Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengapa Tidak Marah?
Sudah seharusnya Casey marah atau juga melabrak Jayden dan Dea saat ini.
Perkataan Dea jelas membuat Casey menyadari satu hal. Pernikahan tanpa cinta ini tak akan bertahan lama. Dan sedari awal Casey sudah mempersiapkan diri apabila Jayden menceraikannya suatu hari nanti.
Akan tetapi, ketika mendengar dari mulut Dea langsung, rasanya Casey seperti tidak dihargai. Apalagi Casey dibuat bingung dengan sikap Jayden selama ini.
"Oh, aku pikir apa," balas Casey kemudian, tanpa emosi.
Casey tak berniat sekali pun menunjukkan cemburu atau marah pada Dea. Casey harus memperlihatkan dia baik-baik saja. Walaupun dadanya terasa sangat perih dan panas.
Dea terbelalak, tak menduga respons Casey datar seperti sekarang.
Kemarin, tepatnya di sore hari, Dea baru saja mendapat informasi dari Indra jika Jayden menikah karena perjodohan.
"Tapi ya Dea, menurutku wajah Casey itu nggak asing deh, kayak pernah lihat di mana gitu, mau aku carikan informasi juga nggak tentang Casey," ucap Indra kemarin, menatap ke atas langit-langit ruang Dea.
"Nggak usah, aku cukup tahu saja, sudah yuk kita keluar absen, jam kerjamu sudah habis kan?"
Dea sama sekali tak menunjukkan kekesalan pada Indra. Padahal dia tersenyum bahagia karena yakin sekali Jayden masih bisa dia rebut kembali. Terlebih, Casey pernah mengatakan Jayden sepupunya. Jika Dea tarik kesimpulan sendiri, keduanya tak mau hubungan mereka terungkap atau lebih tepatnya hubungan Jayden dan Casey memang kurang baik. Maka dari itu, dia harus menelusup ke tengah-tengah Jayden dan Casey, lalu memisahkan mereka.
"Belum, ada yang harus aku kerjakan lagi, aku pergi."
Selepas kepergian Indra, Dea memilih bertemu Jayden di ruang IGD, ingin menunjukkan dia baik-baik saja. Dan secara bersamaan di situlah Casey semalam mendengar suaranya. Dea tanpa sengaja telah membuat hubungan Casey dan Jayden jadi makin rumit.
"Iya, kalau begitu aku permisi dulu." Dea yang bingung. Namun, juga senang dengan sikap cuek Casey memilih melangkah menuju mesin absensi.
Meninggalkan Casey mematung dengan dada terasa sangat perih seperti dihantam bongkahan batu besar.
"Bye dokter Casey." Setelah menempelkan jari telunjuk di mesin fingerprint. Dengan langkah riang, Dea melirik Casey sekilas.
Casey enggan membalas, menatap tajam punggung Dea mulai menghilang dari pandangannya sekarang.
"Sabar Casey, sekarang kau fokus kerja dulu."
Tak lama, Casey pun melanjutkan kegiataannya sebagai seorang dokter.
***
Sama seperti hari sebelum-belumnya, rumah sakit selalu ramai. Casey yang baru saja sembuh terlihat sedikit kewalahan. Sore harinya, dia memilih pergi ke taman, guna mendinginkan perasaannya yang masih tak karuan karena perkataan Dea tadi pagi.
"Fiuh, capeknya ..., eh!"
Baru saja melangkah di antara taman, langkah kaki Casey seketika terhenti, kala melihat ada Elang duduk sambil menunduk di kursi.
Saat menyadari ada kehadiran Casey di sekitar. Elang mengalihkan pandangan.
"Casey ...."
"Hai Elang, bagaimana kabarmu? Apa sudah selesai urusan di rumah sakit?" Casey melempar senyum kikuk, beberapa hari yang lalu dia sempat mendengar Ara, istri Elang telah berpulang.
Dalam suasana hati masih berkabung, Elang pun menjawab dengan nada lemah,"Lumayan baik, iya baru saja selesai."
"Kalau begitu aku per–"
"Tunggu dulu Casey, jangan pergi, aku butuh teman cerita, duduklah di sini," potong Elang cepat.
Casey tak segera membalas, tengah mempertimbangkan ajakan Elang. Namun, melihat wajah Elang yang nampak muram sekarang. Mendadak rasa iba melesak masuk ke dada Casey. Dengan pelan-pelan dia duduk di sebelah Elang, ada jarak yang terbentang di antara mereka. Casey sengaja memberi batasan agar tak menimbulkan kesalahpahaman, jika ada yang melintas di sekitar mereka saat ini.
"Semoga kau bisa menerima kepergian Ara, Ara sudah nggak sakit lagi Lang," ucap Casey, terlebih dahulu membuka suara. Casey ingin segera mengakhiri moment canggung ini.
Elang tak menjawab, lelaki itu memilih diam. Namun, matanya sedari tadi menatap ke arah Casey. Dan Casey merasa sangat tak nyaman.
Casey melempar senyum kaku lalu menoleh ke depan, melihat para manusia berjalan di lorong-lorong rumah sakit.
Tak ada obrolan selama satu menit di antara mereka, Casey makin canggung dan hanya bisa menikmati hembusan angin sore di taman itu, hingga pada akhirnya Casey melirik ke samping seketika.
"Lang aku permisi–"
"Casey, kau mau nggak nikah sama aku?"
"Hah?" Casey mendadak bengong. "Kau ngomong apa barusan?"
"Nikah sama aku, ini permintaan terakhir Ara kemarin,"kata Elang berusaha mengeser bokong, agar lebih dekat dengan Casey.
Casey spontan beranjak dari kursi sambil melototkan mata. Tak habis pikir dengan perkataan Elang barusan. "Jangan gila, kuburan istrimu saja masih basah!" serunya, tanpa sadar.
"Aku serius Casey, yuk nikah, aku sudah duda sekarang, aku tahu kau masih suka sama aku." Sorot mata Elang yang semula sedih kini berubah jadi seperti ingin menerkam.
Casey semakin terkesiap, hendak pergi, tapi Elang tiba-tiba menarik tangannya dan mendekap tubuhnya.
Casey langsung panik, memberontak sambil berteriak,"Elang lepaskan!"
Teriakan Casey membuat semua manusia yang lalu lalang di sekitar memusatkan perhatian ke taman. Semua orang tampak penasaran, sampai-sampai ada beberapa manusia yang berbisik, siapa lagi kalau rekan kerja Casey.
"Aku masih sayang samamu." Elang berusaha mendekap Casey lebih erat lagi.
"Jangan gila, simpan bualanmu itu! Enyah kau dari hadapanku!" pekik Casey sambil mendorong kuat Elang, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah seketika.
"Awh! Casey ...."
"Kau benar-benar gila!" Napas Casey makin memburu, tak ada rasa kasihan lagi yang terpancar dari matanya. "Aku harap kita nggak pernah ketemu lagi Lang, kalau pun kita nggak sengaja ketemu, pura-pura saja kita nggak saling kenal," kata Casey dengan penuh penekanan.
Elang hendak membalas. Namun, Casey sudah terlebih dahulu melengoskan muka, meninggalkan Elang mulai bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit akibat dorongan Casey tadi.
Elang mengedarkan pandangan sejenak, melihat ada banyak pasang mata melihat ke arahnya dan dia tak peduli. Beda Casey menahan malu. Dia pun bergegas pergi dari taman tersebut.
Insiden di taman menjadi buah bibir di kalangan para medis. Dan Casey yang menjadi pemeran utama, memilih tuli dan bersikap masa bodoh.
Malam harinya, tepat pukul delapan malam, ketika sudah pulang ke rumah dan ingin bersiap-siap untuk tidur. Casey dibuat terkejut dengan kedatangan Jayden. Sebab seharusnya Jayden masih ada jadwal di klinik sekarang.
Seharusnya Casey merasa senang, tapi mengapa Jayden menyembul di ambang pintu dengan raut wajah masam.
"Jayden, cepat sekali kau pulang."
Bukannya menanggapi, Jayden malah ....
Brak!
"Jayden!"