Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal baik ditengah lautan luka
Semenjak kejadian diperpustakaan itu, Faisal benar benar menghilang dari pandangan Aruna. Ia tak lagi muncul disekitar area yang biasa di diami Aruna, mulai dari ruang tu, ruang OSIS, Perpustakaan dan kantin. Jaket parasut yang selama ini menjadi perisainya kini tergantung rapi di lemari, digantikan dengan seragam rapi lengkap dengan atribut sekolah.
Faisal tidak pernah bolos lagi, ia datang paling pagi. Bukan untuk membuat masalah, melainkan untuk belajar. Ia menghabiskan seluruh energi cemburu dan penyesalan yang membara untuk menaklukkan setiap mata pelajaran yang ia anggap sulit.
Targetnya kini bukan hanya sekedar lulus, melainkan lulus dengan predikat siswa terbaik. Faisal menghabiskan waktu sore nya diperpustakaan umum, ditengah kota. Jauh dari pandangan Aruna. Ia memecahkan soal soal entah itu fisika atau kimia dengan benar dan cepat. Setiap rumus yang ia kuasai terasa seperti batu bata yang ia gunakan untuk membangun kembali dirinya dari puing puing kekalahan.
Motto nya kini sederhana.
- Jika aku tak bisa menjadi pria yang layak dipercaya, setidaknya aku akan menjadi pria yang layak sukses.
Ia bahkan mulai bergaul dengan beberapa anak kutu buku, yang kini memandangi Faisal dengan rasa hormat yang aneh.
" Ini kak Faisal yang anggota geng itu kan ya?" Ucap gadis lugu sambil membenarkan kacamatanya.
" Dulu iya, sekarang udah ngga! " Faisal tersenyum.
" Salam kenal kak, aku Devina. Adik kelas kakak waktu smp." devisa mengulurkan tangan untuk berjabat.
" Oh iya, salam kenal ya. Devina, kamu pulang sama siapa? Mau bareng aku ga? " Tanya Faisal.
" Boleh kak, tapi....."
" Tapi apa?" potong Faisal.
" Rumah aku jauh dari sini." ucap Devina, suaranya tertahan.
" Oh yaudah gapapa, santai aja. lagian ini udah mau malem, bahaya kalo kamu pulang sendirian." ucap Faisal sambil berusaha berdiri dan melangkah menuju parkiran.
" Aduh, aku ga bawa helm dua lagi. Kamu gapapa ga pake helm? "
" Gapapa kak, aku bawa topi kok." ucap Devina sambil berusaha naik ke jok belakang motor Faisal.
" eh iya kak, btw pacar kakak ga akan marah kalo dia liat kita berduaan kaya gini? " Tanya Devina.
" Pacar aku.... hmmm kayanya bakalan marah sih. Tapi tenang aja, dia lagi ga disini."
Devina mengangguk lega.
Beberapa jam kemudian, Faisal tiba dirumah Devina yang berada di sebuah area perumahan elit.
" Makasih banyak kak, mau mampir dulu? " Ucap Devina.
" Gausah, makasih sebelumnya. Aku langsung pulang aja, masih ada urusan yang lain." Faisal memutar balik motornya.
" Kak tunggu, aku boleh minta nomer kakak? " Devina menyodorkan ponselnya.
Faisal mengambil ponsel Devina, mulai mengetik nomernya. Lalu menyodorkannya kembali.
" yaudah aku duluan ya!"
" Sekali lagi makasih banyak ya kak." Ucap Devina sambil tersenyum.
Faisal hanya mengangguk dan bergegas pergi.
Sesampainya dirumah ia mengecek ponselnya, ada sedikit harapan saat ia membuka pesan, berharap ada pesan singkat dari Aruna yang menanyakan kabarnya. Tapi tak ada, ia kembali mematikan ponselnya dan berbaring di ranjang melepas lelah. Saat matanya mencoba terlelap, sebuah nada dering pesan memecah keheningan. Ia bergegas bangkit mengecek notifikasi," Bukan Aruna, nomernya asing. "
Hy, kak ini Devina , save ya nomerku .
Faisal hanya membalasnya singkat.
Iya.
Dibalik kesibukan yang terstruktur itu, ada dinding pertahanan yang ia bangun. Setiap kali ia mendengar nama Aruna disebut, atau melihat senyumnya yang dipajang di majalah dinding dengan ucapan terima kasih dari pihak sekolah karena prestasinya, Faisal hanya bisa menundukkan kepala. Memaksa dirinya untuk fokus terhadap hal hal baik dihidupnya, Aruna adalah masa lalu, dan masa depan Faisal terlalu mahal untuk dirusak oleh sebuah masa lalu.
Sementara Aruna, ia mengambil jalur lain yang berlawanan. Setelah sukses menghilangkan beban kesedihan di hidupnya, Aruna merasa ia pantas mendapatkan kedamaian. Arya yang selalu ada, perlahan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Faisal. Hubungan mereka bergeser dari seorang teman, menjadi lebih intim. Arya adalah definisi pacar idaman bagi Aruna yang lelah dengan drama.
- Arya selalu menelpon tepat waktu, tak pernah membiarkan Aruna menunggu.
- Arya selalu mengajaknya kencan ditempat berkelas dan tenang, bukan warung kopi dengan musik yang memekakkan telinga.
- Arya mendengarkan semua keluh kesah Aruna, soal tugas sekolah maupun kehidupan. Memberikan nasehat yang logis dan dewasa.
Arya adalah pria yang stabil secara emosional. Disamping Arya, Aruna tak perlu meragukan apapun.
" Aku merasa tenang saat bersamamu, Arya." kata Aruna, suatu malam saat mereka duduk di sebuah restoran mewah di tepi danau.
Arya tersenyum lalu menggenggam tangan Aruna.
" Itu tujuanku, Aruna. Aku ga akan pernah memberimu drama yang tidak perlu. Kamu terlalu berharga untuk diberi rasa sakit. "
Sentuhan Arya tidak membakar seperti Faisal, tapi menghangatkan. Sentuhan lembutnya penuh hormat, Aruna menyamankan dirinya dalam kedamaian dan kestabilan ini.
" eh iya, abis dari sini. Anter aku ke toko buku ya,Sal." ucap Aruna pelan, tatapan matanya kosong.
Arya terkejut.
" Sal?"
Aruna tersentak dari lamunannya.
" Maksudku, Arya. Iya... Arya. " ucap Aruna menahan rasa canggung.
" Oh, yaudah. Nanti aku antar." Arya sedikit kesal mendengar nama Faisal disebut. Tetapi ia tak menunjukan nya.
ternyata dia belum benar benar menghapus Faisal dari ingatannya. Gumam Arya
Hubungan mereka menjadi rahasia terbuka yang diterima dengan baik oleh teman teman Aruna. " Akhirnya dia mendapatkan yang selevel." bisik mereka.
Faisal si pembawa masalah, kini hanyalah kenangan pahit yang harus dikubur dalam dalam. Sebuah fase pendewasaan yang emosional, tetapi jauh dalam hatinya. Aruna masih merindukan kehadirannya, masih mengingat dengan jelas aroma khas parfumnya, masih menyukai bagaimana matanya yang berkaca kaca menatapnya dengan perasaan yang terkesan sangat tulus.
Mungkin bagi Aruna, Faisal adalah pembelajaran hidup yang memberinya rasa sakit. Tetapi bagi Faisal, Aruna malah sebaliknya. Ia menjadi energi tambahan positif yang membuat hidupnya lebih berwarna dan bermakna, Faisal masih berharap bisa memulai kembali semuanya dari awal, meski lewat perjuangan yang lebih sakit dari kemarin.
Esok harinya, Faisal tak menikmati libur akhir pekannya dengan bermain. Faisal memilih untuk pergi ke perpustakaan umum, belajar lebih banyak tentang ilmu pengetahuan.
setiba nya diperpustakaan Faisal tak langsung masuk, dia duduk disebuah kedai kecil di trotoar. Memesan kopi favoritnya dan menyalakan satu batang rokok.
Saat sedang asik menikmati rokoknya. Ada suara yang menyapanya dari samping.
" Kak, Faisal? Lagi ngapain disini? " tanya Devina.
Faisal sedikit tersentak.
" Eh Devina, iya nih bosen dirumah makannya kesini nyari buku referensi buat belajar. kamu sendirian? "
" Iya kak, aku sendiri. " jawab Devina tersipu malu.
Faisal menatap wajah Devina, dalam. Lalu tersenyum manis.
" Kenapa kak? Ada yang salah ya sama aku?" tanya Devina sambil mengangkat kedua alisnya.
" Ngga ko, ga ada yang salah. Aku cuma kagum aja liat kamu yang jauh jauh Dateng kesini buat belajar. "
" Iya kak, btw pacar kakak mana? Ko sendirian? "
Faisal tak menjawab, ia hanya menatap Devina dengan tatapan kosong.
" Kak, kak Faisal gapapa? " tanya Devina sedikit keras agar menyadarkan.
" Ehh iya, dia ada dirumahnya. Aku lebih seneng sendirian kalo kesini." Faisal tersenyum berusaha menyembunyikan luka nya.
" Yaudah kak, aku masuk duluan ya! " Devina tersenyum lalu melangkah pergi.
Faisal hanya mengangguk.
Faisal mencoba menepis pikirannya yang selalu tertuju pada Aruna. Tetapi selalu gagal, Aruna masuk terlalu dalam di hati Faisal, hingga Faisal tak bisa mengeluarkannya.