Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Lampu-lampu kota Los Angeles berkerlip bagaikan lautan permata di luar jendela kaca setinggi langit-langit penthouse. Di dalam ruangan berpendingin udara yang luas dan hangat itu, hiasan kemewahan yang biasanya terasa kaku dan sepi kini dihidupkan oleh derai tawa renyah yang tak henti-hentinya bergema.
"Aplikasi! Huruf terakhir 'I'! Ayo, Giliranmu, Tuan Genius!" seru Rossi dengan wajah berbinar-binar, menyilangkan kedua kakinya di atas sofa kulit yang empuk.
Di hadapannya, Rowan duduk dengan kemeja putih yang lengan bagian sikunya digulung berantakan. Dahinya yang lapang tampak memiliki beberapa titik kemerahan yang cukup mencolok—hasil dari hukuman sentilan jari Rossi setiap kali Rowan terlambat menjawab atau salah menyambung kata.
Rowan berpura-pura mengusap dagunya dengan raut wajah berpikir keras.
Pria yang memegang gelar master dari universitas ternama dan terbiasa memimpin rapat direksi bernilai triliunan rupiah itu kini mendadak tampak kewalahan menghadapi ketangkasan kosakata seorang gadis yang hanya mengenakan gaun santai katun.
"I..." Rowan bergumam pelan, sengaja mengulur waktu sambil melirik wajah Rossi yang menatapnya dengan pandangan menantang. "I... Imajinasi."
"Sembilan detik! Terlalu lama!" pekik Rossi gembira, langsung melompat sedikit dari duduknya. Tangannya yang mungil sudah terangkat di udara, siap melayangkan sentilan maut selanjutnya. "Dan kata 'Imajinasi' sudah aku pakai di putaran ketiga tadi! Kau mengulang kata, Rowan! Sini jidatmu!"
Rowan menghela napas pasrah, namun bibirnya tak sanggup menyembunyikan lengkungan senyum tipis yang sarat akan kehangatan. Pria bertubuh tegap itu memajukan tubuhnya, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan jangkauan Rossi.
Tuk!
Suara sentilan yang cukup keras kembali terdengar. Rossi menyentil dahi Rowan dengan penuh kemenangan, membuat kemerahan di dahi pria itu makin bertambah.
"Aww," keluh Rowan berpura-pura meringis kesakitan, memegang dahinya sembari menatap Rossi dengan kilatan jenaka. "Kau sama sekali tidak berniat mengalah pada suamimu, ya?"
"Dalam permainan menyambung kata, tidak ada istilah 'suami' atau 'istri'!" jawab Rossi bangga, menepuk kakinya sendiri sambil tertawa puas. "Yang ada hanyalah siapa yang punya pengetahuan kosakata lebih luas! Dan malam ini, Nyonya Vale-Knight unggul lima poin dari Tuan Besar!"
Rowan terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran sofa.
Sejujurnya, Rowan bisa saja memenangkan permainan ini dengan sangat mudah jika ia ingin menggunakan istilah-istilah ekonomi, hukum, atau bahasa asing yang rumit.
Namun, melihat betapa antusiasnya Rossi setiap kali berhasil menemukan kata baru, dan betapa puasnya tawa gadis itu saat melayangkan hukuman sentilan, Rowan memilih untuk menyerah dan berpura-pura kalah.
Pria itu menatap Rossi yang kini sedang meminum segelas jus jeruk hangatnya.
Bukan rahasia lagi jika Rossi memiliki pembendaharaan kata yang sangat luas meskipun ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi di universitas mahal.
Selama belasan tahun hidup terisolasi dalam kondisi keras di pedesaan Central Valley, Rossi menghabiskan hari-harinya membantu seorang bibi tua membersihkan vila-vila mewah milik orang kaya yang sedang tidak ditempati.
Di sela-sela waktu lelahnya mengelap kaca dan membereskan perpustakaan pribadi di vila-vila tersebut, Rossi selalu memanfaatkan kesempatan untuk membaca ratusan buku yang tersusun rapi di rak.
Mulai dari novel sastra klasik, buku sejarah, hingga buku pengetahuan umum—semua diganyang oleh otak cerdasnya yang haus akan ilmu.
"Bagaimana bisa kau tahu kata 'Ilusi' dan 'Integrasi' dengan begitu cepat tadi?" tanya Rowan penasaran, menopang dagunya dengan satu tangan.
Rossi meletakkan gelasnya kembali ke meja, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyimpang sedikit rasa getir masa lalu.
"Di vila-vila mewah yang biasa kubersihkan dulu, pemiliknya jarang sekali datang," cerita Rossi pelan, matanya menatap langit-langit penthouse.
"Perpustakaan mereka sangat besar dan berdebu. Bibiku biasanya menyuruhku istirahat setelah selesai menyapu. Daripada aku bosan atau melamunkan nasibku yang tak punya teman, aku meminjam buku-buku di sana. Aku membaca semuanya, Rowan. Buku adalah satu-satunya hal yang tidak pernah memarahiku atau membiarkanku merasa kesepian."
Rowan terdiam mendengarnya. Dada pria itu tersentuh oleh kesederhanaan dan keteguhan hati gadis di hadapannya. Rossi tidak pernah meratapi kemalangan hidupnya, ia justru mengubah keterbatasannya menjadi sebuah kecerdasan yang alami.
Rossi kemudian menoleh, menatap dahi Rowan yang memerah, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi merasa bersalah.
"Eh... dahi milikmu benar-benar memerah," bisik Rossi canggung, melangkah mendekat di atas sofa dan mengulurkan jemarinya untuk mengusap pelan dahi Rowan. "Maaf ya... aku sentilnya terlalu keras. Habisnya aku terbawa suasana."
Sentuhan jari jemari Rossi yang halus dan hangat di kulit dahinya membuat Rowan terpaku. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Rowan bisa menghirup aroma harum sabun mandi beraroma vanila yang menguar dari tubuh Rossi.
Sejujurnya, selama empat tahun terakhir hidup bersama Cathez—dan bahkan dalam interaksinya dengan wanita-wanita kalangan atas di dunia bisnis—Rowan sangat benci dan bosan mendengar suara wanita. Bagi Rowan, suara wanita selalu berasosiasi dengan amarah, tuntutan, kepura-puraan, dan rengekan manja yang membuat telinganya panas.
Namun entah mengapa... suara Rossi terasa begitu berbeda di telinganya.
Suara gadis ini renyah, terkadang cerewet dan blak-blakan, namun dipenuhi oleh kejujuran murni yang merdu.
Mendengar Rossi berceloteh, mengomeli kemalasannya, atau tertawa gembira saat menang permainan, justru memberikan rasa tenang yang luar biasa di dalam jiwa Rowan yang lelah. Suara Rossi bagaikan alunan musik lembut yang perlahan mengikis seluruh stres dan trauma yang dipikulnya.
Rowan meraih pergelangan tangan Rossi yang sedang mengusap dahinya, menggenggamnya dengan lembut namun erat.
"Tidak apa-apa," bisik Rowan, suaranya terdengar begitu berat dan dalam. "Sentilanmu tidak seberapa dibanding suara tawamu."
Rossi tertegun, menatap mata hitam Rowan yang memancarkan pendar kehangatan yang amat tulus. Wajah gadis itu seketika merona merah, detak jantungnya kembali bertalu-talu di balik dadanya.
"Kau... kau sungguh tidak marah aku menyentilmu berulang kali?" tanya Rossi lirih.
Rowan menggeleng pelan, lalu mengulas senyum paling tampan yang pernah Rossi lihat. "Aku justru ingin permainan ini dilanjutkan esok malam."
Rowan menarik pergelangan tangan Rossi pelan, membuat tubuh mungil gadis itu terdorong maju hingga bersandar rapat di dada bidangnya. Rowan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rossi, menyandarkan dagunya di bahu halus gadis itu, menikmati momen kebersamaan yang menenangkan di tengah malam yang sunyi.
Rossi tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rowan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak teratur dan hangat.
Di dalam penthouse yang tinggi ini, dua insan yang sama-sama terluka oleh masa lalu kini menemukan kedamaian yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Rowan menemukan alasan baru untuk tersenyum dan melepaskan masa lalunya, sementara Rossi menemukan lengan tegap yang siap melindunginya dari kejamnya dunia luar.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰