Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
32
Suasana saat ini tampak agak tegang, dimana semua orang sampai saat ini masih belum menemukan keberadaan Sam.
Suara-suara percakapan orang lain tentang hilangnya Sam yang berbisik-bisik terdengar di udara, menyatu dengan derap langkah orang-orang yang masih mencari keberadaannya.
Waktu perlahan berlalu, dan matahari yang kini perlahan hampir terbenam, memberikan cahaya jingga yang hangat di jendela kantor.
Para staf dan karyawan lain termasuk dengan Radit yang mencari Sam mulai kelelahan, tetapi mereka tidak menyerah. Mereka terus mencari, berharap bisa menemukan Sam secepat mungkin.
Di tengah suasana tegang itu, tiba-tiba seorang Staf yang berjalan dengan langkah cepat menghampiri Radit.
"Pak, saya sudah mencari ke rooftop. Tetapi tidak ada siapa-siapa disana..."
Disaat yang bersamaan, seorang Satpam pun menghampiri pimpinan kantor itu.
"Lapor Pak, saya sudah mencari ke semua ruangan yang ada ada di dalam kantor. Tapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan nona Sam disana" ujar Satpam itu kepada Radit.
Setelah mendengar ucapan dari Staf dan Satpam itu, Radit terdiam sejenak. Tangannya terangkat, mengusap rahang dengan matanya yang tajam menatap ke arah lantai.
Radit seketika melirik ke arah kaca komputer, ia melihat kata-kata yang mulai muncul di permukaan kaca komputer itu. Seperti ada seseorang yang menulis dengan jari-jarinya.
Radit merasa sedikit kaget dan penasaran, karena ia yakin tidak ada seorangpun yang terlihat sedang menulis di kaca itu.
Kata-kata itu kini mulai membentuk huruf dengan jelas, dan Radit bisa membaca apa yang tertulis disana. "Gudang."
Radit merasa speechless ketika melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, namun ia terdiam sejenak, dan ia mulai berniat untuk mencari Sam ke ruangan gudang.
"Ayo kita cari dia ke gudang" titah Radit, ia berlari ke arah gudang. Dan yang lainnya juga berlari mengikuti Radit.
Di sisi lain, Alfin sedang berdiri diam memperhatikan mereka. Tatapannya menusuk dari kejauhan, perlahan sudut bibirnya terangkat tipis.
Lalu perlahan tubuh Alfin memudar, dan juga perlahan-lahan sosok itu menjadi transparan dan menghilang begitu saja, meninggalkan kabut tebal yang memenuhi ruangan itu.
...
Sementara itu, di dalam gudang.
Sam masih terduduk di balik pintu, ia terlihat sangat gelisah, sekuat tenaga ia menahan rasa lapar, haus dan sedikit sesak di dada karena ruangan yang tertutup juga tanpa penerangan. Sam merasa waktu berjalan sangat lambat, ia terus saja melihat ke arah jam tangannya, sampai waktu senja menjelang udara di sekitar pun mulai terasa dingin. Ia berharap keadaan ini segera berakhir.
"Sam,"
Sam yang merasa itu suara dari Alfin, langsung mendongak ke atas. Ia menatap Alfin dengan kedua matanya yang merah dan bengkak karena habis menangis.
Ia mengdengus pelan, lalu mengelap kembali kedua mata dengan lengan bajunya.
"Alfin! Kamu lama banget hilangnya, kemana aja?"
Alfin mencodongkan tubuhnya, cukup dekat untuk membuat nafas terasa di kulit. "Tenang ya," bisik Alfin pelan. Suara beratnya membuat Sam refleks terdiam membeku di tempat.
Lalu Alfin kembali melangkah mundur, ia terdiam sejenak, lalu kembali berbicara.
"Dalam hitungan ketiga, akan ada orang yang datang dan mengeluarkanmu dari sini." ujarnya dengan tenang.
"Satu.."
"Dua..."
"Tiga—"
Seketika gagang pintu bergerak dengan cepat, Sam yang menyadari hal itu pun langsung melangkah mundur menjauh dari pintu itu.
//Cklek!
Akhirnya.. Pintu pun terbuka dengan lebarnya, Sam yang melihat itu sangat senang dan bisa kembali bernafas dengan lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari ruangan yang gelap dan juga kotor itu.
Begitu juga dengan Radit yang akhirnya bisa menemukan Sam, apakah ini kebetulan atau, ada mahkluk tak kasat mata yang membantunya. Memang kalau secara logika, itu terasa aneh. Tapi Radit tidak terlalu memikirkannya, yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan Sam.
"Sam, kamu nggak apa-apa...?" tanya Radit cemas.
Sam yang terlihat berantakan dengan mata sembabnya hanya menggeleng pelan. Ia sangat bersyukur dan tersenyum ke arah Radit dan karyawan serta Satpam yang berada di hadapannya.
"Terimakasih.."
Ia lalu mengambil berkas yang tergeletak di lantai dan berjalan keluar di temani Radit di sampingnya.
Sebelum ia meninggalkan gudang, Sam sempat menoleh ke arah Alfin yang masih berada di dalam.
Alfin hanya memandanginya dengan tatapan dingin dan sedikit melengkungkan bibirnya ke arah Sam.
Bergegas Pak Satpam pun langsung menutup kembali pintu gudang dan berjalan mengikuti Sam dan yang lainnya menuju ruang lobi kantor.
Sam sedikit lemas hingga ia membiarkan saja Radit memegang tangannya sambil berjalan kembali ke meja kerjanya.
Setelah mereka semua sampai, Radit mengucapkan terimakasih pada Staf karyawan. Lalu ia menyuruh mereka untuk pulang kerumah masing-masing. Disana hanya ada Sam, Radit dan juga Pak Satpam yang menemani.
Radit juga menyuruh Pak Satpam untuk mengambilkan Sam segelas air. Bergegas ia berlari ke ruang OB untuk membawakan minum untuk Sam.
"Sam.. Sebenarnya kenapa kamu sampai bisa terjebak di dalam gudang?" tanya Radit setelah ia mendudukan Sam di kursinya, sambil menatapnya dengan cemas.
Tak lama, Satpam pun datang membawakan segelas teh manis hangat di tangannya. Radit pun mengambil dan langsung memberikannya kepada Sam.
"Diminum ya, pelan-pelan."
Sam menerima teh hangat itu lalu meminumnya sedikit-sedikit. Saat merasakan air hangat mulai mengalir di dalam tubuhnya, seketika Sam nyaman dan merasa sudah lebih baik.
"Terimakasih, Pak.. atas bantuan kalian semua," ucap Sam sambil melihat ke arah Radit dan Pak Satpam.
"Nona Sam.. Coba ceritakan pelan-pelan, bagaimana bisa nona terjebak di dalam sana..?" tanya Pak Satpam penasaran.
Radit pun melihat ke arah Sam dengan expresi yang sama, ia menunggu jawaban yang membuatnya semakin penasaran.
"Mm.. Pak, apakah fotocopy di ruang cetak sedang rusak?" Sam bertanya ke pada Pak Satpam yang masih menunggu penjelasannya.
Akan tetapi, Sam malah memberikan pertanyaan balik.
"Tidak. Memangnya kenapa..?" jawab Satpam itu merasa heran.
Sam yang mendengar jawaban itu langsung terdiam sejenak, lalu ia mengmbil nafas untuk sedikit memuatnya tenang.
"Saya kira sedang rusak, makanya saya pergi ke gudang belakang untuk melihat apakah ada mesin fotocopy lain disana. Tapi ternyata tidak ada apapun, setelah saya akan keluar tiba-tiba pintunya macet dan saya tidak bisa membukanya, sampai akhirnya saya terjebak disana." terang Sam menjelaskan kepada dua orang yang ada di hadapannya.
Sebenarnya, Sam mulai curiga kepada Lisa. Karena dia yang sudah membohongi Sam soal mesin fotocopy itu. Tetapi Sam ingin mengumpulkan bukti bahwa kejadian yang ia alami saat ini karena perbuatan Lisa atau ada orang lain lagi selain dirinya.
"Ya sudah, lain kali jangan ceroboh ya. Kalau ada apa-apa langsung tanyakan kepada Pak Satpam atau cleaning service. Agar kejadian ini tidak terulang kembali." ucap Radit menjelaskan.
"Saya minta maaf Pak, gara-gara saya. Semua orang menjadi kerepotan." balas Sam sambil ia menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa. Ini sudah hampir malam. Sebaiknya aku antar kamu pulang, ya." Radit pun membantu membereskan barang-barang Sam, tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Pak Satpam atas bantuannya.
Bersambung...