Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
Pintu ambulans tertutup dengan bunyi *slam* yang keras. Lampu merah-biru terus berkedip, sirine menjerit membelah jalanan yang mulai ramai. Di dalam ruangan sempit yang berbau antiseptik itu, Raka duduk di sudut dengan tubuh kaku, matanya tidak lepas dari sosok Nadira yang terbaring di tandu.
Dua paramedis bergerak cepat di sekitar tubuh Nadira. Tangan mereka terlatih memasang infus, memeriksa tekanan darah, mengecek detak jantung dengan stetoskop, memasang oksigen dengan masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Tekanan darah drop! 80 per 50!"
"Nadi lemah! Kita harus cepat!"
"Perdarahan eksternal masih berlangsung... siapkan perban!"
Suara-suara itu saling bersahutan, cepat, tegas, penuh urgensi.
Raka hanya bisa duduk di sana, tangan berlumuran darah, darah Nadira terkepal erat di atas lututnya. Tubuhnya gemetar. Napasnya pendek dan tidak teratur.
Matanya menatap wajah Nadira yang pucat pasi. Wajah yang biasanya penuh kehangatan, sekarang dingin, tidak bernyawa. Darah masih mengalir dari pelipis kanannya meski sudah diberi kain perban sementara.
Dan yang paling membuat Raka hancur adalah... Nadira tidak sadarkan diri.
Tidak ada senyuman.
Tidak ada suara lembut yang menyapanya.
Tidak ada lagi.
"Nadira..." bisik Raka dengan suara serak yang hampir tidak terdengar. Air mata terus mengalir tanpa henti. "Kumohon... bertahanlah..."
Salah satu paramedis menoleh sekilas ke arah Raka. "Anda suaminya?"
Raka terdiam.
Suami?
Ia bukan suami Nadira.
Ia bahkan tidak pernah mau menikahi wanita itu.
Tapi sekarang, kata "suami" itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Ya," jawab Raka akhirnya, suaranya bergetar. "Saya... saya suaminya."
Bohong. Tapi ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanya Nadira harus selamat.
Harus.
Paramedis itu mengangguk. "Istri Anda dalam kondisi kritis. Kami akan melakukan yang terbaik. Tapi Anda harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Kemungkinan terburuk.
Kata-kata itu menghantam Raka seperti palu besi.
"Tidak..." gumam Raka, menggeleng pelan. "Tidak... dia harus selamat. Dia harus..."
Tapi paramedis itu sudah kembali fokus pada Nadira, tidak mendengar gumaman Raka yang putus asa.
Raka menatap wajah Nadira lagi. Kenangan-kenangan mulai bermunculan di kepalanya... kenangan yang selama ini ia abaikan, yang ia anggap tidak penting.
Kenangan saat Nadira pertama kali tersenyum padanya tiga tahun lalu.
Kenangan saat Nadira selalu menyiapkan sarapan setiap pagi dengan penuh kasih sayang.
Kenangan saat Nadira mengatakan ia hamil, dan matanya berbinar penuh harapan.. harapan yang kemudian ia hancurkan dengan penolakan demi penolakan.
Kenangan kemarin pagi...
"Kapan kita menikah?"
Suara Nadira yang lembut tapi penuh harap bergema di kepalanya.
Dan apa yang ia lakukan?
Ia menolak. Lagi.
Dengan alasan yang sama. Dengan dingin. Tanpa empati.
Dan tadi pagi... kenapa ia menolak menemani Nadira ke dokter?
Hanya karena ia lelah?
Hanya karena ia ingin berbaring dan bermain ponsel?
Andai saja...
Andai saja ia menemani Nadira pagi tadi.
Andai saja temannya tidak datang dan membuka mulut tentang hal-hal yang seharusnya tidak Nadira dengar.
Andai saja ia tidak mengatakan semua itu.
Mungkin Nadira tidak akan berlari.
Mungkin ia tidak akan menyeberang jalan tanpa melihat.
Mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi.
"Ini salahku..." bisik Raka, suaranya pecah. "Semua ini salahku..."
Air matanya jatuh semakin deras. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar... tangan yang masih berlumuran darah Nadira.
"Maafkan aku... maafkan aku, sayang..." isaknya pelan di tengah suara sirine yang terus meraung.
Ambulans melaju kencang menembus jalanan kota. Sopir ambulans terus membunyikan klakson panjang, meminta kendaraan lain memberi jalan.
Di dalam, suasana semakin tegang.
"Detak jantung tidak stabil!"
"Berikan epinefrin... cepat!"
"Periksa kondisi janinnya!"
Salah satu paramedis meletakkan alat Doppler di perut Nadira yang membuncit, mencoba mendengar detak jantung bayi.
Raka menegang. Matanya membelalak, menatap perut Nadira dengan tatapan penuh ketakutan.
Bayi mereka.
Anak mereka.
Anak yang ia tolak. Anak yang ia katakan tidak pernah ia inginkan.
Tapi sekarang, ketika nyawa anak itu dalam bahaya, Raka merasakan sesuatu yang asing di dadanya... sesuatu yang menyesakkan, sesuatu yang membuatnya ingin berteriak.
Paramedis itu mengerutkan dahi, memindahkan alat Doppler ke beberapa titik berbeda di perut Nadira.
Ekspresinya semakin serius.
"Bagaimana?" tanya paramedis lainnya dengan cepat.
Tidak ada jawaban langsung. Paramedis yang memegang Doppler itu hanya menggeleng pelan, sangat pelan, tapi cukup jelas.
Raka merasakan darahnya membeku.
"Tidak..." bisiknya. "Tidak, tidak, tidak..."
"Kita sudah sampai!" teriak sopir ambulans dari depan.
Ambulans berhenti dengan rem mendadak. Pintu belakang langsung dibuka dari luar. Cahaya terang rumah sakit menyilaukan mata.
"CEPAT! BAWA MASUK!"
Tandu Nadira langsung ditarik keluar. Para medis berlari membawanya masuk ke dalam gedung rumah sakit... melewati lorong putih yang panjang dengan lampu neon terang di atas.
Raka berlari di belakang mereka, napasnya tersengal, matanya tidak lepas dari tubuh Nadira.
"SIAPKAN RUANG OPERASI!"
"PANGGIL DR. ANWAR SEKARANG!"
Suara-suara keras bergema di lorong rumah sakit.
Mereka sampai di depan pintu besar bertuliskan IGD - DILARANG MASUK.
Pintu itu terbuka. Tandu Nadira didorong masuk.
Raka ikut melangkah, tapi tiba-tiba seorang suster menghadang jalannya dengan tangan terangkat.
"Maaf, Pak. Anda tidak bisa masuk. Keluarga harus menunggu di luar."
"Tapi..."
"Pak, kami akan melakukan yang terbaik. Tapi tolong Anda menunggu di luar dan mengurus administrasi dulu. Sekarang."
Raka ingin membantah. Ia ingin masuk, ingin terus berada di samping Nadira.
Tapi pintu IGD sudah ditutup di depan wajahnya.
KLAK.
Suara pintu tertutup itu begitu final.
Raka berdiri di sana, sendirian, di lorong rumah sakit yang dingin.
Tangannya masih berlumuran darah. Baju putihnya penuh noda merah. Wajahnya basah oleh air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Pak? Pak, tolong ikut saya untuk mengurus administrasi."
Suara suster lain memanggilnya dari samping.
Raka menoleh dengan tatapan kosong. "Administrasi?"
"Ya, Pak. Kami butuh data pasien dan..."
"Baik." Raka memotong. Suaranya datar, hampa. "Saya ikut."
Ia berjalan mengikuti suster itu dengan langkah gontai seperti mayat hidup yang bergerak tanpa jiwa.
---
Proses administrasi terasa seperti mimpi buruk yang panjang.
Raka menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan suara monoton.
Nama? Nadira Ayudia.
Umur? 26 tahun.
Alamat? Apartemen Green Valley, blok C nomor 17.
Hubungan dengan pasien? ...Pacar.
Kata itu keluar dengan susah payah dari bibirnya. Bukan suami. Hanya pacar.
Dan itu membuatnya semakin hancur.
Setelah semua selesai, Raka kembali ke depan ruang IGD. Ia duduk di kursi tunggu panjang yang keras dan dingin, menatap pintu besar di depannya dengan tatapan kosong.
Detik demi detik berlalu terasa seperti jam.
Raka tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana. Sepuluh menit? Dua puluh menit? Satu jam?
Ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanya satu: Nadira harus selamat.
Tiba-tiba pintu IGD terbuka.
Seorang dokter keluar... pria paruh baya dengan seragam hijau operasi dan masker yang diturunkan ke dagu.
Raka langsung berdiri. "Dokter! Bagaimana keadaannya?"
Dokter itu menatap Raka dengan ekspresi serius. Ada sesuatu di matanya... sesuatu yang membuat Raka merasa dingin.
"Anda keluarga pasien Nadira Ayudia?"
"Ya! Saya... saya pacarnya. Bagaimana dia? Apa dia...
"Kondisinya kritis," potong dokter dengan nada datar tapi penuh empati. "Kami sedang melakukan stabilisasi. Tapi..."
Jeda.
Jeda yang membuat Raka hampir gila.
"Tapi apa?" desak Raka, suaranya bergetar.
Dokter itu menarik napas dalam. "Bayi yang ada di dalam kandungannya... tidak bisa diselamatkan."
Dunia Raka runtuh untuk kedua kalinya hari ini.
Tidak bisa diselamatkan.
Bayi mereka.
Anak mereka.
Anak yang ia tolak.
Anak yang ia katakan tidak pernah ia inginkan.
Sekarang... hilang.
Raka merasakan lututnya lemas. Ia hampir jatuh, tapi tangannya mencengkeram sandaran kursi dengan erat.
"Tidak..." bisiknya dengan suara serak. "Tidak... tidak mungkin..."
"Kami sudah melakukan yang terbaik," lanjut dokter dengan nada penuh simpati. "Tapi benturan yang diterima ibu terlalu keras. Janin mengalami trauma berat dan... kami tidak bisa menyelamatkannya."
Air mata Raka jatuh lagi... jatuh tanpa suara, tanpa isakan.
Hanya jatuh.
Dan jatuh.
Dan jatuh.
"Maafkan kami," ucap dokter pelan. "Sekarang prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa ibu. Kami akan lakukan operasi darurat untuk menghentikan perdarahan internal. Mohon Anda bersabar menunggu."
Dokter itu menepuk bahu Raka sekali,sentuhan yang seharusnya menenangkan, tapi terasa begitu hampa, lalu berbalik masuk kembali ke IGD.
Pintu tertutup lagi.
Dan Raka jatuh berlutut di lantai rumah sakit yang dingin.
Tangannya menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Maafkan aku..." isaknya pelan. "Maafkan Papa, anakku... maafkan aku, Nadira..."
Tapi tidak ada yang menjawab.
Hanya keheningan lorong rumah sakit yang dingin dan kejam.
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk