Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Di Acara
Menunda keinginannya untuk kembali ke negara tetangga membuat Bryssa berakhir di sini sekarang, di ruangan luas yang penuh dengan orang-orang penting, para pembisnis sukses yang sedang mengadakan party setahun sekali.
Dan ini untuk pertama kalinya Bryssa datang ke pesta itu. Jangan ditanya siapa dalang dibalik berakhirnya Bryssa di tempat itu, tentu saja cowok yang kini berada di sebelahnya, laki-laki muda yang cukup berpengaruh juga ternyata di negaranya, bukan hanya negara tempat ia melanjutkan kuliah, terbukti dari banyaknya orang-orang yang menyapanya sedari tadi, tidak peduli sekali pun lebih tua dari pada yang disapa.
"Mau gue ambilkan minum?" tanyanya membuat Bryssa mengangguk saja.
"Gue tunggu di sini ya El," balasnya diangguki Elgan dengan senyum tipis.
Kepergian Elgan membuat Bryssa seperti orang asing yang terdampar, Bryssa melihat sekeliling dan kembali mendapati cowok itu disebrang sana yang sedang berbicara dengan beberapa gadis muda ketika mengambilkan minuman untuknya.
Anehnya, setelah beberapa saat berbincangan mereka di sana, semua yang sedang berada di didekat Elgan menoleh ke arahnya, seakan menatap adanya Bryssa, membuat Bryssa mengalihkan pandangan matanya dengan perasaan aneh.
Tidak lama setelah itu Elgan kembali datang, dengan minuman dan cemilan di tangannya untuk Bryssa.
"Thank you."
Elgan mengangguk, lalu meneguk minuman miliknya. "Lo tau nggak Bry?"
Bryssa menoleh, menaikan satu alisnya menunggu ucapan Elgan selanjutnya.
"Katanya lo ampuh banget bikin seorang Elgan ambilin minum."
Mendengar itu Bryssa mendelik, lalu menatap Elgan dengan diam. Jika dipikirkan memang Elgan ini sangat berpengaruh, keluarganya saja berpengaruh semua di negaranya, termasuk orang tua dan kakaknya, tetapi Bryssa tidak berpikir jika hanya dengan mengambilkan minum untuknya, akan dianggap seperti itu.
"Gue tau tebakan mereka apa."
Kali ini Elgan yang menaikan sebelah alisnya, menatap Bryssa menunggu ucapan gadis itu selanjutnya.
"Mereka ngira kita sepasang kekas-"
"Selamat malam tuan Elgan."
Tiba-tiba saja suara bariton dari laki-laki terdengar, suara yang cukup familiar dan membuat hati Bryssa entah kenapa mendadak berdebar.
"Oh hai, tuan Davion."
Deg
Dugaan Bryssa benar, nama keramat itu yang disebutkan oleh Elgan, antara sadar dan tidak sadar, Bryssa mengepalkan tangannya kuat, ia baru ingat jika pasti Davion juga berada di acara itu, mengingat Davion termasuk salah satu dari mereka, dan cukup berpengaruh juga di dunia bisnis.
"Tuan El datang dengan siapa?" pertanyaan itu membuat Bryssa semakin tegang saja.
Bryssa yakin, Davion sebenarnya sudah mengenalinya, meski mereka belum bertatap muka mengingat Bryssa yang sengaja memalingkan wajahnya dengan berpura-pura sibuk dengan minumannya.
"Bry," panggil Elgan membuat Bryssa mau tidak mau pada akhirnya memang harus bersitatap dengan laki-laki gagah di depannya.
Bryssa menolehkan wajahnya, membentuk senyum untuk menenangkan keadaannya.
Tidak seperti perkiraannya, Davion justru menatapnya dengan sangat tenang, hangat dan bahkan tidak ada keterkejutan dari wajah laki-laki itu.
Ini hanya Bryssa saja kah yang merasa tegang?
Brengsek memang Davion, dan Bryssa terlalu berlebihan mengharapkan.
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Elgan melihat gelagat Davion yang tampak tenang, bahkan tidak ada niatan untuk berkenalan.
"Ya, kita memang sudah saling kenal."
Jawaban Davion sukses membuat Bryssa menegang, ia menatap Davion dengan diam.
"Oh iya? Wah, kebetulan sekali, Bry kamu mengenal tuan Dav ternyata?"
Bryssa hanya mengangguk saja dengan seulas senyum. Davion melirik gelagat Bryssa yang tampak sangat canggung.
"Dia calon adik iparku."
Duar
Entah kenapa, mendengar kalimat Davion tadi membuat Bryssa merasa aneh, ada yang hancur di dalam sana, dan ada yang tiba-tiba menghilang, tetapi ini terlalu berlebihan untuk menyimpulkannya. Karena sejujurnya memang begitu.
Bryssa yang terlalu naif, dia sendiri yang memilih melepaskan Davion, namun dia sendiri yang merasa tersakiti ketika Davion kini memilih apa yang sebenarnya sudah Bryssa persilahkan.
"Oh wow, saya benar-benar seperti mendapat berita yang membahagiakan, seorang laki-laki yang banyak dikejar wanita ini akan membuat berita heboh nantinya."
Davion tertawa ketika mendengar pujian Elgan yang menurutnya berlebihan. Tetapi memang demikian adanya.
"Selamat tuan Dav." Elgan menjabat tangan Davion untuk memberi selamat, meski belum terjadi apa-apa, setidaknya itu berita yang membahagiakan.
Bryssa mengepalkan tangannya, ia merasa Davion mempermainkannya, entah lah, Bryssa merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Davion. Meski itu pilihannya sendiri.
"Iya benar, dia calon kakak iparku, pacar kak Mora yang pernah aku ceritain ke kamu El."
Elgan tampak mengangguk, Bryssa memang pernah sesekali bercerita tentang kakanya yang menanggung biaya hidupnya, dan karna itu juga Elgan menawari Bryssa untuk bekerja dengan kakaknya, selain dengan dirinya dan mamanya tentunya.
Bryssa sangat berpotensi dan cocok untuk bisnis mereka yang memang bergelut di depan layar, wajah cantik dan bodi bagus Bryssa sangat menjual, namun bukan hanya itu, tentunya karena Elgan memiliki perasaan untuk Bryssa, bahkan sejak pertama mereka bertemu di kampus.
"Dimana dia? Apa dia datang ke sini?"
"Ada apa ini? Lho Sasa?"
Mora yang menghampiri Davion terkejut melihat adanya Bryssa di pesta itu. Pesta yang seharusnya hanya untuk para pembisnis saja. Tetapi setelah melihat seorang cowok di antara mereka membuat Amora tahu akan sesuatu. Bryssa datang ke acara itu karena seseorang.
"Biar saya tebak, wanita cantik ini pasti kak Amora."
Amora tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya. "Iya, saya Amora, kakak Bryssa dan-"
"Calon istri tuan Davion,"
Lagi-lagi Amora hanya bisa tersenyum manis mendengar ucapan dari cowok muda yang belum ia kenal itu.
"Perkenalkan, saya Elgan, rekan bisnis tuan Dav, kalau tidak salah kita pernah bertemu sekali di singapore."
Amora mengangguk antusias. Mengingat jika memang pernah bertemu dengan coeok muda tampan di depannya.
"Anda yang mengajak adik saya?" tanya Amora langsung diangguki Elgan.
"Benar, maaf saya tidak sempat ijin dengan kak Mora, tadi soalnya Bryssa yang-"
"El," peringat Bryssa membuat Amora menatap adiknya, lalu tertawa karena sudah paham.
"Nggak papa tuan El, saya justru merasa terhormat dan senang bisa bertemu dengan anda, dan tidak menyangka adik saya ternyata kenal atau bahkan kalian sudah cukup dekat."
"Dia atasan aku kak, wajar kan kalau ngajak aku ke sini? Biar ada temen katanya."
Elgan tertawa, lalu menganggukan kepalanya. "Benar apa yang dikatakan Bryssa, tetapi saya bukan atasan Bryssa, saya teman Bryssa yang kebetulan bantu Bryssa untuk mendapat pekerjaan."
Amora juga tertawa, mendengar Elgan yang merendah seperti itu, tentu membuat Amora tahu, jika cowok di depannya itu mempunyai perasaan untuk adiknya, hanya saja mungkin Bryssa merasa tidak enak karena status mereka yang memang jauh, sama seperti dirinya dan Davion sebenarnya.
Oh Tuhan, Elgan benar-benar calon adik ipar yang Amora inginkan untuk Bryssa.
"Menurut mas Dav? Mereka bagaimana?" tanya Amora kepada Davion.
"Siapa?"
"Itu Sasa sama Elgan.
Davion menaik turunkan jakunnya, lalu hanya berdehem untuk menjawab.
"Kenapa mas Dav?" tanya Amora karena Davion tampak enggan untuk menanggapi.
"Menurutku, adikmu terlalu bar-bar untuk laki-laki seperti Elgan."
Amora tampak terkejut mendengar penuturan Davion, sangat jarang sekali Davion menilai seseorang, tetapi apa yang dikatakan oleh Davion memang ada benarnya. Bryssa dulu sebar-bar itu.
Amora menggeleng, Bryssa sekarang sudah lebih banyak berubah, bahkan sangat dewasa.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️