🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa rencana
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Kini, Yura dan Alexa sama-sama menggenggam sebuah buku kecil berwarna merah di tangan masing-masing.
Sampulnya sederhana, tetapi maknanya begitu berat. Buku itu menjadi bukti sah bahwa mereka telah terikat dalam sebuah pernikahan yang bahkan belum sepenuhnya dapat Yura cerna.
Yura menatap buku itu beberapa detik, lalu mengangkat pandangannya ke arah Alexa yang tengah membuka dan membaca halaman demi halaman dengan ekspresi dingin.
"Kok… kita bisa menikah, ya, Pak?" ucap Yura tiba-tiba. Keningnya berkerut, jelas kebingungan. Otaknya seakan tertinggal jauh di belakang kenyataan. Bukankah mereka seharusnya saling bermusuhan?
Alexa mengerang pelan. Ia menutup buku itu dengan gerakan tegas, lalu menoleh tajam ke arah Yura.
"Kalau bukan karena ulahmu, semua ini tidak akan pernah terjadi," katanya datar, nyaris menggeram. "Lebih baik sekarang kau menuruti semua perkataanku. Jika tidak—"
Tangannya terangkat, membentuk isyarat mengarah ke leher, lalu menariknya perlahan.
"Kau paham maksudku."
Tanpa menunggu tanggapan, Alexa melangkah keluar dari ruangan perkantoran itu.
Degup jantung Yura seketika melonjak tajam, seolah hendak meledak. Namun langkahnya tetap mengikuti Alexa. Di balik rasa takut yang menggerogoti, ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.
"Kalau bukan karena dia yang memaksa juga, semua ini tidak akan pernah terjadi," gumam Yura dalam hati.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu melaju meninggalkan gedung perkantoran, sementara Alexa sempat melirik ke arah sopir.
Dari sorot matanya, jelas tersirat ketidaksabaran, seolah mengingat dua sosok berambut putih yang tengah menunggu mereka di rumah.
"Lihat saja nanti," gumam Alexa lirih, cukup terdengar oleh Yura.
Sontak, Yura menyilangkan kedua tangannya di depan leher, refleks menirukan ancaman sebelumnya.
Alexa yang tidak sengaja menangkap gerakan itu mengernyit. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tetapi ia memilih mengabaikannya. Kekesalan di kepalanya sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal lain.
Berbeda dengan Yura yang justru menatap pria itu dengan saksama. Ada kesan bahwa Alexa sedang menyusun rencana baru, sesuatu yang terasa mengintimidasi.
Alexa kembali melirik Yura yang menatapnya tanpa berkedip.
"Aku tahu wajahku tampan," ujarnya datar. "Dan kau bersyukur mendapatkannya. Tidak perlu berkomentar dalam hati seolah ini semua hanya mimpi."
Yura langsung menegakkan tubuhnya.
"Bukan itu, Pak. Anda salah membaca pikiran saya," bantahnya cepat. "Dan Anda terlalu percaya diri."
Alexa berdehem pelan. Ia menyadari pernyataan itu tidak sepenuhnya keliru.
"Saya hanya ingin tahu, apa yang akan Anda lakukan setelah ini," lanjut Yura hati-hati. "Saya khawatir nyawa saya berada di ujung tanduk."
Ia menambahkan dengan suara lebih kecil, namun cukup jelas, "Lagipula, wajah Anda bukan termasuk tipe ideal saya."
Kata-kata itu menghantam Alexa tanpa peringatan.
Ia terdiam, lalu menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Pandangannya menyapu wajahnya sendiri, seolah mencari apa yang kurang. Jantung, paru-paru, hingga dadanya terasa sesak, seakan tertusuk berkali-kali oleh kalimat sederhana itu.
Lamunannya buyar saat terdengar suara Yura,
"Aw—"
Alexa segera menoleh. Ia melihat Yura menggosok-gosok matanya dengan ceroboh.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya cepat, nada suaranya berubah panik meski ia berusaha menutupinya.
"Tadi saya membuka jendela untuk membuang tisu, Pak. Takut mobil Anda kotor," jawab Yura sambil meringis. "Tapi malah debu masuk ke mata. Perih."
Tanpa ragu, Alexa menarik wajah Yura agar menghadap langsung kepadanya.
"Lepaskan tanganmu. Biar kulihat. Kalau iritasi, bisa merusak mata. Baru saja menikah, jangan sampai aku harus mengurus istri yang buta."
"Ucapan Anda sungguh menyakiti hati saya, Pak," balas Yura lirih.
Alexa hampir tertawa, tetapi ia menahan diri.
"Buka matamu pelan-pelan."
Mata Yura telah berair, kulit di sekitarnya tampak memerah. Saat ia membuka mata perlahan, jarak di antara mereka begitu dekat sehingga tatapan itu tak terelakkan.
Untuk pertama kalinya, Alexa benar-benar melihat Yura setelah perawatan. Wajah itu tampak bercahaya, lembut, dan tanpa ia sadari sangat indah.
Ada dorongan asing yang menyusup perlahan, membuatnya ingin menarik Yura lebih dekat. Bibir Yura yang berwarna merah muda tampak lembut dan—
"Pak."
Alexa tersentak. Lima jari Yura menekan wajahnya, menahan jarak di antara mereka.
"Besar juga wajah Anda," celetuk Yura polos. "Kalau terlalu dekat."
Alexa refleks menjauhkan wajah Yura dengan gerakan kasar. Namun tanpa disangka, tangan Yura justru mencengkeram kerah jas Alexa dengan kuat.
Gerakan itu membuat jarak mereka lenyap sepenuhnya.
Bibir mereka bersentuhan.
Sejenak, dunia seolah berhenti.
Sopir yang tanpa sengaja menangkap kemesraan itu melalui kaca spion dalam sontak berdeham. Refleks, suaranya terdengar kaku, jelas menahan keterkejutan.
Yura dan Alexa seketika melepaskan ciuman itu hampir bersamaan. Keduanya segera memalingkan wajah masing-masing ke arah jendela mobil, berpura-pura sibuk memperhatikan pemandangan di luar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Alexa menutup setengah bibirnya dengan punggung tangan. Degup jantungnya berlari tak terkendali hingga telinganya memerah. Sementara itu, Yura merasakan wajahnya semakin panas, rona merah merambat cepat di pipinya.
"Anda mencuri ciuman pertama saya," ucap Yura tiba-tiba. Tanpa sedikit pun rasa malu, ia menoleh dan menunjuk Alexa dengan ekspresi kesal.
Alexa spontan menatap Yura, jelas tidak menerima tuduhan yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal.
"Kau yang mencuri ciuman pertamaku," balas Alexa sambil menunjuk balik. Namun sebelum Yura sempat membantah, Alexa lebih dulu melanjutkan dengan suara meninggi. "Kalau bukan karena kau yang menarik pakaianku dan berbohong dengan mengatakan aku bukan pria ideal, semua ini tidak akan terjadi. Nyatanya, kau sama saja dengan wanita murahan di luar sana."
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Yura menarik kembali telunjuknya, mengepalkan tangan, lalu dengan gerakan cepat mencengkeram kerah pakaian Alexa. Ia menarik pria itu mendekat hingga dahi mereka beradu keras.
Alexa mengerang lirih, sementara Yura nyaris tidak merasakan apa pun, kecuali panas yang membakar dadanya. Tuduhan itu melukai harga dirinya. Tanpa ia sadari, cairan merah mulai merembes dari keningnya.
"Semoga otak Anda segera kembali ke mode terbaiknya," ucap Yura dingin, menahan keinginan untuk melontarkan umpatan yang jauh lebih kasar. Hatinya benar-benar sakit oleh perkataan Alexa.
Alexa hendak membalas, tetapi kata-katanya tertahan begitu ia melihat kening Yura yang terluka.
Darah tampak jelas, dan air mata gadis itu telah menggenang, nyaris tumpah. Tatapan Yura tajam, dipenuhi amarah yang tertahan.
"Kau terluka—" Alexa refleks mengulurkan tangan.
Namun Yura segera menepisnya.
"Jangan sok perhatian. Cukup," ujarnya tegas, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Air matanya akhirnya jatuh, menelusuri pipinya tanpa suara.
Alexa terdiam.
Ia merasa kebingungan. Ia tidak sepenuhnya tulus saat mengucapkan kata-kata kasar itu. Amarah sesaat telah membawanya terlalu jauh.
Rasa bersalah perlahan menyusup, menekan dadanya, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Akhirnya, Alexa memilih diam. Ia kembali menatap ke luar jendela, dengan perasaan bersalah yang kian menumpuk. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan hati wanita yang jelas telah ia lukai dengan ucapannya sendiri.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺