Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Menusuk
Nisa udah nggak tahan lagi.
Setiap kali dia liat Dhira sama Aruna—ngobrol, ketawa kecil, bahkan cuma duduk deket—dadanya kayak dibakar. Panas. Kesel. Iri campur benci jadi satu gumpalan yang... nyesek.
Kenapa sih?
Kenapa harus Aruna?
Cewek kaku, pendiam, nggak ada apa-apanya itu?
Kenapa Dhira... kenapa Dhira liat dia?
Nisa nggak terima.
Dan sekarang... sekarang dia punya rencana.
Rencana buat menjatuhkan Aruna. Buat bikin cewek itu... tau diri.
---
Siang itu, Nisa duduk di kantin bareng gengnya—Alya, Dinda, Sari. Mereka lagi makan tapi Nisa nggak napsu makan. Dia main hape. Buka grup kelas. Grup yang beranggotakan hampir semua murid kelas sebelas.
Tangannya ngetik cepet.
Nisa: Guys, poll nih. Jujur aja ya!
Terus dia bikin polling.
Judulnya: "Menurut kalian, Aruna cocok nggak sama Dhira? Jujur aja!"
Pilihan jawaban:
A. Cocok banget
B. Nggak cocok
C. Kasihan Dhira
Nisa pencet kirim.
Notifikasi langsung masuk ke hape semua anggota grup.
Alya ngeliat. Langsung nyengir. "Nis, lu jahat banget sih."
"Emang. Gue pengen tau aja pendapat orang-orang," jawab Nisa sambil senyum sinis. "Pasti banyak yang pilih B atau C."
Dan bener.
Beberapa menit kemudian, hasil polling mulai masuk.
Kebanyakan... B dan C.
Dengan komentar yang... kejam.
Dimas: Kasihan Dhira dapet beban wkwk
Riko: Aruna mah cupu, mana berani
Sari: Mendingan Dhira sama Nisa deh, sekelas
Alya: Aruna tuh kayak bayangan doang di kelas, nggak ada apa-apanya
xXShadowXx: hahaha lo kelilipan apa dir mau sama cewek kaku yang suka di bully
Dinda: Gue setuju sih, Dhira buang-buang waktu doang deketin si Aruna
Dan yang paling nyelekit...
Adrian: Wkwk, kasian amat Dhira. Gue aja ngeliat Aruna pengen ketawa, apalagi jadian? Mimpi kali ye.
Nisa baca semua komentar itu sambil senyum lebar. Puas.
"Udah deh. Tinggal tunggu Aruna baca," katanya sambil naro hape di meja.
---
Tapi Nisa belum selesai.
Dia punya rencana kedua. Lebih kejam.
Sore itu, sepulang sekolah, Nisa balik lagi ke sekolah. Pura-pura ada tugas yang ketinggalan.
Dia naik ke lantai dua. Koridor sepi. Semua orang udah pulang.
Di pojok koridor, ada ember besar berisi air... comberan. Air yang kental, bau nyengat, warna cokelat kehitaman. Itu sisa dari pembersihan saluran air kemarin yang belum dibuang tukang kebun sekolah.
Nisa... senyum.
Dia angkat ember itu—berat, tapi dia kuat—terus jalan pelan ke atas tangga darurat yang nyambung ke atap gedung.
Dari atas situ, dia bisa liat halaman depan sekolah. Liat jalan setapak yang biasa dilalui anak-anak pulang.
Nisa matiin CCTV yang ada di koridor itu—gampang, tinggal cabut kabelnya dari belakang—terus tunggu.
Tunggu... Aruna lewat.
---
Lima belas menit kemudian.
Aruna jalan keluar dari gedung sekolah. Sendirian. Kayla udah pulang duluan tadi—ada les.
Dia jalan pelan, kepala nunduk, peluk tasnya di depan dada.
Nisa... ngeliat dari atas.
Angkat ember itu.
Siap... siap buat tumpah.
Pas Aruna lewat tepat di bawah...
Nisa tumpah.
Tapi...
"ARUNA, MINGGIR!"
Suara teriakan dari samping.
Elang.
Cowok itu lari—lari sekuat tenaga—dari samping gedung, loncat, dorong Aruna ke samping—keras—sampai Aruna jatuh ke rumput.
Dan air comberan itu...
Kena Elang.
Byur.
Dari kepala sampai kaki.
Bau. Kental. Lengket.
Elang berdiri di situ. Basah. Bau comberan nyengat banget. Bajunya kotor. Rambutnya lengket.
Aruna... duduk di rumput. Syok. Ngeliat Elang yang... yang kena air itu.
"K-kamu... kamu..."
Elang noleh ke atas. Ke arah lantai dua.
Ngeliat... Nisa.
Mata mereka bertemu.
Nisa... pucat.
"K-Kakak... maafkan aku..." bisiknya pelan, tapi nggak ada yang denger dari bawah.
Elang... Elang adalah sepupu Nisa. Anak dari adik ayah Nisa. Mereka kenal dari kecil. Tapi... nggak deket.
Nisa takut. Takut banget. Kalau Elang lapor... kalau Elang bilang ke orang tua... dia bisa dikeluarkan dari sekolah.
Tapi Elang... cuma natap Nisa sebentar.
Terus... berbalik.
Nggak bilang apa-apa.
Dia jalan cepet keluar dari halaman sekolah. Basah. Bau. Malu.
Aruna berdiri, nyoba ngejar. "T-tunggu! Kamu... kamu oke?!"
Tapi Elang udah lari. Menghilang di tikungan jalan.
Aruna... berdiri di situ. Bingung. Kaget. Nggak ngerti apa yang baru terjadi.
*Siapa... siapa cowok itu?*
---
Malamnya.
Aruna di kamarnya.
Hapenya bunyi. Notifikasi grup kelas.
Dia buka.
Dan...
Jantungnya... berhenti.
Polling.
Polling tentang... dia.
Tentang dia dan Dhira.
Aruna... scroll.
Baca satu per satu komentar.
Setiap komentar... nyelekit.
Nyelekit kayak pisau yang ditusuk pelan-pelan ke dada. Nggak langsung mati. Tapi... sakit. Sakit banget.
*Kasihan Dhira dapet beban.*
*Aruna mah cupu, mana berani.*
*Aruna tuh kayak bayangan doang.*
*Dhira buang-buang waktu doang deketin si Aruna.*
Aruna... nggak bisa napas.
Tangannya gemetar pegang hape. Matanya... basah.
Air mata jatuh ke layar hape. Bikin layarnya blur.
Dia scroll lagi.
Komentar Adrian.
*Gue aja ngeliat Aruna pengen ketawa, apalagi jadian? Mimpi kali ye.*
Deg.
Aruna... lempar hapenya ke kasur.
Peluk lutut. Nunduk. Nangis.
Nangis keras. Nggak peduli Arya denger dari luar.
*Kenapa... kenapa mereka benci aku...*
*Aku... aku nggak ngapa-ngapain...*
*Kenapa...*
Hapenya bunyi lagi. Notifikasi.
Aruna ambil. Ngeliat.
Kayla.
Kayla di grup: KALIAN SEMUA BRENGSEK! Pada nggak punya kerjaan apa? Meremehkan orang tuh bikin kalian keren? DASAR SAMPAH!
Tapi... udah terlambat.
Screenshot polling itu udah nyebar. Ke grup lain. Ke anak-anak kelas lain.
Semua orang... udah tau.
Aruna... nangis makin keras.
---
Sementara itu.
Di rumahnya yang kecil.
Elang duduk di kamar mandi. Nyalain shower. Air dingin menyembur ke tubuhnya yang masih bau comberan.
Dia gosok badannya keras-keras. Pake sabun batangan yang murah. Gosok sampai kulitnya merah. Tapi baunya... masih nempel.
Tangannya... gemetar.
Nggak karena dingin.
Tapi karena... marah.
Marah sama Nisa. Marah sama orang-orang yang ngejek Aruna di grup itu.
Dia liat grup itu tadi. Liat polling. Liat komentar-komentar kejam.
Tangannya mengepal erat. Sampai kuku-kukunya menancap lagi ke telapak tangan. Sakit. Berdarah dikit.
*Kalian semua... kalian semua nggak tau apa-apa tentang Aruna...*
Tapi dia nggak nulis apa-apa di grup.
Nggak berani.
Karena dia tau... suaranya nggak akan didengar.
Dia hanya... nggak ada.
Elang tutup shower. Keluar dari kamar mandi. Ganti baju.
Rebahan di kasur.
Ngeliat langit-langit yang retak.
Dan... nangis.
Nangis diam-diam.
Karena dia... nggak berguna.
Nggak bisa lindungi Aruna sepenuhnya.
Cuma bisa... melindungi dari air comberan.
Tapi nggak bisa melindungi dari... kata-kata kejam yang lebih sakit.
---
Besoknya.
Pagi.
Aruna dateng ke sekolah dengan mata sembab. Merah. Bengkak.
Dia jalan masuk gerbang dengan kepala nunduk. Nggak berani liat siapa-siapa.
Kayla langsung merangkul. "Run... kamu oke?"
"Aku... aku nggak tau, Kay..."
"Jangan dengerin mereka. Mereka cuma iri."
Tapi Aruna... nggak percaya.
Karena gimana bisa iri... sama orang yang nggak ada apa-apanya?
Jam istirahat kedua.
Aruna nggak tahan lagi. Dia lari ke toilet. Masuk ke bilik paling pojok. Kunci pintunya.
Duduk di lantai. Peluk lutut. Nangis.
Nangis keras.
*Ya Allah... aku capek... aku capek banget...*
Dari luar, Kayla ngetuk pintu. "Run... keluar yuk... kita ngobrol..."
Tapi Aruna nggak jawab.
Cuma... nangis.
---
Dhira... denger dari temen-temennya.
Denger tentang polling. Denger tentang komentar-komentar kejam.
Cowok itu... marah.
Marah yang dia jarang rasain. Marah yang bikin rahangnya mengeras. Bikin tangannya mengepal.
Dia langsung cari Aruna.
Tanya Dimas, Riko, siapa aja yang keliatan. Sampai akhirnya dia ketemu Kayla di depan toilet cewek.
"Dia di dalam?" tanya Dhira, napasnya ngos-ngosan.
Kayla ngangguk. Khawatir. "Dia... dia nangis, Dhir. Aku nggak bisa masuk. Dia mengunci dari dalem."
Dhira jalan ke pintu toilet. Ngetuk pelan.
"Aruna. Ini aku. Keluar yuk. Gue mau ngomong."
Dari dalem... nggak ada jawaban.
Cuma suara isak tangis yang... pelan tapi... nyesek.
"Aruna, please... keluar..." suara Dhira... lembut. Nggak tegas kayak biasa. Lembut yang... peduli.
---
Di ujung koridor.
Elang berdiri.
Ngeliat semuanya dari kejauhan.
Ngeliat Dhira di depan toilet cewek. Ngeliat Kayla yang khawatir.
Dan... dadanya sakit lagi.
Dia pengen lari. Pengen mendobrak pintu. Pengen bilang ke Aruna...
*Kamu berharga.*
*Kamu cantik.*
*Kamu pantas dicintai.*
Tapi kakinya... nggak bergerak.
Kakinya kayak... ditanam di tanah.
Nggak bisa maju.
Dia hanya... berdiri di sana.
Nggak berguna.
Nggak terlihat.
Nggak berarti.
Kayak biasa.
---
Di dalam toilet.
Aruna... denger suara Dhira.
Suara cowok yang... yang dia suka.
Suara yang... hangat.
Tapi sekarang...
Sekarang dia nggak tau.
Nggak tau apa dia... pantas.
Pantas buat Dhira peduli.
Pantas buat... dicintai.
Karena semua orang bilang... dia nggak pantas.
Aruna peluk lututnya makin erat.
Dan bisik pelan:
"Ya Allah... aku... aku nggak kuat lagi..."
Tapi... ada bagian kecil di hatinya.
Bagian kecil yang... seneng.
Seneng karena Dhira... dateng.
Dateng buat dia.
Dan itu... itu yang bikin hatinya... meledak.
Antara bahagia... dan hancur.
Bahagia karena Dhira peduli.
Hancur karena dunia... Menentang.
Dan Aruna...
Nggak tau lagi...
Harus milih yang mana.