"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Axton, selamat pagi," sapa Maria menyambut Axton yang baru datang di hari yang sudah sangat terang.
Wanita itu hendak menggandeng tangan Axton, namun dengan cepat Axton mengangkat tangannya menghindar, membuat Maria hanya bisa terdiam dan menurunkan kembali tangannya.
Maria tetap mengikuti Axton, dan berucap. "Axton, hari ini aku masak daging tumis kesukaanmu. Aku hangatkan, terus kamu makan ya," ucapnya yang tak mendapat respon sama sekali.
Maria mencengkram tas bekalnya, menatap Axton dengan penuh harap segera direspon. Ia pun tak memiliki keberanian bicara lebih, namun langkahnya tetap mengikuti.
Sampai di lantai kantor Axton berada. Keduanya tetap berjalan, dengan Axton di depan.
"Selamat pagi Pak," sapa Aline bangkit dari tempat kerjanya.
"Lily datang hari ini?" tanya Axton.
"Hadir Pak," jawab Aline cepat.
"Minta dia ke ruanganku," pinta Axton.
"Baik pak."
Sedangkan Maria hanya bisa menggerutu dalam benaknya, mendengar permintaan Axton.
"Lagi, lagi wanita itu!"
Axton melanjutkan langkahnya ke ruangannya, sementara Maria menyerahkan tas bekal di tangannya itu.
"Ini panaskan!" perintahnya.
"Masih menganggap dirimu nyonya, padahal hampir setiap hari kau dipukul," sahut Aline dengan sinis dan penuh ejekan, membuat Maria memandangnya tajam.
"Berani kamu mengatakan itu!" sentaknya. "Aku masih kekasih sah Axton! Dan sudah seharusnya kau melayaniku, pelayan rendahan!" sahutnya tajam.
Aline memutar bola matanya malas, "Maaf ya nyonya, saya harus mengerjakan perintah Pak Axton yang sangat banyak, tidak ada waktu meladeni permintaanmu!" ucapnya dengan nada mengejek.
Ia lalu mengambil ponselnya melakukan panggilan di lantai bawah untuk menyampaikan pesan Axton tadi.
Maria menggeram, menyentakkan kakinya. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia mengambil kembali tas bekalnya itu dan membawanya ke pantri.
**
Beberapa menit menunggu, Lily datang dengan seragam cleaning service, dan mendorong troli yang penuh alat-alat kebersihan.
"Tinggalkan saja itu, temui Pak Axton dulu," sahut Aline saat Lily berada di depannya.
Lily mengangguk tanpa menyahut. Ia melepaskan sarung tangannya lebih dulu.
Lily mendorong pintu yang sudah sedikit terbuka. Namun, saat itu juga ia mendengar suara teriakan Maria di dalam sana.
"Akh, sakit Axton. Maafkan aku, maaf."
Lily mendorong pintu itu lebih lebar, dan kini melihat Axton yang sedang mencengkram leher Maria.
Melihat Lily datang, Axton melepaskan cengkramannya.
"Pengganggu! Pergi sana!" sentaknya mengusir Maria.
Tanpa mengatakan apapun, Maria berbalik dan pergi dari sana, tak lupa memberi Lily tatapan tajam.
Lily tidak menggubris, melanjutkan langkahnya mendekati Axton yang terdiam menunduk.
"Hal gila apa lagi yang mau kamu katakan?"
Axton tak langsung menjawab. Ia mengambil dan membuang nafas panjang selama beberapa detik.
Setelah cukup tenang, Axton menatap Lily sembari mengulum senyum lembut.
"Mati bicara hati ke hati ya," pintanya lembut.
Lily tak menjawab. Namun, wajahnya menampakkan ekspresi malas.
"Duduk dulu," ucap Axton mengulurkan tangannya ingin menarik Lily. Namun wanita itu segera menghindar, berjalan lebih dulu ke sofa.
Dengan sabar Axton mengikuti, duduk di seberang meja berhadapan dengan Lily.
"Ly, sebelumnya aku ingin jelaskan kenapa aku tidak ada kabar, dan tidak bisa dihubungi empat tahun kemarin itu," sahut Axton membuka obrolan.
Mendengar apa yang akan dikatakan, membuat Lily berdecak malas.
"Aku tidak ada waktu, mendengar apapun itu Axton!" sahutnya dengan tegas.
Lily bangkit dari duduknya ingin pergi. Namun Axton segera berucap. "Aku tau, kamu pernah hamil anakku. Aku salah, aku minta maaf Ly."
Langkah Lily langsung terhenti. Desiran panas di hatinya, membuat sebuah amarah dan luka yang tak pernah sembuh itu makin menganga.
Tubuh Lily gemetar, tangannya mengepal dengan kuat, dan air matanya menetes membasahi pipi.
"Ini semua gara-gara Pak tua itu. Dia menyita paspor ku, ponselku, dan memblokir panggilan apapun dari sini. Dia juga mengancamku tidak memberikan warisan jika aku gagal memulihkan perusahaan cabang itu. Aku juga perlu kuliah. Aku bukan mengabaikan apalagi melupakan kamu Ly," sahut Axton menjelaskan.
Lily menghela nafas pelan, tak menanggapinya. Ia diam di tempat, dengan air mata yang menetes tanpa mengeluarkan suara.
"Ly, aku melakukan ini, agar bisa menjamin hidupmu nanti. Demi masa depan kita. Aku merindukanmu, sangat. Tapi, aku harus menahannya. Tapi ..., aku benar-benar minta maaf, aku tidak tau apa yang kamu alami dulu," ucap Axton lagi dengan suara bergetar penuh rasa sesal.
Lily mengusap air matanya, berbalik menatap Axton. "Sudahlah Axton, jangan membahasnya lagi. Semuanya sudah berlalu."
"Kalau gitu kita mulai dari awal lagi," sahut Axton cepat.
"Tidak, aku tidak tertarik."
"Ly, aku mohon. Aku juga janji, akan menyelidiki lebih jelas kenapa anak kita meninggal," ucap Axton membuat Lily mencebik, dan air matanya semakin mengalir deras.
Axton mendekat, menyentuh pundak Lily, "Sayang, kamu sedih, kamu marah, kamu terpuruk, tapi aku tidak ada di sana. Aku akan menebus semuanya, ya. Kita mulai dari awal."
"Cukup Axton! Aku tidak mau lagi!" teriak Lily penuh emosi, mendorong Axton menjauh darinya.
"Jangan membahas ini lagi di depanku. Aku tidak mau mendengar apapun lagi!" ucap Lily dengan tegas.
Axton terdiam beberapa saat, menatap Lily yang tampak frustasi dan hancur. Masih banyak yang ingin dia jelaskan, namun terlihat Lily tak mampu mendengar apapun.
"Ly, aku salah, penyelidikanku sebelumnya salah, kamu tidak pernah mengkhianati aku. Aku mohon beri aku kesempatan. Apapun syaratnya, aku akan menebusnya," tutur Axton mencoba bicara lebih pelan memastikan ucapannya tidak mengandung hal sensitif.
"Aku tidak bisa Axton!" teriak Lily.
"Ly, aku ...."
"Aku akan menikah dengan Leon!" potong Lily kembali menggunakan Leon agar pria itu berhenti.
Axton terdiam, memandang Lily dengan ekspresi tidak percaya. Ia menggeleng pelan, dan menjawab. "Leon miliki Lisa, adikmu Ly."
"Dan Lisa mengharapkan aku membesarkan Luna bersama Leon. Aku bisa mematuhi permintaan terakhir itu, jika kau terus seperti ini!" sahut Lily penuh penekanan.
Tubuh Axton bergetar, tangannya mengepal, perasaan tak terima itu, hadir menyiksa batinnya.
Lelah batin dan fisik, membuat Axton tertawa sinis, dan berucap. "Berdasarkan hasil penyelidikan, kamu sudah hamil tiga bulan sebelum aku pergi, kenapa tidak memberitahuku?"
Mendengar itu Lily mendelik kesal. Sikap menyebalkan Axton itu, membuatnya jengkel. "Axton, kamu menyudutkanku! Kamu seolah menyalahkanku atas kematian anakku!" bentak Lily, membuat Axton langsung melunak.
"Maaf."
kalau kamu bahagia dengan yg lain itu rekord loh pasalnya PD CLBK semuheee