"Sudah ku katakan namaku Sarah bukan sarang! " seru Sarah pada polisi yang membawanya itu.
Meski belum fasih bahasa korea, tapi dia mengucapkan dengan jelas apa yang dia katakan.
Dia masih saja harus menjelaskan pembetulan ejaan namanya pada mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shikacikiri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Sudah larut.
He Jin baru kembali ke ruangannya dan melihat Sarah masih di depan komputernya.
"Sudah malam, lanjutkan besok" ucap He Jin seraya mengambil tasnya.
"Sudah selesai" ucap Sarah.
He Jin terdiam, cukup kagum dengan cara kerja Sarah yang cepat.
"Ya sudah, besok meeting dengan Ki Yong di sini. Pulanglah! " ucap He Jin.
Sarah menyimpan berkasnya setelah mengkopinya.
"Ok" jawabnya kemudian mematikan komputernya.
He Jin pergi lebih dulu, Sarah meraba dinding mematikan lampu seraya melihat ponselnya yang penuh dengan pesan gambar dari anak anaknya.
Ki Yong yang datang setelah diberitahu He Jin Sarah masih di kantor, datang menjemputnya. Dia melihat Sarah berjalan dalam ruang kantor yang redup, karena hanya tinggal dua orang yang masih lembur di sana.
Sarah melepas jepit rambutnya, meletakkan ponsel di tasnya kemudian merapikan rambutnya. Tatapan mereka saling beradu, Ki Yong terpana melihatnya hingga tak berkedip.
"Ahhh benar-benar dijemput" ucap Sarah sambil mengigit penjepit rambut.
Ki Yong tersenyum kemudian mengambil jepit rambutnya.
"Kotor, jangan di taruh di mulut" ucapnya.
Kedua orang yang sedang lembur menatap mereka.
Sarah hanya tersenyum kemudian menggulung rambutnya. Dia meminta jepit rambutnya dan menjepitnya.
Mereka masuk ke dalam lift bersama. Kedua orang yang masih lembur saling menatap memberi kode untuk mendekat dan akhirnya bergosip.
Di dalam lift, Ki Yong bicara.
"Mau makan malam dengan ku? " tanyanya.
"Tentu saja, kau kan tadi ajak" jawab Sarah kembali memeriksa foto foto anaknya.
Ki Yong mengintip, tersenyum melihat mereka yang bergaya.
"Mereka sudah besar" ucap Ki Yong.
Sarah mendongak menatapnya.
"Hmmm, aku sudah tua" jawabnya.
Ki Yong tersenyum mendengar jawaban yang selalu mengatakan dirinya tua.
Pintu lift terbuka, mereka berjalan bersama, tapi Ki Yong meraih tangan Sarah untuk berhenti sejenak.
Mereka berdiri di dinding yang terbuat dari silver dan memantulkan bayangan mereka seperti cermin namun tak sejernih cermin.
"Lihat! " ucap Ki Yong menunjuk ke bayangan mereka .
"Aku pendek? Ini normal di tempat ku! " keluh Sarah seraya menatapnya.
"Buka... n! Kamu masih muda! " ucap Ki Yong.
Sarah melihat penampilannya yang memang terlihat seperti gadis yang tak punya anak.
"Siapa sangka dia sudah punya dua putri yang sudah remaja" ucap Ki Yong menunjuk pada bayangan Sarah.
"Heuh... ini bukan cermin, tak benar-benar menggambarkan aslinya, walaupun cermin kadang pencahayaan mengatur bagaimana bayangan itu terlihat" ucap Sarah kemudian berjalan.
Ki Yong tak paham dengan bahasanya, terlalu implisit.
"Kau terlalu implisit, aku tidak mengerti" ucap Ki Yong menyusul.
"Boleh kita makan di tempat Da Jin? " tanya Sarah enggan meneruskan pembicaraan.
"Tidak bisa, Da Jin sudah tutup, katanya ramai dan bahan sudah habis sejak sore. Dia tak mau menambah bahan karena kekurangan orang, dan lelah" jelas Ki Yong kemudian berdiri di sisinya menunggu mobil.
"Ah... dia ini, benar-benar tidak bisa dipaksakan bersaing" Sarah mengeluh kurang semangatnya Da Jin.
"Dia memang begitu" jawab Ki Yong.
Jin Guk datang.
"Hai Sarang! " sapanya.
Sarah mengerutkan dahinya.
"Semua orang membicarakan mu, mereka selalu salah mengucapkan nama mu, jadi ku putuskan untuk memanggil mu Sarang" ucapnya senang.
Sarah masuk ke kursi penumpang di sisi Jin Guk. Ki Yong menatapnya.
"Di sini! " ucapnya protes.
"Aku mau di sini! " seru Sarah.
"Sekalian bahas naskah! " Ki Yong memaksa.
"Euuuhhhhh! " Sarah geram.
Dia pindah, Jin Guk hanya tersenyum melihat interaksi mereka.
"Ayo makan di rumah! " seru Jin Guk.
Sarah terkejut.
"Hei.... kenapa di rumah? " ucapnya.
"Aku sudah beli makanan banyak, makan di rumah saja, lebih santai" ucap Jin Guk menunjuk ke belakang mobil.
Sarah menatap bungkusan plastik kotak makanan dan minuman. Mengendus mencium aroma makanan yang sedap.
"Ya sudah, kalau begitu cepat! " ucapnya.
Jin Guk tersenyum, puas karena makanan yang dia pilihkan disukainya.
***
Ji Min yang baru pulang, menunggu di lobi apartemen Ki Yong. Dia memeriksa ponselnya dan bergumam sendiri.
Sarah dan Ki Yong turun lebih dulu lalu masuk. Ki Yong tak membiarkan Sarah membawa satupun keresek. Dan dia menyesalinya saat Sarah berlari karena melihat Ji Min.
"Ji Min ahhhh...... ! " seru Sarah senang.
Ki Yong menghela.
Ji Min tersenyum melebarkan kedua tangannya. Tapi Sarah tidak memeluknya, malah memukul tangannya.
"Aku senang saat kamu bilang belum pulang! " ucap Sarah.
Ji Min kecewa Sarah tak memeluknya, tapi cukup senang karena dia datang.
"Wahhh...... kebetulan aku belum makan" ucap Ji Min saat melihat Ki Yong masuk dengan keresek makanan.
Ki Yong berjalan lurus ke lift. Sarah dan Ji Min mengikuti dari belakang.
"Tekan nomor 12" ucap Ki Yong karena Sarah yang berdiri dekat tombol.
Sarah menurut, Ji Min mengambil satu kantung dan mengintip isinya.
"Wahhh wanginya saja sudah enak" pujinya.
"Benar aku juga jadi lapar" ucap Sarah setuju.
Sampai di lantai 12, mereka keluar. Sarah menatap sekitar, hanya ada dua pintu rumah di sana.
"Wahh.... low density apartment? " ucapnya kagum.
Ki Yong melirik, merasa Sarah cukup banyak pengetahuannya.
"Tekan passcode nya, 040189" ucap Ki Yong.
"Hei tangan satu lagi kosong" ucap Ji Min protes karena menyuruh Sarah terus.
"Biar dia ingat, jadi kalau ada apa apa, dia bisa pulang ke sini walaupun aku tidak di rumah" ucap Ki Yong.
Ji Min terheran dengan sikapnya, dia mengerutkan dahi sambil masuk ke dalam.
Sarah thk peduli dengan mereka, dia terkagum dengan desain interior rumahnya.
"Bantu aku siapkan makanan" ucap Ki Yong pada Ji Min.
Sarah ingin ikut bantu, tapi Ki Yong menyuruhnya duduk.
"Kau duduk saja" dia mengarahkan Sarah untuk duduk di sofa.
Ji Min semakin heran, kemudian ingat dengan ucapan Jae Suk.
"Jangan kembali terburu-buru, lihat apa yang terjadi di sana, aku rasa aktor itu tidak bisa dipercaya"
Ji Min mengangguk merasa ucapan Jae Suk ada benarnya.
Ki Yong menatapnya.
"Ambil piringnya! " ucap Ki Yong kemudian membuka semua makanan.
Jin Guk datang dan ikut membantu, mereka pun duduk dan minum minum setelah makan.
Obrolan melantur kesana kesini hingga Ji Min menceritakan semua pengalamannya sebagai mata mata kepolisian.
Jin Guk yang sudah mabuk tergeletak begitu saja di karpet. Ki Yong yang tak minum, menghela karena harus menggendongnya masuk ke dalam.
Ji Min masih sadar meskipun sesekali kepalanya terkantuk-kantuk.
"Dia tidur di sini? " tanya Sarah menunjuk ke sofa.
"Hmmm " jawab Ki Yong setelah menggendong Jin Guk dan keluar dengan membawa bantal dan selimut.
Sarah membetulkan badan Ji Min yang tak tentu arah. Dia mengusap kepala dan wajahnya.
"Kasihannya Ji Min, dia banyak kehilangan selama menjadi polisi" ucap Sarah.
Ki Yong memperhatikan, merasa cemburu karena Sarah peduli pada Ji Min.
...****************...