Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman part 2
Shaqila menggigit bibir bawahnya. Jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya. Gadis itu sesekali melirik ke arah Reyhan yang fokus dengan laptop di depannya. Sesekali menyesap kopi juga.
Reyhan kini melirik ke arahnya, buru-buru Shaqila mengalihkan pandangannya. Ia takut tertangkap basah melirik laki-laki didepannya.
Sementara Reyhan mengerutkan alisnya melihat Shaqila yang tidak menyentuh sarapannya sama sekali.
"Ada apa denganmu?" tanya Reyhan.
"Ti-tidak kok, memangnya aku kenapa?" tanya balik Shaqila yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Reyhan berdiri, melangkah dengan pelan ke arah Shaqila. Menunduk dan menatap wajah gadis itu lama. Jarak wajah mereka tinggal beberapa inci.
'Astaga, dia mau nga-ngapain. Jangan bilang dia mau nyium gue,' batin gadis itu dengan nafas yang naik turun.
Entah dorongan dari mana gadis itu menutup matanya dan ujung bibirnya berkelut pasrah dengan apa yang akan laki-laki itu lakukan selanjutnya.
Lima menit gadis itu menunggu dan tetap dalam posisi bibirnya, namun ia merasa tidak ada apa-apa.
Tidak lama kemudian ia merasakan sentuhan di keningnya.
Seketika ia membuka matanya. Menatap Reyhan yang menahan tawanya.
"Bibir kamu kenapa?" tanya Reyhan.
Gadis itu kemudian memperbaiki posisi bibirnya. Mendorong tubuh Reyhan pelan dan mebelakangi laki-laki itu.
'Astaga apa yang lo sih Qila. Malu-maluin aja. Sekarang mau taroh dimana wajahmu itu.' batin gadis itu.
Ia pun berdiri dan berniat lari namun tangannya di tahan oleh Reyhan. Laki-laki itu menariknya kemudian menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.
Menahan tengkuk Shaqila, melumat bibir itu dengan lembut. Awalnya Shaqila terkejut, namun tak ayal bibir gadis itu terbuka menerima serangan lidah Reyhan yang mengabsen setiap rongga-rongga didalam mulutnya.
Ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah. Lidah mereka saling bertarung. Membelit dan melilit satu sama lain hingga air liur keluar menetes tanpa mereka sadari.
Ciuman itu berlangsung lima menit. Reyhan kemudian menjilati pipi Shaqila hingga ke telinga gadis itu. Membuat sang empunya mendesah kegelian.
Hingga bibir laki-laki itu turun menelurusi leher jenjang Shaqila dan menyesap leher jenjang itu, meninggalkan tanda merah.
Bukan cuma satu titik namun hampir diseluruh leher milik Shaqila terdapat jejak merah.
Lenguhan gadis itu pun terdengar membuat Reyhan yang telah lengkap memakai jas rapi itu terbakar hasrat.
Membangunkan naluri lelakinya.
"Ahh...ah..." desah Shaqilah.
Tangan Reyhan dengan nakalnya meremas bokong Shaqila. Bibirnya turun ke dada. Kemudian kedua tangannya beranjak ke baju gadis itu dan siap merobeknya. Namun bel berbunyi, kemudian terlihat Sinta dan Tasya yang masuk.
Untung saja Shaqila dan Reyhan segera berdiri memperbaiki posisi mereka. Namun wajah mereka nampak merah dan juga nafasnya yang memburu.
'Hampir saja,' batin Reyhan.
"Mama, tumben kesini. Ada apa ya?" tanya Shaqila dengan lembut.
"Mama kesini cuma mau temani Tasya. Dalam dua hri ini dia akan menginap disini. Mama dan orang tua Tasya akan terbang ke jepang," ucap Sinta.
Ada rasa tidak suka dalam diri Shaqila saat mendengar itu. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk terhadap sepupunya itu.
"Oh ya leher kamu kenapa?" tanya Sinta.
Shaqila bingung kenapa mamanya bertanya seperti itu.
Namun dengan cepat Reyhan menjawabnya. "Shaqila alergi ma,"
Namun Tasya tentu sangat paham dengan kemerahan itu.Gadis itu menunjukkan wajah tidak sukanya namun tetap saja tidak peduli.
'Sial dasar wanita jalang kau Shaqila. Kau pasti menggoda Reyhan hingga melakukan itu. Seharusnya gue yang disana sialan,' batin Tasya.
"Ma, dia sudah besar. Di tinggal sendiri pun tidak papa," ucap Shaqila menunjuklan kekesalannya.
"Shaqila, kenapa kau berbicara seperti itu kepadanya. Dia itu adikmu," ujar Singa
"Cuma adik sepupu ma, bu-"
"Nggak papa kok tante kalau kak Qila tidak mau aku disini. Aku bisa kok tinggal sendiri di rumah," potong Tasya.
"Nggak bisa gitu dong Tasya. Kami khawatir kamu kenapa-napa," ucap Sinta dengan lembut.
Kemudian menatap Shaqila dengan garang.
"Kenapa sih kamu tidak mau memberi dia tumpangan. Cuma dua hari aja," ucap Sinta geram.
Reyhan cuma diam saja memperhatikan mereka. Laki-laki itu cuma nunggu waktu yang tepat jika terjadi sesuatu pada Shaqila.
"Tante nggak papa kok. Kak Qila, aku tahu kakak membenciku karena sedari dulu kakak dibanding- bandingkan denganku. Tapi kakak harus tau tante Sinta tetap sayang sama kak Qila meskipun kakak gagal sarjana. Tidak papa kok kalau kakak tidak mau beri tumpangan padaku, yang penting jangan pernah berdebat dengan orang tua kakak. Surga dibawah telapak kaki ibu," timpal Tasya dengan nada yang dibuat-buat sedramatis mungkin.
"Shaqila, biarkan dia bermalam disini. Cuma dua hari aja kan?" timpal Reyhan.
Shaqila syok mendengar hal itu. Berbeda dengan Tasya yang bersorak dalam hati karena merasa Reyhan membelanya.
'Yess, Reyhan pasti diam-diam menyukaiku. Dia pasti senang karena gue mau nginap di rumahnya. Lihat saja Qila, sebentar lagi suami Lo jadi milik gue,' batin Tasya.
Perempuan itu semakin tersenyum saat melihat Reyhan yang terus menatapnya.
Sementara Shaqila tanpa berkata apapun gadis itu berlari naik ke kamarnya.
'Maksud dia apaan sih izinkan cewek itu nginap disini. Pengen rasanya gue colok tuh matanya yang lihatin Tasya mulu. Dasar cowok ya. Mana gue hampir aja di unboxing,' batin Shaqila yang sedang menenggelamkan dirinya di bantal dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya saat mendengar pintu berderit.
Entah mengapa ia yakin bahwa itu adalah Reyhan.
Dan benar saja, laki-laki itu duduk di pinggir ranjang. Mengelus rambut Shaqila dengan lembut.
"Tidak usah cemburu. Saya tidak tertarik dengan perempuan manapun selain dirimu. Saya hanya ingin menyelesaikan semua drama ini. Saya berangkat dulu, jangan lupa tutupi lehermu jika ingin keluar agar tidak merasa malu.
Setelah mengatakan hal itu, Reyhan mengecup rambut Shaqila, mengusapnya sebentar dan keluar dari kamar itu.
Setelah merasa yakin Reyhan keluar, gadis itu duduk dan mencoba mencerna ucapan laki-laki tadi.
"Drama apa yang dia maksud?"
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih