan, saling menatap dengan tatapan kagum dan penuh cinta.
Radit mengusap dengan lembut bekas air mata di bawah mata Tasya. "Jangan suka menangis sendiri ya mulai sekarang. Aku mau, kamu mencariku saat kamu rapuh. Ceritakan padaku semua hal yang kamu alami, karena aku akan menjadi orang pertama yang tersenyum lebar saat kamu sedang bahagia." Radit menatap dengan lekat, ia mau meyakinkan Tasya, bahkan sekejam apapun dunia di luar sana, akan selalu ada Radit yang melindunginya.
Air mata Tasya kembali menetes. Bukan karena sakit hati namun karena terharu. "Beberapa jam lalu, aku keluar dari rumah mertuaku dengan hinaan seolah aku ini sampah yang tak berharga. Sekarang, saat ini tepatnya, kamu membuatku menjadi manusia paling dihargai. Semua ini bak mimpi untukku. Aku bahkan tak mau membuka mata karena takut mimpi ini akan menjadi sekedar bunga tidur semata."
Radit menarik Tasya ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Kamu bukan sampah, ingat itu. Tak ada sampah seindah dirimu. Bahkan bunga pun salim dan mengakui keindahanmu dibanding dirinya sendiri. Suamimu dan keluarganya tak tahu cara menjagamu yang amat berharga, tapi aku tahu."
.
.
.
Lokasi: Rumah Ibu Welas.
Setyo duduk di atas kursi rodanya dengan tatapan kosong. Ia menatap kamar pembantu yang kini tak berpenghuni. Semua barang milik Tasya sudah ia bawa pergi, menyisakan kamar berantakan yang sengaja ia tinggalkan begitu saja demi membuat Ibu Welas makin kesal.
"Mas, sejak tadi aku perhatikan Mas Setyo duduk di sini saja. Kenapa, Mas? Butuh teman cerita?" Sisca jongkok di samping kursi roda Setyo, tangannya sengaja ia taruh di atas tangan Setyo sambil sesekali ia usap dengan lembut.
"Aku masih tak bisa percaya kalau Tasya benar pergi dari rumah ini, Sis. Dia... tak mengindahkan laranganku. Pergi tanpa menoleh ke belakang." Setyo tersenyum sinis. "Benar-benar aku tak berharga lagi di hadapannya."
"Kata siapa sih Mas Setyo tak berharga?" Sisca menyentuh wajah Setyo dengan tangan lembut dan harum miliknya. Ia sengaja memakai body lotion dan parfum yang agak banyak demi menarik perhatian Setyo. "Mas terlalu berharga. Mbak Tasya saja yang tidak bersyukur."
Sisca menatap Setyo dengan lekat. Setyo balas menatap Sisca. "Iya, benar. Tasya yang tidak bersyukur dengan semua yang kami miliki. Andai dia mau menurunkan gengsi, ia seharusnya berterima kasih pada Ibu. Biaya terapi dan obat yang tidak dicover asuransi sangat besar, semua Ibu yang biayai. Bahkan Ibu yang mengurus mobilku yang rusak. Tasya mana mau peduli? Yang ada di otaknya hanya Dicky dan Dicky. Aku selalu dinomorduakan!"
"Mas benar. Tante Welas sudah sangat baik namun Mbak Tasya tak pernah bersyukur memiliki mertua sebaik Tante Welas. Semula aku berusaha bersikap netral, namun melihatnya terus membangkang membuatku semakin yakin kalau Mbak Tasya sudah terlalu besar kepala. Apa mungkin karena Mas Setyo terlalu mencintainya?" Sisca semakin memanasi Setyo.
Setyo menghela nafas dalam. "Dulu Tasya tidak begitu, Sis. Apa lelaki dalam foto itu yang membuat Tasya berubah?"
Sebuah ide gila melintas di otak Sisca. Ibu Welas sedang pergi belanja. Ia terlalu kesal dengan apa yang Tasya lakukan dan memutuskan untuk shopping demi menghilangkan kekesalan hatinya. "Mungkin saja, Mas. Apa lelaki itu hebat di atas ranjang ya?"
Setyo menatap Sisca dengan tajam. "Apa maksudmu? Kamu mau mengatakan kalau aku impoten dan tak bisa memuaskan Tasya, gitu?" Setyo langsung terbakar emosi.
"Bu-bukan begitu maksudku, Mas. Tenang dulu ya, Mas. Aku tak ada niat menyinggung hal itu. Aku hanya menyampaikan kecurigaanku." Sisca menyiramkan bensin agar emosi Setyo semakin besar. "Sebenarnya... ah, lupakan saja, Mas."
Setyo menyipitkan matanya, keningnya berkerut dalam. "Sebenarnya apa? Apa yang kamu sembunyikan?"
"Aku takut mengatakannya, Mas." Sisca membuat Setyo makin penasaran.
"Katakan saja, jangan membuatku makin kesal!" Setyo benar-benar sudah masuk dalam jebakan Sisca.
"Sebenarnya... waktu itu aku tak sengaja mendengar Mbak Tasya sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Mbak Tasya bilang..."
"Apa? Bilang apa?" Setyo makin tak sabaran.
"Mbak Tasya bilang, dia kesepian, semua karena Mas Setyo tak bisa memuaskannya. Aku tak percaya, karena itu kemarin aku memeriksanya sendiri. Mas Setyo tidak ada masalah-"
"Tasya bilang begitu? Kurang ajar! Istri macam apa yang menyebarluaskan kekurangan suaminya di ranjang pada orang lain?" Setyo semakin panas saja. Ia merasa terhina. Penyesalan karena Tasya pergi dari rumah berganti menjadi rasa amarah karena dihina.
"Mas, tenang dulu ya. Kalau Mas emosi, bagaimana Mas bisa membuktikan kalau ucapan Tasya salah?" Sisca menangkup wajah Setyo lalu menatapnya dengan lekat. "Mas harus buktikan kalau semua itu tidak benar."
"Tentu. Aku akan buktikan!"
Sisca perlahan bangkit, ia berjalan pelan dan berhenti di belakang kursi roda Setyo. Ia membisikkan sesuatu di telinga Setyo, "bagaimana cara membuktikannya, Mas? Mbak Tasya sudah pergi, Mas butuh seseorang yang bisa membuktikan kalau Mas adalah laki-laki sejati. Seseorang yang akan benar-benar menghargai kejantanan Mas."
Setyo mendongak, pertahanan iman yang selama ini ia jaga, kalah dengan rasa ego. Ia tak mau kalah. Tak mau dianggap tidak jantan. "Kamu mau membantuku, Sis?"
***
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
ehhhh siapa tuh cewek ujug2 minta transferan
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
apakah itu Radit yg datang yaaa uhhhh.makin panas dong
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
dicky tentu kau sangat menyayangi papamu...
Sisca kesempatan terus ngompor2in Setyo
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️