NovelToon NovelToon
CEO'S Legal Wife

CEO'S Legal Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: salza

Leora Alinje, istri sah dari seorang CEO tampan dan konglomerat terkenal. Pernikahan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari perjanjian orang tua. Di awal, Leora dianggap tidak penting dan tidak diinginkan. Namun dengan ketenangannya, kecerdasannya, dan martabat yang ia jaga, Leora perlahan membuktikan bahwa ia memang pantas berdiri di samping pria itu, bukan karena perjanjian keluarga, tetapi karena dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

day 2 - Prancis

Kereta TER melaju tenang meninggalkan Strasbourg. Di dalam gerbong, suasananya hangat dan cukup lengang. Leora duduk di sisi jendela, memperhatikan ladang-ladang hijau yang bergeser perlahan.

Leonard duduk di sampingnya, membuka jas sedikit, menyandarkan punggung. Ia menoleh sebentar ke arah Leora.

“Dingin?” tanyanya ringan.

Leora agak terkejut.

“Sedikit.”

Leonard meraih syal tipis dari tasnya dan menyerahkannya tanpa banyak bicara.

“Pakai.”

Leora menerima sambil tersenyum kecil.

“Kamu tuh sebenarnya perhatian, cuma nggak mau kelihatan.”

Leonard mengangkat bahu.

“Gak usah GR”

Leora terkekeh.

“Ilihh bilang aja kalau udah mulai suka sama gue.”

Pemandangan di luar semakin hijau. Leora kembali bersuara.

“Kamu nggak pernah cerita kenapa milih Colmar.”

Leonard menatap ke depan beberapa detik, lalu menjawab santai,

“Disini tenang, banyak orang kaya yang berlibur kesini”

“Kamu suka ketenangan ya ,Leonard?”

“Iya.”

Leonard menoleh padanya. “Aku hidup terlalu cepat. Jadwal, rapat, keputusan. Di tempat kayak gini, aku nggak harus mikir sepuluh langkah ke depan.”

Leora terdiam sejenak, lalu bersandar.

“Itu pertama kalinya kamu ngomong sepanjang itu soal diri kamu.”

Leonard tersenyum tipis hampir tak terlihat.

“Suka-suka gue”

Pengumuman Colmar terdengar. Mereka turun bersama.

Begitu keluar stasiun, Colmar menyambut dengan rumah-rumah kayu warna lembut, balkon penuh bunga, dan kanal kecil yang mengalir tenang. Kota itu terasa hangat, seperti lukisan yang hidup.

Leora berhenti.

“Tempat ini kayak nggak punya niat bikin orang buru-buru.”

Leonard berdiri di sampingnya.

“Makanya aku pilih.”

Leora menoleh.

“Kamu beneran mikirin ini buat kita?”

Leonard menarik napas pelan, lalu akhirnya berkata lebih panjang dari biasanya:

“Leora, aku nggak pandai jadi orang yang kelihatan romantis. Aku juga nggak tahu cara ngomong yang manis. Tapi lima hari ini… aku pengin kita jalan tanpa tekanan. Tanpa ekspektasi orang lain. Tanpa harus jadi siapa-siapa. Kalau kamu senang, aku ikut. Kalau kamu capek, kita berhenti. Aku mungkin kelihatan cuek, tapi bukan berarti aku nggak peduli. Aku cuma… belajar pelan-pelan.”

Hening sesaat.

Leora menatapnya, matanya lembut.

“Kamu nggak perlu jadi siapa-siapa, Leonard. Jadi kamu aja cukup.”

Leonard mengangguk kecil.

“Kita jalan?”

Leora tersenyum.

“Ayo.”

Mereka melangkah menyusuri kanal Colmar, bahu hampir bersentuhan. Tidak banyak kata, tapi kali ini tidak ada jarak.

Pintu Musée Unterlinden terbuka pelan. Udara di dalam terasa lebih sejuk, tenang, dengan cahaya lembut yang jatuh ke dinding batu tua bekas biara.

Leora melangkah masuk lebih dulu, matanya langsung berkeliling.

“Tempatnya adem banget.”

Leonard mengangguk sambil melirik sekeliling.

“Bekas biara. Jadi wajar.”

“Oh, Tuan Pemandu sudah siap rupanya.”

Leonard menyerahkan tiket ke petugas.

“Sedikit baca sebelum masuk.”

Leora menatapnya.

“Jarang-jarang kamu mau ‘sedikit baca’ soal liburan.”

“Kalau nggak, kamu pasti nanya terus.”

“Ketahuan.”

Mereka berjalan pelan menyusuri lorong pertama. Lukisan-lukisan tua berjajar rapi, suasananya hening tapi nggak bikin canggung.

Leora berhenti di depan satu lukisan.

“Ekspresinya serius banget. Kayak kamu kalau lagi di kantor.”

Leonard melirik sekilas.

“Kerjaan kantor makin hari makin numpuk, aku butuh istirahat Leora”

Leora terkekeh.

“Kok bisa gitu sih komentarnya.”

Leonard mengangkat bahu.

“Aku jujur.”

Di ruang berikutnya, mereka berdiri di depan karya seni religius yang besar.

“Ini yang terkenal banget,” kata Leora pelan.

“Isenheim Altarpiece.”

Leonard menatapnya beberapa detik.

“Detailnya banyak.”

“Terus?”

“Capek bikinnya.”

Leora menoleh.

“Itu pujian versi kamu lagi?”

“Iya.”

Leora tertawa kecil.

“Lucu juga ya, kita ke museum tapi komentar kamu selalu soal ‘capek’ dan ‘repot’.”

Leonard menatap lukisan itu lagi.

“Karena aku mikir pembuatnya. Bukan hasil akhirnya doang.”

Leora terdiam sesaat, lalu tersenyum.

“Kamu tuh aneh, tapi menarik.”

“Terima kasih… kurasa.”

Mereka duduk sebentar di bangku kayu di tengah ruangan.

Leora menyandarkan punggung.

“Argh, Amboi capeknya. Duduk bentar sini. ”

Leonard menoleh.

“Baru juga.”

“Ya maaf, aku manusia.”

Leonard menggeser duduknya sedikit, bahunya nyaris menyentuh Leora.

“Sepuluh menit. Habis itu lanjut.”

Leora menatapnya.

“Deal.”

Hening sebentar.

Leora berbisik,

“Leonard.”

“Hm?”

“Aku senang kamu mau ikut ke tempat kayak gini.”

Leonard menatap lurus ke depan.

“Aku nggak keberatan.”

“Itu juga pujian?”

Leonard tersenyum tipis.

“Kalau kamu mau anggap begitu.”

Mereka bangkit lagi.

Leonard menunjuk satu patung kecil.

“Yang itu menarik.”

Leora mendekat.

“Kamu duluan yang nunjuk, wah… kemajuan.”

Leonard menoleh sekilas.

“Jangan dibesar-besarkan.”

Leora tertawa pelan, lalu meraih lengan jas Leonard secara refleks.

“Tenang aja. Aku tau kamu pasti juga masih berusaha move on dari Jaesica kan? ”

Leonard tidak menarik lengannya.

“Bagus.”

--------

Café kecil di dekat Unterlinden Museum itu nggak terlalu ramai. Leora berdiri di samping Leonard di depan counter, membaca menu yang ditulis dengan kapur.

“Hmmm… cappuccino atau latte?” gumam Leora.

Leonard melirik menu sekilas.

“Cappuccino aja. Kamu biasanya itu.”

Leora menoleh.

“Kok kamu hafal?”

Leonard mengangkat bahu.

“Kebiasaan.”

“Itu jawaban andalan kamu ya,” Leora terkekeh.

Leonard memesan dulu.

“Deux cafés. Un espresso, un cappuccino.”

Leora meliriknya.

“Logat kamu kaku banget.”

“Yang penting dimengerti.”

Barista tersenyum sopan, lalu pergi menyiapkan pesanan.

Mereka menunggu di samping counter. Leonard mengeluarkan ponsel, berniat mengecek pesan tapi layar langsung menyala menampilkan panggilan masuk: Ibu.

Leonard langsung mengernyit.

“…Kenapa sih.”

Leora langsung nyengir.

“Angkat dong.”

Leonard mengangkat video call dengan ekspresi setengah pasrah.

Layar menampilkan Ibu Minjae rambut rapi, lipstik on point, background rumah terang.

“LEONAAARRD~”

Suaranya nyaring dan penuh energi.

Leonard refleks menjauhkan ponsel sedikit.

“Ibu, pelan.”

“Eh kamu jangan cerewet! Ibu lagi bahagia!”

Mata Minjae menyipit curiga. “Kamu di mana?”

“Di Prancis.”

“TAHU.”

Minjae langsung mendekat ke kamera.

“Mana menantu kesayangan Ibu??”

Leonard mendesah.

“Sebentar.”

Ia menggeser kamera ke arah Leora.

Leora langsung senyum manis.

“Halo Ibu~”

“YA AMPUNNN~”

Minjae hampir menjerit.

“Leoraaa! Cantik banget kamu! Itu aura LIBURAN ya? Bukan aura kerja kayak anak Ibu!”

Leonard memejamkan mata sebentar.

“Ibu…”

“Kamu diam.”

Minjae menatap Leora penuh cinta.

“Kamu lagi di café? Astaga romantis sekali. Leonard kamu traktir kan?”

Leonard menjawab cepat.

“Iya. Liburan.”

Minjae menatapnya curiga.

“Kok kamu jawabnya cepat sekali?”

“Karena memang begitu.”

Leora menahan tawa.

“Leora, kamu difoto dong sama Leonard,” lanjut Minjae antusias.

“Ibu mau lihat. Pasti anak Ibu itu mukanya kaku, kamu yang bikin hidup.”

Leonard langsung protes.

“Bu. Tidak.”

“LEONARD.”

Nada Minjae tegas. “Ini LIBURAN. Bukan rapat direksi.”

Leora tertawa kecil.

“Nanti ya Bu.”

Minjae puas.

“Bagus. Oh ya, Leonard… kamu jangan dingin-dingin sama istri orang.”

Leonard mengernyit.

“…Istri aku.”

“Makanya dijaga.”

Minjae tersenyum puas ke Leora.

“Ibu titip dia ya, Leora. Anak Ibu ini kaku tapi hatinya nggak jahat.”

Leonard memalingkan wajah.

“Kenapa sih dibahas di depan aku.”

Leora menjawab lembut,

“Nggak apa-apa, Bu. Aku sudah terbiasa.”

Minjae tertawa puas.

“Syantik~ ya sudah. Ibu nggak ganggu. Liburan yang bener! Kirim foto. Kalau nggak ada foto berdua, Ibu telpon lagi.”

Leonard cepat menutup panggilan.

“Ibu lebay.”

Leora tertawa sambil mengambil kopinya.

“Ibu kamu seru.”

Leonard duduk, menyeruput espresso.

“Terlalu seru.”

“Tapi keliatan sayang banget.”

Leonard melirik Leora sebentar.

“…Iya.”

Leora tersenyum, mengaduk cappuccino-nya.

Leonard menghela napas pendek.

“Dan aku jadi korban.”

Leora terkekeh.

“Kasihan.”

Leonard menatapnya, cuek tapi santai.

“Kamu senang?”

Leora mengangguk.

“Banget.”

Leonard menyesap kopi lagi.

“Ya sudah.”

Dan pagi di Colmar terasa makin hangat.

----------

Selesai ngopi, Leora berdiri lebih dulu di depan café.

“Ini nih, spotnya bagus.”

Leonard menoleh.

“Kamu mau foto lagi?”

“Bukan aku,” jawab Leora santai.

“Kita.”

Leonard mendesah kecil.

“Satu.”

Leora cepat-cepat menyerahkan ponsel ke pelayan café yang kebetulan lewat. Mereka berdiri berdampingan. Leora refleks sedikit mendekat, Leonard tetap tegap, tangan di saku jas.

“Udah?” tanya Leonard.

“Sebentar… jangan kaku amat.”

Klik.

Cukup satu. Leonard langsung menarik jarak.

“Udah.”

Leora cek hasilnya sambil senyum puas.

“Bagus. Mama kamu pasti seneng.”

Leonard memalingkan wajah.

“Jangan bahas itu.”

---

Mereka kembali duduk. Kopi Leora tinggal setengah. Ia mengaduknya pelan, sendok kecil beradu halus dengan cangkir.

“Kamu tahu nggak,” Leora tiba-tiba buka suara, “aku tuh dari kecil nggak pernah mikir soal ‘cukup’.”

Leonard menoleh, kali ini benar-benar mendengarkan.

“Keluarga aku… keluarga Damian,” lanjut Leora ringan, tapi nadanya pelan.

“Hidup kami selalu dikelilingi harta. Rumah besar, acara besar, orang-orang hormat. Ayah sama ibu aku manja banget ke aku. Apa pun ada. Apa pun gampang.”

Leonard diam.

“Tapi justru karena itu,” Leora tersenyum kecil, “aku jarang diajarin soal kehilangan.”

Tangannya berhenti mengaduk.

“Ibu aku meninggal waktu aku dua belas,” ucapnya, tenang tapi jujur.

“Penyakit jantung. Cepat. Tiba-tiba.”

Leonard menatap cangkirnya, rahangnya mengeras.

“Sejak itu aku baru ngerti,” lanjut Leora, “uang nggak bikin orang kebal sama kehilangan. Dan ayah aku… meski tetap kuat di luar, dari situ aku tahu, bahkan keluarga yang disegani pun bisa runtuh diam-diam.”

Hening sebentar.

Leonard, tanpa sadar, mengulurkan tangan. Ujung jarinya mengelus rambut Leora perlahan gerakan refleks, lembut, penuh perhatian.

“Kamu tumbuh dengan banyak hal,” katanya pelan, hampir berbisik,

“tapi juga kehilangan yang nggak kecil.”

Leora terdiam. Ia menoleh perlahan, matanya turun ke tangan Leonard di rambutnya.

Lalu… senyumnya berubah.

Senyum jail. Nakal. Hampir seperti iblis kecil.

“Cielahhh,” ucapnya menggoda.

“Peduli lo sama gue? Ututututu~”

Leonard tersentak.

Tangannya langsung ditarik.

Ia berdehem, duduk tegak lagi, ekspresinya kembali datar.

“Jangan ge-er,” katanya cuek.

“Itu refleks.”

Leora tertawa kecil, puas.

“Iya iya. Refleks.”

Leonard menyeruput espresso-nya, pura-pura fokus.

Padahal di dalam hati

ada sesuatu yang bergerak pelan.

Bukan iba.

Bukan kasihan.

Sebuah keinginan sederhana yang bahkan ia sendiri belum siap mengakuinya:

melindungi apa yang masih tersisa di diri Leora.

Leonard bangkit.

“Kalau sudah, kita jalan lagi.”

Leora ikut berdiri, masih tersenyum.

“Siap, Tuan Refleks.”

Leonard tidak menanggapi.

Tapi langkahnya kali ini

sedikit lebih pelan, memastikan Leora sejajar di sampingnya.

---

1
Nana Colen
iiiih sweet deeeh 😍😍😍
dika edsel
suka..,sukses ya thor, cusss..bintang lima poryu..
Linda Widiawati
bagusss
Nana Colen
uuuuh manisnya dunia novel 😍😍😍😍
Nana Colen
cerita yang maniiiiis 🥰
pamelaaa
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!