Menikah? Yeah!
Berumah tangga? Nanti dulu.
Begitulah kisah Inara Nuha (21 tahun) dan Rui Naru (25 tahun). Setelah malam pertama pernikahan mereka, kedatangan Soora Naomi mengguncang segalanya. Menghancurkan ketenangan dan kepercayaan di hati Nuha.
Amarah dan luka yang tak tertahankan membuat gadis itu mengalami amnesia selektif. Ia melupakan segalanya tentang Naru dan Naomi.
Nama, kenangan, bahkan rasa cinta yang dulu begitu kuat semuanya lenyap, tersapu bersama rasa sakit yang mendalam.
Kini, Nuha berjuang menata hidupnya kembali, mengejar studi dan impiannya. Sementara Naru, di sisi ia harus memperjuangkan cintanya kembali, ia harus bekerja keras membangun istana surga impikan meski sang ratu telah melupakan dirinya.
Mampukah cinta yang patah itu bertaut kembali?
Ataukah takdir justru membawa mereka ke arah yang tak pernah terbayangkan?
Ikuti kisah penuh romansa, luka, dan penuh intrik ini bersama-sama 🤗😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Naru tidak bisa
Naru tidak bisa tinggal diam. Sebagai seseorang yang mencintainya sampai ke urat nadi, sifat kepo, jiwa stalking, dan naluri protektif yang kadang kelewat ugal-ugalan itu menjerit ingin ikut campur. Bukan ikut campur yang toxic, tapi ikut campur yang manis, yang mau jadi tempat bernaung.
“Sari udah aku pindahin ke kelas lain,” kata Naru, datar tapi jelas-jelas sedang nge-gas. “Jadi dia nggak bakal gangguin kamu lagi.”
Nuha mengembuskan napas. “Dia nggak gangguin aku. Aku santai kok hadapin dia.” Tetap tidak mau terbuka.
“Ya, ya, ya…” Naru mendesis kecil. Sudah hafal betul dengan cara Nuha meremehkan rasa sakitnya sendiri. “Racun itu harus dibuang, bukan dihadapin. Kalau sekali lagi dia mendekatimu, aku sekalian cariin dia pengawal, biar dijagain, supaya nggak bisa mendekat.”
Nuha melotot. “Ya ampun, Naru. Nggak usah segitunya kali.” Ia pandai memainkan pertunjukannya sendiri. Dan itu tidak pernah berubah sejak ia masih di sekolah.
“Segitunya?” Naru mengangkat alis. “Kamu dirundung, dia suka malakin kamu. Bikin drama. kamu trauma, kamu hampir kehilangan mentalmu waktu itu. Nara…” suaranya melembut tiba-tiba, “Pura-pura kuat sampai jiwamu remuk pelan-pelan? Itu nggak akan aku biarin. Pikirkan keselamatan jiwamu. Aku khawatir.”
“Aku udah biasa. Aku bisa kok sembuh sendiri,” jawab Nuha, memalingkan mata. Begitulah pertahanan khasnya.
“Cih!” Naru mendecak, frustasi. So lonely, Nuha belum paham jika trauma bisa menggerogoti mental, dan membuatnya menarik diri tanpa suara. Tapi, Naru tak melanjutkannya.
“Oiya, satu lagi. Aku udah bicara empat mata dengan ‘Kak Wisnu'mu. Aku kasih tau dia kalau aku ini suamimu.”
Nuha langsung melonjak berdiri. “Naru! Kamu! Kamu ikut campur! Ini hidupku! Biar aku yang tanggung sendiri!” Mata Nuha memanas. Marah, juga campuran takut, terpojok, dan… tersentuh, meski ia tak pernah mau mengaku.
Naru menatapnya lama.
Ternyata… memahami seorang introvert jauh lebih sulit daripada menghadapi seribu musuh di medan perang. Dan mencintainya?
Kadang terasa seperti belajar membaca buku yang halamannya sengaja dikunci, tapi tetap ingin dibaca sampai habis.
Nuha menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi. Pusing itu datang seperti gelombang besar yang menghantam dari dalam kepala. Matanya berkunang-kunang. Ia memejamkan mata, bernapas pelan lewat mulut, berusaha menenangkan diri.
“Nara, kamu sakit,” ujar Naru, suaranya tegang. “Ayo kita periksa. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.”
“Aku nggak apa-apa…” Nuha membantah lagi, "Kamu biarin aku istirahat dan aku akan sembuh," tandasnya sambil tersenyum.
“Jangan keras kepala gitu bisa nggak sih!” Nada Naru meninggi tanpa ia sadari.
Genggaman tangan Nuha di atas pahanya bergetar. “Aku bahkan… nggak seperhatian itu sama kamu. Kadang aku aja benci sama diri aku sendiri. Aku ini cewek, kenapa harus int-- em...” ia mengatupkan kembali bibirnya.
“Nara…” panggil Naru lembut, nada sebelumnya langsung luruh. Ia menatap Nuha, “Izinkan aku jalan bareng kamu. Aku tahu kamu belum bisa nerima aku sepenuhnya. Tapi tolong… andalkan aku. Karena aku suamimu.”
Di rumah sakit.
Dokter tersenyum setelah melihat hasil pemeriksaan. “Selamat ya, istri Bapak positif hamil.”
“Ha-- hamil?” Naru mematung. Lalu senyumnya meledak. “Istri saya… hamil? Beneran?” Cahaya bahagia tak bisa disembunyikan lagi di wajahnya.
Nuha terpaku. “Aku… hamil?" Lalu melotot, "Naru! Kamu-- kamu bikin aku hamil? Astaga!” Ia langsung memukul-mukul pundak suaminya dengan panik. “Nggak! Aku belum siap hamil! Kamu jahat, Naru!”
Naru hanya menerima semua pukulan kecil itu, membiarkannya jatuh di bahunya. “Mukulin aku boleh. Tapi jangan stres, sayang.”
“Kamu keterlaluan! Aku masih kuliah! Masih semester satu, Naruu!” Nuha nyaris menangis. “Gimana ini…”
Dokter tertawa kecil, mengangguk maklum. “Aduh, pertengkaran calon orang tua muda memang selalu manis sekali. Tenang, Bu. Kehamilannya sehat. Nanti saya jelaskan satu-satu, ya.”
Naru meraih tangan istrinya hati-hati. “Dengerin dokter dulu, ya. Kita jalanin bareng-bareng.”
Nuha menunduk, “Aku takut…”
“Aku ada,” bisik Naru. “Selalu.”
Kabar bahagia itu Naru sampaikan saat makan malam keluarga. Suasana meja yang tadinya tenang langsung pecah oleh kegembiraan.
Mata bunda berkaca-kaca. “Akhirnya bunda jadi nenek!” Sebuah hadiah terindah disela hancurnya rumah tangganya. Dina sampai berdiri dari kursinya saking girangnya. “Kak Nuhaaa! Aku yang udah gede gini bakal punya adik bayi?! Aduh lucunya pasti kayak kamu!”
Nuha tersenyum kaku, masih pucat karena shock yang belum reda. Ia melirik Naru dengan tatapan penuh kecemasan. “Naru… kamu nggak coba-coba nambahin beban pikiranku, kan?”
Naru mencondongkan tubuh, mengusap kepala istrinya dengan lembut. “Tenang, sayang. Aku ada buat kamu 24 jam. Apa pun yang kamu butuh, aku jagain.”
Nuha langsung menggelosot seperti balita yang kalah debat. “Itu malah NGEGANGGU hidupku… huwaaa…” rengeknya, wajahnya menelungkup di meja.
Bunda dan Dina tertawa gemas.
Tapi Naru? Dia justru tambah senang melihat sisi manja Nuha muncul. Baginya, dicemberutin Nuha adalah kebahagiaan tersendiri.
“Nempel sama kamu tuh hobiku,” jelas Naru dengan bangga. “Mau tidur bareng kamu, satu kampus sama kamu, jadi dosen kamu, jadi bodyguard kamu, bahkan jadi ekor kamu pun aku siap.”
“ASTAGA, Naru!” Nuha memegang kepala. “Kamu menyebalkan! Aku introvert! Aku butuh DUNIAKU SENDIRI!” Ia memandang Bunda dengan tatapan minta tolong, “Bundaaa… tolongin aku. Anak bunda nempel banget.”
Bunda mengusap punggung Nuha penuh sayang. “Nuha.chan, kamu itu istrinya. Wajar kalau dia nggak mau jauh. Dia sayang banget sama kamu.”
“Tapi Bundaaa… aku butuh ruang napas…”
Naru menggeser kursinya, “Ambil napas sambil aku peluk juga boleh, sayang." makin dekat. "Kalau kamu sesak, aku bukain seluruh dunia buat kamu.”
“HURRAWWNGG!” Nuha menjerit ala kucing terancam nyawanya, pipinya memerah karena campuran malu dan lelah.
Dina memukul meja sambil tertawa. “Kyaaa!! Kak Naru posesif banget. Kak Nuha pasrahan banget. Lucu sumpah.”
Bunda tersenyum lembut. Dan di tengah kekacauan kecil itu, Nuha tak bisa menyembunyikan kilau hangat di matanya kilau seseorang yang, meski kewalahan, tetap merasa aman. "Oke deh. Aku serahin kelelahanku sama kamu, Naruto baka!"
“Hihi.” Naru nyengir kecil.
Rasa sedih yang kerap menyayat-nyayat hatinya seperti ikut sembuh setiap kali Nuha kembali berada dalam genggamannya. Selama gadis itu masih di sisinya, dunia terasa jauh lebih ringan.
Naru sudah menyerahkan perusahaan yang sedang ia bangun kepada Kak Muha. Ia tak rela melihat Kakak iparnya itu berada di bawah tekanan Mamiya di perusahaan ayahnya.
Kini ia menjadi dosen.
Bukan profesi yang direncanakannya sejak dulu, tapi justru itu yang paling dekat dengan Nuha. Alih-alih menjadi stalker manis yang selalu sembunyi-sembunyi mengikuti gadis itu waktu sekolah, sekarang ia bisa melindungi istrinya secara terang-terangan. Tak membiarkan juga Wisnu yang mendadak jadi pahlawan kelas mendekati Nuha lebih dari sekadar teman.
Menjadi suami adalah posisi paling KUAT. Waktu masih SMA, Kak Muha menentang keras hubungan mereka. Nuha sering dimarahi karena pacaran dengan Naru. Sampai Naru khilaf membawa Nuha pulang ke rumahnya.
Nuha dan Kak Muha bertengkar. Dan kecelakaan terjadi, membuat Nuha hampir kehilangan nyawa. Meninggalkan luka yang tidak terlihat, tapi membekas sampai hari ini.
Karena itulah ia menikahi Nuha bukan hanya dengan cinta, tapi dengan segala penyesalan yang ingin ditebus. Dengan ketulusan. Dengan kerinduan panjang yang akhirnya menemukan rumah.
“Dan kini,” bisik Naru dalam hatinya sambil menunggu istrinya yang sedang sibuk mual di kamar mandi, “cintaku bukan sekadar cinta monyet lagi. Tuhan… tolong jaga cinta kami. Biar aku bisa menjaganya selamanya.”
Nuha keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajahnya. Begitu matanya menangkap pemandangan suaminya yang hanya memakai celana dalam, teriakan langsung pecah.
“Sudah kubilang jangan kayak gitu!” Refleks, ia meraih handuk dan menutupi pinggang Naru secepat mungkin, seperti memadamkan kebakaran.
“Aku kan mau ganti perban, Nara…” Naru mencibir pasrah. Istrinya ini… masih suka canggung, masih suka salting akut, padahal mereka sudah menikah dan sudah ada bayi dalam proses pembentukan.
“Ish! Nyebelin!”
Nuha jongkok di depannya, mendekat untuk membuka perban lama. “Sini, biar aku bantu. Iket perban itu yang rapi dikit bisa nggak sih? Kamu tahu apa itu aestetik?”
Naru menunduk, menatap wajah istrinya yang serius, pipinya sudah merah duluan. “Tau dong,” bisiknya santai, “seni memandang indahnya wajahmu.”
“GUBRAK!”
“BERHENTI GOMBAL! Aku lagi fokus!”
“Tapi kamu cantik banget kalo marah gitu…”
“Naru!”
“Baik, baik…” Naru angkat tangan, meski senyumnya masih nakal. “Tapi serius, untung kamu yang gantiin. Jadi kalo ini gerak-gerak kan cuma kamu yang lihatin.”
"KYAA!! GERAK-GERAK!!"
Suaminya memang selalu berhasil bikin jantungnya kerja lembur.
.
.
.
. ~Bersambung...
Itu teknik grounding real-world. Super accurate 🥰❤❤❤
bumil beneran ngalamin mental fatigue kayak gini, huhu syedih 🤧🤧🤧
Tetangga: “Dek sehat? Rumornya…”
Padahal sambil mata ngintipin realita kayak CCTV 😒😒😒 Mereka tuh kayak “concern” tapi sebenarnya update timeline duluan 😩
I just need my comfort place pls 🥺