Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman - 5
Suara itu terdengar tenang, hampir santai, namun cukup jelas memotong ketegangan di taman.
"Wah wah ,aku menunggu lama di taman , tetapi mereka tidak kunjung datang..., kukira kenapa.. ternyata ada yang menghalangi mereka.."
Suara seorang pemuda itu muncul dari dekat tubuh Rio yang tergeletak pingsan. Angin sore yang tadinya terasa biasa, kini mendadak berat, seolah membawa firasat buruk bagi siapa pun yang berdiri di sana.
Ravel yang sudah bersiap melangkah ke arah Kris tiba-tiba berhenti. Alisnya sedikit berkerut, ia sempat mengira Rio bangkit kembali.
"Hey bocah sepertinya aku sudah menjatuhkan mu cukup keras."
gumamnya dingin. Namun saat ia berbalik, sosok yang dilihatnya bukan Rio. Rivaldo berdiri di sana, satu tangannya memegang Rio, memastikan napasnya masih ada. Mata Rivaldo bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ditekan habis-habisan.
Ravel menatap Rivaldo dari kejauhan, senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
"Siapa kau, Apakah kau adalah teman anak nakal tersebut?.." tanyanya ringan. Di sisi lain, Kris yang menyaksikan kedatangan Rivaldo hanya bisa menelan ludah.
"Kenapa..di saat seperti ini ,dia juga datang...dia memegangi Rio ,apa yang akan dia lakukan... padanya.."
pikirnya kacau, tak mampu membaca situasi yang berubah begitu cepat.
Rivaldo berdiri perlahan, pandangannya menyapu Liam yang pingsan dan Kris yang tak berdaya. Suaranya rendah, penuh tekanan.
"Tua Bangka seperti mu , harusnya berdiam diri menunggu kematian, Tetapi malah keluyuran dan menghajar anak sekolah.."
Setelah itu, ia menjatuhkan almamaternya ke tanah. Gerakan sederhana, namun jelas menandakan bahwa ia siap bertarung. Kris semakin bingung.
"Apa yang akan di lakukan Rivaldo?..,Dia ingin bertarung dengan Ravel?, bukankah kita bermusuhan?."
Ravel masih tersenyum, ekspresinya sama sekali tidak berubah.
"Ahh anak nakalnya bertambah lagi.."
katanya santai. Namun dalam sekejap, Rivaldo sudah melesat. Kepalan tangan kanannya mengarah lurus ke wajah Ravel. Ravel menahannya dengan satu telapak tangan kiri. Benturan itu nyaris menyentuh wajahnya, tetapi kurang dari beberapa detik kemudian, pukulan itu terasa datang dua kali. Mata Ravel terbuka lebar.
"Apa itu Barusan? , Dua pukulan dalam satu gerakan..."
pikirnya, terkejut oleh sensasi yang tidak biasa.
Belum sempat Ravel mencerna sepenuhnya, ia mencoba membalas dengan meninju dada Rivaldo. Namun Rivaldo sudah menghindar, melompat ke sisi kiri dan melancarkan hook kanan.
Pukulan itu bersih mengenai wajah Ravel, membuat tubuh besar itu terdorong mundur beberapa langkah. Ravel terdiam, pikirannya bekerja cepat.
"Benar sekali, setelah pukulan pertama,lalu pukulan kedua nya datang di tempat yang sama dengan tenaga yang sama."
Kesimpulan itu membuat ekspresinya berubah.
"Anak ini.. Sepertinya dia telah membangkitkan Exceed nya..!!.Dia bahkan lebih berbahaya dari pada bocah gila tadi!.."
Tanpa memberi waktu bernapas, Rivaldo kembali menerjang. Tidak ada ragu, tidak ada ampun. Tinju kirinya menghantam pinggang Ravel dengan keras. Darah kembali keluar dari mulut Ravel, menetes ke tanah taman yang sunyi.
Dia tidak lagi tersenyum.
Rivaldo bergerak ke sisi kanan Ravel, langkahnya cepat dan tajam, tubuhnya condong ke depan. Kepalan tangan kanannya terangkat, lintasannya jelas mengarah ke rahang Ravel. Serangan itu rapi, penuh niat, dan cukup untuk menjatuhkan siapa pun yang lengah. Namun Ravel bukan lawan sembarangan.
Dalam sepersekian detik, ia sudah membaca arah serangan itu, matanya terbuka dingin tanpa emosi. Tangan kirinya melibaskan udara dengan kecepatan brutal, dan sebelum Rivaldo sempat menarik napas, pukulan itu menghantam wajahnya dengan keras.
Tubuh Rivaldo terpental jauh, menghantam tanah dan terkapar, nyeri menjalar tanpa ampun ke seluruh tubuhnya. matanya terpejam kesakitan.
"Ini sakit sekali!.."
Ravel berdiri tegak, napasnya berat, wajahnya kini benar-benar kosong dari senyum. Tidak ada lagi nada main-main, tidak ada lagi ejekan ringan. Ia melompat ke arah Rivaldo yang tergeletak, bayangannya menutup tubuh pemuda itu.
Kakinya terangkat tinggi, mengarah tepat ke dada Rivaldo. Tekanan niat membunuh terasa jelas, pekat, dan dingin. Jika serangan itu jatuh, semuanya akan berakhir di sana.
Namun sebelum kakinya menghantam, tubuh Ravel mendadak tersentak ke depan.
"Chhssss!!...."
Suara itu terdengar aneh, seperti sesuatu yang terbakar, seperti besi panas menyentuh daging. Sebuah pukulan keras menghantam punggung Ravel dari belakang.
Bukan sembarang pukulan. Ravel terlempar ke depan, tubuhnya terguling melewati Rivaldo yang masih terkapar, gagal total menghabisi targetnya.
Itu adalah Kris.
Tubuh Kris bahkan tidak berdiri tegak. Kakinya gemetar, punggungnya membungkuk, namun kedua tinjunya mengepal kuat. Dari kepalan tangannya, keluar asap tipis, samar namun jelas terlihat. Wajahnya kosong, matanya melebar seperti melihat sesuatu yang tidak ada. Air mata mengalir dari sudut matanya, namun tidak ada isak, tidak ada suara tangis. Hanya amarah murni yang tumpah tanpa kendali.
"Aku akan membunuhmu!.." suaranya pecah, berat, bukan teriakan, melainkan sumpah.
Ravel bangkit dengan susah payah, tubuhnya terasa nyeri luar biasa. Ia meraba punggungnya dan mendapati pakaiannya bolong, hangus di satu bagian. Rasa panas masih menjalar, menusuk hingga ke tulang. Matanya menyipit, napasnya kasar.
"Itu panas!.., Siapa lagi yang datang?..” gumamnya, kali ini tanpa nada meremehkan.
Beberapa saat sebelumnya…
Kris menyaksikan pertarungan Rivaldo dan Ravel dari kejauhan. Untuk sesaat, Rivaldo tampak unggul, serangannya cepat dan berlapis. Namun Kris tahu, itu tidak akan bertahan lama. Ia bisa merasakannya.
"Pertarungan... akan berbalik jika berlangsung lebih lama.." pikirnya, firasat buruk menekan dadanya.
Ia menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Seluruh badannya bergetar hebat, seperti ditarik dua arah sekaligus. Otot-ototnya menegang, namun tidak mau bergerak. Setiap perintah dari otaknya seolah terhenti di tengah jalan.
"Bergeraklah!... Tubuhku tidak mau bergerak!.." jeritnya dalam hati, panik mulai menggerogoti kesadarannya.
Kris mengepalkan tangan, lalu melepaskannya, berulang kali. Percuma. Ketakutan menahan tubuhnya seperti rantai tak terlihat.
"Apa yang terjadi denganku?.. aku terlalu ketakutan.." napasnya tersengal, dadanya terasa sesak.
Pandangan Kris jatuh ke tanah. Untuk sesaat, ia pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Namun bayangan Rio yang tergeletak tak berdaya, dan Liam yang pingsan tanpa suara, kembali menghantam pikirannya.
"Aku harus membantunya!.. Walaupun dia... dia adalah musuh kita.. tapi aku harus membantu!"
Matanya kembali melebar. Air mata mengalir deras, namun wajahnya tetap kosong. Tidak ada ekspresi sedih, tidak ada raut takut. Hanya kehampaan yang perlahan terisi oleh sesuatu yang lain.
Getaran di tubuhnya semakin kuat, seluruh badannya kesakitan.
"Ugghh..!"
"Apa ini?!...Apa tubuhku keram?.."
rasanya seperti seluruh urat nya telah di tarik, dia kesakitan, tetapi menahannya.
lalu getaran di tubuhnya berhenti mendadak. Digantikan oleh rasa panas yang menjalar dari dada ke seluruh tubuh. Napasnya berubah berat, kasar, seperti menelan api.
"Hah… hahh… tubuhku… panas!!.."