NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Brumm!

​Suara mesin menderu pelan saat mobil BMW merah milik Anton memasuki area parkir VIP di depan Toko Mustika.

​Seorang petugas keamanan berseragam langsung berlari kecil dan membukakan pintu mobil untuk Anton.

​"Selamat siang, Tuan," sapa petugas itu dengan sangat hormat.

​Anton hanya mengangguk pelan dan melangkah keluar dari mobil mewahnya.

​Dia membawa sebuah tabung pelindung berisi lukisan kuno itu di tangan kanannya.

​Kring!

​Lonceng pintu berbunyi ketika Anton mendorong pintu kaca Toko Mustika.

​Bella yang sedang berjaga di balik meja etalase langsung mengangkat wajahnya sambil tersenyum profesional.

​Namun, senyumannya mendadak kaku saat melihat siapa yang baru saja masuk.

​"M-Mas Anton?" panggil Bella dengan suara sedikit bergetar.

​Mata Bella terbelalak menatap pria tampan dengan kemeja hitam elegan dan aura miliarder yang berdiri di depannya.

​Dia hampir tidak mengenali pria yang pagi tadi datang dengan pakaian usang dan kusam.

​"Selamat siang, Bella," sapa Anton dengan suara baritonnya yang tenang.

​"Pak Hermawan sudah menungguku, kan?" tanya Anton sambil berjalan mendekati meja.

​Wajah Bella merona merah hingga ke telinga.

​"S-sudah, Mas Anton," jawab Bella gugup sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.

​"Mari saya antar ke ruang VIP di belakang," ucap Bella sambil berjalan mendahului Anton.

​Aroma parfum mewah yang menguar dari tubuh Anton membuat jantung Bella berdebar tidak karuan.

​Cklek!

​Bella membuka sebuah pintu kayu berukir indah di bagian belakang toko.

​Di dalam ruangan ber-AC itu, Hermawan sedang duduk gelisah di sofa kulit.

​Namun, Hermawan tidak sendirian.

​Di seberang meja, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas abu-abu mengkilap.

​Pria tambun itu sedang mengisap cerutu mahal dengan gaya yang sangat angkuh.

​"Ah, ini dia pemudanya!" seru Hermawan sambil berdiri dari tempat duduknya.

​Hermawan juga tampak terkejut melihat perubahan penampilan Anton, tapi dia segera menguasai dirinya.

​"Silakan duduk, Nak Anton," persilakan Hermawan dengan ramah.

​Anton mengangguk dan duduk di sofa tunggal, meletakkan tabung lukisannya di atas meja kaca.

​"Biar kuperkenalkan, ini adalah Bos Wijaya," ucap Hermawan menunjuk pria tambun itu.

​"Beliau adalah salah satu kolektor barang antik terbesar di kota ini," jelas Hermawan.

​Bos Wijaya menatap Anton dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.

​"Anak muda, Hermawan bilang kamu punya lukisan asli Qi Baishi," ucap Bos Wijaya sambil menghembuskan asap cerutunya.

​"Aku sangat sibuk, jadi jangan buang waktuku jika itu cuma barang palsu murahan," tambahnya dengan nada tinggi.

​Anton tersenyum dingin mendengar ucapan sombong pria di depannya ini.

​Dia sama sekali tidak terintimidasi oleh gertakan Bos Wijaya.

​"Asli atau palsu, mata ahli yang akan menilainya," balas Anton santai.

​Anton memutar tutup tabung itu dan mengeluarkan gulungan kanvas kuno dengan sangat hati-hati.

​Dia membentangkan lukisan harimau di atas batu karang itu tepat di tengah meja.

​Mata Hermawan langsung berbinar-binar seperti anak kecil yang melihat mainan baru.

​Dia mengeluarkan kaca pembesar andalannya dan mulai meneliti setiap goresan tinta, tekstur kertas, hingga detail stempel.

​Sementara itu, Bos Wijaya hanya melirik sekilas dengan tatapan meremehkan.

​"Luar biasa," gumam Hermawan dengan nafas tertahan.

​"Goresan tintanya sangat berkarakter, aura harimaunya seolah hidup," puji Hermawan tanpa henti.

​"Ini benar-benar karya asli Qi Baishi dari awal era Republik, tidak ada keraguan lagi!" seru Hermawan antusias.

​Mendengar konfirmasi itu, kilat keserakahan tiba-tiba melintas di mata Bos Wijaya.

​Namun, Bos Wijaya dengan cepat menyembunyikan ekspresinya dan memasang wajah datar.

​"Biasa saja," komentar Bos Wijaya sambil membuang abu cerutunya ke asbak.

​"Kertasnya sudah mulai menguning dan ada sedikit noda air di bagian sudut bawah," tunjuk Bos Wijaya mengada-ada.

​"Lukisan ini memang asli, tapi kualitas kondisinya sangat buruk," kritiknya dengan nada merendahkan.

​Hermawan terdiam, dia tahu Bos Wijaya sedang berusaha menjatuhkan harga barang itu.

​Sebagai penilai toko yang juga bekerja sama dengan para kolektor, Hermawan tidak berani membantah terlalu keras.

​"Berapa kamu mau menjual rongsokan ini, anak muda?" tanya Bos Wijaya menatap Anton.

​"Satu miliar? Aku bisa memberimu satu miliar tunai sekarang juga sebagai tanda kasihan," tawar Bos Wijaya licik.

​Anton tertawa pelan mendengar tawaran yang sangat tidak masuk akal itu.

​Dia menyandarkan punggungnya ke sofa dan menatap Bos Wijaya dengan tajam.

​"Satu miliar?" ulang Anton dengan nada mengejek.

​"Bahkan untuk membeli bingkai kosong karya maestro ini saja, uang satu miliar Bapak tidak akan cukup," sindir Anton tajam.

​Wajah Bos Wijaya mendadak memerah karena merasa dihina oleh seorang pemuda.

​"Jaga bicaramu, anak muda!" bentak Bos Wijaya sambil menggebrak meja.

​"Kamu pikir kamu siapa berani menawar denganku? Di kota ini, tidak ada yang berani melawanku!" ancamnya.

​Anton tetap tenang dan mulai menggulung kembali lukisan tersebut dengan perlahan.

​"Kalau begitu, silakan Bapak cari lukisan Qi Baishi di tempat lain," ucap Anton tanpa beban.

​"Aku akan membawanya ke rumah lelang ibu kota akhir pekan ini," tambah Anton.

​"Kudengar, kolektor luar negeri berani membayar minimal lima belas miliar untuk karya sekelas ini," ucap Anton santai.

​Bos Wijaya panik, dia tahu betul bahwa nilai pasaran lukisan itu memang berada di angka belasan miliar.

​Dia berniat membeli murah dari pemuda yang dia anggap bodoh ini untuk dijual kembali dengan untung berlipat ganda.

​"Tunggu!" seru Bos Wijaya menghentikan tangan Anton.

​"Lima miliar," tawar Bos Wijaya menaikkan harga secara drastis.

​"Itu sudah harga yang sangat fantastis untuk pemuda bau kencur sepertimu," ucapnya dengan raut wajah tidak rela.

​Anton berhenti menggulung lukisan, tapi dia tidak menjawab.

​Dia menoleh ke arah Hermawan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan konflik mereka.

​"Pak Hermawan, bukankah Toko Mustika juga membeli barang antik?" tanya Anton memancing.

​"Apakah Toko Mustika tidak tertarik dengan mahakarya ini?" tawar Anton sambil tersenyum tipis.

​Hermawan menelan ludah, dia sangat menginginkan lukisan itu untuk etalase utama tokonya.

​"Toko Mustika berani mengambilnya di angka sepuluh miliar," ucap Hermawan memecah keheningan.

​Bos Wijaya melotot ke arah Hermawan dengan penuh amarah.

​"Hermawan! Kamu berani bersaing denganku?!" teriak Bos Wijaya murka.

​"Maaf, Bos Wijaya, tapi bisnis tetaplah bisnis," jawab Hermawan sambil menundukkan kepala.

​Anton tersenyum puas melihat dua orang kaya itu saling berebut barang miliknya.

​"Dua belas miliar!" teriak Bos Wijaya dengan urat leher menonjol.

​"Itu penawaran terakhirku! Kalau kamu menolak, kamu tidak akan bisa keluar dari kota ini dengan tenang!" ancam Bos Wijaya pada Anton.

​Anton menatap mata Bos Wijaya dalam-dalam tanpa ada rasa takut sedikit pun.

​"Lima belas miliar," ucap Anton dengan nada dingin dan mutlak.

​"Kurang satu rupiah pun, lukisan ini tidak akan menjadi milik Bapak," tegas Anton.

​Suasana di ruangan VIP itu menjadi sangat tegang.

​Hanya terdengar suara hembusan nafas berat dari Bos Wijaya yang menahan amarah luar biasa.

​Bos Wijaya tahu dia akan kehilangan muka jika membatalkan pembelian ini, apalagi ada Hermawan di sana.

​Terlebih lagi, dia sangat membutuhkan lukisan ini untuk menyuap seorang pejabat tinggi minggu depan.

​"Baik!" geram Bos Wijaya sambil menggebrak meja sekali lagi.

​"Lima belas miliar! Berikan nomor rekeningmu sekarang juga!" perintah Bos Wijaya dengan gigi terkatup.

​Anton tersenyum lebar dan memberikan nomor rekeningnya dengan santai.

​Ting!

​Tidak sampai lima menit, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Anton.

​Rekening Anda telah dikredit sebesar Rp 15.000.000.000,00.

​Anton berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Bos Wijaya.

​"Senang berbisnis dengan Bapak," ucap Anton dengan senyum kemenangan.

​Bos Wijaya mengabaikan uluran tangan Anton, menyambar tabung lukisan itu, dan melangkah keluar ruangan dengan langkah menghentak.

​Brak!

​Pintu ruangan dibanting dengan sangat keras oleh Bos Wijaya.

​Hermawan menghela nafas panjang dan mengusap keringat di dahinya.

​"Nak Anton, kamu sangat berani," ucap Hermawan dengan nada kagum sekaligus khawatir.

​"Bos Wijaya adalah orang yang pendendam, kamu harus berhati-hati setelah ini," peringat Hermawan.

​Anton membalas ucapan itu dengan senyuman tenang.

​"Terima kasih atas peringatannya, Pak Hermawan," jawab Anton.

​"Tapi saya tidak pernah takut pada orang yang hanya bisa menggonggong," tambahnya.

​Anton pamit undur diri dan berjalan keluar dari ruang VIP tersebut.

​Di area depan, Bella sudah menunggunya dengan pandangan penuh kekaguman.

​"Mas Anton, apakah transaksinya berjalan lancar?" tanya Bella ramah.

​"Sangat lancar, berkat bantuanmu juga, Bella," jawab Anton sambil tersenyum.

​Anton mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang sebesar seratus juta rupiah ke nomor rekening Bella yang tertera di profil kontaknya.

​Ting!

​Ponsel Bella berbunyi, dan wanita itu membelalakkan matanya saat melihat jumlah uang yang masuk.

​"M-Mas Anton? Ini uang apa? Ini terlalu banyak!" seru Bella panik.

​"Itu komisi untukmu karena sudah membantuku dengan cepat," jawab Anton santai.

​"Anggap saja sebagai hadiah perkenalan kita," tambah Anton sambil mengedipkan sebelah matanya.

​Wajah Bella kembali memerah padam, dan dia tidak bisa berkata-kata lagi.

​Anton berjalan keluar dari Toko Mustika dan masuk ke dalam mobil BMW merahnya.

​Dia menatap saldo di layar ponselnya yang kini menunjukkan angka lebih dari lima belas miliar rupiah.

​"Sekarang, aku benar-benar punya kekuatan untuk menghancurkan mereka," batin Anton dengan seringai tajam.

​Langkah selanjutnya adalah membangun kerajaan bisnisnya sendiri dan membuat Rina serta Dimas memohon di bawah kakinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!